Temple Grandin, Penyandang Autis yang Gagah

Akhirnya jadi juga nulis tentang Temple Grandin. Film berjudul Temple Grandin adalah sebuah biopik dari Temple Grandin sendiri. Temple Grandin, lahir tahun 1947, adalah seorang penyandang autis. Sekarang dia adalah professor di Colorado State University dan sering menjadi pembicara tentang autisme dan juga penanganan peternakan sapi potong. Dia juga banyak menulis buku tentang cara berpikir penyandang autis juga tentang perilaku hewan ternak. Film ini menceritakan perjuangan hidupnya yang sungguh mengesankan.
Tg

Di masa kecil, orang tua Temple sendiri tidak mengerti mengapa Temple menyandang autis. Temple baru bisa berbicara di usia 4 tahun. Namun, orang tua Temple percaya anaknya memiliki otak yang cerdas, dan itu memang terbukti.

Di film ini, masa kecil Temple tidak terlalu diceritakan. Cerita dimulai dari masa-masa sekolah Temple di Hampshire Country School, sekolah untuk gifted children. Di sekolah itu diceritakan Temple yang sangat menyukai sains dan juga menggemari hewan-hewan ternak seperti kuda dan sapi. Temple dekat dengan Dr. Carlock, guru sainsnya. Dia juga senang sekali berada di dekat kuda dan sapi, Temple merasa bisa merasakan apa yang dirasakan hewan dan tidak dimengerti orang-orang lainnya.

Menurut Dr. Carlock, Temple mempunyai kemampuan visual yang hebat, dia berpikir dengan memvisualisasikan apa yang dirasakannya. Itu sebabnya dia agak kesusahan mempelajari pelajaran bahasa dan aljabar. Di film itu digambarkan bahwa Temple sangat jago mendesain sekaligus membuat berbagai peralatan mekanis. Temple Grandin adalah seorang visual thinker yang hebat.

Seperti tagline film ini: “Autism gave her a vision, she gave it a voice”, autisme benar-benar membuat Temple memiliki cara pandang yang berbeda dengan orang pada umumnya, dan dia memiliki keberanian untuk terus belajar dan mencoba. Ibunya selalu bilang bahwa Temple itu berbeda, tapi tidak berkekurangan. Dr. Carlock setuju dengan pernyataan itu, Temple pun dibesarkan dengan pemikiran bahwa dia berbeda, tidak berkekurangan, tidak cacat.

“I am different, not less.”

Temple Grandin

Perjuangannya besarnya ketika menyelesaikan kuliahnya adalah mendesain sistem peternakan yang lebih baik dan efisien. Temple sangat menyayangi sapi-sapi ternak. Di peternakan memang ujung-ujungnya sapi akan dibunuh untuk dikonsumsi manusia, tapi ada proses panjang untuk itu, seperti penggiringan dan perendaman. Di proses itulah Temple merasa peternakan-peternakan yang ada saat itu tidak memiliki sistem yang bagus, dan malah menyiksa sapi. Padahal hal tersebut berbuntut pada kerugian perusahaan peternakan, tidak jarang ada sapi yang mati saat proses perendaman dan itu sangat merugikan.

“I think using animals for food is an ethical thing to do, but we’ve got to do it right. We’ve got to give those animals a decent life and we’ve got to give them a painless death. We owe the animal respect.”

- Temple Grandin

Temple pun berjuang untuk meneliti tentang perilaku sapi, lenguhan sapi, dan mendesain proses perisapan penjagalan yang lebih baik. Tidak jarang dia diejek dan ditertawakan akan rencana penelitiannya itu. Apalagi dengan autistiknya, orang seringkali memandang rendah. Tapi dia berhasil membuktikan dengan membuat berbagai tulisan ilmiah yang dimuat di berbagai majalah seputar dunia peternakan. Dengan kemampuan berpikir visualnya dia berhasil mendesain sistem penggiringan sapi ke penjagalan yang lebih efisien.

Menurutku Temple Grandin memang seorang penyandang autis yang gagah.

Page 1 of 2 | Next page