suara dan cerita

Alfonsus D. Johannes

suara dan cerita - Alfonsus D. Johannes

Jalan Jalan Men – Yogyakarta: Pecah!

Beberapa minggu ini aku aktif ngikutin video travel series baru dari MBDC.

Video perjalanan yang satu ini kocak dan lucu, tapi tetep bikin ngiler pengen jalan-jalan ke Jogja lagi.

Ternyata masih banyak tempat di Jogja yang belum aku nikmatin, kayak Goa Pindul dan Gunung Purba.

Pokoknya, pecah banget deh! Ditunggu banget jalan jalan men berikutnya! :D

Paling gak nyangka di episode 3… “dari hangout.. jadi ngen***!” Pecah banget! Hahaha.

Oiya, beberapa catatan buat Jebraw. Di episode 4 mestinya Serangan Umum 1 Maret tuh, bukan 11 Maret. Mungkin karena semangat banget jadi 11 maret nyebutnya ya. hahaha. Terus kadang-kadang suaranya ga jelas kalo lagi teriak-teriak. Hehehe.

Terus… suka sama lagu-lagu yang sering spontan dinyanyiin si Jebraw dan diiringin Naya sebagai back vocal atau harmonika. Semoga jalan – jalan men makin pecah!

Makin bikin anak-anak muda Indonesia berkelana di dalam negeri!

6/7!

Temple Grandin, Penyandang Autis yang Gagah

Akhirnya jadi juga nulis tentang Temple Grandin.

Film berjudul Temple Grandin adalah sebuah biopik dari Temple Grandin sendiri. Temple Grandin, lahir tahun 1947, adalah seorang penyandang autis. Sekarang dia adalah professor di Colorado State University dan sering menjadi pembicara tentang autisme dan juga penanganan peternakan sapi potong. Dia juga banyak menulis buku tentang cara berpikir penyandang autis juga tentang perilaku hewan ternak.

Film ini menceritakan perjuangan hidupnya yang sungguh mengesankan.

Tg

Di masa kecil, orang tua Temple sendiri tidak mengerti mengapa Temple menyandang autis. Temple baru bisa berbicara di usia 4 tahun. Namun, orang tua Temple percaya anaknya memiliki otak yang cerdas, dan itu memang terbukti.

Di film ini, masa kecil Temple tidak terlalu diceritakan. Cerita dimulai dari masa-masa sekolah Temple di Hampshire Country School, sekolah untuk gifted children. Di sekolah itu diceritakan Temple yang sangat menyukai sains dan juga menggemari hewan-hewan ternak seperti kuda dan sapi. Temple dekat dengan Dr. Carlock, guru sainsnya. Dia juga senang sekali berada di dekat kuda dan sapi, Temple merasa bisa merasakan apa yang dirasakan hewan dan tidak dimengerti orang-orang lainnya.

Menurut Dr. Carlock, Temple mempunyai kemampuan visual yang hebat, dia berpikir dengan memvisualisasikan apa yang dirasakannya. Itu sebabnya dia agak kesusahan mempelajari pelajaran bahasa dan aljabar. Di film itu digambarkan bahwa Temple sangat jago mendesain sekaligus membuat berbagai peralatan mekanis. Temple Grandin adalah seorang visual thinker yang hebat.

Seperti tagline film ini: “Autism gave her a vision, she gave it a voice”, autisme benar-benar membuat Temple memiliki cara pandang yang berbeda dengan orang pada umumnya, dan dia memiliki keberanian untuk terus belajar dan mencoba. Ibunya selalu bilang bahwa Temple itu berbeda, tapi tidak berkekurangan. Dr. Carlock setuju dengan pernyataan itu, Temple pun dibesarkan dengan pemikiran bahwa dia berbeda, tidak berkekurangan, tidak cacat.

“I am different, not less.”

Temple Grandin

Perjuangannya besarnya ketika menyelesaikan kuliahnya adalah mendesain sistem peternakan yang lebih baik dan efisien. Temple sangat menyayangi sapi-sapi ternak. Di peternakan memang ujung-ujungnya sapi akan dibunuh untuk dikonsumsi manusia, tapi ada proses panjang untuk itu, seperti penggiringan dan perendaman. Di proses itulah Temple merasa peternakan-peternakan yang ada saat itu tidak memiliki sistem yang bagus, dan malah menyiksa sapi. Padahal hal tersebut berbuntut pada kerugian perusahaan peternakan, tidak jarang ada sapi yang mati saat proses perendaman dan itu sangat merugikan.

“I think using animals for food is an ethical thing to do, but we’ve got to do it right. We’ve got to give those animals a decent life and we’ve got to give them a painless death. We owe the animal respect.”

- Temple Grandin

Temple pun berjuang untuk meneliti tentang perilaku sapi, lenguhan sapi, dan mendesain proses perisapan penjagalan yang lebih baik. Tidak jarang dia diejek dan ditertawakan akan rencana penelitiannya itu. Apalagi dengan autistiknya, orang seringkali memandang rendah. Tapi dia berhasil membuktikan dengan membuat berbagai tulisan ilmiah yang dimuat di berbagai majalah seputar dunia peternakan. Dengan kemampuan berpikir visualnya dia berhasil mendesain sistem penggiringan sapi ke penjagalan yang lebih efisien.

Menurutku Temple Grandin memang seorang penyandang autis yang gagah.

Aku sebut penyandang karena beberapa waktu lalu Pak @hotradero juga menyebut seperti itu, penyandang autis. Autis bukanlah penyakit, jadi tidak layak kita menyebut “penderita”. Setelah aku googling-googling juga memang sepantasnya kita menyebut penyandang. :)

Di akhir film itu juga diceritakan awal mula Temple menjadi pembicara tentang autis, dia berada di sebuah konvensi tentang autis bersama ibunya. Saat itu sang pembicara berbicara tentang penanganan autis. Tiba-tiba saja Temple dari bangku penonton berdiri dan menyatakan apa yang dia rasakan tentang autis.  Beberapa orang mengira dia orang tua anak autis, padahal tidak, dia menjelaskan dia adalah penyandang autis yang beruntung mendapat kesempatan untuk sekolah dan juga kuliah, saat itu dia sudah mendapat gelar Master of Science-nya. Orang-orang pun kaget dan memintanya untuk berbicara di depan.

Yang gagah adalah kalimat-kalimat ini:

“Well, I am not cured, I’ll always be autistic. My mother refused to believe that I wouldn’t speak. And when I learned to speak, she made me go to school.”

“I mean, they knew I was different, but not less. You know, I had a gift. I could see the world in a new way. I could see details that other people were blind to”

- – -

Film ini bener-bener keren, memberi pelajaran, dan juga menambah pengetahuanku tentang autis. Ada unsur edukasi yang penting juga di film ini, seringkali sistem pendidikan kita menyamakan setiap murid, tidak mau mengakui bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam belajar.

Claire Danes memainkan peran sebagai Temple Grandin dengan sangat apik di film ini, pasti susah banget untuk menirukan dan mendapatkan emosi seorang penyandang autis.

6.5/7 untuk film ini! :D

- – -

220px-temple_grandin_at_ted

Tadi juga berkelana ke YouTube dan menemukan video presentasi Temple Grandin di TEDtalks yang berjudul: The world needs all kind of minds. Aku belum nonton juga nih masih streaming pas nulis ini, tapi pasti bermanfaat. :)

Ini deskripsi videonya di YouTube.

Autism activist Temple Grandin talks about how her mind works — sharing her ability to “think in pictures,” which helps her solve problems that neurotypical brains might miss. She makes the case that the world needs people on the autism spectrum: visual thinkers, pattern thinkers, verbal thinkers, and all kinds of smart geeky kids.

httpv://www.youtube.com/watch?v=fn_9f5x0f1Q

- – -

sumber gambar:

Switch to our mobile site