Manusia Aneh

Tidak Ada Yang Namanya Ide…

Posts Tagged ‘rabab’

Ada Rabab Di Baturaja

Bangga sebenarnya orang minang kalau mendengar dan melihat rutinitas malam minggu orang-orang di Baturaja, Sumatera Selatan tepatnya di jembatan Ogan 2. Ketika malam dari kota Padang menuju Sumatera Selatan melintasi lintas tengah, setelah Muara Enim tepatnya di Ulu Ogan.

sdc11280Salah satu rumah makan Cahaya Baru, jalan lintas sumatera Jembatan Ogan 2 Baturaja, Sumsel. Tertulis disana masakan Padang, Sulit Air. Memang benar, pemilik rumah makan ini adalah keturunan asli Sulik Aia. Ia mengembangkan usaha dibidang kuliner sudah sejak lama, bersama rekan-rekan seperantauan disana.

Rumah makan yang selalu buka setiap hari, bahkan buka 24 jam nonstop. Disini banyak kendaraan yang berhenti, tidak hanya sekadar makan tapi juga untuk beristirahat melepas lelah bagi yang telah melakukan perjalanan panjang. Pemilik juga memperbolehkan untuk mengunakan ruangan di lantai 2 sebagai fasilitas istirahat.

Kebanyakan mobil yang terparkir menggunakan nomor polisi BA (no.pol Sumatera Barat). pemilik rumah makan juga setiap malam minggu mengumpulkan sesama perantau minang disana untuk mengelar acara temu ramah. Hingga mendatangkan ‘artis-artis’ rabab.

Alunan merdu rabab mengisi keheningan malam. Suasana terkadang dipecah oleh gelak tawa para tetua perantau minang. Tidak hanya rabab saja, ada diantara mereka yang memainkan biola, gendang dari galon air minum, dan salah seorang dari mereka ada yang bernyanyi, tapi diikuti oleh banyak suara dari arah meja-meja.

sdc11288Tidak hanya duduk mendengarkan merdunya alunan musik rabab. Mereka juga ada yang datang untuk sekadar ‘ngopi’ dengan teman-teman dan ada juga yang bermain batu domino sambil bercanda.

“Malam minggu disiko, yo takah iko, rami taruih.” Ujar si-Man salah seorang perantau minang yang sedang menyeruput segelas kopi hitam ditangan kanannya.

Alunan rabab juga mengiringi gema stadion bulu tangkis disebelahnya. Masih diisi denganperantau minang disana. Sekali seminggu mereka selalu latihan badminton distadion yang masih dimiliki oleh pemilik rumah makan Cahaya Baru ini.

Kegiatan badminton ini memiliki arah, setelah memasuki satu-satunya pintu masuk stadion, menoleh kearah kanan, maka disana bisa terlihat deretan piala dan penghargaan atas prestasi dibidang bulu tangkis, baik tunggal maupun canda. Hanya saja belum ada disana piala ataupun piagam untuk kategori ganda campuran atau tunggal putri. Masih didominasi oleh putra.

Sebetulnya perkumpulan ini boleh dikatakan sebagai sebuah perkumpulan induk bagi para perantau minang Sumatera Selatan. Kalau pun ada yang lain, paling cuma perkumpulan kecil yang nantinya juga akan main-main disini. Tahun kemaren, mereka mempunyai kegiatan ‘pulang basamo’ untuk merayakan idul Fitri ditanah kelahiran, Sumatera Barat, Sulik Aia. (*)