suara dan cerita

Alfonsus D. Johannes

suara dan cerita - Alfonsus D. Johannes

Masih Ikut Vote Komodo for New 7 Wonders?

Akhir-akhir ini rame banget ya pada minta dan mengingatkan satu sama lain untuk melakukan vote Komodo via SMS. Ketik “KOMODO” kirim ke 9818, dengan biaya hanya satu rupiah.

Aku udah beberapa kali SMS vote juga. Tapi beberapa hari lalu aku teringat, perasaan beberapa tahun yang lalu ada “kontes” macam ini juga deh, dulu aku ingat vote by email. Aku sendiri lupa apa yang aku vote dulu.

Hasil berselancar di dunia maya membawaku ke blog salingsilang. Ini dia dua artikel yang kutemukan:

Nah, banyak fakta yang baru aku tahu dari 2 artikel tersebut.

Coba lihat komik karya Cah Ndableg ini :

komodo1komodo2komodo3komodo4

Komik itu meringkas berbagai informasi penting seputar keikutsertaan Taman Nasional Komodo dan New7Wonders.

Kemudian aku pun berkelana mencari informasi lain, di sini aku kutip beberapa informasi menarik yang aku temukan.

- – -

Pernyataan Putra Sastrawan

Ini kutipan berita dari detikNews tentang pernyataan Putra Sastrawan:

Pakar Komodo yang juga pendiri Komodo Putra Foundation ini menjelaskan, Komodo selama ini lebih dikenal oleh masyarakat internasional daripada masyarakat Indonesia sendiri. Berdasarkan catatan Balai Taman Nasional Komodo, lebih dari 90 persen pengunjung Taman Nasional Komodo adalah turis mancanegara, seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, Belanda, Jerman.

“Oleh karena itu, upaya pemenangan voting Komodo melalui SMS yang bertujuan untuk menggaungkan Komodo ke dunia internasional tidaklah kontekstual. Apalagi sebagian hasil SMS tersebut harus disetor kepada LSM asing yang berpusat di Zurich, Swiss tersebut,” tutur Putra.

Dia menambahkan, Taman Nasional Komodo yang telah mendapat penghargaan dari UNESCO sebagai world heritage site (warisan dunia) sejak tahun 1991 lalu, tidak perlu dijadikan mass tourism, mengingat hewan langka yang sudah hidup lebih dari 60 juta tahun tersebut sangat sensitif terhadap perubahan iklim dan perlakuan manusia, yang setiap saat dapat mengancam kepunahan hewan tersebut.

- – -


Maladewa mundur dari kompetisi New7Wonders

Kutipan berita dari detikNews:

Salah satu finalis New7Wonders, Maladewa, resmi menyatakan mundur dari kompetisi. Mereka menarik diri karena mahalnya biaya lisensi dan paket sponsor yang diminta panitia penyelenggara New7Wonders. Pengumuman ini dipajang di situs resmi pariwisata pemerintah Maladewa, visitmaldives.com.

“Dengan menyesal, kami menarik diri dari kompetisi ini karena tuntutan tak terduga atas sejumlah uang yang diminta dari penyelenggara New7Wonders,” kata Thoyyib Mohamed, Menteri Negara Pariwisata, Seni dan Budaya dalam visitmaldives.com, Kamis (20/10/2011).

Maladewa awalnya setuju untuk berpartisipasi dalam kompetisi New7Wonders di awal tahun 2009 dan membayar biaya partisipasi administrasi US$ 199 atau sekitar Rp 1,7 juta. Namun, rincian biaya dan meningkatnya biaya tidak jelas diuraikan penyelenggara sebelum penandatanganan kompetisi.

“Kita tidak lagi merasa bahwa kelanjutan partisipasi dalam kompetisi ini adalah kepentingan ekonomi di Maladewa,” ujar Thoyyib dengan kecewa.

Alasan mundurnya Maladewa mengingatkan Pulau Komodo dulu sempat terancam keluar dari kompetisi yang sama. Saat itu Menbudpar Jero Wacik menyatakan kekecewaannya terhadap ancaman panitia New7Wonders. Penolakan Indonesia sebagai tuan rumah karena permintaan fee sebesar US$ 45 juta seharusnya tidak menghapus daftar Pulau Komodo sebagai finalis.

- – -

Pernyataan UNESCO

Ini kutipan pernyataan UNESCO, pernyataan ini sudah dirilis dari tahun 2007:

In order to avoid any damaging confusion, UNESCO wishes to reaffirm that there is no link whatsoever between UNESCO’s World Heritage programme, which aims to protect world heritage, and the current campaign concerning “The New 7 Wonders of the World”.

This campaign was launched in 2000 as a private initiative by Bernard Weber, the idea being to encourage citizens around the world to select seven new wonders of the world by popular vote.

- – -

The list of the “7 New Wonders of the World” will be the result of a private undertaking, reflecting only the opinions of those with access to the internet and not the entire world.  This initiative cannot, in any significant and sustainable manner, contribute to the preservation of  sites elected by this public.

Lebih lengkapnya baca ini ya –> UNESCO confirms that it is not involved in “New 7 Wonders of The World” campaign

- – -

Catatan Redhunttravel tentang kontroversi New7Wonders

Now let’s add the Maldives Islands to the controversy.

The Maldives also pulled the plug on their bid to become a New 7th Wonder of Nature in May 2011, citing unexpected, unrealistic demands and rising costs from New Open World Corporation.

In 2009 they paid their $200 entry fee and the agreement had no specifics about incurring future additional fees or financial obligations. But surprise – it’s 2011 now and New Open World Corporation has sent them numerous requests for money including:

  • $350,000 for a platinum level sponsorship licensing fee,
  • two $210,000 requests for gold level licensing fees,
  • a $1million license fee to put the New 7 Wonders of Nature logo on planes,
  • a $1million license fee for their national telecom operator to participate for allowing phone voting and,
  • a request for a ‘World Tour’ stop in the Maldives for the New 7 Wonders delegates to party and enjoy the country at a cost of $500,000.

Needless to say, the Maldives refused and New Open World Corporation accepted their resignation from the competition. But in both cases, the listings were not removed, New Open World Corporation simply said they accepted that the committees that registered Komodo and the Maldives were no longer valid, and that they would entertain finding new ‘Official Supporting Committees’ for each entry. In other words – they would seek money from other businesses or individuals in Indonesia and the Maldives.

Sound sketchy? It sure does. I’ve been involved in many award applications in the travel industry and have never had to pay an extra penny after the initial application process.

Artikel lengkap baca di sini ya –> New 7 Wonders of Nature Controversy

- – -

Blog priyadi.net

Fakta-fakta menarik berikutnya aku dapat dari blog Priyadi Iman Nurcahyo:

Aku hanya mengutip sebagian kecil tulisan mas Priyadi Iman Nurcahyo, lebih lengkapnya baca di sini ya:

Menurutku, tulisan yang tentang dampak ekonomi itu wajib baca. :)

Berikut adalah fakta-fakta tentang New7Wonders yang perlu diketahui oleh kita semua:

  • New7Wonders adalah sebuah perusahaan privat asal Swiss. New7Wonders bukanlah yayasan atau organisasi Internasional yang beranggotakan negara-negara di dunia.
  • Tidak ada lembaga dunia yang memberi mandat kepada New7Wonders untuk dapat menetapkan tujuh keajaiban dunia. Jika New7Wonders menetapkan ’7 keajaiban alam dunia’, maka ketetapan tersebut sebenarnya tidak lebih kuat daripada daftar 7 keajaiban dunia versi pribadi saya.
  • Mengapa hanya tujuh? Angka tujuh hanyalah angka yang dipilih secara arbitrary. Lembaga yang jauh lebih serius seperti UNESCO menetapkan tak kurang dari 900 lokasi di dunia sebagai World Heritage Site, yaitu tempat-tempat yang perlu dijaga kelestariannya.
  • ‘Keajaiban dunia’ dipilih tidak melalui kriteria pemilihan benar. Sama sekali tidak ada verifikasi bahwa satu orang hanya memilih satu kali saya. Yang mereka lakukan hanya memastikan satu alamat email hanya memilih satu kali.
  • New7Wonders membuat layanan voting melalui telepon dan SMS premium di beberapa negara. Tidak seperti voting melalui email, pada voting melalui telepon dan SMS premium ini, pemilih diperbolehkan untuk mengirim voting sebanyak mungkin yang mereka mau!
  • Tidak ada audit, baik oleh negara peserta maupun pihak independen, terhadap voting yang dilakukan. Bisa saja, misalnya, hasil dipilih sesuai dengan selera mereka sendiri.
  • Tidak benarnya kriteria pemilihan terlihat jelas dari terpilihnya Patung Kristus Penebus di Brazil. Sebagai informasi, Patung Kristus Penebus baru berumur 78 tahun pada saat pemilihan berlangsung, tingginya hanya 39 meter, dan dibuat dengan teknologi modern. Bandingkan ini dengan Candi Prambanan yang tingginya 47 meter dan dibuat 11 abad yang lalu.

- – -

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah adanya third-cause fallacy atau spurious relationship. Yaitu adanya efek dari faktor ketiga. Contoh:

  1. A terpilih menjadi nominasi New7Wonders
  2. Dewan pariwisata A meningkatkan pemasaran tentang A
  3. A terpilih menjadi pemenang New7Wonders
  4. Pengunjung A meningkat.

Setelah 4 terjadi, maka banyak pihak yang akan mengklaim bahwa 4 disebabkan oleh 3. Padahal bukan tidak mungkin 3 dan 4 terjadi karena 2. Dan sebenarnya 2 dapat saja dilakukan tanpa 1. Apalagi mengingat bahwa New7Wonders tidak melakukan pemasaran apapun selain menobatkan A menjadi pemenang.

- – -

Ada peningkatan pengunjung monumen-monumen setelah terpilih menjadi New7Wonders. Akan tetapi sebagian besar dari peningkatan ini merupakan tren dan bagian dari fluktuasi normal yang telah ada sebelumnya, jadi tak dapat seluruhnya dikaitkan dengan faktor New7Wonders. Peningkatan pengunjung yang terjadi pada 2007-2008 bukanlah rekor individu mereka

Di tingkat negara, praktis tak terlihat adanya peningkatan signifikan jumlah pengunjung yang disebabkan oleh terpilihnya monumen sebagai pemenang New7Wonders.

- – -

Itulah beragam fakta yang kutemukan.

Kontes New 7 Wonders walaupun kontroversial, tetap ada dampak positifnya. Bagus juga sih, komodo jadi lebih terpublikasi lewat web New 7 Wonders. :D Sekaligus mengingatkan kita bahwa Indonesia mempunyai banyak potensi wisata.

Tapi seharusnya tanpa adanya New 7 Wonders kita pun tetap gencar mempromosikan kekayaan Indonesia. :)

Apa masih kebiasaan digetok dulu baru jalan ya? Emang masih susah dihilangin sih. Tapi, harus bisa. :)

Sekarang setelah baca-baca berbagai fakta seputar New 7 Wonders, aku pun memilih untuk tidak ikut voting New 7 Wonders.

Apa kamu masih ikut vote? ;)

- – -


Untuk Komodo,

semoga tetap hidup dengan tenang ya di Taman Nasional Komodo, aku belum pernah berjumpa denganmu.

Walaupun aku gak vote kamu, bukan berarti aku gak cinta kamu. :)

- – -

Update :

setelah dicek di web UNESCO, bener kok,

Komodo National Park udah masuk World Heritage List, dari tahun 1991. :)

nambah berita lagi :) dari detikNews:

Perwakilan Indonesia di Swiss, KBRI Bern telah lama menyelidiki panitia New7 Wonders. Hasilnya diperoleh sejumlah kejanggalan. Bayangkan, alamat kantor yang diklaim berada di sebuah kota di Swiss saja tidak pernah ada.

- – -

14. Tim dari Jakarta yang dibantu oleh staf KBRI Bern mengadakan kunjungan ke alamat yang tertulis sebagai kantor Yayasan N7W: Hoeschgasse 8, P.O. Box 1212, 8034 Zurich. Ternyata kode pos dari alamat yang diberikan tidak sesuai, seharusnya alamat itu adalah: Hoeschgasse 8, P.O. Box 1212, 8008 Zurich, di mana terdapat museum Heidi Weber yang diarsiteki oleh Le Corbusier dan selesai dibangun pada tahun 1967. Museum itu hanya buka pada musim panas (Juni, Juli, Agustus) dari jam 14.00 – 17.00.

15. Tim dari Jakarta juga mendatangi kantor Pengacara Patrick Soemmer dari Kantor Pengacara CMS von Erlach Henrici Ltd, untuk mendapatkan bantuan.

16. Sebagai yayasan, keberadaan N7W cukup unik. Yayasan ini tak jelas alamatnya, kecuali alamat e-mail-nya, hanya tertulis N7W berdiri di Panama, berbadan hukum Swiss, dan pengacaranya berada di Inggris.

Category: suara suara
  • Wana Darma says:

    acil ini ngeblognya sesuatu banget.. update tenan..
    aku belom pernah ngevote keknya :) )

    October 30, 2011 at 4:38 pm
  • Alfonsus D. Johannes says:

    gak update juga gan… telat juga ini mah… ehhe..

    ya bagi2 info yang menurutku yahud :D

    ane juga udah ga vote lagi dah, duitnya masih belom jelas kmana…

    sadis juga liat permintaan N7W ke maldives itu…

    apa Indonesia nurut bayar segitu juga ya?
    ngeri euy.

    mending buat bener2 ngerapiin Taman Nasional Komodo secara langsung…

    October 30, 2011 at 4:46 pm
  • Alfonsus D. Johannes says:

    @mas dod : iya mas, kadang2 kita terlalu mudah dipanas2in tanpa mencerna dulu apa masalahnya :)

    tapi tetep respek kok sama mereka yang vote, aku posting beberapa fakta di sini untuk berbagi aja :)

    karena ternyata banyak fakta lain di balik vote2 iini…

    - – -

    @randok : awid ni yaa?? hehe…

    ya sebenernya bermutu idenya :) mempromosikan berbagai keindahan dunia… tapi mestinya sistemnya lebih diperjelas…

    di redhunttravel ditulis begini juga :

    …Perhaps one unnamed tourism official in the Maldives summed up this competition best:

    “Essentially we’re paying a license fee for the right to throw a party, at our own cost, for an unproven return.” …

    mungkin memang seperti itulah kontes new7wonders ini…

    October 30, 2011 at 5:27 pm
  • arnis.silvia says:

    sejak pernah ikut lomba foto yang kriteria pemenangnya dari jumlah vote, aku jadi nyinyir sama apapun yang berbau vote. hehe. pasalnya, waktu itu yang menang adalah yang fotonya dibawah standar, namun jempolnya paling banyak.

    hari gini gitu kan, gk bisa dijadikan standar kalau vote itu valid sebagai dukungan. satu orang bisa vote ribuan kali. bayar saja para pengangguran atau ababil yang gk pernah lepas dari hape mereka, pasti banyak vote yg masuk..

    tentang Komodo ini, gk pernah vote sih..
    Pasalnya, gk jelas mau dibawa kemana. Kalau cuma ngangkat publisitas, aku rasa dia sudah tersohor dari sononya. Kalau utk reservasi, gk ada keterangan sama sekali dari 7wondernya, makanya aku cuekin aja vote komodonya..

    tapi, djarum ikutan vote ya? liat di web djarum deh. Kalau tujuannya utk reservasi, aku ikuut…
    what do you think?

    October 31, 2011 at 10:53 am
  • Alfonsus D. Johannes says:

    @mba arnis :)

    ehem, btw, ada vote2an juga nih lomba blog jarum… ahaha.. ya sudahlah…

    ya kalo untuk new7wonders ini menurutku emang ajang popularitas aja… jadi ga usah dianggap terlalu serius,
    yang bikin heran ada yg manas2in kalo kita kalah jml vote dr malaysia. ahaha.. padahal malaysia aja ga ada di dftarnya :) )

    - – -

    yup, emang menurut UNESCO sendiri, ga ada jaminan reservasi berkelanjutan setelah menang di “kontes ini.

    nah kalo untuk Djarum, aku blum bisa ngomong banyak dan mba, hehhee..

    aku udah post di page djarum beasiswa plus sih blog ini. tp nda ada yg respon. ahaha

    tp ya menurutku wajar juga banyak yang belom tau banyak fakta di balik new7wonders ini,

    setidaknya aku udah coba berbagi “hasil kritis” ku…
    juga mengaplikasikan pesan bung wana untuk banyak membaca :)

    bukankah sebagai beswan juga harus kritis? hehe:)

    ada kabar juga kan ini ada unsur politisnya, tp aku ga ikut2an spekulasi ah…
    cuma mau share beberapa fakta aja…

    dan males juga sama orang yang ngaitin nasionalisme dengan vote for Komodo, tanpa tahu fakta lainnya lebih dalam…

    belajar memperlebar pikiran dan perspektif

    :)

    October 31, 2011 at 11:05 am
  • arnis.silvia says:

    klu lomba ini pake like sih, mungkin ada kebijakan dari sononya, sekalin promosikan blog djarum. kalau kemudian yang like itu gk baca sama sekali atau gk ke blognya, wallahualam deh ya :) sukurnya masih ada juara 1 2 3 yang dinilai juri… walaupun aku lebih prefer kalau blog favorit itu divote sama sesama blogger beswan :) jadi satu beswan satu suara.
    atau perlu kita tambah kategori? hahaha.

    kita ambil hikmahnya saja deh, paling nggak kit ajadi tahu kalau ada taman komodo.. dan se indonesia jadi tau kalau taman nasional komodo itu keren..

    October 31, 2011 at 11:20 am
  • Wana Darma says:

    iya mba arnis, aku juga sensi ama lomba yang berbau vote.. puh

    October 31, 2011 at 11:22 am
  • Alfonsus D. Johannes says:

    iya.. kalo tentang lomba ini aku sih fine-fine aja…
    kan emang bantu promosi blog yang lain juga :)

    setuju tuh ada 1 kategori lagi!

    “blog favorit beswan”! :D

    ntar post ah di member are. ehehe…

    iya mba… semoga sempet ketemu komodo..
    kmaren liat di blognya mba alita farah ternyata di jakarta ada museum komodo :D

    October 31, 2011 at 11:25 am
  • Wana Darma says:

    kalo ini sih ga terlalu gimana2 wong yang menang temen sendiri. tapi kalo yang menentukan juara 1-2-3 pake vote itu lo. ga relaible amat.

    October 31, 2011 at 2:28 pm
  • Alfonsus D. Johannes says:

    @wana: iya tuh… masih mending masterchef ya pake juri ga pake vote2an… ahaha…

    ngeri aja kalo banyak yang sms dan entah duitnya masuk kantong sapa… hiiii

    October 31, 2011 at 3:01 pm
  • alita farah diana says:

    Wihh ada namaku hehehe.. iya mampir dong ke museum Komodo. Seru lhoo..

    Hmm kalo aku sih sejujurnya berusaha ambil sisi positifnya dari kontes ini. Betul banget Taman Nasional Komodo itu udah jadi World Heritage tahun 1991, tapi apa salahnya membawa “Taman ajaib” ini jadi 7 wonders of the world. Kan jadi kebanggan Indonesia hehehe.. :D
    Karena dulu juga Borobudur pernah kan jadi 7 wonders of the world, padahal juga udah terkenal dan banyak turis yang datang :)

    Thanks for sharing, nice critical review :)

    October 31, 2011 at 7:08 pm
  • tristyantoprabowo says:

    iya sejak awal saya juga mikir sebenarnya sejauh mana kevalid-an penyelenggara vote itu… thanks for make it clear..

    November 2, 2011 at 12:34 am
  • Alfonsus D. Johannes says:

    @mas tris :

    iya mas..

    sama-sama… :)

    thx udah mampir yaaa

    November 2, 2011 at 12:40 am
  • poulailler pas cher says:

    There are certainly a lot of details like that to take into consideration. That is a great point to bring up. I offer the thoughts above as general inspiration but clearly there are questions like the one you bring up where the most important thing will be working in honest good faith. I don?t know if best practices have emerged around things like that, but I am sure that your job is clearly identified as a fair game. Both boys and girls feel the impact of just a moment’s pleasure, for the rest of their lives.

    July 26, 2012 at 9:02 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What do bees make?

Switch to our mobile site