celoteh sang pecundang
Kesungguhan, sahabat dan harapan
Menapaki Mimpi
Meniti harapan dari sebuah kertas
Menjelang tahun tahun 2009 tepatnya pada bulan Desember seorang pemuda melakukan persiapan menikuti prosesi wisuda Sarjananya. Selama hampir 5 tahun bergelut dengan bangku kuliah pada Perguruan Tingggi di Kota Solo pada Fakultas Sastra akhirnya selesai juga. Sebagian besar dari para wisudawan terlihat sangat bergembira seolah seperti bintang-bintang di siang hari. Pemuda yang bernama Andri itu berbicara dalam hatinya “Satu tahap dari kehidupan telah bisa aku jalani”. Sesekali andri melihat HP jadul yang selalu dia bawa dalam sakunya, menunggu kabar dari sahabat-sahabat sewaktu di SMA, walaupun mereka mempunyai kesibukan sendiri-sendiri katanya akan meluangkan waktu untuk datang, Arif kuliah di Jogya, Rusman bekerja di percetakan, Poleng kuliah di Solo dan Eko lagi sibuk di Boyolali dimana kita dulu banyak menghabiskan waktu bersama-sama sekedar membicarakan rumitnya kehidupan masa SMA.
Andri adalah tipe orang yang tidak terlalu dekat dengan keluarga, setiap ada masalah jarang diomongin didalam keluarga akan tetapi selalu membawanya keluar rumah dengan teman-teman SMA nya.
Terdengar namanya sudah dipanggil andri segera maju, Dekan menyerahkan sebuah kertas yang disebut dengan ijasah dan mengucapkan selamat kepada saya. Dalam hati saya berkecamuk keinginan bisa seperi orang yang baru mengucapkan selamat kepada ku barusan. “Jadi Dosennnnnn” dalam hati teriakan ini terus menerus tanpa henti-henti”. Setelah kembali duduk ke tempat semula baru sadar bahwa sulit untuk bisa jadi dosen karena harus kuliah lagi yaitu di Pascasarjana untuk mendapatkan Magister. “mimpi boleh kan, kan tak harus modal bahkan tidak harus pake pajak, he he he” dalam hati menghibur diri sendiri.
Setelah semua prosesi wisuda telah selesai andri menemui teman-teman dan keluarga, Andri memang sangat dekat dengan teman-teman SMA dibanding dengan teman kuliahnya. Banyak alasan yang menyebabkan kondisi tersebut. Berdebatan masalah hal-hal yang kecil tidak henti-hentinya kita obrolin bahkan ampe larut malam, teman-teman ku di SMA bagaikan keluarga keduaku. Kami sering bertengakar untuk hal-hal yang kecil sekalipun akan tetapi jika salah satu dari kita ada masalah akan saling membantu meringankan beban permasalahan dari teman yang sedang bermasalah tersebut. “hai Ndri, teman-teman memanggil, dengan penuh senyum ikhlas.
Harapan pertama sang pecundang
Kemaren setelah menyelesaikan persyaratan mendaftar wisuda andri segera mengurus percepatan ijasah, dimana nanti mendapatkan foto copyannya, karena ada pendaftaran CPNS Kabupaten di Jawa dan Sumatra. Dua Kabupaten yang di aftar daftar yaitu kabupaten Pati di Jateng dan Kabupaten Banyuasin di Sumatra Selatan. Dua kota yang menjadi secercah harapan untuk bisa menjadi PNS, hal yang biasa dari seorang pemuda yang baru selesai di bangku kuliah.
Waktunya tiba untuk berangkat ke pulau Sumatra. Perjalanan beberapa hari dengan bus cukup memenatkan badan. Sewaktu melewati kota Semarang ada getaran hati yang mengganggu perasaan, melewati kota dimana seorang wanita yang beberapa tahun terakhir ini selalu mengganggu ditiap malam. Seorang wanita denagan paras yang cantik dan cerdas. Selama mengenal di banyak pelajaran yang bisa Andri petik, bagaimana mengenai sebuah cinta di mata dia. “bagaimana cinta baginya adalah kebahagiaan keluarga, tak luput dari masalah dengan kekasihnya, selama keluarga bisa bahagia dengan hubungan dia akan merusaha untuk bahagia walaupun sesulit apapun” panggil saja “Zahra” nama yang selalu hadir ditiap malamku sebelum aku benar-benar terlelap dengan letihnya malam. Aku sangat bahagia bisa amencintai dirinya walaupun belum bisa merasakan bagaimana indahnya dicintainya. Cukup sampai di situ cerita tentang sosok wanita tersebut.
Beban dipundakku yang terasa semakin berat sebagai harapan keluarga membuat saya selalu berfikir tentang apa yang harus ku lakukan. Dilain pihak Ibu Andri sekarang mendengar pandangan orang kampong, dirasakan sebagai ejekan terhadap anaknya. Terhadap yang tak lama ini menjadi gunung kebanggaan. Tadinya orang kampung itu selalu memandang tua itu dengan kagum. Kagum karena ia telah berhasil mempuh ke Perguruan Tinggi Negeri, sekarang kekaguman itu sudah tidak ada dan kebahagiaan orang tua itupun runtuh. Andri satu-satunya kebanggaannya yang telah gagal. Harapan yang membumbung tinggi yang pernah digantungkan kepada anaknya sekarang telah hilang. Sekarang ia tak dapat mengimpikan hidup tentram dan damai di samping anaknya yang berpangkat dihari tuanya. Harapan telah hilang, orang tua itu sangat kecewa.
Andri sangat merasakan dunia ini sangat tidak berpihak kepadanya, bagaimana telah banyak lamaran yang telah di buat demi untuk mendapatkan pekerjaan dari perusahaan, bimbingan belajar sampai ke sekolah-sekolah tapi apa hasilnya hanya keletihan yang aku rasakan. Keluargaku bukan dari keluarga berpendidikan akan sulit jika ku ajak membicaran masalah pekerjaan. Orang tuanku sangat sibuk dengan urusan kejaannya. Dari empat bersaudara orang tua andri sangat keberatan dan terbebani dimana jarak antara satu dengan yang lain hanya terpaut beberapa tahun saja. Setiap malam rasa resah belum mendapatkan pekerjaan selalu datang dan seakan malam telah menampar. Kesibukan akhir-akhir ini adalah menemui teman-teman siapa tahu ada info pekerjaan. Usaha tersebut juga tidak membuahkan hasil.
Suatu saat, Andri diajak si havit untuk pergi ke rumah seorang cewek yang lagi dia taksir, dengan awal yang canggung kita bertiga mulai ngobrol dari mulai tanya kabar sampai kesibukan kita masing-masing. Tidak terasa sudah satu jam kita mengobrol, lalu tiba-tiba ada sesosok pria yang lumayan tua menyalami kami. Dengan wajah tersenyum dia bersalaman dengan Havit terlebih dahulu baru Andri. Satu pertanyaan yang langsung menampar kami “kalian sekarang pada kerja dimana”. Andri langsung menjawab “ini baru nyari-nyari pak”. Tanpa ngomong apa-apa orang tua itu langsung pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun. Waktu itu sangat jengkel dengan sikap orang tuannya, akan tetapi setelah aku pikir-pikir sikap dari orang tua itu bisa di maklumi. Orang tua mana yang rela anak ceweknya deket dengan penganguran, baru sadar dengan setatusnya sekarang. Karena sudah tidak kondusif setelah terjadi peristiwa tadi obrolan kita bertiga sudah makin canggung. Dengan pake kode khusus andri memberi isyarat supaya kita segera pulang, Havit pun segera berpamitan. Selama perjalanan andri selalu teringat dengan sikap orang tua tadi, bagaimana setatusnya sekarang yaitu seorang pengangguran. Kondisi itu berbeda dengan beberapa tahun yang lalu dimana setatus sebagai seorang mahasiswa dari Perguruan Tinggi Negeri ternama. Hal yang bertolak belakang sekarang seolah sebagai sampah yang memenuhi dunia karena mendapatkannya pekerjaan yang banyak orang menamainya “pengangguran”. Mengobrol dengan teman yang sama-sama baru mencari pekerjaan dan akhirnya mempunyai keputusan untuk membuka usaha. Usaha yang kita tekuni adalah rental komputer, karena usaha ini yang paling cocok dengan latar belakang kita semua. Karena ingin punya ikatan dengan kampus, beberapa teman banyak yang bergelut dengan dunia computer. Permasalahan awal adalah modal, modal harus kita siapkan untuk menyewa kios dan perlengkapannya. Mulai saat itu juga saya mencari kios untuk tempat usaha sudah puluhan kios aku datangi akan tetapi belum ada yang cocok, karena tempatnya kurang yang strategis, tempatnya yang terlalu kecil dan harga yang terlalu tinggi. Terus-mencari akhirnya di belakang kampus UMS terdapat kios yang di depannya ditulis “dikontrakkan”, melihat tempatnya yang strategis saya beranikan diri untuk menemui pemiliknya. “permisi, permisi, permisi,” sampai beberapa kali coba memanggil dengan nada lirih. Akhirnya keluar seorang ibu memakai jilbab “ada apa mas?. Andri menjawab “ini bu, saya mau menanyakan mengenai kios yang ibu mau kontrakkan, ini jelasnya gimana”. Ibu mencoba menjelaskan “ oh, masnya mau mengontrak buat usaha mas”. Andri menjawab “iya Bu”. Ibu ibu tadi coba memulai menjelaskan “ini gini mas, ini saya juga ngontrak di sini, karena saya karus balik ke Sumatra kiosnya mau saya oper kontrak jika ada yang mau”. Andri bertanya sampil melihat kedalam “ini kurang berapa bulan bu habis kotraknya”. Ibu menjawab “ini kurang Sembilan bulan’. Andri coba bertanya sambil memegangi sepeda motor”lha mengenai harganya ini gimana buk siapa tau saya bisa cocok harganya, soalnya ini mau buat usaha sama temen-temen sambil menunggu pekerjaan yang tetap bu”. Ibu berputar ke dalam sambil menutup pintu kios “oh gitu, ini gini mas kemaren satu tahun tiga juta, lha ini masnya ganti satu setengah juta aja, gimana”. Andri senang mendengar jawaban ibu tadi karena harga yang sangat murah untuk sekelas kontrakan yang ditawarkan “iya bu besok siang saya kasih kabar, akan tetapi jangan sampai ada orang yang nawar ya bu sebelum besok siang saya memberi kabar”. Ibu menjawab “iya mas saya tunggu kabarnya besok, ada lagi ngak mas yang ingin ditanyakan”. Andri langsung menjawab “iya bu, sementara itu dulu bu yang ingin saya tahu, sekali lagi saya ucapkan trima kasih ya bu” sambil minta ijin buat pulang. “Assalamualaikum Bu” dengan menundukkan badan dia berlalu dari tempat itu. Ditengah perjalanan ada sedikit keraguan bisa mengumpulkan uang atau tidak buat bayar kios tadi, sesamapai di rumah andri segera menghubungi teman-temannya. Mengasih kabar kalau besok janjian dengan yang punya kotrakan, menjelaskan jumlah uang yang harus kita siapkan. Usaha ini kita patungan bertiga yaitu, Andri, Havid dan Kuncung kedua orang yaitu kuncung dan havit tidak masalah mengenai uang akan tetapi andri yang kesulitan mengumpulkan uang. Pada akhirnya dengan uang seadanya kita kumpulkan dan andri yang paling sedikit uangnya, akan tetapi dengan konsekuensi dia meringankan dengan membawa peralatan-peralatan yang dibawa dari rumah, seperti meja, kursi. Dengan kesepakatan awal kita membawa komputer satu-satu, jadi ada tiga computer di rental. Dengan modal seadanya kita siasati sebaik-baiknya dengan cuma butuh waktu beberapa hari rental itu sudah jadi dan siap untuk diajak mencari nafkaf ditengah keresahan hati mendapatkan pekerjaan di kota sebesar Solo ini. Saya putuskan nama Asta 24 karena ikatan emosional dari nama itu. Informasi ke teman-teman lainya segera cepat menyebar luas ke teman-teman kampus saya, sehingga banyak teman menyempatkan mampir ketempat rental. Sebagai wadah untuk mengobrol adalah tujuan utama kami, banyak teman yang mampir dari sekedar main, mampir saat bekerja, bahkan ada yang memang datang untuk membantu di tempat rental.
Cinta itu adalah keseriusan tentang rasa syukur
Setelah berjalan beberapa bulan usaha tersebut. Ada kabar teman saya SMA yang sempat ke Sumatra setelah menyelesaikan Studi Hukum di kota Solo. Sewaktu mengetahui kabar bahwa sony balik dari Palembang dan mau menempuk kuliah S2 di Jawa. Dengan kabar tersebut saya segera menenui di rumah neneknya. Sejak kecil dia ditinggal orang tuannya untuk mengikuti program transmigrasi ke Sumatra. Sewaktu tinggal di Sumatra beberapa hari saya sangat kagum dengan kehidupan keluarganya di sana. Dengan hidup ditengah hutan, akan tetapi masih bisa bercanda untuk menghibur diri. Dengan memakai motor matic kesayangan yang biasanya ku panggil si’item segera saya bergegas menemuinya, seperti biasa dia lagi nonton tv dengan tiduran.
“hai son” ucapan pertama andri kepadanya.
“hai Ndri sama siapa” terkejut dengan kedatangan andri dan segera bangun dari tidurnya.
“masuk, masuk, masuk, motornya dinaikin langsung aja biar enak ngobrolnya nanti!.” Kata soni dengan keras.
“baik”.” Sahut Andri.
Dengan ditemani segelas kopi kita mulai mengobrol-ngobrol mulai dari hal-hal terkecil sampai hal-hal yang pribadi. Andri dan soni merupakan teman pas SMA, walaupun tidak satu sekolah akan tetapi sangat akrab. Soni kembali ke Jawa karena alasan ingin menempuh S2 di Semarang. Alasan dia sangat sederhana karena ingin membahagiakan ibunya, dengan kondisi kehidupan di tanah transmigrasi hanya sebagai guru dia tidak bisa berkembang dari segi apapun. Baik dari segi ekonomi maupun perkembangan pemikirannya, keinginan dari ibunya kelak kalau sudah tua ingin hidup di Jawa ikut menikmati keberhasilan anaknya. Sekarang dia bekerja keras dan hidup di tengah hutan untuk membiayai kuliah Soni setinggi-tingginya. Walaupun dirasa berat ibu ini sangat menggantungkan cita-cita yang cukup tinggi dibenak pemuda berambut ikal ini. Aku sangat setuju dengan pola pemikiran keluarga kecil temanku ini. Kalau orang jawa menyebutnya “prihatin”, di Jawa banyak cara untuk prihatin yaitu kuat tidak tidur, kuat tidak makan dengan tujuan kelak hidup lebih baik dikemudian hari baik dia maupun keturunannnya. Sehingga ibu nya Soni bisa dikatakan prihatin yaitu dengan makan seadanya yang penting anaknya di Jawa bisa tercukupi kebutuhannya dan dia mengeyampingkan kebutuhannya sendiri. Dengan perhitungan setelah Soni lulus S2 adiknya akan segera dikirimkan ke Jawa untuk melanjutkan kuliah karena lulus SMA. Dari perkebunan karet di Palembang bisa untuk mencukupi semua biaya kuliah sampai tingkat S2.
“ wah kuliah S2, pengen sekali” Andri berbicara dalam hati.
“kira-kira S2 mu habis berapa Son sampai selesai nanti?.” Penasaran andri semakin besar.
“ya kira-kira 30-40 an jutaan Dri” Soni dengan semangat menjelaskan semua.
“apa, 40an juta, itu uang semua Son?.” Andri terkejut, walaupun pada awalnya di juga mengetahui bagaimana rincian kul S2, karena dia sempat mencari informasi untuk S2 di Solo. Apa lagi yang diambil soni adalah S2 Notaris, bagiamana tidak habis banyak. Pada kesimpulan awal hanya orang-orang yang kaya saja yang bisa melanjutkan ke jenjang S2. Sempat andri berkata “jika ada S2 yang persemester hanya habis tiga jutaan Son, aku berani untuk daftar kulias S2.” Dengan semangat yang tinggi, walaupun terasa sulit mendapatkannya.
Malam semakin larut, obrolan kita semakin seru walaupun suara jam dinding sudah terasa kelelahan seakan mendengarkan ocehan kita berdua. Menjelang akhir obrolan karena jarum jam dinding telah tegak berdiri menandakan jam sudah jam 12 malam. Andi menjelaskna bahwa dia dapat pesan dari temannya Beswan Djarum asal Purwokerto yang berprofesi sebagai penyiar radio RRI di kotanya, yaitu untuk menanyakan informasi S2 Komunikasi di kampus saya. Sejak malam tadi terlintas untuk menempelkan sebuah mimpi, yang suatu saat bisa saya lepas tempelan mimpi itu, karena pada awalnya hanya sebagai hiasan malan menjelang tidur. Mengingat keadaan Andri yang sekarang jelas sulit untuk merealisasikan impian tersebut. Saudara yang banyak, dengan jarak yang tidak begitu jauh umurnya yang menyebabkan rasa ketakutan karena masa-masa ini sangat memberatkan orang tuannya. Sebentar lagi kakaknya akan menikah, saya habis wisuda, dan adik saya yang kuliah di Unsoed Purwokerto juga wisuda. Alasan yang meberatkan terasa lebih terhampar dihadapannya dibanding dengan alasan yang membuatnya menjadi pendorong.
Hari-demi hari terasa cepat berlalu dengan sebuah impian yang semakin samar dari impian bisa melanjutkan S2 nya. Dengan kesibukan di rental komputernya dari pagi sampai malam untuk beberapa hari ini sangat menyita waktu
Ucapan adalah doa
Sewaktu mencari infomasi kuliah untuk teman yang ada di Purwokerto tidak sengaja saya melihat selebaran program studi pendidikan sejarah. Denga melihat mata kuliah dan syarat2nya sangat tidak sulit dan yang paling utama adalah biaya yang Cuma sekitar 3 jutaan. Teringat ucapan ku beberapa malam yang lalu saat ngobrol di rumah Soni. Saya berucap kalau ada kuliah S2 yang satu semester Cuma habis 3 juta saya langusng kuliah, ucapan itu yang membuat mengerasnya tangan hitam ku untuk membawa pulang selebaran tersebut dan berjanji akan sekuat tenaga mewujudkan doa yang berwujud dari doa tersebut..
Tidak terasa waktu telah berlalu dengan cepat banyak hal yang telah aku jalani, begitu juga banyak hal yang belum aku lakukan. Meninggalkan banyak kebimbangan dalam aku menjalani ini semua, persahabatan bagiku segalanya, karena dari merekalah saat ini saya bisa tetap berdiri dan selalu berani untuk bermimpi. Aku selalu ingat dengan ucapan motivator yang ada di radio yang sering saya denganr “Sukses adalah hak saya”, dengan mengingat ucapan tersebut saya mulai lebih berani untuk bermimpi jadi sukses karena hak semua orang untuk mendapatkan dan bukan garis keturunan. Akan tetapi jalan orang kaya untuk anak-anaknya sukses lebih terbuka jika dibandingkan dengan orang yang tidak punya. Itu bukan jadi alasan saya untuk tetap berani bermimpi untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Materi memang tidak aku miliki akan tetapi semangat dan keyakinan ku sudah semakin bulat untuk kuliah lagi.
Paginya saya beranikan diri untuk ke kampus Pascasarjana untuk menanyakan informasi yang lebih jelas. Bagaimana syarat, proses penerimaan, pengumuman kelulusan, dan pembiayaan apa masih sama dengan yang ada di famplet. Tidak begitu saja saya beranikan untuk bertanya pada mahasiswa yang kuliah di sini, sekaligus mengobservasi dengan kasat mata ke sekitar kampus Pascasarjana. Dengan hati lega semua yang aku ingin tanyakan sudah terjawab semua dari petugas dan mahasiswa. Dengan waktu seminggu saya harus mendaftar karena minggu ini pendaftaran sudah di tutup. Masalah yang ada didepan mataku sekarang adalah bagaimana saya membeli formulir, di mata saya uang 200 Ribu bukan uang sedikit. Dengan tekat disertai doa agar bagaimana caranya saya bisa untuk membeli formulir tersebut, paginya seperti biasa saya menunggu rentalan dan tiba-tiba ada teman yang datang untuk meberikan order membuatkan makalah beberapa orang yang kuliah di kampus swasta di Solo. Dengan tidak basa-basi saya terima order tersebut dan langsung saya kerjakan pada waktu itu juga. Saya putuskan untuk tidak pulang dan tidur di rentalan saja untuk mengerjakan pesanan makalah. Besok paginya makalah-makalah tersebut saya antarkan ke kampus orang pemesan makalah tersebut. Makalah yang saya buatkan lima buah dan satu makalah dihargai Dua Puluh Lima Ribu Rupiah sehingga saya mendapatkan uang Seratus Dua Puluh Lima Ribu Rupiah, yang seratus ribu saya ambil sedangkan yang Dua Puluh Ribu Rupiah saya kasih ke kas rental karena rentalan ini milik orang bertiga. Secara jujur saya bilang kepada havid dan kuncung apa adanya bahwa uang yang seratus Ribu tadi mau aku pake buat membeli formulir pendaftaran S2 dan mereka berdua tidak keberatan. Aku beranikan jujur walaupun saya tahu bahwa akhir-akhir ini kita bertiga kurang harmonis mengenai pembagian kerja di tempat rental. Kita bertiga masih sama-sama belajar untuk membuka usaha bersama, sehingga masalah bukan untuk jadi penghambat semuanya.
Satu hari tadi sudah mendapatkan Seratus Ribu Rupiah, “Lumayan Dri kurang seratus lagi bisa membawa pulang formulis pendaftarannya”. Sambil menutup pintu rentalan dan Andri memutuskan untuk tidur direntalan lagi supaya mengemat biaya seandainya pulang akan mengurangi uang sepuluh ribu untuk membeli bensin untuk sekali pulang pergi. Sebelum motor Andri dimasukkan ke dalam, dia menyempatkan membeli makanan untuk buka puasa sekalian sahur karena nasi yang dibawa dari rumah kemaren sudah habis untuk buka puasa dan makan malam. Setiap berangkat dari rumah terbiasa dengan membawa bekal untuk makan dan sekarang tidak ada bekal itu karena sudah habis sehingga sahurnya sekarang harus membeli nasi kucing di dekat rentalan. Sebetulnya sangat berat hanya sekedar mengeluarkan uang untuk membeli nasi kucing, karena saat ini saya sangat membutuhkan uang untuk membeli formulir. Empat Ribu Rupiah sangat berharga bagiku sekarang, dalam hati berkata “saya sanggup untuk tidak makan untuk tiga hari, yang penting bisa membawa pulang formulir” akan tetapi jika tidak makan takut ku besok saya tidak bisa melayani pelanggan yang datang ke rental karena lemas tidak sahur.
Andri segera tidur, dengan nyenyaknya walaupun banyak nyamuk pada malam ini karena musim penghujan yang sangat sering turunkan hujan. Mengharap segera bertemu dengan pagi dan siap untuk melayani pelanggan yang datang ke rental computer.
Pagi pun telah datang seperti biasa Andri membuka pintu rentalan dengan di selipkan doa semoga hari ini bisa mendapatkan pelanggan yang banyak. Dengan di mulai mengerjakan sisa lemburan kemaren andri mengetik dengan sambil mendengarkan lagu Bondan yang terkenal dengan lagu si lumba-lumbanya pada waktu menjadi penyanyi cilik dan sekarang mengeluarkan album band nya yang sangat membuat orang semangat untuk menjalani hari. Tidak terasa jam 9 pagi “Kok belum ada pelanggan yang datang ya” sambil melihat keluar kios dengan banyaknya orang berlalu lalang didepan kiosnya. Sampai sore pun pelanggan tidak seperti biasanya, hari yang sepi. Waktu magrib si havid datang ke kios “hai Ndri gimana hari ini? Sambil merapikan motornya. “wah hari ini agak lumayan sepi, tidak seperti biasanya”. Sambil meminum es teh dalam plastik untuk membatalkan puasanya. “biasa itu, namanya aja orang usaha jadi ya tidak pasti hasilnya” dengan duduk di kursi sambil menyalakan komputer. “iya, iya aku tahu, tapi kok tumben betul hari ini sepi banget”. Sambil menawarin minum ke havid. “. “kamu puasa lagi? Havid bertanya. “iya ini seperti biasa saya puasa, kalau inginkan sesuatu kan sering aku berpuasa biar keinginanku bisa tercapai” sambil meminum sisa es. “lupa aku Nri, besok Babe mau ngadain reuni, ini saya disuruh buatin spanduk buat acaranya, kamu punya teman kan Ndri yang bisa buat spanduk”. Havid sambil mengeluarkan sket yang mau di buat spanduk. “punya tho, lha pas kemaren spanduk rentalan kita juga temanku yang membuatnya, lha emang berapa meter spanduknya rencananya?.” Andri bersemangat melihat sket yang dibawa oleh Havid. “ wah kira-sekitar 7 meter itu”.
Setelah panjang lebar mengobrol akhirnya Andri bisa menjadikan pesanan Havid sekitar 2 hari. Malam ini Havid harus pulang karena dia sekarang bekerja di salah satu Bank pemerintah di Boyolali. Dengan mendapat pesanan spanduk dari havit besok Andri mendapatkan sisa uang sekitar Empat Puluh Ribu Rupiah. Andri sebelum tidur masih terasa terganggu dengan angan-angan membeli formulis pendaftaran S2. Dengan mengitung-hitung uang yang ada masih terdapat kekurangan. Dalam hati semoga besok dikasih rejeki yang bisa untuk menutupi kekurangnya. Setelah itu Andri memaksa untuk memejamkan matanya walaupun terasa sulit.
Pagi telah datang lagi, hari ini Kuncung yang mempunyai jatah untuk berjaga. Seperti biasa dia agak siang nyampai kiosnya karena jarak dari rumah cukup jauh. Hari ini Andri puasa lagi, dalam hati Andri bertanya “Kuncung jam segini kok belum nyampai” sambil menuju conter samping untuk membeli pulsa. Sewaktu di conter dan mengobrol dengan pemiliknya panjang lebar seperti biasa. Dalam tengah-tengah obrolan Andri menceritakan kalau nanti ada rencana membuatkan pesanan spanduk. Si pemilik conter tersebut juga tertarik untuk membuat spanduk karena counternya belum mempunyai nama. Sehingga dia juga memesan spanduk sepanjang 6 m. dengan senang hati andri menyambut baik keinginan pemilik counter untuk memesan spanduk kepadanya. Doa Andri ternyata didengar oleh sang pencipta, dengan penambahan pesanan nantinya bisa terkumpul uang yang pada akhirnya bisa mengurangi kekurangan. Dengan sisa tabungan dirumah terasa sudah cukup untuk membawa pulang formulir. Hari itu juga melihat Kuncung sudah datang di rental andri segera bergegas untuk menyelesaikan pesanan spanduk, dari Havid tidak ada maslah karena sudah ada sketnya sedangkan dari pemilik counter belum ada sket karena pesannanya mendadak. Dengan keterbatasan kemampuan untuk bisa membuat sket yang baik, Andri seperti biasa mencari temannya saat dia ikut di Mapala di kampusnya yang bernama Pakeast. Bantuan dari teman Mapalanya tersebut Andri menyelesaikan pesanan spanduk dengan cepat. Setelah selesai kami mencari warung angkringan untuk makan karena tidak terasa waktu sudah malam sebagai ucapan terima kasih. Karena lama tidak mengobrol kedua orang ini menghabiskan banyak waktu di warung angkringan langganannya. Membicarakan bagaimana rencana kedepan dari masing-masing pribadi. Bagaimana Andri menceritakan keinginannya untuk kuliah S2 dan temannya sangat mendukung dengan keinginannya. Sedangkan temannya ini menginginkan untuk membuka usaha sablon yang selama ini dia tekuni. Saling memberi masukan satu dengan yang lain membuat semakin seru obrolan. Terpaksa dengan melihat waktu sudah semakin malam akhirnya saya putuskan untuk segera pulang. Karena saya harus menghantarkan sepanduk pesanan sekalian balik kerumah. Sesampai dirumah havid dia segera menyerahkan pesanan masih dalam bungkus. Dirasa sudah malam Andri segera berpamitan dan besok disambung lagi ucap andri kepada Havid.
Andri pulang ke rumah yang jarak dari rumah Havit tidak begitu jauh hanya membutuhkan waktu 10 menit. Dirumah semua penghuni rumah sudah pada istirahat tanpa dikunci seperti biasa sehingga tidak perlu membangunkan keluarga, segera membuka pintu dan memasukkan motorku si item. Dengan rasa lelah seharian tidak istirahat, tanpa lama-lama tidur di ruang tamu berdampingan dengan si item.
Paginya orang tua Andri terkejut dia sudah ada di rumah. Setelah terbangun dia menuju kamar madi untuk cuci muka, tidak lupa sarapan. Suara hp terdengar ada sms masuk saat Andri baru sarapan ternyata sms dari Havid. Terjadi sedit permasalahan dengan spanduk tanpa panjang lebar segera menyelesaikan sarapan baru mandi. Setelah menyiapkan beberapa berkas-berkas yang harus disiapkan untuk mendaftar S2 karena hari ini rencana untuk kekampus. Simpanan uang dia yang ada dirumah tidak lupa dibawa untuk jaga-jaga siapa tau nanti kurang. Dengan sedikit beban mengenai apa yang salah dengan spanduk yang Andri buat kemaren. Butuh waktu 5 menit sudah sampai kerumah Havid karena si item tidak mau berjalan pelan pagi ini. Havid sudah ada didepan rumah menunjukkan ada kesalahan penulisan, seingat Andri kemaren yang buat bukan saya. Havid berkata “iya memang bukan kamu yang salah, kemaren saya yang salah buat sketnya” sambil membuka spanduk tersebut. “lha ini saya suruh ngapain vid?”. Andri sedikit bingung cara penyelesainnya. Dengan waktu yang singkat obrolan kami harus segera diakhiri karena Havid harus segera berangkat kerja. Havid berkata “gini aja Ndri ini saya serahkan kamu pokoknya kupercayakan pada mu.”. sambil mengeluarkan uang 20 Ribu. Seandainya andri tidak ada urusan membeli formulir pasti uang itu tidak dia terima, mungkin sudah menjadi rejekinya. Dengan melihat kesalahan penulisan Andri mempunyai cara untuk menyiasatinya. Dirasa cukup jelas Andri segera berpamitan ke Solo untuk menyelesaikan beberapa urusan. Spanduk segera dimasukkan di dalam tas supaya tidak terjatuh dijalan.
Tujuan pertama memperbaiki spanduk pesanan Havid dan memberikan sepanduk ke counter sebelah rentalan komputerku sekalian mapir ke kios untuk mengecek hasil pendapatan kemaren. Tanpa lama-lama Andri segera menyalakan motor dan segera berlalu dari tempat kerjanya. Saat memperbaiki pesanan dari Havit saya printkan sepanduk sesuai dengan kesalahan yang ada di sependuk. Ndri bertanya “berapa habisnya, jangan mahal-mahal maas”. Pesan dari Andri kepada pemiliknya. Kasir yang bertugas hanya menyuruh membayar 7 Ribu saja. Karena merasa ada sisa dari uang Havid andri segera berangkat ke kampus dengan wajah yang senang karena uang untuk membeli formulir pendaftaran dirasa sudah cukup.
Si item tanpa basa-basi juga segera berlari seakan mengetahui kemana saya akan menuju. Gedung berwarna putih yang sangat tinggi dan besar seolah telah menunggu kedatanganku. Pohon pohon disekitarnya juga seakan melambaikan tangannya dengan senyuman khas dari pohon dengan angin yang cukup besar. Angin yang cukup besar ini menggambarkan bagaimana perasaan andri yang cukup besar untuk bisa kuliah di Pascasarjana. Setelah memarkirkan si item, langsung masuk ke gedung besar tersebut mencari tempat pendaftaran. Seorang setengah tua menyambut saya dengan wajah kurang menyenangkan, mungkin dalam benak dia orang seperti Andri yang selalu berpakaian apa adanya seperti orang Mapala pada umumnya, banyak orang menganggap kurang sopan. Masak orang seperti ini mau kuliah di S2 orang setengah tua tersebut terus memandangi dengan wajah penuh curiga.
Setelah mendapatkan formulir pendaftaran saya segera menanyakan syarat-syarat yang harus saya penuhi selaku sebagai pendaftar mahasiswa Pascasarjana. Dengan melihat syarat-syarat tersebut Andri secepat mungkin memutuskan pulang ke rumah karena ada beberapa syarat yang harus dibuat dan masih ada di rumah. Dengan wajah yang sangat bahagia akhirnya Andri dapat membeli formulir sebagai sayarat untuk mendaftar sebagai mahasiswa Pascasarjana di Universitas Negeri di kota Solo ini. Melihat sisa uang di saku, Andri terpaksa tidak jajan walaupun hari ini tidak puasa. Makanan dari sarapan sewaktu di rumah tadi pagi masih bisa menahan Andri untuk tidak mengeluarkan uang untuk makan. Kondisi siang ini sangat terasa panas, rasa haus pun terus menyinggapi tenggorokan akan tetapi dengan sisa uang tidak berani untuk membeli minuman. Besok masih ke Solo lagi untuk melengkapi beberapa syarat yang harus di kumpulkan.
Setelah dirasa urusannya sudah selesai Andri mencari keberadaan si item di parkiran, dialah saat ini yang selalu menemani kemanapun saya pergi. Si item selalu bisa meraskan apa yang saya rasakan, bagaimana disaat saya tidak punya duit dia tidak pernah rewel jarang sampai ban bocor atau bensin habis. Dia terasa irit kalau si bos nya hanya sedikit punya uang akan tetapi seandainya si bosnya lagi banyak duit dia sering rewel bensin boros dan ban sewaktu perjalanan sering bocor bahkan sampai 2 kali lebih. Si item yang jarang merepotkan setiap Andri mengajak ngobrol motor kesayangannya.
Setelah menyalakan si item dengan cepat pedal gas di tarik, seakan si item melambaikan kepada gedung yang berdiri tegak ini. “Besok kita ke sini lagi” teriakan si item yang mampu aku rasakan, teriakan tersebut mewakili teriakan hati bosnya. Dalam perjalanan dengan hati yang sangat bahagia, karena hari telah dilalui dengan lancar walaupin perutnya sudah tidak tahan. Seringnya puasa yang bisa menahan rasa lapar ini sampai di rumah, dengan makan di rumah akan bisa sedikit menghemat uang yang masih ada di saku.
Perjalanan beberapa jam dengan motor terasa cukup memenatkan badan. Andri sendiri ingin segera pulang, terasa kawatir dengan syarat yang harus dikumpulkan bisa secepat mungkin diselesaikan. Jadi masih ada waktu beberapa hari buat mengurus segala sesuatunya. Roda dari si item terus berputar, berhenti di sebuah rumah berwarna kuning yang dipandang dari luar seakan milik orang kaya akan tetapi didalamnya penuh dengan kesederhanaan. Itulah rumah saya Andri berguman dalam hati. Si item segera dia masukkan ke dalam rumah, tanpa basa-basi sebuah piring kesukaanya dia ambil dengan diatasnya ditaruh nasi dan lauk seadanya. Tersa nikmat jika mengingat sejak pagi perut ini belum terisi. Makan dengan ditemani acara berita di TV yang berisi tentang banyaknya pelamar pekerjaan yang mendatangi sebuah bursa kerja. Keadaan lowongan yang ada mustahil bisa menampung semua pelamar. Kondisi yang sangat sulit jika menggantungkan pada pemerintah untuk membuka lowongan pekerjaan. Pemerintah kan masih sibuk sendiri dengan masalah-masalah mereka sendiri bagaimana mempertahankan kekuasaan maupun sibuk dengan partainya sendiri. Kepada diri sendirilah kita semua menggantungkan nasib kedepan nantinya. Seperti biasa kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaanya di rumah, dengan berwiraswasta dirumah kedua orang tuanya bisa membesarkan keempat anaknya. Kesibukan berwiraswasta telah menyita banyak waktunya yang menyebabkan Andri bisa kurang dekat dengan keluarga. Keluh kesah sering dia bawa ke sahabat-sahabatnya yang selalu menampung keluh kesahku selama ini begitu juga sebaliknya beberapa teman sering bercerita masalahnya dari mengenai cinta, keluarga maupun masalah kuliah mereka dengan cara Andri sendiri.
Acara telvisi selalu menjadi hiburan oleh ibu maupun bapak, berita politik sebagai tontonan yang sangat menguras tenaga bapak seolah-olah marah dengan elit politik yang sangat mengecewakan rakyat. Dengan rasa marah dia sering menghujat para poitikus di Negara ini, maraknya korupsi, nepotisme dan penyuapan terus membanjiri berita di televisi. Masa reformasi yang sangat berat bagi kedua orang tua Andri, setelah jatuhnya masa Orde baru semakin membuat Negara tidak aman dan harga-harga kebutuhan pokok yang tidak pasti. Orang tua yang bercita-cita ingin kembali ke masa Suharto, keinginan seorang rakyat yang mempunyai hak untuk berpendapat. Orang tua ini mendambakan kedamaian, keinginan yang sangat sederhana akan tetapi sulit terwujud di negara ini selama politik selalu diisi oleh orang yang haus akan kekuasaan. Andri sering tersenyum, jika bapaknya melihat acara berita di televisi dengan serius karena dari hasil menontonnya ini akan dibawa sebagai topik obrolan dengan bapak-bapak di dekat rumah. Pada akhirnya pun dia tidak menggantungkan pada penguasa, setiap pagi datang berita politik yang ada di televisi tidak mengganggu aktivitas sebagai seorang wiraswasta seperti biasa.
Seiring berita dalam acara televisi selesai Andri segera tersadar, lha kenapa kok jadi memikirkan politik. Sisa nasi di piring terasa makin mantab dengan ditemanin acara FTV dengan bintang kesukaan saya Ben Joshua acara televisi yang lainnya. Tidak sampai selesai melihat film FTV di layar kaca, Andri segera mencari berkas yang harus dikumpulkan diantaranya foto, surat peryataan sanggup membiayai sampai selesai dari orang tua, ijasah S1, surat pengatar dari dosen saat S1dan masih beberapa sayarat lainnya. Mengenai surat peryataan kesanggupan dari orang tua terpaksa saya buat sendiri rencana kuliah ini tidak diketahui oleh keluarga. Tanda tangan dari bapak mudah untuk dijiplak oleh setiap orang karena sangat sederhana. Foto terpaksa memakai sisa foto wisuda S1 karena kalau harus foto akan mengeluarkan uang lagi. Syarat yang belum bisa dibuat adalah surat peryataan oleh dua dosen pada saat S1. Dengan sangat sedikit rasa akut paginya memberanikan diri menemui Ketua Jurusan pada saat S1 yang sekaligus sebagai pembimbing skripsi saya.
Hidupku penuh ilham dari sesosok Ibu di tiap masanya
“Selamat pagi Bu”. Andri mengucapakan salam dengan sedikit rasa takut dimarahi karena saat S1 saya termasuk mahasiswa yang badung. Dulu pernah dimarahi saat ujian karena memakai sandal jepit sehingga disuruh keluar kelas. Dengan bantuan tukang parkir kampus saya tidak harus pulang ke rumah karena dipinjaminya sepatu nya. Sedangkan pada waktu menjelang ujian skripsi saya memberanikan diri pergi kerumah Ketua Jurusan di Jogja sana. Sesampai disana pembimbing skripsinya sangat marah dengan kedatangan Andri. Dosen ini mempunyai prinsip bahwa kalau hari libur waktunya untuk keluarga, sedangkan kalau masuk kuliah ya untuk mengurusi urusan kuliah. Saat di rumah hanya untuk urusan keluarganya tidak boleh diganggu oleh urusan kerjaan dosen itu menjelaskan. Marahnya dosen tersebut selalu Andri ingat, bagaimana pengalaman dimarahi dosen dengan tanpa bisa berkata apa-apa.
“Selamat pagi, ada urusan apa kamu?” ibu dosen sambil duduk di meja kerjanya. “ini bu saya mau minta surat keterangan dari ibu?” sambil mencari berkas yang harus di isi ibu dosen. “Surat keterangan, buat apa?”. Ibu dosen sedikit penasaran. “ini Bu, surat keterangan dari dosen yang mengetahui kemampuan akademik saya, untuk kepentingan mendaftar kuliah di S2 Bu”. Menjelaskan sejelas mungkin dengan maksud dan tujuan ke sini. “Wah kamu, mau kuliah dimana, bagus-bagus,?”. Ibu mulai tersenyum mendengarkan penjelasan Andri.“Di Pendidikan Bu, di Universitas ini juga”. Ibu dosen sangat menyambut baik rencana untuk kuliah di S2, dengan segera mungkin mengisi surat keterangan yang harus diisi. Dengan panjang lebar Andri menjelaskan rencana kuliahnya, dan Ibu dosen mengajukan beberapa pertanyaan. Mulai dari pekerjaan Andri yang sekarang sampai berani kuliah lagi, alasan mengapa kuliah S2 di Jurusan Pendidikan bukan di Ilmu. Karena dari S1 Ilmu sedangkan S2 Pendidikan menyebabkan tidak linier. Banyak penjelasan dari Andri kepada dosen tersebut, mulai dari pembiayaan yang dirasa lebih bisa terjangkau, masa kuliah lebih pendek, jarak dari rumah tidak begitu jauh sehingga tidak perlu kos bisa nglajo dari rumah ke kampusnya, kalau harus mengambil Ilmu harus kuliah ke Jogya banyak pertimbangan yang tidak memungkinkan kuliah disana. Paling utama adalah seandainya bisa masuk kuliah di S2 ini saya harus berwiraswasta di rumah. Tidak mungkin untuk dibiayai oleh orang tua, ini keinginan dari Andri sendiri selain itu karena banyaknya saudara di rumah yang menyebabkan rasa takut dengan perasaan saudar-saudara yang lain.
Karena pagi ini belum banyak dosen yang datang akhirnya surat peryataan yang satu di isi oleh Sekretaris Jurusan itu yang memintakan Ibu Dosen pembimbing skripsiku tersebut. Dengan penjelasan dari ibu Ketua Jurusan, Sekretaris Jurusan tersebut segera mengisi surat pernyataan tanpa banyak pertanyaan karena tinggal mengisi sudah ada penjelasan dalam surat keterangan. Butuh waktu setengah jam kedua surat keterangan dari kedua Dosen Andri. Dengan ucapan terimakasih andri meninggalkan ruang dosen dengan sangat bangganya.
Tujuan berikutnya segera melakukan pendaftaran karena dirasa syarat-syaratnya sudah lengkap semua. Setelah selesai melakukan pendaftaran, Andri mencari Info kapan ujian akan dilakukan dan nantinya pengumannya selang berapa hari dari ujian tersebut. Pertanyaan terakhir adalah mengenai pembayaran uang masuk pertama berapa hari dari pengumuman. Pertanyaan terakhir ini sangat penting bagi Andri yaitu tanpa memegang uang ingin bisa membayar uang masuk yang lumayan banyak baginya yaitu 3.5 juta rupiah angka yang sangat tingi bagi pemuda seperti dia. Saat mencari uang untuk membeli formulir aja Andri sudah kelabakan menumpulkannya walaupun pada akhirnya bisa melewatinya. Rasa ketakutan ini makin besar dan makin membesar, dengan uang sisa cuma puluhan ribu andri segera meninggalkan kampus masa depannya. Pulang ke rumah merupakan cara yang cerdas untuk meredam rasa takut yang semakin membesar. Sebetulnya jika ada masalah Andri mempunyai kebiasan untuk pergi ke kota Jogja atau pergi ke pantai untuk meluapkan perasaannya dan membuang semua beban yang ada dalam hati. Kebiasaan itupun untuk saat ini tidak bisa lakukan. Sesampai dirumah istirahat adalah sebagai jalan terbaik untuk menghilangkang kegelisahan yang bergelanyut dalam hatinya sekarang. “Tuhan pasti akan memberikan jalan bagi hambanya ini, jalan dimana secercah harapan bisa selalu dihidupkan dan terus terjaga sehingga hambanya bisa merasakan kebesran Nya, amin”. Tenggelam dalam kabut rahasia yang membuat dirinya tak kuasa untuk berfikir jernih pada saat ini. Suara kendaran yang lalu-lalang didepan rumahnya tidak menjadi pengganggu waktunya memjamkan mata. Tak lupa berdoa semoga setelah bangun tenaga serta pikiran jernihnya dapat hadir untuk mengumpulkan sekuat tenaga menyiapkan segala sesuatu untuk mewujudkan mimpi kuliah di S2.
Waktu menunjukkan jam 4 sore, dimana selama satu jam di alam tidurnya. Mandi di sore hari bisa menyegarkan tubuh yang semakin layu yang disebabkan beban pikiran. Tidak banyak yang bisa dilakukan di rumah, Andri adalah pemuda dengan pola pikir berbeda dari para pemuda di kampungnya. Pendidikan sangat penting bagi dirinya, walaupun belum bisa menjamin mendapatkan pekerjaan. Dunia di perguruan tinggi akan memberikan banyak pengalaman, investasi dengan pendidikan tidak bisa hilang dan akan selalu menempel pada diri orang yang tersebut. Warisan tanah akan bisa hilang atau habis, akan tetapi warisan sebuah ijasah tidak akan bisa hilang. Pemuda di kampungnya tipe pemuda-pemuda yang terlalu nyaman dengan berhenti disuatu titik tanpa mau melanjutkan ke titik yang lebih tinggi walaupun mampu. Andri salah satu pemuda yang masih sangat percaya bahwa dunia pendidikan akan menghantarkan dirinya pada kondisi dimana setiap orang yang mengenalnya akan merasakan mimpi seorang pemuda dengan bermodal tekat yang besar. Yakinlah sesuatu akan indah kalau sudah pada waktunya, terpenting dalam perjalanan memerlukan proses yang berbeda-beda di setiap orang yang sukses sehingga nikmatilah dari setiap sekon dari proses tersebut.
Rejeki dari tuhan itu penuh dengan misteri
Sejak malam itu Andri mencoba mengubungi beberapa teman-teman. Dari beberapa teman diantaranya sahabat sewaktu SMA,teman Akta-4 dan teman Beswan Djarum untuk menceritakan bagaimana keinginan saya untuk kuliah lagi. Disaat yang tidak diduga-duga teman saya yang bernama Eko telfon Andri menanyakan kabar pada awalnya. Berlanjut Andri meceritakan keinginannya untuk kuliah lagi tanpa basa-basi dia menawari uang tabungannya untuk saya pakai terlebih dahulu. Penuh kepercayaan kepada Andri uang itu akan segera dia kirimkan ke Jawa karena dia sekarang tinggal di Jakarta. Uang dua juta dijanjikan Eko untuk dikirimkan, sebagai modal saya melangkah lagi. Sudah separuh lebih uang untuk membayar uang masuk sebesar 3.5 juta rupiah. Pada awalnya uang juta dari Eko buat modal usaha pembuatan paving di rumah, berharap dari usaha tersebut bisa meambah nilai uang yang ada. Sambil menunggu ujian masuk saya sudah mulai usaha paving dengan mempekerjakan satu orang pegawai. Dengan membeli pasir satu truk dan sisanya saya belikan semen. Setelah beberapa minggu paving sudah cukup banyak, sambil menunggu kabar dari teman-teman lainya. Karena kondisi teman banyak yang belum bekerja mereka memberikan uang seadanya untuk membatu saya, rata-rata 100 ribuan ada yang dua 200 ribu tanpa bisa tahu kapan bisa mengembalikannya. Dengan banyaknya teman yang mendukung keinginannya, Andri tidak merasa sendiri, semakin bersemangant untuk terus bisa mewujudkan mimpi yang ada di depan mata dia.
Menjelang pengumuman Andri terus berdoa agar dia bisa diterima diperguruan tinggi uangtuk melanjutkan S2 nya. Bagaimana seandainya tidak diterima, pastinya teman-teman saya akan sangat kecewa karena terlalu yakinnya saya untuk tetap melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Akan tetapi yang paling kecewa jika tidak diterima adalah Andri sendiri dan tidak tau apa yang akan dilakukan jika hal tersebut terjadi. Pada siang hari suara motor pak pos menghantarkan sebuah amplop yang beberapa hari ini talah saya tunggu. Tanpa berpikir panjang amplop itu saya buka wlaupun sedikit dengan rasa takut. Amplop yang menyatakan bahwa saya diterima diperguruan tinggi di program pascasarjana dimana tempat saya menimba ilmu S2 saya. Dengan luapan yang sangat bahagia, teriakan “saya diterima, saya diterima, saya segera menempuh Magister Pendidikan”. Andri tidak berlarut-larut denga rasa kegembiraan, dirasa bahwa ujian terberat adalah mengenai pengumpulan uang masuk bisa mecukupi atau tidak, dengan perhitungan uang masih kurang sekitar satu jutaan. Itupun sudah memakai uang adik saya sekitar setengah jutaan. Tiba-waktunya dua hari kedepan uang-uang tersebutharus terkumpul sejumlah 3.5 juta. Seharian pergi ke rumah teman-teman untuk meminta bantuan meminjamkan uang seadanya dengan beberapa orang terkumpul 500ribu. Dua hari sebelum batas akhir pembayaran Andri sudah mengantungi uang 3 juta sehingga kurang 500ribu rupiah. Jam 5 sore saya berada di teman Akta-4. Mendapat telfon dari teman SMA, yaitu Sony yang baru balik dari Palembang untuk melanjutkan S2 di Semarang. Sony meberitahukan bahwa dia sudah ada uang sekarang jika Andri ingin memakai di suruh ke Salatiga karena baru menunggu neneknya sakit di Rumah Sakit. Mendengar Sony berada di Salatiga, Andri tanpa berpikir panjang langsung cabut ke Kota tersebut dan meninap di sana. Setelah sampai di Rumah Sakit ternama di kota Salatiga diaman neneknya Sony dirawat. Andri menunggu di depan karena pesan dari Sony, tapi tak begitu lama sesosok orang kecil yang berambut ikal mendekati Andri. Dengan wajah yang keletihan dia menyapa, mengajak cari teh panas supaya menghangatkan tubuh karena kota ini semakin malam semakin dingin. Keberadaan tepatnya berada kaki gunung Merbabu. Kita tahu sendiri bagaimana dinginnya daerah di kakin gunung. Obrolan kami diawali dengan rasa teh panas, Andri mulai menceritakan dengan panjang lebar mengenai rencana kuliahnya dengan langsung. Kemaren hanya memberitahukan lewat telfon saja, Sony menanyakan bagaimana Andri bisa mengumpulkan untuk melunasi uang masuk. Andri menjelaskan bagaimana dia meminjam ke teman-teman sehingga terkumpul beberapa juta. Sekalipun uang pinjaman Andri masih tetap yakin bahwa kelak uang mereka bisa di kembalikan dan akan bisa bangga melihat temannya ini selesai kuliah Master. “Son besok paling telat pembayaran uang masuk itu, kata kamu tadi ada uang untuk bisa aku pakai dulu buat besok?”. Andri bertanya dengan serius. “Iya ada, masih saya taruh di kamar Rumah Sakit, tenang aja Ndri”. Sony menjawab, dengan tujuan menenangkan saya. “baik Son, makasih”. Dengan wajah lega Andri mengucapkan rasa terima kasih. “sony, apakah tidak apa-apa uangnya aku pake dulu?” dia bertanya lagi. “bener kamu pake dulu aja, besok kalau sudah ada uang baru bisa dikembalikan.” Andri semakin gembira melihat wajah temannya yang menjelaskan penuh kesabaran.
Setelah menghabiskan satu gelas teh panas yang kita pesan, Sony segera membayar semuanya. Memasuki kamar dimana neneknya di rawat Andri melihat sesosok nenek tua yang sudah terlelap dalam tidurnya. Penyakit paru-paru yang selama beberapa tahun belakngan ini semakin memberat. Dengan mengecek beberapa menit sekali untuk melihat kalau-kalau neneknya meminta sesuatu, ambil mengobrol didepan kamar. Karena malam semakin larut, Andri sebelum tidur memberitahukan kepada Sony bahwa besok jam setengah lima pagi saya harus pulang dan sekali lagi mengingatkan kalau uangnya besok dia pake dulu.
Mata kedua pemuda tersebut akhirnya tidak kuat lagi untuk melanjutkan obrolan. Jam stengah 5 Andri meninggalkan Rumah Sakit karena dia harus pulang ke rumah baru ke kampus. Tak luput dia memperhentikan motor si item di pom bensin terdekat takut tidak sampai di rumah. Hari ini Andri berpuasa lagi, sering dia berpuasa tanpa aturan saat mulai sehabis lulus SMA. Seandainya ingin puasa dia puasa tidak memandang hari apa, puasa adalah tindakan yang paling cerdas untuk berhemat. Sesampai di rumah mandi dan langsung berangkatke Solo, dengan menghitung uang yang ada semua Andri meyakinkan bahwa telah cukup. Hari ini terasa cerah untuk Andri memulai menjalani segalanya. Dengan harapan yang begitu tinggi untuk bisa melanjutkan kuliahnya, secara tidak langsung juga membawa harapan dari sahabat-sahabat yang mempercayakan kesungguhan. Bukan semangat yang sementara, mulai hari ini Andri berjanji sekuat tenaga akan menyelesaikan tugas kuliah masternya. Dengan sisa uang, Andri harus bisa melanjutkan usaha pembuatan paving dan batakonya, karena dari sinilah semester depan ungang semsteran bisa di dapat. Menyiasati minimnya modal, Andri juga ikut membuat sendiri paving tetapi pekerja yang ikut dia tetap bekerja. Menunggu waktu kuliah sangat membuat Andri tidak sabar memulai aktifitas di bangku kuliah. Kondisi saat S1 banyak yang akan dia hilangkan, dahulu dia sering membuang banyak waktu dengan hal-hal kurang positif. Jarang ikut kuliah, sering menghabiskan waktu dengan pacar dan tidak pernah membaca buku. Hal-hal tersebut harus saya jauhkan, sekarang kondisi yang berbeda, mahalnya biaya semakin melecutkan semangat untuk serius kuliah. Disela-sela kuliah Andri terus bekerja membuat paving di rumah, rasa malu sudah dibuang Andri jauh-jauh. Entah orang kampung mau ngomong apa saja di sudah tidak peduli paling utama adalah fokus kuliahnya sekarang. Sekolah tinggi hanya bekerja buat batako, sering tetangga beranggapan sinis kepada Andri. Komitmen untuk kuliah sangat kuat sehingga suara-suara miring dijadikan lecutan semangat dan nantinya akan menuai hasil sesuai dengan keyakinan Andri yang cukup besar. Tanpa mempersiapkan fasilitas Andri masih tetap semangat menunggu waktu perdana kuliah, dengan tas, sepatu, pakaian seadanya tetap percaya diri. Bahkan buku pun belum sempat membelinya, kertas seadanya akan menemani sementara tarian pena saat kuliah di kelas. Saat orang tua mengetahui niat saya untuk kuliah, mereka tidak berani melarang. Andri di keluarga terkenal dengan watak keras bagaimana apa yang menjadi keinginannya harus bisa terwujud. Sehingga saat diputuskan untuk buka usaha seperti orang tua, mereka juga tidak bisa melarang.
Kuliah perdanapun sudah dimulai, tepatnya pada bulan puasa hari ke 3 tahun 2009. Panasnya hari tidak terasa bagi Andri, hari-hari yang ditunggu beberapa bulan terakhir akhirnya datang juga. Djadwal acara kuliah perdana adalah kuliah umum dimana diikuti semua mahasiswa Pascasarjana yaitu S2 dan S3. Banyak penjelasan dari panitia dalam kulaih perdana, setelah itu baru dikumpulkan berdasarkan jurusan yang diambil. Karena tidak ada yang dikenal Andri mencari sendiri kelasnya. Saat memasuki kelas dia terkejut bahwa yang kuliah bersama di kebanyakan orang-orang tua. Dalam hati beberapa tahun kedepan saya ingin mendapatkan ilmu2 dari orang2 ini.. Terimaksih Tuhan telah banyak membatu jalan saya sampai di titik ini..
…………Bersambung di lain waktu……….
Terima kasih
Aku persembahkan buat
- Ibu Wikanti Alm… guru swaktu SMA.. (terimakasih dahulu telah membuat pemuda bermental tempe ini bisa sadar dan berubah)..
- Mas Pakeast Alm.. teman di PA. Sentraya Bhuana.. semoga kita bisa ketemu di dunia selanjutnya…
- Sobat2 ku.. semangat COYYYYYYYYYYYYY
Andri…
From…. KUPANG.. kota di Timur Indonesia
F..L..O..B..A..M..O..R..A
About this entry
You’re currently reading “celoteh sang pecundang,” an entry on Andriyanto Blog – Beasiswa Djarum Bakti Pendidikan
- Published:
- 6.27.12 / 12pm
- Category:
- Uncategorized
- Tags:
Comments are closed
Comments are currently closed on this entry.