Kabar dari Ranah
Nuansa Maninjau : Suguhan Alam Negri Awan
by abdimasa on Aug.26, 2012, under Beswan Djarum, Journey #forNusantara, Kabar dari Ranah

Pernah Dengar Negri di Atas Awan? Nah, perjalanan kali ini terjadi saat kuliah kerja nyata beberapa minggu yang lalu. Mendapatkan lokasi KKN di Kenagarian Matua Mudiak memang tidak disangka.


Puncak Lawang Park
Negri di Atas Awan. Begitulah kira-kira ungkapan masyarakat disini tentang lokasi tempat tinggal mereka. Bagaimana tidak, suhu minimal bisa mencapai 10 derjat celcius saat dini hari hingga subuh. Beberapa kisah dari tetua nagari, disini juga pernah terjadi hujan es beberapa jam. Jelas ini sangat mengerikan.
Bertolak sejauh 114 Km perjalanan darat dari Kota Padang, belok ke kiri di perempatan simpang Padang Luar. Lokasi ini memang menjadi salah satu tujuan wisata selain kota Bukittinggi. Benar, jarak dari kota Bukittinggi pun hanya 28 km saja, jika sudah tahu jalan pintas, bisa dilalui dalam waktu 15 menit melewati Ngarai Sianok.
Oke, kembali ke Matua Mudiak. Negri ini memang menjadi salah satu negri percontohan dalam hal pariwisata di Kabupaten Agam. Matua Mudiak memiliki beberapa objek wisata yang sangat terkenal di Indonesia bahkan mancanegara.


Negri di Atas Awan
Kelok 44. Yap, saat melintasi kenagarian Matua Mudiak, tepatnya di Dusun Ambun Pagi yang sudah merupakan lokasi puncak. Disanalah terdapat kelok 44 yang sangat terkenal itu, jalur yang sangat ditunggu-tunggu para pelaku Tour De Singkarak, etape ini menjadi jalur favorit karena harus melintasi Danau Maninjau menuju bukittinggi yang otomatis melintasi Kelok 44 dengan tingkat kecuraman tebing/jurang yang dalam dan belokan yang tajam.
Tidak ayal, ternyata yang menjadi nilai tambah dari Kelok 44 ialah suguhan alam Danau Maninjau dari Puncak Kelok 44. Kerlingan air danau yang dibias oleh cahaya matahari hingga keramba-keramba ikan yang bersusun rapi ditepi-tepi danau.


Nuansa Maninjau
Tidak salah lagi, sesekali terlihat paralayang yang berterbangan dari arah Puncak Lawang. Salah satu olahraga yang memacu adrenalin juga menghiasi langit Danau Maninjau. Tidak salah para wisatawan asing juga sering terlihat disekitaran ini.
Kawasan ini juga dilengkapi dengan salah satu hotel yang tepat berada di kelok 44. Jika ingin homestay juga ada di sekitaran Puncak Lawang. Tapi ingat, jika ingin mengadakan homestay pastikan membawa selimut dan pakaian hangat, karena suhu yang sangat rendah. (abdi)


Pantai Air Manis : Malin Kundang “Anak Durhaka”
by abdimasa on Aug.26, 2012, under Beswan Djarum, Journey #forNusantara, Kabar dari Ranah




Pantai Aia Manih
Cuaca yang cerah adalah awal perjalanan menuju pantai Air Manis di daerah selatan kota Padang. Persiapan yang matang dengan bekal yang cukup, perjalanan dimulai dari pusat kota. Jarak tempuh yang cukup terjangkau, lebih kurang 1 jam saja untuk mencapai salah satu situs cerita legenda, Batu Malin Kundang.
“Cerita rakyat tentang seorang anak muda yang bernama Malin Kundang, pergi merantau meninggalkan seorang ibu dan kampung halaman. Peraduan nasib di negri seberang membuatnya berhasil dan menjadi sodagar kaya. Beristrikan seorang putri cantik ia pulang ke kampung halamannya.
Sesampainya dikampung, didapatinya ibunya yang sudah tua renta dengan keadaan yang sangat miskin. Menyaksikan hal tersebut, ia tidak mengakui bahwa wanita tua miskin tersebut bukanlah ibunya sampai-sampai ia menendang hingga wanita tua tersebut tersungkur jatuh.
Dalam tangisnya, wanita tua tersebut berdoa dan mengutuk anaknya. Sang anak pun bertolak meninggalkan kampung dan kembali berlayar, tiba-tiba gemuruh dan gelombang semakin menjadi menampakkan marahnya. Kapal si Malin Kundang terhempas gelombang yang keras dan disambar petir sehingga menjadi batu, semuanya mem-batu, termasuk sang anak dengan posisi sujud tanda penyesalannya.”


Berlatarkan Pulau Pisang
Pantai Aia Manih, begitu warga sekitar menyebutnya. Dengan gelombang yang bersahabat membuat tidak hanya wisatawan lokal yang sering mengunjungi, tapi juga wisatawan asing yang menikmati lokasi wisata air yang satu ini. Pada umumnya wisatawan asing datang berkunjung untuk berkreasi dengan sebilah papan selancar.


Pulau Pisang Nuansa Pantai Aia Manih
Menariknya, berjalan kaki menyeberangi sebuah pulau, lebih kurang 200 meter dari bibir pantai, dengan tinggi air yang hanya setinggi lutut orang dewasa ini dihiasi dengan karang-karang dan ikan-ikan kecil yang bermain-main di sekitaran. Sungguh pengalaman yang mengasyikan.


Minyak
by abdimasa on Apr.23, 2012, under Kabar dari Ranah, Polah


Tulisan ini disadur dari kolom WASIT GARIS Harian Singgalang Edisi Minggu
penulis : Khairul Jasmi, pimred


Lantas kita berkelahi.
Banyak orang berkelahi karena tidak mendapat. Lebih banyak karena mendapat, tapi tak sama banyak. Sama banyak pun, acap juga membawa sengketa, karena satu sama lain menilai, tak seharusnya seperti itu. Mestinya banyak untuk saya.
Maka muncullah dinamika tidak sehat, saling rampas, saling rebut. Kadang laki orang diambil juga. Bini awak dilarikan entah oleh siapa. Muncullah tragedi. Pada level awal, pacar kita dijujai orang lain. Mengamuk tak jelas ujung pangkalnya.
Peluang kerja untuk kita, tapi karena tidak ada koneksi maka yang lulus orang lain. Mengurus e-KTP, seharusnya duluan, tapi antrean awak dipotong orang. Naik pesawat terbang, bisa juga begitu. Apalagi soal beras raskin dan bantuan gempa.
Nah yang paling ribut soal politik. Hiruk pikuk negeri dibuatnya. Lihatlah pekan lalu, keributan tak terhindarkan karena BBM. Tuhan membuat minyak bukan untuk diributkan, tapi untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya. Yang terjadi justru pertengkaran hebat sejak dulu sampai sekarang. Mulai dari Timur Tengah menjalar ke seluruh dunia. BBM merupakan pemicu paling ampuh.
Jangan-jangan BBM merupakan kutukan pada manusia. Jangan-jangan…
BBM sejatinya untuk kesejahteraan, bukan untuk melukai hati dan perasaan, bukan untuk menghina dan menistakan orang lain.
Bukan untuk dijadikan alat politik. Jika Tuhan mengisap semua minyak di perut bumi seketika ini, maka alangkah malangnya manusia. Apa akal kita lagi?
Kufur nikmat, tidak pandai mem pergunakan rahmat yang diberikan Tuhan.
Saya teringat almarhumah nenek di kampung. Ia nyalakan api di tungku dengan kayu bakar, dengan meneteskan sedikit minyak tanah. Ia nyalakan lampu togok dengan minyak tanah. Ia jadikan minyak itu sebagai obat juga.
Nenek membelinya ke warung seliter dua liter atau sebotol kaca. Ia simpan baik-baik. Kalau satu ketika talendo oleh saya botol itu dan minyaknya tumpah, nenek akan marah. “Lai pandai ang mambuek minyak tu,” katanya.
Pekan lalu kita menyaksikan berhari-hari ratusan ribu orang marah karena minyak. Tidak satupun ada kalimat pujian atas kebesaran Tuhan. Kita lupa.
Kita sibuk bertengkar mencaci maki presiden sendiri. Mahasiswa lupa dengan orang lain. Tampil seolah-olah merekalah yang hebat dan di tangannya nasib bangsa ini.
Negeri kita sobek oleh suara anak-anaknya, terbakar oleh tingkah generasinya. Lantas ada yang bersorak riang. Ada yang sedih, ada yang pura-pura tidak tahu.
Kedewasaan kita habis sudah, luruh oleh emosi. Hanyut dalam sungai kedengkian. Kita memperalat nikmat Tuhan untuk tujuan-tujuan sesaat.
Nenek saya, suatu ketika, kehabisan minyak tanah. Ia bergegas turun mencari daun kelapa kering. Ia bakar, kemudian dihembus-hembusnya lantas dimasukkan ke dalam tungku. Ia pelihara api itu hingga memakan kayu bakar.
Saya teringat semua itu, ketika orang berteriak lantang tentang BBM.
Kita nyaris kehilangan kesadaran atas hal-hal kecil tentang diri sendiri. (*)

