Kolom Otak Andrey

Sepintas Terlihat Jelas – Beswan Djarum 27

Bangsaku Dengan Permasalahannya

Merenungkan masalah bangsa memerlukan kearifan dan menghendaki disiplin berpikir sistemik (system thinking). Tak ada satu pun persoalan bangsa yang terlepas kaitannya dari persoalan lain. Hubungan antar perkara itu dapat bersifat positif (membawa perbaikan) atau negatif (memperparah keadaan). Karena itulah kecermatan bekerja dan keluasan wawasan pada segenap komponen bangsa dihajatkan. Jangan sampai para pemimpin bangsa terjebak pada sikap parsial atau sektoral, bukan memecahkan keseluruhan masalah, malah menanam bom waktu yang suatu saat bisa meledak dengan dahsyat.

Sebagai bangsa yang beriman, kita patut menyimak dan menghayati kembali doa yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. Doa itu bermakna: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa cemas dan putus asa, aku berlindung kepada-Mu dari sifat hina dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari jiwa pengecut dan kikir, aku berlindung kepada-Mu dari jerat utang dan dominasi orang lain” (HR Bukhari).

Doa itu menggambarkan sejumlah masalah yang mengepung setiap perorangan maupun kelompok, perkara yang bersifat individual maupun kolektif, yang harus ditanggulangi dan dihilangkan. Permasalahan berkembang kumulatif, makin lama makin menumpuk dan memuncak, sehingga akhirnya seseorang atau suatu bangsa tak bisa lagi mencari jalan keluar. Dalam bahasa lain, permasalahan itu dapat pula disebut penyakit yang bersifat individual atau sosial, dan karenanya harus diberantas.

Permasalahan pertama bersifat psikologis, yakini merajanya rasa cemas (anxiety) dan putus asa (despair). Kecemasan bermula dari ketidakpuasan terhadap situasi yang sedang berlangsung, dan kekhawatiran menyongsong masa depan yang serba tak pasti. Krisis dan tekanan yang silih berganti memburamkan pandangan, dan mengubur harapan yang tersisa. Yang tinggal hanya perasaan bersalah (guilty feeling), atau kebiasaan menyalahkan orang lain (“the enemy is out there”), tanpa kesanggupan melakukan introspeksi atau otokritik secara kesatria. Hal itu merupakan simptom yang mudah terdeteksi dari berbagai gejala kriminalitas dan kerawanan sosial, seperti meningkatnya angka bunuh diri dan mudahnya orang tersulut emosi.

Permasalahan peringkat kedua bersifat psikososiologis, yaitu sifat hina dan malas. Perasaan rendah diri menjangkiti, jika berhadapan dengan orang lain. Bahkan, kebiasaan mengisolasi diri dari pergaulan dengan sesama umat manusia akibat takut bersaing. Ada orang/bangsa yang merasa bodoh, miskin, dan terbelakang (backward) hanya karena faktor-faktor fisikal-materialistik belaka. Selanjutnya, tak ada keinginan untuk berubah menjadi lebih baik, mencapai taraf yang sama di depan orang/bangsa lain. Malas untuk menuntut pengetahuan dan pengalaman baru, menghadapi tantangan dan melampaui ujian yang sudah sewajarnya dilakoni demi mencapai prestasi yang lebih baik atau yang terbaik. Akhirnya menghibur diri dengan keadaan yang stagnan.

Penyakit ketiga bersifat sosioantropologis, berupa jiwa pengecut dan kikir. Pada stadium ini, tak ada lagi semangat juang (fighting spirit) dan jiwa kepahlawanan (heroism), semuanya hanya cerita masa lalu yang dibangga-banggakan sebagai warisan nenek-moyang. Setiap orang merasa enggan untuk berkorban demi menyelamatkan masyarakat secara keseluruhan, sebab pengorbanan yang tulus (altruism) dipandang sebagai kesia-siaan dan tak akan menghasilkan kompensasi kongkrit. Dengan demikian, musuh utama bukan berada di luar diri, melainkan di dalam diri sendiri, termasuk kekikiran dan ketamakan pribadi yang membawa kemiskinan dan ketimpangan sosial. Tak ada lagi keinginan untuk berbagi dengan orang lain, karena nafsu kepemilikan dan haus kekuasaan tak bisa dikendalikan. Masing-masing orang mencari selamat sendiri, meskipun tahu perahu bangsa akan segera tenggelam.

Puncak dari permasalahan itu bersifat ekonomis dan politis, yaitu jeratan utang dan dominasi kekuatan asing. Individu atau bangsa yang selalu cemas, serta malas berpikir dan bekerja biasanya suka mencari jalan pintas. Untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus mendesak, sementara penghasilan terbatas, maka para pemalas cenderung memperbesar utang. Padahal, kekayaan terpendam yang dimiliki dan sumber daya yang menganggur masih berlimpah, namun tidak terkelola dengan baik.

Jerat utang (debt trap) mulanya membuat orang hidup nyaman, karena tak perlu bekerja keras, cukup mengandalkan “kebaikan hati” orang lain. Namun, lama-kelamaan utang itu membuahkan ketergantungan, bahkan ketundukan pada kekuatan asing (imperialism). Penyaluran utang adalah modus imperialisme yang paling canggih, sebab bangsa yang ditaklukkan tidak merasa dirinya dijajah oleh para kapitalis global.

Itulah rangkaian permasalahan atau penyakit individul dan sosial yang sedang kita hadapi. Sejak krisis moneter tahun 1997, bangsa Indonesia belum berhasil lepas dari jerat masalah yang kini menjadi benang kusut krisis nasional. Krisis ekonomi, politik, moral, dan budaya menjadi lebih mendalam. Kita perlu menyadari, melalui mekanisme otokritik kolektif yang serius, bahwa memahami persoalan atau mendeteksi penyakit lebih diutamakan ketimbang mencari solusi dan mencoba terapi yang bersifat spontan dan sporadik. Solusi tuntas hanya mungkin berdasarkan pemahaman atas akar masalah yang komprehensif.

Jangan menjadi observer. Observasi menurut pendapat dia, akan membuat kita sangat judgemental, kita akan selalu menghakimi orang. Kita harus merasakan kesatuan dan persatuan dengan kejadian-kejadian di sekitar kita, sehingga tidak menghakimiorang. Saya setuju, namun jangan menjadi fanatic. Jangan menjadi ekstremis. Ada kalanya anda tidak melakukan observasi, ada kalanya anda melakukan observasi. Jadilah “inkosisten”! jangan terpaku pada suatu pendirian. Anand Krisnha. 2005. Bersama bungkarno menggapai jiwa merdeka. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 68

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What do bees make?