Dieng : Serene From High Places (Part I)
Posted by P. Agnia Sri Juliandri in Uncategorized on May 6, 2013
Reunian bareng travel buddies pasti yang diomongin gak akan jauh – jauh dari konteks “kapan kita kemana?”. Terbukti dari reunian geng Lumba – Lumba, alias beberapa temen ngetrip ke Teluk Kiluan di Grand Indonesia beberapa waktu silam menghasilkan rencana A, B, C dan D. Tapi rencana ga cuma sekedar wacana. Dari perbincangan gosip, tragedi ngegepin calon laki temen yang 2 minggu lagi naik ke pelaminan, curcol sampe akhirnya tertuanglah kesepakatan kalo kita bakal ngadain trip hore ke suatu tempat. Pilih ini itu sana sini sampe pada akhirnya kita memutuskan untuk pergi ke Dieng.
suatu hari, Bany mention di twitter yang ngasih informasi kalo pas musim panas di Dataran Tinggi Dieng, kita bisa ngeliat butiran es. Kemudian gue reply : “Kalau bulan April ke Dieng, kita bisa ngeliat apa?” banyak yang membalas twit gue dengan “Golden Sunrise dari Puncak Sikunir”. Itu Dua minggu sebelum keberangkatan gue ke Dataran Tinggi Dieng.
Gunung Sikunir memang ga se-happening teman – teman di sekitarnya. Tetapi gunung yang letaknya sekitar 8 kilometer dari Dataran Tinggi Dieng ini menawarkan keindahan panorama alam yang luar biasa. Selain fenomena matahari terbit yang dikenal dengan Golden Sunrise, kita juga bisa ngeliat panorama Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merbabu, Gunung Merapi dan Ungaran.


Gunung ini punya ketinggian 2350 meter dpl. Kita nempuh perjalanan dengan trekking menuju puncak lewat Desa Sembungan yang berada di ketinggian 2302 meter dpl, mendaki jalan setapak licin yang diapit jurang dan hutan. Udara agak tipis sehingga membuat nafas jadi tersenggal dan gue sangat menyarankan untuk pake sandal/sepatu gunung biar ga licin dan gampang mendaki.
Sampe puncak, ternyata udah banyak gerombolan pecinta gunung yang kemah. Masing – masing dari kita langsung ngeplot tempat buat masang tripod dan siap menyambut sang fajar emas. Diiringin ketawa – ketiwi dan gegitaran reggae dari beberapa kelompok pendaki, gue dengat sok taunya ngebidik lensa ke arah datengnya matahari terbit. Maklum, potograper abal – abal, masih belajar nih! hehe.
Gue dan Kak Adel
Daerah di sekitar Dataran Tinggi Dieng sedang agak sepi dari wisatawan karena pemberitaan media terkait Kawah Timbang yang sedang mengeluarkan gas beracun. Tetapi para pelaku wisata Dieng mencoba memberikan pengertian dan bukti dalam bentuk video bahwa tempat pariwisata di Dataran Tinggi Dieng sangat aman untuk dikunjungi karena letaknya jauh dari Kawah Timbang. Untuk itu, selaku traveler, mari kita memberikan informasi kepada teman – teman yang ingin berwisata ke Dataran Tinggi Dieng, bahwa tujuan berwisata ini sangat aman untuk dikunjungin.

Move on? Move that words on!
Posted by P. Agnia Sri Juliandri in quotes on May 6, 2013
Enjoy Sawarna (3)
Posted by P. Agnia Sri Juliandri in Uncategorized on April 21, 2013

Hari terakhir di Desa Sawarna, tentu aja tetep gue manfaatin buat explore Sawarna. Walau kaki udah pegel minta minta ampun dan ketidaksanggupan kita buat ngejar sunrise lagi di pagi buta, akhirnya kita memutuskan untuk ke Goa Lalay, salah satu tujuan wisatawan di Desa Sawarna.
Goa Lalay yang terletak di kaki Bukit Pasir Tangkil ini masuk kedaerah Kampung Cipanas di Desa wisata Sawarna. Lokasi Goa Lalay ini kurang lebih 2 kilometer dari desa Cikaung yang merupakan penginapan di Sawarna berada. Lalay itu merupakan bahasa sunda yang berarti kelelawar karena disana banyak banget kelelawar. Mulut goa Lalay cukup lebar, tetapi atapnya rendah.
Objek wisata Goa Lalay di Sawarna ini merupakan Goa kars (batu gamping). Terjadinya Goa bermula dari adanya retakan batu gamping akibat pengaruh tektonik. Retakan tersebut selanjutnya berfungsi sebagai jalan air yang melarutkan batu gamping yang sifat dan fungsinya larut dalam air. Air yang melarutkan batu gamping tersebut selanjutnya mengendap dan menghasilkan berbagai ornamen goa dimana bagian bawah dasar goa merupakan sungai bawah tanah yang berlumpur dengan ketebalan kira-kira 10 sampai 15 cm. Panjang Goanya sendiri kira-kira diatas 500 m-1000 m.
Ketika mau memasuki goa ini, kita harus hati-hati karena goa dialiri sungai kecil. Disini banyak lumpur yang super licin, kalau salah nginjek bisa kejeblos. Menurut infomasi masyarakat lokal, di Goa lalay itu pernah ada ular yang cukup besar, tapi gatau deh sekarang masih ada ato engga.
Goa Lalay sudah mulai dikunjungi wisatawan sejak tahun 2000. Panjang Goa yang bisa dikunjungi hanya sepanjang 250 meter saja dari pintu goa karena semakin dalam semakin mengecil. Panjang goa ini diperkirakan mencapai 10 hingga 15 kilometer. Banyak juga jalan – jalan yang di blok karena kalo menurut gaetnya, pernah ada yang nyoba kesana tapi ga berhasil.
Untuk menuju ke Goa Lalay lebih mudah diakses dengan menggunakan ojek ketimbang berjalan kaki, karena lokasinya memang cukup jauh. Gue pun dianterin A’Ndut naik motor, hehe Kalo ojek,bayarnya kurang lebih 30ribu. Untuk masuk ke goa, kita dikenakan biaya masuk yang ga mahal dan biaya gaet seikhlasnya. Alas kaki dan barang yang ga penting lainnya dititipin di pos. Berhubung ada A’Ndut nungguin kita di pos, jadi barang – barang kita di titip di si aa. hoho.
Karena sumber cahaya dalam goa hanya dipintu masuknya, maka semakin dalam akan semakin gelap, makanya kita butuh senter dan berbagai penerangan. buat moto pun kita perlu bawa flash. Goa ini selalu digenangi air. Air ini dipengaruhin kondisi cuaca yang ada disekitarnya. kalo musim kemarau, maka debit air akan berkurang. Dan sebaliknya, kalo musim hujan, maka debit airnya juga meningkat.
Difotoin Nanda, hehehe
Enjoy Sawarna (2)
Posted by P. Agnia Sri Juliandri in Uncategorized on April 21, 2013

Pernah liat film James Bond “The Man With The Golden Gun” yang nampilin scene di sebuah pulau yang punya karang tinggi – tinggi? Setting film yang dimainin oleh Roger Moore itu terlihat baguuusssss banget, yang ternyata terletak di pulau Ko Tapu, Thailand atau yang pada akhirnya terkenal dengan sebutan James Bond Island. Nah, kemudian jadilah batu karang yang tinggi tersebut sebagai salah satu pusat daya tarik para wisatawan di Phang Nga Bay sampai saat ini.
Namun ada satu tempat di Indonesia, quite same alike dan ga kalah bagusnya dari James Bond Island di Thailand yang juga memiliki daya tarik wisata yaitu sebuah pantai dengan ombak dari Samudera Hindia dan karang – karang raksasa yang berdiri megah. Keindahan ini dapat dilnikmati di Pantai Tanjung Layar.
Tanjung Layar terletak di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Lebak, Banten. Jaman Hindia Belanda dulu, Tanjung ini namanya Java’s Eerste Punt atau “ujung pertama pulau Jawa”,kalo orang berlayar datangnya dari barat. Pas nyampe di pantai ini, Kita akan segera tau kenapa pantainya disebut Pantai Tanjung Layar. Di pantai ini terdapat dua buah batu karang raksasa yang berbentuk seperti layar kapal yang terkembang.
Kalau sedang surut, kita bisa jalan mendekati karang yang tinggi tersebut. Namun kalau air sedang pasang, perlu berenang untuk mencapainya. Perlu ekstra hati – hati karena ombak yang cukup keras menghempas, karang – karang yang tajem dan juga konon katanya terdapat bulu babi di sekita karang tersebut.
Dari beberapa pantai yang kita datengin, Pantai Tanjung Layar ini lah pantai paling rame dan akhirnya rebutan tempat buat para fotografer, haha. Emang kebetulan kita kesana bukan pas peak season, jadi ketemunya cuma fotografer – fotografer aja, jarang ada wisatawan lalalili. Kita menuju Pantai Tanjung Layar setelah dari Pantai Pulau Manuk, yang gabisa kita sebrangin karena lagi pasang dan ombak yang super besar.
Emang udah ada didalam jadwal kita kalau kita mau sunset di Pantai Tanjung Layar, sebelum ngabisin malam terakhir kita di Desa Sawarna..

The Beauty of Tanjung Layar

ini punya Nanda, beda emang hasil fotonya kalo fotografer *sigh*
Enjoy Sawarna (1)
Posted by P. Agnia Sri Juliandri in Uncategorized on April 21, 2013

President director gue yang baru super baik suka ngasih libur gratis 1 hari di setiap ada hari peringatan sesuatu yang cuma bisa diambil di bulan tersebut. Tentu aja gue ga akan nyia-nyiain kesempatan seperti ini kan untuk bisa cabut traveling.
Kali ini perjalanan gue ke Sawarna, Bayah, Lebak, Banten, Jawa Barat. Lumayan jauh ke arah barat daya dari Palabuhan Ratu. Desa ini udah jadi bulan – bulanan gue dari hampir 2 taun yang lalu. Mungkin gue udah pernah cerita, pas pindah balik ke Jakarta setelah wisuda, gue berencana jalan – jalan kemana aja bareng geng random gue. Setelah nyebut – nyebut Sawarna, eh jadinya malah ke Tanjung Lesung. Nah, tahun ini akhirnya bisa kesampean juga pergi ke Sawarna.
Bertolak dari rumah gue naik mobil Nanda, kita lewat Jagorawi menuju Bogor dan kemudian berhenti makan siang di Sukabumi. Waktu nyampe Sukabumi, jalanan diguyur ujan, jadi kita juga cuma berenti makan di restoran Sunda pinggir jalan yang keliatan agak bonafide. Haha, emang agak sok iye, tapi gapapa lah, namanya juga liburan. :p
Abis makan siang, kita ngelanjutin perjalanan kita menuju Palabuhan Ratu, kemudian ke arah Bayah. kita cuma ngandelin Google map, Waze, sama plang penunjuk arah doang. Secara kita sama – sama belum pernah ke sana. berangkat sekitar jam 10 pagi, kita baru sampe Desa Sawarna magrib. Ahlasil, begitu sampe yang ada cuma ngobrol – ngobrol bentar sama A’Ndut yang punya homestay, makan, nonton berita, trus tewas.
Jam 4 pagi kita udah berangkat untuk ngejar sunrise di Karang Bereum. untuk nyampe ke karang bereum, kita harus jalan kaki ngelewatin persawahan. Berhubung malemnya ujan, makanya jadi becek banget. Gue sangat menyarankan untuk make sendal gunung, biar gripnya enak pas jalan ngelewatin batu2an. Waktu gue kesana, emang masih hari – hari purnama gitu, jadi airnya pasang dan ombaknya kenceng banget. Sayang, mataharinya malu – malu..
Jalan Kaki disini juga harus hati – hati, sendal gue sempet kelepas dan ga sengaja nginjek karang. Pas lagi duduk, mendadar telapak kaki gue berdarah – darah, ternyata ga kerasa kaki gue sobek. Siangnya baru kerasa nyeri – nyeri. Untung di warung deket situ jual hansaplas..
Karang Bereum.
Puas ngejar – ngejar sunset, kita jalan kearah Laguna Pari. Laguna Pari ini merupakan teluk berbentuk U, dengan hamparan pasir putih. Layaknya pemandangan pantai, kita bisa ngeliat pohon kelapa dengan beberapa warung gubuk. Pas gue nyampe sana, ada 2 kapal nelayan yang baru balik abis melaut. Kata orang – orang di warung, Laguna Pari ini merupakan kawasan paling aman untuk berenang di seluruh pantai – pantai di Desa Sawarna.
Nelayan pulang melaut di Laguna Pari
“Ini Teh, ini surganya fotografer teh”, kata A’Ndut, pemilik homestay yang kami tempatin sambil nunjukin foto Karang Taraje yang ada di handphone-nya. Yuk kita kesana!!
Karang Bereum, Laguna Pari dan Karang Taraje saling bersamping – sampingan. kurang lebih jaraknya 2 kilometer dari Desa yang banyak penginapannya. Walau ada beberapa penginapan yang letaknya deket sama Laguna Pari. Sebenernya tempat ini bisa diakses naik Motor, tapi ngeliat bebatuan licin yang jalan kaki aja susah, gue sih menyarankan untuk jalan kaki aja, daripada jatoh.. hmm banyak sih fotografer yang bawa perlengkapan lengkap naik ojek gitu kesana. Ojeknya sendiri harganya 100-150 ribu seharian. 
Naik turun bebatuan ditengah sawah
Karang Taraje merupakan salah satu pantai yang terkenal di Desa Sawarna. Pantai ini disebut Karang Taraje karena emang didominasi oleh karang. Taraje sendiri, dalam Bahasa Sunda berarti tangga berundak.
Konon katanya, dulu ada bagian karang di sini yang membentuk tangga berundak. Tangga ini dimanfaatkan penduduk Sawarna sebagai jalan.Nah, sayangnya, waktu gue kesana tangga berundak itu udah ga ada lagi. Mungkin hancur akibat gempuran ombak laut selatan yang luar biasa besar menghentak.
Pantai ini emang punya pesona sendiri dengan hempasan ombaknya yang keras, emang kunturnya beda sama karang pemecah ombak yang ada di Water Blow Bali, tapi tempat ini selalu jadi tujuan yang favorit bagi wisatawan terutama fotografer. Teknik mainstream fotografer disini, slow speed udah paling jadi kesukaan.
Karang Taraje dengan slow speed
Puas foto – foto, kita balik ke homestay untuk makan. A’ndut ngajak kita ngelewatin sawah yang saat itu padinya udah menguning. Sumpah, buat orang kota yang tiap hari nemu macet kayak gue, pemandangan ini bener – bener bikin mata seger. Belum lagi, penginapan gue letaknya dipinggir sawah. Begitu nyampe, kita langsung disuguhin kelapa muda. Tarik napaaasssss, huuuu haaaa..
Padi yang menguning di Desa Sawarna
Gili Lawa Darat, The Best Sunset Ever!
Posted by P. Agnia Sri Juliandri in take a look around, Uncategorized on February 25, 2013





“The best sunset ever!” my divemaster said.
At the first my divemaster said that we will hike to the top of a hill, I can’t believe what He said. It’s crazy, it’s quite high, that is just a silent hill, without any human life, any foot path, and all I see is just a huge savanna. Gili Lawa Darat is an island in the north east of Komodo. The island is almost seen as a desert barren savanna which wholly covered by grass.
“We should go fast, the sun is starting going down!” he said after binding our boat into a tree on the beach. It should take about 15 to 20 minutes to reach the top. There at the top, while waiting for sunset, taking pictures should be a must. Facing to the west, there you can see the Sanghiang island from far, an active volcano island. There is the sun goes down. Right in front, there is Komodo Island with its barren savanah which almost covering most of the island. Down at the bottom of the island, you will be amazed by the long white sandy beach with clear breathtaking coral formation. Those who love photography, this is a heaven.
I don’t wanna talk, no more. Just enjoy the photos. The best sunset spot in Taman Nasional Komodo, it is.






Posted by P. Agnia Sri Juliandri in Uncategorized on February 15, 2013

“…karena pada saatnya kita harus paham bahwa bila manusia yang bukan-atau sudah tidak menjadi bagian dalam lingkaran hidup seseorang, itu akan menjadikannya (terkadang) diperlakukan secara tidak layak.”
The one that I can’t live with. -or without.
Posted by P. Agnia Sri Juliandri in Uncategorized on February 12, 2013


Pulau Kalong dan Sapaan Bintang Jatuh
Posted by P. Agnia Sri Juliandri in Uncategorized on February 11, 2013

Kata Kapten, nanti malam kita bakal bermalam di Pulau Kalong..
Gue sontak berpikir kita akan nginep di deket gua dengan tenda dan api unggun, di sebuah pulau yang kecil sepi dan deket dari bibir pantai. Dari Kapal, untuk mencapai gua, kita harus ngelewatin beberapa semak – semak dan jalan setapak. Langitnya bakal teraaaang banget ada bulan dan banyak bintang. Anak – anak bersuka cita bercanda ketawa joget sambil denger musik Reggae. Tapi mendadak Leonardo Di Caprio ngeplak khayalan gue yang ternyata itu adalah scene film The Beach yang beberapa hari sebelumnya gue tonton.

yaa kurang lebih mirip – mirip beginilah imajinasi gue. haha
Langit sore di Laut Taman Nasional Komodo berwarna jingga. Sepanjang perjalanan gue dan temen – temen pemenang lomba blog Djarum Beasiswa Plus ga bosen – bosennya nikmatin pemandangan yang luar biasa indah sambil sibuk foto – foto. Laut Komodo tenaaang banget. Cuma sesekali keliatan ada arus yang ga begitu besar. Kita beruntung banget saat itu karena di perjalanan yang tenang selama kurang lebih satu jam dari Labuan Bajo ke Pulau Kalong kita nemu 2 pelangi.




Dan kemudian Pace Naga nurunin jangkar pelan – pelan..
Pulau Kalong merupakan salah satu pulau kecil di Taman Nasional Komodo. Pulau ini terletak di antara pulau Rinca dan pulau Papagarang. Pulau Kalong merupakan pulau tanpa penghuni. Dengan luas yang kurang lebih 5 hektar, Pulau Kalong ga punya dermaga atau pelabuhan. Kapal berlabuh di perairan dengan jarang beberapa meter agak jauh dari Pulau Kalong. Kapten Manto dan Pace Naga tampaknya udah tau banget dimana kapal harus berhenti karena dalam waktu setengah jam dari kapal berlabuh, tiba – tiba ribuan Kelelawar berterbangan di langit dari Hutan Bakau yang mengisi pulau itu tepat mengarah kearah kita.
Its totally amazing! Puji Tuhan, Tuhan Maha Besar. Kelelawarnya banyaaaaakkk banget ga abis – abis. Kata Bang Syarif, Divemaster yang ngedampingin kita, kelelawar – kelelawar itu terbang ke arah Kepulauan Flores untuk nyari makan, trus bakal balik lagi besok paginya. Tuhan Maha Besar dengan ciptaannya yang menakjubkan, Kelelawar itu ga ada habisnya keluar kandang, bahkan sampe langit gelap dan kita gabisa ngeliat apa – apa selain Bulan dan dan banyak bintang yang bertebaran di Langit.


“Wow, 6 bintang jatuh? Komodo island must be kidding me! Selamat malam bintang jatuh” tulis gue di twitter sebelum pada akhirnya gue tidur di tempat tidur bertingkat di dek kapal MV Yohannes III. Sebelumnya gue dan teman – teman dikasih makan malam yang luar biasa enak. Ternyata Kapten Manto yang masak dibantu sama Bang Syarif asistennya.
Porsinya agak berlebihan sih menurut gue, tapi ternyata abis – abis juga sama anak – anak. Ada potongan ikan Giant Trapuli, kentang goreng, salad sayur (potongan timun dan wortel rebus yang disiram mayonaise) plus daun – daunan yang udah disiram olive oil, tahu tempe goreng gurih, capcay dan cumi goreng. Rasanya ala restoran hotel berbintang sumpah gue ga boong. Mungkin karena si Kapten udah biasa masakin bule kali yaaa, jadi standarnya jg agak tinggi.
Abis makan, kita naik ke geladak kapal, didepan ruang kemudi. Bercanda – bercanda ketawa – ketawa rebahan bareng berbantal pelampung sampe akhirnya pada ketiduran dan sisa gue sama Yassir yang ngobrol ngalur ngidul dari masalah kuliah, traveling, sosial, sampe ngitungin bintang jatuh. Yassir penasaran banget karena disela – sela obrolan gue selalu nyeletuk “eh bintang jatuh” tapi dia ga liat – liat. sampai akhirnya banyak banget bintang jatuh yang menyapa, baru deh akhirnya Yassir kedapetan ngeliat salah satunya. Haha. Selamat malam bintang jatuh..
Cunca Rami, Air Terjun Dalam Hutan
Posted by P. Agnia Sri Juliandri in poem, quotes, Uncategorized on January 2, 2013

“Kakak namanya siapa?” Tanya seorang anak kecil di Kampung Roe, Manggarai Barat.
“Haloo, kalo adek2ku manggil aku Kak Nia..Kalian boleh panggil aku Kak Nia juga. Kalau nama kalian siapa?” Jawab gue.
Itu celoteh singkat Santi, bocah kelas 5 SD yang tampak masih polos. Kenapa gue bilang tampak, karena gue bertanya – tanya, kayanya gue waktu SD ga polos – polos amat deh. haha. Gue tanya ke bocah kecil di sebelahnya, namanya Yano, masih kelas 3 SD. “Santiyano, numero uno!” mereka ketawa seneng banget waktu gue melafalkan kalimat itu untuk nginget nama mereka. Mereka keliatan bersuka cita waktu kita sampe disana.

ini foto favorite gue dari Yassir
Sebelumnya gue dan temen – temen pemenang blog competition Djarum Beasiswa Plus mendarat di Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo tepat sebelum makan siang. Tour leader kita, Bang Chandra, udah siap jemput di depan bandara dan langsung ngebawa kita ke resto & bar yang paling happening di Labuan Bajo, Treetop. Kata Bang Chandra, yang punya Treetop resto & bar ini anaknya yang bikin buku Diving Bali. Jadi ceritanya dia kerja di Departemen Pariwisata di Flores, trus kerja sama bareng arsitek asal Jerman. Tarraaa,, ide brilian berhasil terwujud berbentuk sebuah restoran pewe dengan konsep kayu dan desain mirip perahu. Kita bisa ngeliat laut Labuan Bajo dari lantai atas restoran ini. Dan (lagi-lagi) kata Bang Chandra, Seafood di restoran ini paling enak sejagat Bajo.


Tulisan ini epic. Gaboleh banget ga foto disini haha
“Makan yang banyak, abisin, abisin.. Abis ini bakal gue peres tenaga kalian. percaya deh sama gue, hari ini masih panjang!” kata Bang Chandra.
Bukan masalah meres tenaga atau apa, karena gue tau di setiap perjalanan itu pasti akan selalu capek, tapi emang luar biasa kita disuguhin makanan lengkap dari Sapo Tahu, Kangkung cah, Ikan, Udang, Kepiting, Kerang, Cumi, Ayam. Dan ini semua bagian dari trip, alias gratis! aaaaaaaaaa gue berasa di surga! oh, oke, ini agak lebay. Karena gue bakal nemu surga – surga kecil lainnya selama komodo trip ini. Mau tau? Mau tau aja apa mau tau bangeeet? *ala anak jaman sekarang*


Kita di depan Treetop
Selesai makan, Bang Chandra mengkoordinir untuk naik ke mobil yang bakal nganter kita ke Cunca Rami, Air Terjun yang berada di Kampung Roe, Desa Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat. Jarak dari Labuan Bajo ke air terjun ini sekitar 40 km. Jarak tempuh sekitar 45 menit sampe 1 jam dengan kondisi jalan beraspal dengan jalur lintas Flores. Kebetulan pas kita lewat banyak titik yang aspalnya lagi dibenerin jadi kita banyak papasan dengan jalan sempit karena dipenuhin alat berat.
Gue semobil bareng Bang Chandra, Yassir dan Bedul, plus driver yang agak sedikit tambun. Masuk daerah Kampung Roe, Bedul bak turis kampung yang heboh setiap ketemu orang, jadi sepanjang jalan dia manggil2 trus dadah-dadah. Sampai Kampung Roe, kita harus trekking kurang lebih 1 jam untuk nemu Cunca Rami. Cunca Rami berada di kawasan geo tourism di Hutan Mbeliling. Cunca Rami itu berasal dari bahasa Flores, cunca artinya air terjun dan rami artinya hutan. Jadi maksudnya air terjun yang ada di dalam hutan.
Anak – anak Flores ini seneng banget sama kita sampe mau ikut trekking ke Cunca Rami. Santi ngegandeng tangan gue, Yano ngegandeng tangan Bedul, dan yang lainnya beriringan jalan bareng Wahyu, Zulfi, Ayu dan Yassir. Karena gue terbiasa ngasuh Satria, adek gue yang masih TK, jadi gue ngajak mereka nyanyi lagu anak – anak sambil mencoba ngilangin rasa capek karena harus jalan kaki sekitar 1 jam untuk sampe ke tujuan. Jalur yang kita lewatin macem – macem banget, nurunin bukit, ketemu hutan kemiri, persawahan, sungai yang airnya bening banget, sampe bebatuan yang cukup licin.


Kalau yg ini foto favorite gue dari Wahyu 

![]()


Bang Chandra, Gue, Santi, Yano, Wahyu dan Bedul
Bebatuan ini cukup terjal, hati – hati..
Cunca Rami udah mulai keliatan dari kejauhan
Perjuangan turun bukit sama sekali ga seberapa dibanding dengan keindahan Cunca Rami. Sumpah disana adeeemmm banget. Air terjun yang tingginya kurang lebih 30 meter dengan tingkat 3 ini bener – bener ngebuat kita relax, jauh dari segala hiruk – pikuk kota. Danau dibawah air terjun rasanya manggil – manggil buat nyeburin diri. Sayang, gue ga bawa baju ganti.
Ga kerasa waktu berjalan cepet banget. Kita diingetin Bang Chandra untuk segera balik ke mobil dan loading ke Kapal yang bakal ngebawa kita ngelilingin Taman Nasional Komodo. Bye Cunca Rami, kamu sukses ngebuat kaki saya hilang di hari pertama Komodo Trip kali ini. Haha.


Keindahan dan kemegahan Cunca Rami


Gue dan Cunca Rami











