Manusia Aneh

Tidak Ada Yang Namanya Ide…

Antara Cokelat Panas dan Kerinduan Para Penikmatnya “Kopi” : Dia Tersenyum

Saat kesibukan menjadi juru liputan, aku berusaha menjadi penengah antara kordinator liputan dan reporter dilapangan. Korlip memang diberikan kuasa penuh untuk menunjuk siapa yang bertugas dikawasan DPRD, misalnya.

Jarum jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari, beberapa pikiran berkecamuk dengan bahan-bahan presentasi besok. Benar, besok akan ada pertemuan dengan salah seorang pengusahan sukses dari Ibu Kota yang akan membangun sebuah pertokoan di Kawasan Wisata Bukittinggi. Untung saja, presentasinya selepas Maghrib.

Sudah dimana? kenapa baru ngabari aku kalo bakalan telat?

maaf, teleponku baru hidup, tadi kehabisan baterai, maaf.

Oke, aku tunggu ditempat biasa ya.

Tepat akhir bulan nanti, aku akan meliput kegiatan Presiden SBY di Payakumbuh, beliau akan meresmikan salah satu ikon Provinsi Sumatera Barat, Kelok Sembilan. Esok, tepatnya Senin, aku akan mendaftarkan diri ke bagian Humas Pemprov untuk memdapatkan undangan peliputan.

Sepertinya sudah harus mengakhiri hari ini. Aku harus beristirahat, melirik ke arah cangkir putih yang berisi minuman kesukaanku, kopi O tanpa gula. Aku menghabiskan dengan dua tegukan.

Bang, aku sudah coba beberapa kali, tapi tetap tidak bisa. Sepertinya sudah saatnya abang yang turun tangan, langsung.

Benar, mungkin aku yang harus bicara sama kakakmu, kami sudah 4 tahun bersama, tapi dia tidak mau berubah. Mungkin malam minggu esok aku ajak dia keluar.

Iya bang, aku harus ke kampus, ada penelitian bareng dosen, aku pamit dulu, nanti bbm saja.

Sepertinya bukan gugup, tapi presentasi malam ini lancar. Ada beberapa hal yang harus ditekankan kepada “calon investor” itu, yang pasti tentang para “inlender” yang merajai lokasi disana.

Secara lisan, mereka setuju berinvestasi, tapi masih butuh pemahaman yang lebih lanjut. Aku terserah mereka saja. Ohiya, selain bekerja disalah satu media online, aku juga berbisnis dibidang properti. Sekarang sudah saatnya mencari jalan untuk meraup sebanyak-banyaknya rezeki, ini jelas untuk masa depan.

Aku sudah didepan rumah, kita cari makan keluar yuk, sambil bercerita-cerita.

Bentar ya, aku sudah siap. 

Sehari tadi, tidak ada pekerjaan yang selesai, aku hanya sibuk memikirkan bagaimana cara mengatakan kepada “adek” agar kita rehat dulu. Keputusan ini aku ambil karena kesalahanku sendiri. Sepertinya, aku tidak bisa membagi waktu antara pekerjaan dan hubungan ini.

Sepertinya dia sadar, kalau beberapa minggu akhir ini aku menghindar. Aku mengharapkan ia mengerti kenapa  aku memutuskan hubungan.

Kita kemana? Ke kafe biasa aja ya, kalau malam minggu kan ada live musik, pasti seru.

Terserah dek, kalau kesana boleh, gak jauh juga kan.

Kenapa sih, akhir-akhir ini susah dihubungi, ditelpon masuk, tapi ga diangkat, bbm juga gak di baca, ada apa?

Mau pesan apa? nanti aja ceritanya, kita makan dulu, aku mau mie goreng, minumnya seperti biasa, kamu?

Samain aja deh, tapi malam ini aku mau vanilla aja, biar seru.

Sepanjang perjalanan menuju kafe tadi, tidak ada sepatah kata yang terucap. Kami sama-sama terdiam, terkadang, diam menjadi pilihan yang tepat.

Jadi, ada apa?

Dek, beberapa hari ini aku berpikir, kamu harus fokus dulu menyelesaikan koas, mungkin ada baiknya kita bersahabat untuk saat ini.

hah? ada apa? kenapa tiba-tiba begitu? ada yang salah?

Bukan, mungkin aku jenuh, tapi tetap aku mengharapkan kamu untuk mendampingiku nanti. Tapi, untuk saat ini aku tidak bisa berkomitmen.

Dia menangis dan berlalu meninggalkan meja, aku terpaku saat ia melangkah gontai kearah luar. Beberapa pasang mata melihat adegan yang terjadi, beberapa juga acuh yang terjadi.

Aku memaklumi apa yang ia rasakan, aku berusaha mengejar dan menariknya kedalam pelukanku.

Maaf, aku salah, maafkan aku.

Aku yang salah, gara-gara aku, kamu jenuh, pesanku selalu memenuhi ponselmu, aku terlalu berharap.

Aku antar ke rumah ya.

Sepanjang jalan, ia menangis, aku memutar arah mobil menuju ujung pantai, mobilku hentikan kan menatap lekat, wajahnya sendu.

Kita sama-sama berharap, aku menarik tangannya dan menggenggam erat.

Kenapa kesini? Kenapa tidak ke rumah?

Masih ingat? Disini pertama kali aku mengucapkan semua perasaanku? Disini lagi, aku meminta maaf atas semua ucapanku tadi. Aku sayang kamu.

Mungkin secangkir kopi lagi malam ini bisa mengulang semua cerita kita?

Aku tersenyum dan ia juga tersenyum.

Bangga Indonesia : Masih Bangga?

Menarik.

Tema kompetisi blog tahun ini sangat memacu adrenalin, “Bangga Indonesia,” disaat beberapa kasus yang membuat kita merasa tidak bangga dengan Indonesia.

Tertangkapnya hakim Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar oleh KPK melalui Operasi Tangkap Tangan. Nah, kalo yang ini sudah ditetapkan tersangka oleh KPK, bagaimana nasib bangsa?

IndonesiaTapi, perkara itu tidak akan pernah membuat rasa bangga terhadap Indonesia luntur begitu saja. Masih segar dalam ingatan, atlet badminton berhasil mengibarkan Sang Merah Putih di Guangzhou China. Timnas U19 yang berhasil mengangkat piala setelah penantian sekian tahun dengan euforia yang sama saat Susi Susanti mengibarkan Merah Putih 1 dekade yang lalu.

Kalau ada yang masih merasa tidak bangga dengan Indonesia karena kasus-kasus korupsi, salah !

“Hari ini Hakim MK resmi tersangka,” ujar salah seorang teman di Fakultas Hukum Unand. Ia tergabung kedalam organisasi yang notabene “anti korupsi”.

“Sudah saatnya bangsa ini dikelola oleh kaum muda terdidik dengan moral yang benar. Para sunset generation harusnya berbesar hati untuk memberikan tampuk kepemimpinan kepada kawula muda,” tambahnya dengan membara.

Ia mengingatkan, bahwa negara ini merdeka karena perjuangan para pemuda. “Mengutip kalimat Soekarno, beri aku satu pemuda, akan aku cabut semeru, tapi beri aku sepuluh pemuda, akan aku goncangkan dunia,” serunya lagi.

Memang benar, sesaat ia selesai berorasi dalam diskusi singkat, ada seorang mahasiswa baru menyeletuk dan bertanya, “Jadi, abang hendak jadi apa nanti?” 

Dengan suara lantang ia berkata, “aku akan jadi anak bangsa dan akan membuat dunia berkata SALUT DENGAN INDONESIA,” tegasnya.

Lantas, masih ada yang memperolok Indonesia karena perkara hukum para pejabatnya? Harusnya kalian para anak muda berusaha memperbaikinya, buatlah dunia bangga dengan Indonesia, tidak hanya kalian yang bangga punya Indonesia !!!