Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Alun-alun Batu #1

Bermodal googling dan kekuatan imajinasi. Tetap berbentuk juga segala deskripsi lengkap. Deretan adegan yang aku tuangkan dalam tulisan. Terdorong dari keinginan hati yang ingin berkunjung ke sana. Tapi apa daya, urusan dunia kampus luar biasa menyita. Dunia kampus? Bahkan kampus aku buatkan skala dunianya sendiri. Gedung-gedungnya memang gak seberapa, tapi jadwal dan urusan yang gak kasat mata sering minta dipentingkan. Menjadi penting. Kalau aku abaikan, aku fix jadi manusia laknat berstatus mahasiswa.

Melihat berbagai sudut foto dari segala media yang aku kuasai. Kemudian ruang imajinasiku menata setiap potongan gambarnya. Jadi sebuah satu kesatuan. Sebuah kesimpulan tentang lokasi yang sempat aku jadikan setting cerita tempat naluri berlabuh. Naluri dan sebagian akal sehat di waktu senggang. Tapi gak senggang juga sih, aku yang membuatnya jadi senggang. Kalau gak segera ditulis, kepalaku bisa meledak.

Dengan izin Tuhan, orang tua dan pacar, akhirnya ku injak juga tempat ini. Tempat yang sudah cukup lama berkelap-kelip di dalam otak. Nyatanya tempat ini memang penuh dengan lampu. Waktu itu malam.

Hanya saja, aku lupa membayangkan akses menuju ke sana. Berselancar bersama motor beroda dua. Padahal badan sudah berlapis-lapi kain, tapi memang dasarnya tempat ini beku. Lebih beku dari Bandung. Perjalanan hampir satu jam, dari Malang ke Batu. Dan selama itu pula aku menahan dingin akibat melawan arus angin malam saat jalan menanjak. Masalah kecepatannya jangan ditanya. Kalau lambat ,bisa terjungkal ke belakang. Jadi? Simpulkan sendiri sajalah.

Yang jelas aku benar-benar menapak di atasnya. Kaki fisikku memijak. Kalau yang lalu-lalu itu kaki dari alam bawah sadar. Fisiknya tetap di atas kasur kota Bandung.

Sampai juga di alun-alun Kota Batu

Semakin dekat.

Yang pernah aku bayangkan, sosok pemeran utama datang kesana hanya bermodal kemeja flannelHal yang sama terjadi padaku, berikut long coat yang melapisi di bagian luarnya. Hanya saja, ini bukan milik Gery. Gery cuma hidup di dunia narasi. Aku skalakan juga dunianya. Jadi dunia sendiri.

Seperti biasa. Dengan bantuan ingatan ala kadarnya, yang pasti aku gak naik sendiri. Takut? Hhmmmm… Ya, aku lihat dari bawah. Roda raksasa ini cukup horror. Ayo lah, lawan sekarang atau aku hanya akan terus menatap dari bawah.

Aku gak naik sendiri. Ada Ove dan Bestari.

Dan Rahmat. Duplikat Indro Warkop yang berambut ahahahha…

Aku pernah liat angle ini sebelumnya. Kemudian aku paham dari mana asalnya.

Aku hanya ingin membuktikan kalau aku menapak di udara. Di atas. Tapi jendalanya terlalu buram. Minimal bisa lihat kelap-kelipnya. Bukti juga kalau aku gak bohong.

Kerangka roda bersama kerlip lampu berbentuk makhluk di bawah sana.

Selesai sudah urusan udara dan sudut pandang mata elang dari atas sana. Minimal aku mau buktikan lagi, aku benar-benar jadi tokoh utama dalam latar tempat yang setengah ku ciptakan sendiri.

Bianglala di belakangku.

Sekarang jadi urusan makan. Bukan makan malam sih tapi sekedar mencicipi makanan khas yang… hhmmm lagi-lagi aku lupa apa namanya. Aku gak tertarik mencoba jadi sengaja gak pesan. Lapar juga gak, mungkin angin di perjalanan sudah meresap sampai lambung. Dan cercaan karena badan mengurus juga terus berdatangan.

Dari kiri ada Gesti, Bestari, Wahyu, Ove, Rahmat, Ardik, Tyas dan aku. Harusnya ada Alif, siapa suruh telat. Dan ada Liza yang motret.

Puas! Minimal ini satu bukti kecil kalau aku gak sedang berwacana.

Category: #NgalamTrip

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is that thing with fingers at the end of your arm (one word)?

Switch to our mobile site