Archive for category take a look around

Ketika wanitapun teriak “CAK-CAK-CAK!”

His name is Ferry..

Gue kenal ferry dari sebuah jejaring fotografi yang lagi happening banget saat ini. Waktu itu gue lagi seneng – senengnya ngedit HDR dan nyari banyak referensi. Sampe pada akhirnya gue kenal ferry yang kemudian ngajak gue gabung di komunitas IBalinesia. Berawal dari ngobrol via line, sampe akhirnya bisa ketemu pas libur lebaran kemarin akhirnya kita bisa bertemen secara nyata. haha. Ferry berasal dari Ubud. He’s a kind of true Balinese man di mata gue- yang walo dalam beberapa komen dia di blog gue dia sendiri menyatakan kalo dia juga Bali abal. Well, setidaknya dia ga seabal gue. haha.

Anyway, ngomong – ngomong soal abal, mari kita gausah ngomongin bro Ferry melulu sebelum kupingnya panas atau terbang setelah baca postingan ini. Hahaha. Gue mengakui gue Bali abal karena seumur – umur darah Bali ngalir di darah gue, gue belum pernah sekalipun nonton Tari Kecak secara live. Tari Kecak, yang notabene merupakan tarian asal pulau tempat gue dilahirin ini, udah terkenal banget dimata dunia. Kalo dipikir – pikir, Hellooooo~ kemana aja gue selama twenty something years (sok gamau nyebut umur :p ) iiniiiii?

Waktu libur lebaran kemarin, gue sempet janjian sama Ferry buat jalan bareng tapi tiba – tiba Ferry ngebatalin karena dia kelupaan punya jadwal nugas di Desanya. Thats how our culture works, ada pembagian tugas di Banjar (semacam kumpulan orang di daerah tempat tinggal) dalam berbagai kegiatan desa. Entah itu upacara ngaben, Odalan Pura, dll. Nah, kalo si Ferry ini, dia tugas jaga pagelaran Tari Kecak yang diadain di Pura Batu Karu, Pura di Ubud, yang diadain sama banjarnya. Sayang waktu itu gue ga ada kendaraan jadi gabisa nyamper Ferry ke Ubud buat nonton pagelaran kecaknya. Kecewa? iya..

Tapi dikesempatan lainnya, akhirnya gue bisa juga nonton Kecak di Ubud, walo gue dateng agak telat karena kejebak macet dari depan hotel kita di daerah Kuta. Hari itu gue punya kesempatan untuk spent some night in Bali. Tentu aja ga akan gue sia – siain kesempatan ini. Didalam sebuah mobil sewaan yang disetirin Tarra, temen gue dan Ferry di IBalinesia, kita bertolak ke Ubud. Oh, jangan dilupain, bayi – bayi mahasiswa heboh pemenang Blog Komodo juga ikut duduk menuhin jok belakang. Iya, Tarra cuma bisa geleng – geleng kepala ngeliat kelakuan dan ocehan mereka. Gue pun maklum. Hahaha. Rame!

Ferry-gue-Tarra bersama pelakon sendratari

Gue ga akan cerita banyak tentang Ubud karena gue udah pernah cerita di postingan ini. Kali ini gue mau share ke kalian tentang Tari Kecak yang fenomenal. Seperti yang kita tau, Tari kecak dimainin penari antara 50-150 orang yang rata-rata adalah laki – laki, para penari Kecak duduk berbaris dan melingkar dengan kedua tangannya diatas sambil menggerakkan jari-jari sambil menyuarain suara cak-cak-cak, dengan irama yang udah diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan suara yang saut – sautan dan enak didenger. Di tengah kerumunan penari-penari itu terdapat beberapa orang yang meranin lakon ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana dan tokoh-tokoh dalam pewayangan lainnya.

Kalau menurut sejarah, Tari Kecak diciptain sekitar tahun 1930 oleh wayan limbak dan pelukis dari jerman walter spies. Sejarah Tari Kecak ini sebenarnya berasal dari ritual Sanghyang  yang pas nari, mereka  yang dalam kondisi gak sadar ternyata bisa  berkomunikasi dengan Tuhan atau roh leluhur untuk  menyampaikan keinginan-keinginan  mereka biar diberi kebaikan dan kedamaian. Tapi ada satu yang unik yang disuguhin dari Desa Ubud Tengah ini yang menjawab pertanyaan kenapa gue segitunya niat kepengen liat pagelaran di desanya Ferry ini, karena ada statement Ferry : “ini satu – satunya kecak yang dibawain sama perempuan”

Aksi Kecak Srikandi

Zoom Edition

Bukan Bali namanya kalo ga berasa magis

Mayoritas penontonnya adalah bule


Sekaa Tari Kecak di Ubud ini bernama Kecak Srikandi. Kelompok tari ini isinya ibu – ibu PKK dari desa Ubud Tengah. Emansipasi? iya. Karena sekarang wanita Bali emang seperti pengen buktiin kalo wanita ga hanya jago ngurus suami, ngedidik anak, manajemen keuangan rumah tangga, membuat sesajen dan segudang tugas kodrat wanita lainnya, tapi juga bisa menciptakan kreatifitas di bidang seni. Di rumah gue yang di kampung jg gong-nya dipake latian sama perkumpulan ibu – ibu lho..


Anyway, gue sangat excited untuk nonton tari kecak ini. Pertunjukan digelar dibawah pohon beringin tua, dengan penerangan obor – obor di sekitarnya. Pas gue bilang ke Tarra, “Tar, ini kecak pertama aku lho..” eeeh ternyata ini juga merupakan Kecak pertama buat Tarra. Jadi siapa sih disini yang beneran Bali? haha. Malem itu penonton ga begitu banyak.  Berhubungan kita dateng agak telat dan gue kenal sama Ferry, dengan berbaik hatinya, panitia ngebolehin kita nonton secara gratiisss :D Horee!

So, silahkan loh kalau ke Bali, liat pertunjukan tari ini. Keren banget pokoknya!! :D

Yassir, Wahyu, Ayu, Bedul, Zulfi. Bayi2 komodo foto bersama para penari

, , , ,

5 Comments

Mendadak Karimun Jawa

“Kenapa sih obses amat sama Hiu?!” protes Setra waktu gue kegirangan bisa liat ketemu Hiu di Pulau Menjangan Besar, salah satu gugus kepulauan Karimun Jawa. “Berisik! Sini aja nyebur bareng, Hiunya pemalu!” jawab gue asal sambil diketawain Mas Kuntet. Anyway, ini gue ga main – main, karena di Pulau Menjangan Besar ini ada pusat penangkaran Ikan Hiu dimana para wisatawan diperbolehkan berenang bersama hiu yang di pelihara di penangkaran tersebut.

Gue bersama blacktip reef shark :D

Pulau Menjangan Besar ini letak sekitar 10 menit sebelah selatan dari Pulau Karimunjawa. Berdasarkan pengalaman gue, pulau ini emang menawarkan pengalaman wisata yang bisa dibilang unik dan engga biasa, yaitu kesempatan untuk berenang bersama ikan hiu. Pulau seluas 56 hektar ini punya 2 kolam penangkaran dengan kelompok-kelompok hiu yang menunggu kita untuk “bermain” bersama mereka.

Sekelompok Blacktip Reef Shark dan beberapa Whitetip Reef Shark yang menghuni salah satu kolam jadi bulan – bulanan para wisatawan yang pengen foto bareng. Seperti yang udah gue certain di postingan ini, rata-rata hiu dewasa punya panjang 2,5 meter. Jenis Hiu ini emang suka perairan dangkal berpasir. That’s why di penangkaran ini dibuat sedemikian rupa sesuai dengan habitatnya. Meski merupakan predator aktif yang doyan mangsa ikan-ikan kecil, lobster, udang, kepiting, cumi-cumi, dan bahkan ular laut dan burung, jenis hiu ini cenderung jarang membahayakan manusia, kecuali jika dipancing dengan makanan atau darah.

Sejak gue ketemu Hiu di Bali waktu diving, gue jadi merasa memiliki ikatan tertentu sama Hiu. Kalo yang rese pasti langsung teriak “Ciyus? Miapah?” dan akan langsung gue jawab : “Iyah, Ciyus, Miowoh, Miegomak, Miyabi!”-_- okay, pembicaraan ini mulai ga penting.

Anyway, God is good. Beliau mendengarkan doa September wish gue untuk berangkat ke Karimun Jawa. Tekad gue sih no matter what- no matter how, gue harus berangkat ke Karimun Jawa. Udah dari H-1 bulan ngajak sana – sini, selaluuuu aja ada yang bilang mau tapi banyak tapinya. Ribet. Gue memutuskan untuk berangkat sendiri. Untungnya Jodoh ga cuma bisa menyangkut pasangan hidup doang, tapi juga menyangkut segala aspek jalan – jalan. Buktinya, jodoh yang mempertemukan waktu yang pas buat gue bisa berangkat ke Karimun Jawa. Jodoh pula yang mempertemukan waktu yang sama dengan ketersediaan Setra sebagai partner traveling gue kali ini. Jodoh juga yang mempertemukan kita dengan Mas Kuntet, penduduk asli Karimun Jawa yang jadi gaet terpercaya yang ngurus gue dari Jepara.

Karimun Jawa Day 1

“aaaahh paraahh, gangerti banget kenapa rasanya gue capek abis hari ini” kata gue ke Setra yang lagi sibuk melototin laptopnya karena dia harus bikin tugas kantor dan gue udah geletakan diatas kasur bersiap untuk tidur. “And party, and bull**, and party, and bull**”, cuma suara itu yang keluar dari mulut Setra. Pas gue nengok, ah sial, dia udah menjarah headset + ipod gue. Dan dia nyanyi lagu Rita Ora, full satu lagu dengan suara agak kebancian khas Setra yang malah jadi lagu pengantar tidur gue. hahaha

Anyway, jam 6 pagi gue berangkat ke Jepara dari Semarang untuk ngejar Kapal Express Bahari yang dijadwalin berangkat jam 10.30 WIB ke Karimun Jawa. Menumpang mobil travel seharga 50 ribu dan langsung dianter ke pelabuhan kartini. Setra udah berangkat dari jam 6 sore hari sebelumnya karena dia mesti nempuh perjalanan Jakarta-Jepara dulu. Oh iya, Setra ini temen deket gue dari SMP. I’m not that worry pergi berdua bareng dia karena dia udah kayak sodara gue sendiri. Secara SMP bareng, SMA bareng lagi, trus kuliah sama – sama di Bandung. He’s my besties, my bitch, my banci, my gay, my lesbians, pokoknya ga ada deh nafsu2nya sama orang ini.

Gue nyampe Karimun Jawa sekitar jam stengah 3an, sempet makan trus langsung gabung sama rombongan tamunya mas kuntet ke spot snorkeling pertama pake perahu pinky yang dibanggain banget sama mas kuntet. Karena emang udah sore, jadi kita cuma sempet ke 2 spot aja yaitu ke Gosong Cemara dan Pantai Tanjung Gelam. Gue ga bawa alat snorkel sendiri, selain emang gue tinggal di Jakarta, Mas Kuntet bilang kalo nanti alat snorkelnya bisa dipinjemin.

Gapura selamat datang di dermaga Karimun Jawa

Karimun Jawa emang punya keindahan bawah laut yang cukup indah. Kalo gue bilang lautnya cukup mirip dan setipe sama Phuket. Tapi ikan – ikan di Karimun Jawa ga seperti ikan – ikan di Bali atau di Phuket yang kalau dikasih makanan langsung ngedeket. Karimun Jawa itu terkenal sama karangnya yang warna – warni. Yang berenang dan snorkeling disini, tolong banget jangan ngerusak karang yaa, gue juga sering banget denger gaet – gaet disana pada teriak – teriak ngingetin orang – orang buat ga nginjek karang. Huufft. Susah banget ya dibilangin..

Setelah puas berenang, Mas Kuntet ngajak kita untuk pindah spot ke pantai tanjung gelam. Anyway, berhubung ini Karimun Jawir, dimana mayoritas pengunjungnya juga dari jawa dan daerah domestik lainnya, jadi gue ga niat berenang Cuma pake bikini doing, jadi gue ga lepas kaos. Naah, di Tanjung gelam kan ga bakal berenang lagi, jadi gue ganti baju.. Kaos Lady Gaga kesayangan pemberian sang mantan yang gue pake berenang, gue jemur di atas perahu. Gue liatin banget biar ga terbang. Pas gue tinggal bentar kebawah, balik – balik dengan polosnya setra sama mas kuntet laporan, “kaosnya terbang..” HUAAAA!!!! Kaos kesayangan gue ilang, terbang, dan tenggelam…….tenggelam bersama hati gue.*halah.

Pantai Tanjung Gelam merupakan pantai di sebelah barat Karimun Jawa tempat matahari terbenam. Jadi kita bisa menikmati sunset di sana. No worries, karena pantai itu bukan pantai kosong, jadi setelah puas berenang lalu kelaperan, ada banyak warung – warung yang nyediain makanan dari mie sampe gorengan, dari kelapa muda sampe bir dingin. Manteepp!! Jangan lupa juga coba untuk naik ke atas pohon kelapa yang letaknya agak nunduk, meningkatkan adrenalin sendiri..

Monyet kurus obses jadi gorila kekar :p

Sunset dari Pantai Tanjung Gelam

Udah bosen jalan, bengong, nontonin matahari, foto – foto, makan dan minum, mas kuntet mulai manggilin kita ke perahu untuk balik ke Pulau Karimun Jawa. Sepanjang jalan gue cuma bisa bengong, mikirin apa kabar kaos gue dibawah laut sana. Jadi nanti kalo ada penemuan kaos lady gaga yang karam di laut Karimun Jawa, yang dipikir ada simpatisan pemuja setan ya disana. Itu cuma kaos gue kok yang tenggelam gara – gara kecerobohan. Haha.


Karimun Jawa Day 2

Terbangun dan mendapati kamar udah gelap banget. Kepulauan Karimun Jawa belum punya listrik dari PLN. Kalo kata Setra, susah banget karena ini daerah kepulauan jadi mesti dibangun jalur kabel bawah laut dan sebagainya dia cerita panjang lebar. Jadi, pulau Karimun Jawa cuma pake genset yang dinyalain dari jam 6 sore sampe jam 6 pagi. Sinyal Henfon juga minim banget disini. Bisa dibilang, Blackberry gue sangat tidak berfungsi dengan baik dimana ipad juga udah mutlak tertera ‘no service’ di bagian sinyalnya. Gue kelimpungan karena hari ini dijadwalin untuk pengumuman Blog Competition Beswan Djarum, ceritanya udah gue certain di postingan sebelumnya.

Gue buka jendela dan pintu kamar, paaasss banget mbak – mbak yang masakin sarapan dateng. Enak banget loh masakannya, sayang aja gue sama Setra bukan pelahap maut, jadi banyak makanan yang kesisa. Pengeeennn banget bisa kita makan semua. Mas Kuntet langsung nyamperin kita dan ngenalin ke kakaknya. Katanya kita hari ini digaetin sama temen kakaknya Mas Kuntet. Maklum, gue dan Setra bilang oke bakal ke Karimun Jawa itu H-1. Untungnya Mas Kuntet baik mau ngasih kita trip yang ‘tailor made’, alias disesuaikan dengan kebutuhan dan kemauan kita. Tapi jadinya yaaa menclok sana menclok sini. Tapi gak apa – apa, yang penting bisa nikmatin pantai. Hahay!

2 porsi untuk makan

Kali ini gue gabung sama 2 rombongan. Yang 1 rombongan mahasiswa dari Banjarmasin, yang 1 lagi dari jawa timur yang liburan ke Karimun Jawa bawa property bola seperti bendera segede gambreng dan slayernya. Yaowoh. Tukang perahu sama penunjuk arahnya sampe sering teriak – teriak nyuruh minggirin itu bendera, karena mereka kibarin di perahu sampe ngalangin pandangan.

Pesan hari ini, “Sayangilah bendera bangsamu dan penumpang perahumu melebihi rasa sayangmu terhadap bendera klub bola mu!” Gue sama Setra cuma bisa pandang – pandangan sambil refleks ngakak. Sampe akhirnya kita membuat petisi: Yasudahlahyaaa, kalo liburan itu boleh lah ngalay. Alay ga masuk neraka, alay ngebuat orang sekitarnya masuk neraka. Tapi kalo liburan semuanya halal. Minum alkohol aja halal, apalagi alay. Kalau alay mendadak mati pas liburan, dia sontak masuk surga. Sekian.

Seharian hidup kita cuma berenang, snorkeling, freediving, sunbathing, jemur baju, foto – foto, pokoknya hidup ini indah..

Kita anaknya freedive aja deh, lagi ga sanggup bayar diving gear sih :p

Malemnya kita cuma nongkrong di lapangan bola yang banyak orang jualannya. Pulau ini udah agak sepi karena tadi sore ada keberangkatan kapal balik ke Jepara. Gitu aja sih, selebihnya Setra lembur karena masih tetep harus ngerjain report untuk kantornya. Haha nekat!

Karimun Jawa Day 3

“Mbak, kita makan di warung aja ya abis itu kita langsung berangkat..” kata Mas Kuntet dengan logat Jawanya yang kental. Gue sih anaknya ga protes sama makanan selama makanan itu ga pedes. Jadi yaaa, yaudah aja, markiman!! Mari kita makan!! Mas Kuntet janji mau ngegaetin kita seharian sampe balik ke Jepara hari ini. Dan kebetulan kemaren sore tamunya udah pulang semua, jadi hari ini dia Cuma ngegaetin gue sama Setra. Mas Kuntet sekepo itu dan penasaran kenapa bisa gue sama Setra ga pacaran. Emangnya baru kali ini ya ada 2 orang yang berbeda jenis kelamin liburan bareng? Gue sampe ngakak – ngakak sendiri sama muka polosnya Mas Kuntet.

Kali ini Mas Kuntet ngajakin kita ke Cemara Besar. Ada spot snorkeling yang harus ditempuh dengan berenang dulu dari tempat parkir perahunya. Bawah lautnya itu lhooooo.. karangnya warna – warniiiiii duuhh ga ada icon love love apa nih?! Kita freedive bareng gitu sambil foto – foto pake kamera canggihnya Mas Kuntet. Gitu – gitu kameranya mahal banget bookkk!

taman bawah lautnya Karimun Jawir ;)

Setelah puas, kita diajak ke pantai gosong gitu. Gosong dan kosong. Pantai itu Cuma punya gue, Setra dan Mas Kuntet. Pantai itu letaknya cuma beberapa ratus meter dari tempat kapal berlabuh dan lagi – lagi harus ditempuh dengan berenang supaya nyampenya cepet. Gue menunaikan ibadah salto (baca postingan sebelumnya), Setra autis sendiri seperti biasa, dan Mas Kuntet foto – fotoin kita.

Puas menjadikan dunia serasa milik bertiga, akhirnya gue minta cepet – cepet untuk ke tempat dimana gue bisa ngedate lagi sama ikan hiu. Sepanjang perjalanan dari Pulau Gosong ke Pulau Menjangan Besar, gue nemu sekelompok ikan yang lagi berenang dikejar – kejar sama sekelompok burung. Mas Kuntet mendadak obses mancing, jadi aja dia sama asisten perahunya ngejar – ngejar ikan itu kesana kemari. Gue heboh kesenengan ngeliatnya, si Setra mah kalem tidur diatas perahu ditengah angin sepoi – sepoi.

Gue dan Setra di penangkaran Ikan Hiu

Perjalanan Ke Karimun Jawa yang super dadakan ini ga cuma sekedar perjalanan melepas penat. Ini juga merupakan sebagian dari 1 tahun perjalanan karir gue, yang selalu diselingi dengan wisata pantai. Selain itu juga, karena Setra sebagai partner gue, jadi banyak brain storming dan pembicaraan – pembicaraan serius tentang hidup, tentang karir, tentang negara, dan tentang segalanya seperti bagaimana kita kalau ketemu dan ngumpul bareng.

Anyway, kalau mau ke Karimun Jawa, hubungin gue aja yaa.. nanti biar gue kenalin sama Mas Kuntet. Dijamin, asik!! ;) Nah, yuk Set, next kita ke Pulau Pari yaa!! :D

, ,

6 Comments

Gue apa? Robot.

Pagi ini gue bangun dengan mengumpat, “Damn, udah pagi!”. Mendadak menyesal karena ngematiin alarm dan semakin menyesal kenapa gue bangun dengan otak dan mulut yang refleks mengumpat. Akhirnya gue cuma bisa mengempas nafas sambil bergerak zombie turun dari kasur ke karpet untuk tidur terlentang, merasakan kekosongan hati, membaur dengan bumi dan mendengar alam. Ga pernah ada suara – suara dari kosan gue selain suara burung gereja yang terbang, oh mungkin sesekali suara bapak-ibu kosan gue lagi ngobrol di bawah. Tangan gue meraba – raba pinggiran karpet dan nyabut colokan segala gadget yang pastinya udah terisi full.

“Awake in Semarang. It’s 6:44 AM, haze, and 76*F. Got 7 hours of sleep” Status di path gue begitu gue memilih opsi awake. Ah yaa, seharusnya durasi tidur ini sangat gue syukuri, tinggal di kosan yang cuma berjarak 10 menit dari kantor tentu aja ngebuat hidup gue jauh lebih berkualitas dibanding dengan hidup gue di Jakarta. Kemudian notification path seperti biasa berdatangan karena temen – temen gue ngasih smiley love. Sampe pada notif terakhir sebelum akhirnya gue bangun untuk mandi. Dari salah satu temen gue waktu ke Bromo, Mika.

M : “Lo punya geng setia yang selalu lope lopein activity path lo ya?”

P  : “Itu artinya peduli! gue punya temen yang lope sama idup gue beroh. *icon lengan tangan keker*”

M : “Lo tau fana ga? ini lebih parah dari fana, lo dipeduliin lewat dunia maya. lewat sebuah tombol. ciyan.”

M : “Dan parahnya lo seneng. #ngajakribut”

P : “Hari gini mik, dari segala jarak batas ruang waktu lo masih ngarep bs selalu ada phisically near? idup di jaman dinosaurus gih.”

M : “siyan cah semarang”

Gue sama mika udah kenal beberapa bulan sebelum berangkat tapi emang officially baru salaman face to face pas Bromo. Tapi ya namanya udah temen yaudah aja, kadang kita kata – kataan, sengaja sok berantem dan jadi frienemy. Tapi bukan hubungan gue – mika yang mau gue bahas disini. Tapi betapa gue denial, betapa gue sok bertahan menghadapi kesendirian gue, betapa gue ditampar dan disadarkan sama kata – kata mika, bahwa gue ini hidup di dunia yang jauh lebih fana.

Gue sadar banget, gue hidup sendiri ditengah keramaian. Ditengah hiruk pikuk pusat kota Semarang. Ditengah keramahan Satpam kantor depan pom bensin di setiap pagi ketika gue lewat untuk cari angkot. Ditengah jejeran orang – orang di dalam angkot yang ngebawa gue ke kantor. Ditengah keramahan sapaan “Pagi Mbak Putu” dari satpam dan OB kantor gue, ditengah sapaan “Haiii..” dari temen – temen kantor gue setiap pagi. Selanjutnya, ga jauh beda. Sibuk dengan kerjaan masing – masing, yang cuma sesekali ngobrol. Pulang kantor, gue kembali ke kesendirian gue selepas sapaan sore ‘Pulang Mbak Putu?” dari Satpam kantor. Ditengah jejeran orang didalam angkot yang ngebawa gue balik ke depan pom bensin untuk mendapatkan sapaan satpam kantor depan (lagi). Dengan kesendirian pula gue berjalan menuju kosan yang ga pernah ada suara orang selain Bapak dan Ibu kosan gue yang berlogat tinggi seperti orang berantem.

Weekend, mamam deh yaa kalo lagi sendirian di Semarang. Mesti banyak belajar dari penyanyi dangdut banget : makan, makan sendiri. Minum, minum sendiri. Haha. Yaaaa jadi tarzanita aja mengarungi hutan belantara sendirian, pretend that ‘i need nobody but myself’. Haum!

Pada dasarnya manusia emang makhluk sosial. Gue yang terbiasa loncat sana loncat sini ke berbagai circle pertemanan tentu aja ngerasa ada yang salah. Gue yang kurang berbaur? Gue yang kurang berinteraksi? Atau gue yang emang jadi doyan menyendiri? Nope. Gue udah mencoba segalanya sampe bisa nongkrong bareng OB di belakang kantor, ngobrol sama satpam di posnya, ketawa – ketiwi sesekali bareng orang kantor. Tapi apa? Selebihnya gue melakukan semuanya sendiri, sesendiri itu. Dan lagi – lagi gadget menjadi solusinya.

Gue apa? Robot? Mungkin. Secara gue berinteraksi dengan temen – temen gue via gadget. Mengungkapkan perasaan gue via gadget. Menghindari kesepian gue dengan gadget. Dan sekarang, gue curhat tumpah ruah begini via apa, gadget! Gue apa? Robot. Apa? Iya, iya gue robot!


,

20 Comments

Travel Writing for “Perjalanan Nusantara”

Akhir – akhir ini banyak orang yang mendadak suka jalan – jalan. Karena emang liburan kemana – mana itu happening banget. Seperti gue tepatnya (happeningnya? bukaaannn, mendadaknya maksud gue). Yaaa, bisa dibilang gue mulai heboh kesana kemari ya mulai dari lulus SMA. Tapi walaupun tahun ini blog gue memasuki umur 8 tahun, gue baru mulai nulis tentang suatu tempat atau pamer kegiatan jalan – jalan gue dari tahun 2010. Waktu itu gue didaulat untuk ngurus blog wajib sebagai syarat lulus KKN. Jadi dari layout, artikel, dan segala macem isi blog itu merupakan tanggung jawab gue. Kebetulan desa tempat KKN gue deket banget sama Pantai Santolo, jadi gue nulis artikel tentang Pantai Santolo dan segala aspeknya. Berhubung itu tulisan gue sendiri, jadi gue punya hak untuk mempublish artikel itu di blog pribadi – yang tentu aja udah gue sadur dengan bahasa sehari – hari. Biar yang baca juga ga bosen.

Waktu Jaman kuliah, rasanya banggaaaaa banget kalo kita udah pernah pergi ke suatu tempat dan bisa kita jelajahin dengan biaya yang seminim – minimnya. Rasa – rasanya kalo jidat bisa di cap ‘backpacker’ pasti mau deh di cap begitu. Tapi esensi dari sebuah liburan itu kan bukan kekerean-nya. Kalau emang apa yang kita dapet worth sama harganya, kenapa mesti nyusahin diri? Toh yang namanya liburan adalah untuk seneng – seneng kan. Yaaa, emang sih ga semua orang bisa dengan mudahnya punya duit dan ngeluarin sefoya – foyanya. Tapi kan gaperlu juga terlalu pelit sampe ujung – ujungnya malah nyusahin diri sendiri.

Liburan ala backpacker menurut gue adalah liburan yang budgetnya bisa dipergunakan seefisiensi mungkin, tapi bukan berarti sekere mungkin. Misal kita pergi ke suatu tempat yang kira – kira akan lebih banyak kegiatan outdoor-nya. Daripada kita milih hotel yang harganya sekian mahalnya, mending milih hostel untuk tempat numpang tidur doang. Harganya bisa jauh beda, tapi kelayakannya sama. Lagian, palingan cuma beda luxury, pelayanan dan fasilitasnya aja. Selama ada kasur dan air bersih, untuk apa kita numpang tidur di hotel berbintang atau malah sok hemat numpang tidur di balai desa atau masjid? Yang satu bikin kanker dompet, yang satu lagi bikin punggung encok. Dua – duanya bikin kita ga bisa nikmatin pemandangan alam yang mau kita tuju. Nah, duitnya bisa dialokasiin buat makan enak misalnya, atau buat bayar fasilitas berlibur macem boat snorkel dan kawan – kawannya.

Anyway, dalam dunia perjalan – jalanan istilah orang yang melakukan perjalan itu ga cuma backpaker doang. Ada istilah lain yang gue tau seperti traveler, flashpacker dan light traveler. Mungkin masih ada istilah lainnya yang belum gue tau. Traveler itu seperti turis, yang emang punya duit untuk membiayai segala budget jalan – jalannya. Mau murah atau mahal, ya sikat! Kalo flashpacker adalah model jalan – jalan yang ga lepas dari teknologi. Tipe – tipe flashpacker itu adalah orang yang ga bakalan keluar rumah kalo ga bawa gadget. Iphone, Ipad, GPS, Laptop, Android, dan pasti bakalan butuh WIFI dimanapun mereka berada. Tapi tipe orang ini punya budget yang flexibel untuk setiap perjalanannya. Pengen murah ala backpacker, tetep. Tapi mereka ga akan sungkan – sungkan ngeluarin uang buat sesuatu yang worth it seperti makanan enak dan biaya penikmat lainnya. Yang terakhir Light traveler. Light traveler ini tipenya suka ngebawa barang yang pas – pasan seminim mungkin. Nah kalo gue ga bakat nih yang terakhir ini. toiletries gue aja rasa – rasanya udah padet sendiri. hehe.

Haha, kok jadi ngalor ngidul sih. Gue nulis postingan ini kan pengen share tentang nulis blog dengan tema perjalanan, tentang pengalaman jalan – jalan, tentang blog competition juga. Oke, seperti yang udah gue ceritain diatas, kalo gue mulai ‘pamer’ itu tahun 2010. Jadi kalo mau baca – baca atau cari referensi tentang tujuan liburan atau traveling, bisa klik disini. Eaaa pamer lagi. Anyway, kalian tau ga, kalo mau nulis dengan tema perjalanan, ternyata ada jenis – jenisnya. Ini gue dapet berdasarkan baca majalah diatas pesawat yang namanya gue lupa dan gue lupa juga itu pesawat dengan tujuan mana. Hehe, maklum, pergi sendiri kemana – mana itu kadang bisa bikin linglung dan lupa semuanya.

The art of travel writing :

  1. Travel Literature : Tulisan dengan ciri evocative – narrative. Tulisan yang memberikan inspirasi dan perspektif yang mendalam dengan gaya bahasa yang indah. Contohnya seperti Selimut Debu atau Garis Batas Karya Agustinus Wibowo.
  2. Travel Journal : Tulisan dengan ciri narative – instructive. Bisa dibilang juga dengan catatan perjalanan. Karakter ceritanya runut (apa yang diliat, apa yang dilakukan, apa yang dirasakan), ditambah – tambah dikit dengan panduan singkat. Contohnya seperti blog pribadi atau majalan wisata.
  3. Travel Guide : Tulisan dengan ciri instructive – descriptive. Biasanya isinya tentang how to get there, where to stay, where and what to eat, ditambah glosari – glosari mini. contohnya seperti Lonely Planet & Travelicious.
  4. Travel book : Tulisannya berciri evocative – descriptive. Isinya tentang kumpulan cerita – cerita asik selama perjalanan, yang lucu, fun, seru, susah, dan lain sebagainya. Seperti The naked travelernya Trinity.

Eh tapi yang diatas ini ga mutlak. Bisa aja kita nge-mix antara yang satu dengan yang lainnya. Gue? Jujur aja gue gatau nulis yang gimana. Gue nulis ngalir aja apa yang ada di otak gue, jadi hmm semacam tulisan lepas gitu. Selama 8 tahun jadi blogger ternyata ga ngaruh juga ya sama kemampuan gue menulis, hehe. Anyway, gue pernah bikin riset kecil – kecilan ke temen – temen gue yang rajin buka blog gue. Ga banyak kok (yaelaah, berasa blog orang terkenal punya banyak pembaca!). Hehe, nasib. Gue nanya kritik dan saran. Ternyata dari 5 responden (cie responden) mereka punya pendapat yang bener – bener jauh beda. Ada yang minta fotonya lebih dibanyakin, ada yang minta lebih deskriptif kalo lagi nyeritain sesuatu, ada yang nyuruh nge-elaborate lagi dari segi informasinya, ada yang ga suka terlalu banyak foto, ada yang ga suka bahasanya terlalu santai dan lain – lain. Disini gue menyimpulkan kalo ternyata pembaca itu bener – bener heterogen. Dan gue memposisikan diri gue sendiri sebagai pembaca. Untuk jadi penikmat sebuah tulisan, kalo bukan karena bener – bener butuh, pasti karena suka dengan isi dari tulisan dan gaya bahasa / gaya bertutur dari si penulis.

Yaaa, semuanya kan subyektif. Tapi gue yakin penilaian juri blog competition nanti pasti obyektif, secara jurinya udah kaliber tinggi. Anyway, gue nyoba ngedaftarin 3 postingan gue untuk Blog competition kali ini. Setelah 2 taun ngikut dan ga pernah menang, taun ini gue masih punya semangat buat ngikut karena kebetulan temanya memungkinkan untuk diikuti. Kalo taun ini kalah juga? Kayaknya taun depan gue harus tobat ngeblog. haha. Abis postingan ceritanya para Beswan Djarum keren – keren. Tempat yang dituju juga banyak yang keren dan belom jadi tempat yang sering diulas. Nah, postingan yang gue ikutin itu adalah :

1. Desa Trunyan, Tempat Buang Mayat yang Legendaris

2. Bromo Trip 2012, Ketika 2 cewek galau nekat ke gunung

3. Tarzanita Merambah Wisata Kuliner Semawis

Mohon doanya yaa saudara – saudara sekalian.. Selamat berjuang teman – teman Beswan Djarum! Raja Ampat menunggu. Wohoooo… :D

, , , , ,

10 Comments

Datang Bulan, Kulit Belang dan Ikan Hiu

25 Agustus 2012

Gue masih setengah mencerna pas instruktur gue naroh tangannya vertikal diatas ubun – ubun. What? Shark? Di kedalaman sekitar 8 meter dibawah permukaan laut? Gue setengah ngecek depth gauge (alat untuk megetahui posisi kedalaman), masih sambil mikir apa iya gue udah harus ketemu ikan hiu di masa – masa awal gue diving. Jelas, andre-eh-adrenalin gue mulai meningkat. Sambil tetep nyoba ngatur napas gue, gue berenang cepet ke deket instruktur gue yang ngeliat gue dengan tatapan mata “cepeeeettt” dari dalem maskernya. Gue yang masih ada dalam neutral buoyancy (setengah ngambang) waktu itu, langsung bergerak gaya lumba – lumba yang udah berulang kali ngebantu gue buat turun nambah kedalaman. Beruntung gue berenang paling deket sama dia, sampe pada akhirnya dia ngejulurin tangan buat narik gue biar cepet nyampe ke dasar, langsung nunjukin gue ke arah bawah karang yang agak berbentuk goa. Kita berdua pegangan di batu karang depannya untuk tetep ngejaga posisi dan keseimbangan, arus air laut agak lumayan kenceng waktu itu. Pas banget ketika gue ngelongo, seekor ikan hiu karang sirip putih lewat dengan elegan di depan gue.

Yang kiri adalah sinyal untuk ngasih tau kalau ada hiu. Yang kanan persiiiss banget kaya waktu gue ngasih sinyal ke Natalia, dia bergaya begitu pake tatapan bingung. (Photo courtesy of alexinwanderland.com)

Gue ga berharap banyak dari kegiatan menyelam gue waktu itu. Setelah gue melahap semua teori dari buku manual open water diving dari PADI, walopun ga semua teori bisa gue inget, paling engga gue yakin maksud dari instruktur gue waktu itu emang bener kalo ada hiu. Agak kaget sih, gue ada di Nusa Dua, tempat dimana turis – turis dan wisatawan melakukan aktifitas, tempat yang ga jauh dari Tanjung Benoa pusatnya rekreasi dan olah raga air di Bali, ternyata ada hiunya juga. Emang ga segede – gede yang kita liat di Seaworld atau di film – film sih, tapi kan tetep aja judulnya Hiu. Gue langsung ngasih sinyal yang sama ke Don, Natalia dan Alberto supaya mereka aware juga sama apa yang gue liat.

Hiu karang sirip putih atau kalo si Don bilang ‘Whitetip Reef Shark’ adalah salah satu spesies hiu yang sering ditemuin di wilayah Indo-Pasifik. Dia bisa tumbuh sampi sebesar 2,5 meter dengan berat sampe 20 kilogram. Tapi yang gue temuin untungnya belum segede itu. Hmm kira – kira masih sekitar 0,5 – 1 meter lah panjangnya. Sesuai dengan namanya, tentu aja habitatnya juga di celah – celah batu karang, keseringan kita temuin di dasar laut yang berpasir dan berair jernih. Hiu jenis ini cara berenangnya meliuk – liuk ke kanan kiri. Hiu ini hampir selalu stay di dalam terumbu karang, dapat ditemuin di daerah terumbu karang datar, pada gundukan pasir, di laguna atau di tempat yang lebih dalam. Seperti yang kita tau dari beberapa pemberitaan terakhir kalo sekarang banyak pemburuan hiu dengan mitos bohong yang bilang kalo sirip hiu bisa jadi obat, maka keberadaan hiu ini termasuk terancam akan berkurang. Menyedihkan banget yaa, :(

Whitetip Reef Shark (Photo courtesy of wikipedia)

7 hari sebelumnya..

“Bli Gung, aku ga bisa ngikut course-nya nih, mendadak kedatengan tamuuuu” ketik gue di messenger ke temen nyokap gue untuk ngebatalin jadwal course. Dia bales “Hahaha, trus maunya kapan?” Gue bales lagi, “Tanggal 23-25, fix!” beberapa saat kemudian ada balesan lagi, “Emang yakin udah selesai?”, langsung gue ketik cepet “Yakin! Ini udah mabok soda mabok bir buat ngusir – ngusir biar cepet kabur tamunya”. Mendadak masuk pesan ledekan “Hahaha lagian, udah tau liburan masih nerima tamu!”. Yak benar sekali sodara – sodara, pada saat yang tidak diinginkan ternyata jatah bulanan gue sebagai wanita yang (syukurlah masih) normal nampakin diri, alias datang bulan, alias haid, alias mens. Tentu aja gue gabisa ngelakuin aktifitas yang berhubungan dengan air. bisa – bisa bleber. Atau malah kalo di laut, bisa gue yang dilahap sama hiu kalo tiba – tiba nyium bau – bau darah. Oh, gue ga mau mati konyol.

Selama tiga hari gue minum soda macem minum air putih, minum bir macem minum susu. Untung aja lagi banyak perkumpulan sodara – sodara yang entah kenapa juga gue bingung tumben stok minuman – minuman ini selalu tersedia di kulkas. That’s what I called this house, place where u can drink like a boss. Apapun yang terjadi, ini semua harus berakhir pada tanggal 23!

23 Agustus 2012

Siang bolong di bawah terik matahari gue dikenalin sama instruktur gue, Pak Riyadi, yang juga punya dive center di kawasan Segala Kidul, Nusa Dua, Bali. Karena gue ngambil course, maka gue belajar scuba diving course dulu, semacam knowledge development mengenai scuba diving, teknik – teknik menyelam dan sebagainya yang diajarin praktis di kolam renang dengan kedalaman tertentu. Ya, lagi- lagi gue liburan sendirian, tapi gue kenal orang baru di tempat liburan gue. Kali ini gue kenal Don, I guess he’s like a 40 years old man, berasal dari Adelaide, Austalia. Dia curhat kalo istrinya ga suka main air, jadi selama 3 hari mereka misah, sang istri cuma beach entry alias males – malesan sambil berjemur, baca buku, massage, leyeh – leyeh, pedi-meni, “yeaa you know, woman!” kalo kata Don. 2 orang yang ikut course bareng gue lainnya adalah pasangan asal spanyol bernama Natalia dan Alberto. Muka Alberto ky muka personil boyband, gue berasa ngeliat salah satu personil westlife setiap dia lepas mask-nya. Hehe, gapapa kan cuci mata dikit..

Latihan ini bener – bener menyenangkan, karena selain gue nambah ilmu, ada kamera yang ngebidik gue. Pemilik kamera itu saudaranya temen nyokap gue, gue manggilnya Bli Tre. Well, gue gatau nama lengkapnya, abis dia ngenalin diri dan nyuruh gue manggil begitu. Bli Tre ini fotografer traveling. Kebetulan dia lagi promosi foto – fotonya ke agen – agen penyedia jasa pelayanan tourist dan gue direkrut sebagai modelnya. Yaaa lumayan, kali – kali aja gue dapet soft copy-nya nanti. Mayan kan buat koleksi pribadi. Walopun pas keluar dari kolam gue mendapati perbedaan warna antara kulit gue yang ketutup wetsuit dengan yang ga ketutup wetsuit. Singkat kata, BELANG! Hmmm ga apa – apa lah, namanya juga liburan, biar tan dikit, eksotis dikit. Yihaaw!

Don, Alberto, Natalia dan gue pas lagi nyiapin diving equipment kita. Foto ini diambil dari album yang dikasi Bli Tre untuk gue. (Ntar gue perbarui begitu gue dapet softcopy-nya yaa :D )

24 Agustus 2012

“Now, we’re gonna practicing some skill for open water diver course…” bla bla bla yadda yadda. Suara Pak Riyadi agak tenggelem diantara suara angin laut yang nerpa dibawah atap boat yang ngebawa kita menuju spot diving. Gue agak sedikit flu, jadi suatu kekhawatiran sendiri buat gue karena kalo menurut buku dan video tutorial yang gue tonton, flu akan mempersulit equalisasi (proses untuk mengurangi tekanan di telinga dengan mencet hidung dan ngehembusin napas dengan mulut tertutup sehingga bisa mencengah rasa ga enak atau sakit di telinga).

Dunia bawah laut sedikit banyak bukan hal yang baru buat gue karena gue udah lumayan sering snorkeling dan mencoba free dive. Tapi untuk scuba diving, gue cuma pernah ngelakuin sekali, itu juga rekreasi air yang pake pengawasan penuh dan ga butuh waktu yang lama. Tapi seperti yang udah gue bilang di postingan tentang Gili kalo gue mau serius ngambil license open water diver, pada akhirnya kesampean juga di liburan gue kali ini.

Matahari cukup terik pagi itu, walopun begitu gue ga mau berasa sok bule berjemur ngangetin diri karena wetsuit yang gue pake cukup bisa ngasih garis perbedaan yang mencolok untuk kulit gue di paha dan lengan gue. Penyelaman pertama gue fokusin untuk bener – bener nerapin dan latian buoyancy plus napas. Gue masih kejos (Chaos, dalam bahasa gue sehari – hari) dalam nerapin keseimbangan. Dengan bodohnya mencoba mengibas – ngibas tangan macem berenang di kolam. Namanya juga baru sekali dilepas di laut, walo kedalamannya cuma 5 meter kan tetep aja kalo bego bisa ngerusak karang – karang atau ngeganggu biota laut lainnya..

Setelah ganti tabung dan istirahat beberapa menit, di penyelaman kedua gue udah mulai bisa kontrol diri gue. Gue mulai menikmati ikan – ikan yang gue temuin di bawah laut. Gue rajin banget ngecek dept gauge dan ngelakuin equalisasi. Terlalu takut untuk terlanjur sakit kuping malah gabisa ngelanjutin diving, kan sayang banget. Gue jadi tau, kira – kira bikini bottom itu punya kedalaman sekitar 5 – 8 meter dibawah permukaan laut. Karena selain gue mulai ketemu patrick si bintang laut, gue juga ketemu Mrs. Puff, alias ikan buntal yang disebut juga puffer fish atau blow fish. Menyenangkan banget bisa ngeliat ikan warna – warni. Gue pun udah bisa ngeliat Trumpet Fish yang warnanya kuning, cukup mencolok dibanding yang lainnya.

Trumpet Fish, atau ikan terompet bentuknya agak mirip sama kuda laut. Sering berenang dengan kepala dibawah, punya pipa-pipa yang memanjang dari ujung mulut ke bagian rahang dan mirip bentuk terompet. Ikan teropet adalah ikan karnivora. Bergerak mengintai mangsa dengan perlahan lahan lalu dengan sekali gerakan meyergap secepat kilat menerkam mangsanya. Mulut yang berbentuk tabung fungsinya untuk menghisap makanan ke bagian rahang. Makan ikan teropet adalah larva ikan-ikan karang dan telor ikan. Ikan terompet ga bisa dikonsumsi manusia jadi jarang ditangkap, tapi ikan ini kadang diperdagangkan sebagai ikan hias karena warnanya yang bagus dan mencolok.

Ikan Terompet (Photo courtesy of ternisland.blogspot.com)

Selain itu gue ngeliat Ikan Singa, alias Lion Fish. Ikan ini gaperlu nyelam juga udah sering kita liat di aquarium air laut. Katanya ikan ini punya duri – duri yang beracun. Gue stay away belom berani nyentuh ini itu karena gue mesti banyak belajar lagi tentang fish identification. Penyelaman gue hari ini bisa dibilang sukses karena ga memberikan cacat sedikitpun baik fisik maupun mental. haha lebay.

25 Agustus 2012

Dalam penyelaman pertama. Byuuurrr, adaw!!! Gue pasang tampang protes sambil bilang “jelly fish!” ke instruktur gue. “Angkat tangan yang tinggi Anggi!”, kata Pak Riyadi. iya, Selain nama gue berubah dari Agni jadi Anggi, sungguhpun gue kaya perenang yang pake gaya – gaya, ngangkat kedua tangan gue tinggi – tinggi sambil ngibas – ngibas fin (kaki katak) gue, memasrahkan dari dengkul sampe mata kaki untuk disengat ubur – ubur. Nasiib, nasiib.

Pas kita semua mulai masuk kedasar laut, mendadak gue berada ditengah2 kumpulan ikan Scissortail Sergeant, ikan belang – belang item biru yang bisa dengan gampangnya kita temuin walau cuma snorkeling, gara – gara Alberto ngasih botol penuh roti ke gue, Lucunya, itu botol belom gue buka sama sekali tapi ikan – ikan udah mulai berebut disekitar gue buat minta makan, hihi. Selain itu ada juga beberapa ikan Coral Pennantfish dan ikan warna pink-biru-kuning yang gue gatau namanya dan masuk jenis apa. hehehe. Maklum, nubie.

Kedua foto diatas gue ambil waktu gue snorkeling di tempat yang sama. Atas, gue bersama ikan Scissortail. Bawah, Corral Pennantfish

Gue kasih lagi botolnya ke Alberto karena dia dan Natalia mau foto – foto. Instruktur gue ngasih sinyal untuk ngikutin dia muter. Diatas karang – karang, ada ikan yang lagi tidur. Serius, dia tidur! Ikan jenis surgeon fish lagi pewe leyeh – leyeh di karang sambil beberapa ikan kecil matuk – matuk dia. Gue berusaha manggil instruktur gue sambil nunjuk – nunjuk ke ikan itu trus ngasih sinyal bobo, suatu kebodohan sih, secara sinyal ini ga ada di dalam bahasa diving. Pas Instruktur gue merapat kearah gue bareng Don, mereka emang ngasih tampang bingung dengan gaya gue yang gerak – gerak nunjuk trus nangkupin kedua tangan gue di pipi kanan.

Gue excited banget terutama setelah gue ketemu ikan – ikan lucu itu. Masih banyak yang belum gue tau, belum gue liat.  Tapi setelah ngantongin license, gue bakal bisa ketemu macem – macem jenis ikan dan biota laut lainnya kan? hihi.

Selalu ada awal dari segala sesuatu. Dan ini lah awal dari gue untuk bisa mengeksplor Indonesia, ga cuma beberapa ribu meter diatas permukaan laut, tapi juga beberapa meter dibawah permukaan laut. Ga cuma ngambang2 dan ngap – ngapan free dive untuk ngeliat lebih deket apa yang ada di dasar laut, tapi gue bisa berlama – lama di deket koral dan karang yang gue pengenin. Hihi gue seneng banget. Yuk next, kita kemana!

, , , , ,

16 Comments

Welkom in Malang (part I)

“Puhlease deh teteh, Malang itu Jawa Timur kaleee, kalo Semarang Jawa Tengah. Jauuuhhh” kata Genthonk via BBM ngejawab pertanyaan bodoh gue : “Thonk, Malang sama Semarang deket kan? Sini jenguk aku!” itu sekitar 3 bulan yang lalu, waktu gue baru pindah ke Semarang.

Tapi Sore itu…..

Dag dag dag! Suara pintu kamar hotel gue bunyi dengan suara – suara “Teeh, teteehh..” pas gue buka pintu, munculah si makhluk besar nan eksotis itu berhambuk cipika cipiki. Eits, asal kalian tau, walaupun panggilannya “teteh”, gue bukan lagi di Bandung melainkan lagi di Malang. Yes, kota adem yang mengingatkan gue akan situasi Bandung (apalagi dengan sebutan teteh dari Genthonk itu).

Ceritanya begini, kepulangan gue dari Bromo sebenernya gue belom punya tiket balik ke Semarang, begitu juga Ami yang belom punya tiket balik Jakarta. Kebetulan Mas Ibnu masih dalam masa – masa liburan dengan jadwal balik masih 2 hari lagi. Akhirnya gue sama Ami memutuskan untuk stay di Malang sehari lagi. Sehari aja men, karena sayangnya gue udah harus ngantor lagi hari Senin.

Gue nginep di sebuah hotel dengan interior jadoel yang mayoritas dihuni bule – bule di deket stasiun, tepatnya di Jalan Mojopahit. Awalnya gue agak ketir karena interiornya lebih mirip rumah sakit daripada hotel, belom lagi gue bareng 2 orang ajaib yang darahnya dingin bisa gitu – gituan. Gue udah bertekad, kalo si Ami gabisa tidur tar malem gara – gara yang engga – engga, pokoknya gua gedor kamar Mas Ibnu trus gua ajak ke tempat rame! Setelah heboh kangen – kangenan, si Genthonk harus pamit karena mau ngambil makanan buat buka puasa keluarganya. Tinggalah kita bertiga. Namanya juga liburan di kota orang, ga asik kan kalo cuma bobo doang di kamar hotel..

Foto di depan Hotel yang disebut “Gubug Pariwisata”

Akhirnya kita memutuskan jalan kaki ke Toko Oen. Restoran terkenal dari jaman kolonial Belanda di Malang yang letaknya di Jalan Basuki Rahmat. Bisa dibilang Toko Oen ini salah satu ikonnya Kota Malang. Toko Oen berdiri tahun 1930, dan pernah jadi tempat nongkrong peserta Kongres Komite Nasional Indonesia tahun 1947. Dulu awalnya Toko Oen ini cuma toko yang ngejual kue, trus bertansformasi jadi ice cream parlour, trus sekarang jadi restoran. Buat yang doyan kuliner, selain steaknya bisa ngemanjain lidah kalian, suasanya yang jadoel banget itu bener – bener ngerasa seperti lagi di rumah eyang. Kita nanya makanan yang paling enak yang sering dipesen orang apa. Kata waitressnya kita dsuruh cobain steak. Jadi gue pesen Fish Steak, Ami pesen Chicken Steak, Mas Ibnu pesen Oxtounge Steak alias lidah sapi. Konon si oxtongue steak ini paling favorit sejak jaman Belanda. Kita saling nyobain sana – sini. Bumbunya khas, emang kerasa beda sih dari steak lainnya, bule banget rasanya. Ah yaa, mayoritas yang dateng kesana pun bule – bule eropa. Kecuali tiba – tiba ada satu sosok yang gue kenal : Bany! Doi partner liburan waktu ke Kiluan beberapa tempo lalu. Dunia emang sempit atau gue yang mulai eksis? (eaaaa sombong! Haha maap maap).

Gue dan Ami difotoin Mas Ibnu didepan Toko Oen

Interior Toko Oen

Gue dan Bany (yang sebenernya janjian di Bromo pada awalnya, cuma gagal~)

Toko Oen terkenal sama es krimnya. Ga mungkin kita kesana tapi ga nyobain es krim khas yang resepnya diturunin dari jaman Belanda. Akhirnya kita mesen Banana Split karena perut udah mulai kekenyangan gara – gara steak. Pada dasarnya sama aja sih rasanya kayak eskrim lainnya, cuma teksturnya lebih kasar. Hmm, lebih mirip sama es puter aja sih..

Lagu – lagu yang diputer di Toko Oen sangat easy listening sampe kita bertiga malah jadi karokean. Maklum, 2 cewek galau tambah satu dokter sinting, yang ada jadi malu – maluin kan. Daripada makin malu, mending kita cabut dari sana. Saking bingungnya ga ada tujuan, akhirnya kita balik ke hotel sambil nungguin Genthonk nyamper kita lagi.  Belom lama nyampe hotel, si Genthonk udah muncul. Tapi kali ini sama Jonggi. Huaa Jonggi! Gue udah lama ga ketemu dari waktu Dare To Be A Leader Beswan Djarum di Bandung. Gue pikir dia dari Surabaya, hekekekekekek maap lupa.

Genthonk sama Jonggi ngajak kita ke Bakso Bakar Pahlawan Trip di Jalan Ijen. Hahhahaha gue lupa doong kalo Malang itu emang terkenal baksonya. Pantes dijakarta tulisannya selalu “Bakso Malang”. Haha bener juga. Puas makan bakso bakar yang enak itu, Jonggi ngebawa kita semua ke daerah Batu pake mobilnya.

Ada apa di Batu malem – malem? Kota Wisata Batu yang ketinggiannya sekitar 900 – 1800 meter diatas permukaan laut ini punya hawa yang lumayan dingin, katanya bisa menjapai 15 – 19 derajat celcius. Letak Kota Batu kira – kira sekitar 15 km dari Malang. Salah satu tempat yang terkenal yang kita datengin di Batu itu adalah Alun – Alun Kota Batu.

Gue bersama si eksotis Genthonk dan si ganteng Jonggi

Alun – alun Kota Batu ini sangat amat bersih dan sejuk. Nyaman banget tempatnya. Banyak lampion – lampion bentuk binatang dan tumbuhan yang  ngebuat alun – alun ini keliatan terang benderang. Di alun – alun ini ada wahana bianglala yang sayangnya waktu gue kesana ga beroperasi. mungkin karena gue ksana udah agak malem kali yaa.. Kalau kalian pernah ngeliat foto bangunan apel dan strawberry yang besar, ya itu letaknya di alun – alun Kota Batu ini..

Gue tau angle-nya “kurang”, tapi gue udah keburu bete gara2 gapunya tripod. hauufftt

Konsep alun – alun ini lumayan unik sih. Biasanya kan kita taunya alun – alun itu adalah lapangan. Tapi dengan fasilitas – fasilitas wahana bianglala, tempat duduk – duduk, air mancur, arena bermain anak, toilet, ruang informasi, smoking spot, dan lainnya ngebuat alun – alun ini punya atmosfer yang beda.

Puas foto – foto, jalan – jalan dan ketawa – ketawa, akhirnya kita mutusin buat nongkrong minum susu jahe di cafe di sebelah alun – alun. Lumayan, ada live music gitu. Nah yang ada kita karokean lagi…

, , , , , ,

3 Comments

Tipsy Tips For Bromo Trip

Hi fellas, di postingan sebelumnya gue cerita mengenai pengalaman gue ke Gunung Bromo. Di postingan itu gue ga banyak ngasih info ke kalian tentang gimana cara kesana, berapa, gimana, dan segala tetek bengek tentang apa aja tips untuk melakukan perjalan kesana. Oke, gue emang bukan orang yang berpengalaman dibidang backpack ke gunung atau dan sebagainya. Tapi sebagai orang yang pernah kesana, gue merasa perlu membagi informasi yang udah gue dapetin berdasarkan hasil googling, tanya temen dan orang sana – sini, juga dari hasil pengalaman gue kemarin.

Seperti yang udah gue kasih info ke kalian, akses ke Bromo itu ada beberapa pilihan :

1. Tosari / Nongkojajar : Dari Kabupaten Pasuruan

2. Ngadisari / Cemorolawang : Sukapura, Kabupaten Probolinggo

3. Desa Burno, Pintu Ranu Pani : Senduro, Kabupaten Lumajang

4. Desa Ngadas : Kabupaten Malang.

Dari hasil informasi, gue cuma dapet rute – rute ini :

1. Pasuruan – Warung Dowo – Tosari – Wonokitri – Gunung Bromo. Rute ini ditempuh dengan jarak 71 km

2. Malang – Tumpang – Gubuk Klakah – Jemplang – Gunung Bromo. Jarak tempuh ini 53 km

3. Malang – Purwodadi – Nongkojajar – Tosari – Wonokitri – Pananjakan Bromo. jaraknya 83 km

Jangan pernah sekali – sekali nyoba ngelewatin Savana Bromo apalagi pasir berbisik pake mobil pribadi atau motor bebek. Waktu kesana, banyak banget gue nemuin motor bebek yang mogok, either karena kehabisan bensin atau gimana. Sering juga gue liat motor yang maksa, ahlasil ngesot – ngesot di pasir. Pilihan untuk kesana adalah mobil jeep hardtop atau motor trail. Gue udah cerita di postingan sebelumnya untuk harga sewa hardtop. yaitu 300-350ribu dari penginapan ke halaman pura (kaki gunung Bromo), tambah 100 ribu kalo mau ke savana, belum lagi kalau mau ke Pananjakan. Kalau dari Tumpang, biasanya 950ribu, bahkan 1,2 jt buat bule. Tergantung gimana kita nawarnya dan apakah itu lagi peak season atau bukan.

Saran gue sih mending perginya sekalian rame, atau ikutan trip yang biasa di arrange sama travel – travel khusus gitu. Cari aja, banyak kok. Atau kalau maksa (yang anaknya sok – sokan mau backpack sampe ngeteng gitu) mending gabung aja sama rombongan lain. paling engga biaya sewa bisa sedikit berkurang karena dibagi rame – rame.

Penginapan itu banyak di sekitar taman nasional Bromo – Semeru. Di desa – desa yang gue sebutin diatas juga banyak. Kemarin kebetulan gue nginep di homestay di Desa Cemorolawang. Homestay gue kamarnya ada 4, kamar mandinya cuma 1. Didalem kamar cuma ada kasur double gitu yang cukup ditidurin buat 3 orang. Kalau mau mpet – mpetan sih bisa aja sih, Biasanya anak kuliahan gitu tuh. Haha.

Kalau mau nyaman. sebenernya ada homestay yang nyewain kamar yang kamar mandinya ada di dalem, kamar mandi pake air anget, parkiran, tv, pokoknya fasilitas – fasilitas bagus gitu deh. Cuma pasti harganya lebih mahal dan 1 kamar gabisa ditumplek tumplekin berebutan rame – rame. Range harga penginapan murah itu dari 150 ribu – 300 ribu. Berhubung gue di penginapan jg ga akan tidur lama dan ga akan mandi, jadi gue merasa gaperlu kamar mandi yang ada air angetnya, apalagi TV. Di kosan aja gue ga punya TV kok. *curcol singit*

FYI, Bromo itu musim paling bagusnya ada di bulan Juni sampe Oktober. Gue dateng di bulan Agustus dan gue ga boong kalo langitnya berasa diedit pake photoshop! Saturationnya puol! Dibulan – bulan itu, dari malem sampe pagi suhunya bisa nyampe dibawah 10 derajat celcius. Kebetulan gue kemaren 7 derajat celcius. Buat orang – orang yang ga tahan dingin, silahkan pake baju dobel seperti gue. Pada nasihatin untuk pake 3 jaket sih, berhubung gue cm punya 1 jaket dan 1 sweater, jadi gue pake kaos 2 biji + tanktop juga. Untuk bisa ngedapetin sunrise, kita mesti berangkat jam 2 pagi – paling lambat jam 3 pagi dari penginapan.

Tempat – tempat yang wajib dikunjungin di sekitar Bromo :

1. Desa Cemorolawang : untuk ngeliat vie pasir, gunung Bromo & gunung batok dari jauh

2. Laut Pasir Tengger (Pasir berbisik) : disebut pasir berbisik karena tempat ini dijadiin setting film yang dibintangin Dian Sastro & Jajang C Noer dulu itu.

3. Savana Bromo : sumpah berasa di Afrika. Indonesia jg punya ginian men!!

4. Bukit Teletubbies : ini sebenernya bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sih. Haha gue juga gangerti kenapa orang – orang nyebutnya Bukit Teletubbies, tapi emang mirip sih.

5. Pananjakan : ini gue ga sempet kesini. Nyesel banget tapi apa daya waktu tak memungkinkan karena gue ke Bromo dengan tujuan wisata budaya ngeliat upacara Yadnya Kasada. Disini kita bisa ngeliat panorama alam Gunung Bromo, Gunung Batok dan Gunung Semeru dari atas. Hasil foto orang – orang sih sakti – sakti. Aslinya pasti lebih yaowoh lagi.

6. Pura Poten Bromo : Pura ini letaknya ditengah lautan pasir. Masyarakat tengger percaya banget kalau Pura ini punya power, terbukti waktu erupsi Bromo ga ada 1 batupun yang keluar dari kawah Bromo ngehancurin Pura ini.

7. Ranu Pane : Danau ini letaknya 200 meter diatas permukaan laut. Bisa jadi tempat mancing atau sekedar jalan – jalan nikmatin pemandangan.

8. Ranu Regulo, Ranu Kumbolo : Danau – danau dingin dengan ketinggian 2390 m dpl. Danau – danau ini pasti selalu berkabut. Biasanya danau – danau ini jadi tempat persinggahan pendaki Semeru.

9. Ranu Darungan : Kemah, ngamatin satwa dan tumbuhan, panorama alam

10. Air Terjun Madakaripura : letaknya cuma 200 meter diatas permukaan laut. letaknya agak jauh dari laut pasir Bromo. letaknya 5 km dari Lumbang, sekitar 45 menit dari probolinggo.

11. Yadnya Kasada : Event budaya yang diadain setahun sekali yang udah panjang lebar gue ceritain di postingan sebelumnya.

Di Bromo, Jeep di parkir di lautan pasir sekitar Pura. Selanjutnya jalan kaki menuju puncak Bromo. Tapi kalo ga kuat ada yang nyewain kuda dari lautan pasir sampe bawah tangga menuju puncak Bromo. Harganya sekitar 25ribuan. Untuk turis asing atau wisatawaan yang gatau apa2, bisa dipukul jadi 100ribu. jadi pinter – pinter nawar aja. Gue sih nguat2in diri jalan kaki (walo ujung – ujungnya ditarik naik sama Om Arief. hehe) Yang penting niat dulu oi! Kebetulan anak tangga menuju puncak bromo ketutup pasir waktu gue kesana, jadi lebih susah lagi untuk naiknya. Katanya sih, dari bawah sampe puncak, kita cuma perlu naik sekitar 290an anak tangga. Saking ngepulnya pasir, waktu turun gue, Nanda & Om Arief ga turun pake tangga tapi slorotan di pasir. Sumpah enak dan ga capek! Hihi.

Segitu aja tips yang bisa gue share ke kalian. Walo judulnya tipsy, bacanya harus sober ya! :p

, , , , , , , ,

4 Comments

Bromo Trip 2012, ketika 2 cewek galau nekat ke gunung

Kaki gue mati rasa karena kedinginan dan duduk bersimpuh, percikan air suci (tirta) di kepala gue rasanya seperti air es. Gue ga peduli, yang ada di otak gue saat itu cuma bersyukur karena gue masih sadar dan masih punya tenaga buat bertahan di Gunung Bromo.

‘I have something with mountain” kata gue ke Wana dan Mas Jo waktu kita conference chat via line. Mereka cuma nyimak kalimat gue. Gue lanjutin, “taun baruan di puncak aja gue tiwas kerungkupan dalem selimut trus tidur. outbond di cikole gue mencri2..” jeda beberapa lama wana baru bales “Tos! Ga kuat dingin kita. Pas lo bilang something gw pikir gaib. Haha” Hahaha ya begitulah. Gue begitu membenci dingin, gue benci mandi pake air dingin, gue ga suka dengan efek mengigil di badan gue, dan gue akan mensugesti diri gue untuk jadi ga enak badan. Cemen? Banget!

Waktu awal gue ngerencanain mau ke Bromo gue sempet ketir tapi Upacara kebudayaan Yadnya Kasada Bromo (Kasodo) yang diadain suku Tengger bener – bener menarik perhatian gue. Ceritanya waktu itu gue lagi sirik sama Ami karena dia punya tiket jazz gunung yang diadain di Bromo tanggal 8 Juli 2012. Tapi cewek yang setengah gila gara – gara masih ngarep sama mantan itu batal pergi, tiket berpindah tangan trus nyesel sejadi – jadinya. Pas banget malemnya gue baca twitter yang nginfoin kalau ada festival Yadnya Kasada yang bakal diadain di awal Agustus. Gue ajak sana – sini, sampe Andre sm Vivi yang gue yakin ujung – ujungnya mereka ga akan bisa karena load kerjaan mereka padet banget. Tekad gue udah bulet buat pergi kesana, apapun yang terjadi.

Gue mulai kontak temen – temen gue, teasing – teasing Ami biar dia ikut berangkat sm gue. Dia mau banget, bales dendam gagal jazz gunung katanya. Jadi fix, apapun yang terjadi, 2 cewek yang agak “nemu jembatan gue loncat” ini bakal berangkat ke Bromo. H min sebulan gue sempet keliyengan 3 hari berturut – turut sampe periksa ke dokter segala. Sengaja gue minta obat plus vitamin sm dokter biar pas Bromo gue bisa fit. Gue latih diri gue buat jalan kaki lebih jauh dari biasanya. Sambil gue ngegambleng fisik gue, gue cari info gimana cara ke Bromo. Gue tanya semua temen – temen gue yang pernah ke Bromo, gue ngobrol sama orang – orang baru tentang Bromo, gue googling, pokoknya gue cari  semua informasi tentang Bromo.

Sampailah pada H min 1 acara Kasodo, Ami nyamper gue ke Semarang. Sebelum ke stasiun untuk ngejar kereta yang bakal ngebawa kita ke Malang, jadilah kita macem turis nyasar di simpang lima bawa backpack nenteng tas kamera dibawah bulan purnama ketawa – ketawa geblek karena udah capek ngeluh sama keadaan yang ngebuat kita stuck. Sekali lagi “Nemu jembatan kita loncat. Nemu rel kereta coba loncat. Kalo masih blom waras juga, tar coba loncat ke kawah bromo kalo udah sampe puncak”. itu motto desperate kita.

Mungkin gue sama Ami terlalu excited, sampe orang yang ada di kereta bisnis Senja Singosari yang ngebawa kita ke Malang selalu ngeliatin dengan tatapan “ini cewek gapernah naek kereta nih mesti!”. Bodo amat, emang pacaran doang yang bisa bikin dunia cuma milik berdua? mau liburan jg kok! God is good, Tuhan ga ngebolehin 2 cewek ini pergi sendiri maka diturunkanlah 2 manusia ajaib untuk nemenin kita. Kenal via instagram, ke email, ke BBM, ke Bromo. Sampe Malang pun gue kenal sama rombongan manusia – manusia yang ga kalah ajaib. Liburan asik itu dipengaruhi sama partner liburan juga. Dan gue sangat amat enjoy dengan perkumpulan orang yang lagi – lagi baru gue kenal ini. :)

Nama Bromo berasal dari kata Brahma (Dewa pencipta untuk kepercayaan Hindu), gunung merapi yang masih aktif ini puncaknya memiliki ketinggian 2.392 Meter diatas permukaan laut. Akses ke Bromo itu ada 4 rute. Lewat Pasuruan, Sukapura (Kabupaten Probolinggo), Senduro (Kabupaten Lumajang), dan Malang. Gue kemarin lewat Malang dengan Rute Malang – Tumpang – Gubuk Klakah – Jemplang – Gunung Bromo.

Setelah sampe stasiun Malang, kita cabut ke Tumpang ketempat orang yang punya Hardtop. Namanya Om Arief. Gue sempet ngobrol sama doi, katanya biasanya kalo nyewa jeep itu 300-350ribu dari penginapan ke halaman pura (kaki gunung Bromo), tambah 100 ribu kalo mau ke savana, belum lagi kalau mau ke Pananjakan. Kalau dari Tumpang, biasanya 950ribu, bahkan 1,2 jt buat bule. Lumayan bgt kan, mending ikutan trip atau sekalian segerombolan kalo ke bromo, jadi biaya bisa dibagi. Doi jago banget nyetirnya sampe bisa nyetir dijalan belok – belok sambil ngeladenin kita ngobrol dengan ngadep belakang. Kadang kita yang ketir jadi mending gausah nanya apapun ke doi. Serunya, sepanjang perjalanan dari Tumpang ke Bromo, si Om Arief ini selalu nyapa orang – orang yang lewat. Entah Bromo yang sempit atau emang doi udah terlalu eksis, gue ga ngerti. Yang penting gue bisa ngerasain bipang Bromo hasil palakan doi ke temen – temennya. Haha, makanan ini kesukaan gue waktu masih kecil bhuoosss..

Om Arief ngebawa kita ke Savana. Diikutin hardtop lainnya yang ternyata disetirin sama adiknya om arief. Entahlah, kita udah teriak – teriak minta stop waktu ngeliat view keren dari dalem hardtop. Tapi doi selaw aja bilang “ntar – ntar”, nyampe ke tempat sepi ga ada orang, doi muter balik terus markir. kita semua ngehambruk turun, trus gue disuruh naik ke jalan setapak gitu,ada pendopo diatasnya tapi katanya gue jangan ke pendopo, turun kebawah lagi katanya. agak ketir sih pasir sama semak – semak gitu. Pas bebas dari semak – semak, kita nemuin hamparan view yang kereeeeeennnn banget. gue cuma bisa teriak – teriak “omaygat omaygat, Tuhan maha Besar, Puji Tuhan, Astaga Tuhan, Allahuakbar, Ya Tuhan Ya Tuhan..” karena itu view Savana Bromo & Pasir berbisik dari atas. Trus gunung Bromo & gunung Batok dari bawah. kalian tau? semakin kita pergi melihat keindahan alam, kita akan semakin merasa kecil dan Tuhan maha besar. ga ada yang bisa dilakuin selain bersyukur dan nikmatin apa yang udah Tuhan ciptain.

Udah berbagai gaya kita moto dan difoto, dari gibas rambut sampe sikap lilin (sumpah ini gue ga hiperbola), akhirnya Hardtop bertolak lagi kearah Savana. Gue ga nyangka ternyata kita ngelewatin tempat yang kita liat dari atas tadi. Gue pingin nyoba duduk di atas hardtop, seperti Mika sama mas Elyudien yang naik di pertengahan jalan dari Tumpang menuju Bromo. Pas gue naik, Om Arief ngejalanin mobilnya balik arah. Cuma gue sama Ami yang ada di atep tanpa penumpang lain. Ternyata orang – orang pada minta foto mobil yang lagi jalan di Savana gitu, makanya si Om nyari jalan nanjak biar turun debu – debu trus difoto gitu. Si Om ngebut, rasanya kayak naik wahana tapi seru, asik banget dan sumpah nagih! Nyampe tempat parkiran, gantian gue yang minta sama si Om, permintaan gue ga muluk – muluk. Nyetir hardtopnya keliling, dan boleh! Haha obses banget gue punya hardtop. pokoknya harus jadi orang kaya biar bisa beli Jeep Wrangler biar cantikan dikit. Amiinn. :p

Bener banget kata mas Elyudien, kalo kesana tuh kita bakal autis seneng sendiri foto – foto tanpa kenal waktu sampe diingetin kalo udah waktunya kita jalan ke penginapan karena udah mulai sore. Menurut info, Upacara Kasada dimulai malem. tapi sebelum nyampe penginapan, kita mampir dulu ke pasir berbisik. Suhu udara udah mulai dingin. Gue cuma inget waktu ospek, gausah manja dulu, jangan buru – buru pake baju dobel – dobel sebelum malem, karena subuhnya bakal berkali – kali lipat dinginnya. Diotak gue cuma mikir “kuat, kuat!” Sambil foto – foto. Kecenderungan gue kalo jalan bareng orang yang jago moto adalah ga hunting foto melainkan nunggu difoto – foto aja. *nyengir*

gue, ami, dan 2 orang ajaib yang gue ceritain diatas bernama nanda-mika

Di penginapan, gue join kamar bareng Ami sama Teh Selvy. Teh Selvy ini  wartawan yang mau ngeliput upacara Kasodo. Baru nyampe penginapan kita langsung cabut lagi buat ngeliat acara pagelaran menyambut Kasodo. Diluar ekspektasi sih, ternyata acaranya dangdutan, beberapa sendratari sama sambutan – sambutan Bupati dan jajaran tinggi lainnya. Gue sempet ngobrol sembentar sama orang dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisita tentang Bromo dan upacara Yadnya Kasada ini. In brief aja sih sayangnya, soalnya ekor mata gue udah mulai kehilangan sosok yang gue kenal. Daripada gue ilang ditengah lautan manusia. Pagelaran ini semacam pesta rakyat, banyak yang jualan seperti pasar malem dan semuanya tumplek – plek pendopo ini, dari masyarakatnya sendiri sampe wisatawan baik lokal maupun asing.

Jam 10 gue udah cabut ke penginapan lagi buat ngecharge tenaga, karena upacara yang di Pura Bromo bakal mulai dari jam 2 pagi. Ngobrol2 curhat kata2an sama Ami sampe ketiduran, terlalu excited mungkin, karena jam 1 gue udah kebangun dan gatau mau ngapain. Jam 2 teng kita udah langsung menuju Pura tempat upacara dilaksanain. Karena gue anaknya cemen sama dingin, gue memutuskan mensenjatain diri gue dengan berlapis-lapis kain : kupluk, tanktop, kaos, kaos lengan panjang, sweater, jaket batik, slayer, celana kargo, sarung tangan. Ga lupa gue usep2 dada pake minyak angin plus minum tolak angin. Anget luar dalem. Dinginnya udara udah mencapai 7 derajat celsius, masih bersyukur karena ga turun lagi. Denger-denger Dieng udah sampe minus 5, sedangkan Bromo lebih tinggi dari Dieng, secara logika harusnya lebih dingin tapi ternyata engga.

Sampe Pura ternyata acara belum di mulai. Sambil nunggu acara dimulai, gue sembahyang dulu mumpung gue ada di Pura. Kapan lagi kan gue sanggup ke Bromo? Kebetulan Ami dan Mika jg 1 kepercayaan sama gue. Pas kita bertiga ngebakar dupa dan minta canang (bunga yang ditatakin janur), Mas Ibnu (salah satu rombongan gue juga) ikut ngelakuin hal yang sama. Awalnya gue pikir dia Hindu juga, tapi ternyata dia Muslim. “Yang penting niatnya dan kepada siapa kita berdoa kan?” Gue salut setengah mati sama orang yang ternyata berprofesi sebagai dokter ini. Kalau ajaaaaa… (eaa galau lagi, nyemplung aja sana ke kawah Bromo!)

Walaupun acara belum dimulai, tapi para Dukun Pandita udah duduk manis di penataran Pura sambil nunggu pengumuman siapa saja yang lulus tes. Gue sempet ngobrol sama pemangku pura, Beliau cerita sedikit tentang tes ini. Tradisi masyarakat Tengger pada malam sebelum puncak upacara Yadnya Kasada adalah pemilihan dukun pandita. Seseorang yang dianggap mampu memimpin setiap upacara keagamaan. Setiap kabupaten Tengger akan mengajukan orang – orang yang dipercaya untuk melakukan tes mantra. Kalo Hyang Widhi (Nama Tuhan dalam agama Hindu) belum menghendaki, maka rapal mantra dari calon dukun pandita itu ga akan lancar. Ada 3 dukun pandita baru yang lulus tes, penobatannya seperti nikahan. Dukun yang lama akan bertanya kepada masyarakat setelah merapal mantra. Sah? Sah? Saaahhh…

Beberapa pemangku, gue, Ami, Mika & Teh Selvy

Jajaran dukun pandita yang mulai merapal doa sebelum acara resmi dimulai

Acara dibuka dengan sapaan Om Swastiastu dan sapaan lainnya dalam bahasa Jawa. Kemudian diceritakanlah awal mula adanya Upacara Yadnya Kasada (Kasodo) yang sekarang rutin diadakan di Gunung Bromo tiap tahunnya pada hari ke 14 dan ke 15 pada bulan kasodo menurut tanggalan Jawa. Konon Suku tengger merupakan keturunan Roro Anteng (putri Raja Majapahit) dan Joko Seger (putera Brahmana). Asal mula upacara Kasada terjadi beberapa abad yang lalu. Pada masa pemerintahan Dinasti Brawijaya dari Kerajaan Majapahit. Sang permaisuri dikaruniai seorang anak perempuan yang dikasih nama Roro Anteng, setelah menjelang dewasa sang putri mendapat pasangan seorang pemuda dari Kasta Brahma bernama Joko Seger.

Setelah menikah pasangan Roro Anteng dan Joko Seger tinggal dan jadi penguasa kawasan pegunungan tengger, dari waktu kewaktu kehidupan masyarakat tengger hidup dengan damai dan makmur, tapi keadaan tersebut ga dialami oleh pasangan Roro Anteng dan Joko Seger, karena udah sekian lama kedua pasangan tersebut ga di karuniai anak. Maka dari itu Joko Seger memutuskan untuk bersemedi di kawah gunung bromo untuk memohon dikaruniai anak.

Setelah beberapa lama bersemedi terdengarlah suara gaib yang intinya permohonan mereka akan terkabulkan tapi dengan syarat setelah mendapatkan keturunan, kelak anak bungsunya harus di korbankan ke kawah gunung bromo, pasangan Roro Anteng dan Joko Seger pun menyanggupinya. Setelah mendapatkan 25 orang putra dan putri pasangan Roro Anteng dan Joko Seger ga tega dan mengingkari janji untuk mengorbankan putra bungsunya, yang pada akhirnya mengakibatkan sang Dewa murka dan malapetaka pun terjadi, gunung bromo pun menyemburkan api dan menjilat putra bungsunya, Kusuma masuk ke kawah gunung bromo, bersamaan dengan lenyapnya Kusuma terdengarlah suara gaib Kusuma yang bilang kalo dirinya ikhlas dijadikan korban dan minta pada sodara-sodaranya untuk hidup damai dan tenteram, serta mengingatkan untuk mempersembahkan sesajen kepada Sang Hyang Widi setiap bulan Kasada pada hari ke-14 di kawah Gunung Bromo. Nama suku Tengger pun berasal dari singkatan nama Roro Anteng dan Joko Seger. Begitulah mitos kepercayaannya.

Setelah acara selesai, warga dan wisatawan berbondong – bondong pergi menuju puncak gunung bromo untuk melempar sesajen ke kawah. Sesajen berupa ternak dan hasil bumi sebagai wujud rasa terima kasih atas limpahan karunia dan anugerah yang telah diberikan oleh Sang Hyang Widhi. Semoga Shang Hyang Widhi terus memberikan kedamaian, karunia dan anugerah kepada masyarakat Suku Tengger.

Masyarakat berebut sesajen yang dilempar ke kawah

Gunung Bromo seems so crowded. Terutama pas ada acara seperti ini. Padatnya pengunjung ngebuat kekhusukan yang gue rasain agak sedikit berkurang yaa walaupun gue juga cm berdiri dari jauh sambil ngobrol bareng pak mangku. Well, mungkin karena gue terbiasa dengan upacara – upacara di Bali juga kali yaa. Aneh juga ternyata rasanya, pas sembahyang banyak blitz kamera yang “crak crak” ngebidik kita.

Ngeliat sunrise di badan Bromo, dan hamparan padang pasir dari puncak Bromo, rasa syukur begitu merasuk dada gue, Tuhan menciptakan bumi Indonesia sedemikian indahnya dan gue masih mampu menikmati hasil ciptaannya. Tuhan Maha Besar, Allahuakbar, Puji Tuhan! Gue kepingin lagi naik gunung, walo gue harus pake baju super dobel lagi.

Semoga ga hanya masyarakat Tengger yang senantiasa menjaga keseimbangan dunia, tapi kita juga harus senantiasa bersyukur dan berterima kasih atas limpahan anugerah dan karunia yang udah Tuhan berikan kepada kita. Om Santhi, Santhi, Santhi om.. (peace for the all human kind, peace for all living and non living beings, peace for the universe, peace for each and every things in this whole cosmic manifestation). Semoga bumi dan segala isinya damai selalu.

Haha panjang juga gue cerita ya. See you guys, gue masih punya cerita lain yang mau gue share ke kalian. ;)

liat nih kelakuan temen – temen seperjalanan  gue. Sinting emang.. *gue masih ngakak ngeliat poster ini

, , , , , , , , ,

22 Comments

halte, bus dan sebuah perbedaan

Rasa itu akan selalu ada, walau keadaan mendesak dan memaksa menjadikannya tiada..
Gue selalu membenci keadaan. Entah kenapa gue dan keadaan emang ga pernah akur. Bukan gue ga bersyukur dengan apa gue punya, tapi pada akhirnya keadaan selalu merenggut apa yang gue punya. Salah siapa? Gue gatau dan gue gabisa begitu aja protes sama Tuhan atas keadaan yang diberikan-Nya ke gue.

Gue ga pernah ngerti dengan keadaan yang mengkotak – kotakan manusia. Kenapa harus selalu ada border yang misahin antara manusia yang satu dengan lainnya. Lagi – lagi gue gapernah ngerti kenapa Tuhan nyiptain perbedaan ketika katanya persatuan dan kesatuan itu penting. Berpikir dan bersikap liberal di tengah adat budaya ketimuran pun tampaknya sulit terutama ketika gue menyadari bahwa gue ga hidup sendiri dan masih banyak hal – hal yang emang udah turun temurun melekat dalam diri gue. Hidup itu kompleks. Sayangnya manusia ga bisa milih channel hidup semudah mengklik step back atau forward di remote seperti milih channel kesukaan di TV.Nyebrang jembatan yang nyambungin jurang perbedaan atau ngebobol tembok pemisah bukan sebuah mainstream. Beda keadaannya kalau gue hidup sendiri, tanpa adanya orang tua atau keluarga besar. Karena ujung2nya disitu kan beban terberatnya? Ada adat – adat yang harus dianut, ada perasaan – perasaan yang dijaga daripada sebuah egoisme mementingkan perasaan sendiri.

Berat? Banget! Dan lagi – lagi fase “hidup merupakan sebuah persinggahan” terjadi. Pada akhirnya another bus has to leave my station. The best one. Yes. People come and go. You choose, mau jadi halte yang stay di tempat menunggu ada yang dateng atau jadi bus yang selalu move on untuk nemuin halte – halte lainnya. Gue pernah ada di posisi halte itu. Disinggahi sama bus yang satu dan bus lainnya. Sampai akhirnya gue nemuin bus gue, yang memberikan segalanya. Menawarkan sebuah kenyamanan, kebahagiaan, membawa gue menjadi pribadi yang lebih baik disetiap harinya dan mengajarkan gue banyak hal. Pokoknya segalanya. Tapi ketika sadar akan keadaannya, manajemen halte ini hanya menerima bus warna merah untuk stay forever, bus warna lainnya cuma boleh singgah. Begitupun manajemen bus itu, “cari halte berwarna biru” kata bosnya. Tapi itulah kebijakan yang diterapkan oleh manajemen secara turun temurun. Sebuah keadaan yang membuatnya berbeda. Sebuah aturan yang (mungkin) tidak bisa dilanggar. Bisa, mengingat di dunia ini ga ada hal yang mutlak. Tapi baik halte maupun bus tersebut lebih milih untuk
pasrah, daripada membuat manajemen yang udah kokoh jadi carut – marut dan menghadapi hal – hal yang ga ngenakin di kemudian harinya.

Lalu apa? Adakah keadaan lain yang bisa hidup tawarkan? Adakah cara lain untuk si bus agar bisa menetap di halte tersebut? Adakah suatu upaya yang bisa ditempuh untuk bisa tetep stay? Rest in peace? Happily ever
after?

Even fairytales don’t always have a happy ending, do they?

,

No Comments

Every single meeting is to build a new network, every conversation is to build a new relationship and every gathering is a pond to fish.
etdah marketing abis anaknya!

No Comments

Switch to our mobile site