Waktu demi waktu di tanah Prabu Siliwangi (Jawa Barat)
Waktu demi waktu di tanah
Prabu Siliwangi (Jawa Barat)
Kuningan Penuh Kenangan
Ketika itu usiaku masih 8 tahun. Aku duduk dikelas 3 SD (Sekolah Dasar) Negeri Gondangrejo Kabupaten Magelang. Ibuku anak ke tiga dari 7 bersaudara. Suatu hari Paman adik laki-laki dari Ibuku memberikan kabar melalui sebuah surat bersampul putih yang berisikan bahwa ia akan meminang seorang gadis cantik rekan kerjanya di sebuah PT di kota Bandung yang tinggal disebuah Dusun kecil yang terletak di sebelah bukit tidak jauh dari Gunung Cermai.
Beberapa waktu kemudian tibalah hari pernikahan Paman dengan calon istrinya. Seluruh anggota keluwargaku yaitu kakek, nenek, ibu, ayah, kakak perempuanku, 7 (tujuh) saudara sepupu, pak dhe, budhe, dan beberapa anggota keluwarga yang lain berencana untuk pergi ke kabupaten kuningan Jawa Barat untuk menghadiri resepsi pernikahan Paman. Perjalanan ini begitu dipersiapkan dengan matang oleh keluwarga karena kami keluwarga besar sehingga rombongan dari Magelang yang ikut menghadiri pernikahan Paman lumayan banyak yaitu mencapai 4 minibus yang penuh padat. Mendengar kabar aku akan diajak pergi menghadiri pernikahan Paman hatiku gembira bukan main. Rasanya sangat bahagia sehingga malam sebelum perjalanan ke Kabupaten Kuningan Jawa Barat pun aku lalui tanpa tidur lelap. Malam itu aku tidak bisa tidur membayangkan perjalanan yang belum pernah aku lalui. Aku berasal dari keluwarga sederhana yang memang jarang sekali berlibur ataupun bepergian jauh. Tibalah pagi hari dimana kami sekeluwarga akan melakukan perjalanan, sebelum berangkat diawali dengan doa yang dipimpin kakeku.
Perjalanan kami lalui dengan suka cita penuh kebahagiaan. Aku dan beberapa saudara sepupuku baik perempuan dan laki- laki bernyanyi disepanjang jalan, serasa kami tidak merasakan capek sedikitpun dalam perjalanan ini. Beberapa kali kami seluruh rombongan berhenti untuk istirahat, solat, dan makan. Memasuki propinsi Jawa Barat salah satu sepupu laki-laki ku ingin buang air kecil, parahnya ketika itu kami melalui sebuah persawahan dan rawa yang cukup panjang. Sehingga mau tidak mau pak supir harus segera menghentikan perjalanan sejenak. Setelah mobil berhenti diikuti mobil rombongan lain dibelakang yang juga ikut berhenti. Sepupuku langsung lari menuju sawah tanpa berpikir panjang. Karena usianya pun masih seumuran denganku, sehingga ia tak peduli keadaan sekitar. Tanpa rasa malu ia menuju parik didekat persawahan. Setelah selesai buang air kecil ia pontang-panting lari menuju mobil. Karena begitu antusiasnya ia berlarian dari pinggir sawah iapun akhirnya terjatuh ke sawah yang berlumpur tanpa tanggung . Baju barunya yang baru ia beli dan belum pernah dipakai sebelumnya kotor seketika. 1/3 (satu pertiga) bagian tubuhnya penuh dengan lumpur. Sepupuku menangis sejadinya. Ibunya pun segera menghampiri dan mencari solusi. Untung tidak jauh dari tempat itu ada sebuah aliran air kecil yang cukup bersih sehingga sepupuku pun mandi dan kembali berpakaian rapi. Beruntunglah sepupuku membawa baju ganti lebih.
Perjalanan kembali dilanjutkan kali ini kami telah memasuki Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Kacaunya sampai disini pak supir dan seluruh rombongan tidak mengerti arah dan tidak hafal benar jalan ke tempat tujuan kami. Karena memang sebelumnya pak supir mengaku belum pernah mendatangi tampat ini. Payahnya lagi pak supir awalnya tidak mengatakan bahwa ia tidak mengerti dan hafal jalan di daerah ini, namun pak supir juga tidak mau bertanya kepada orang sekitar tentang arah yang benar. Setelah satu jam kemudian barulah kami menemui jalan buntu dan ada rambu-rambu lalu lintas yang menyadarkan pak supir bahwa kami memang tersesat jauh dari jalan yang seharusnya kami. Ketika melewati pertigaan seharusnya kami belok kanan namun, ternyata pak supir tetap saja mengambil jalan lurus. Beberapa anggota keluwarga sempat sangat kesal pada pak supir tersebut karena malu bertanya sehingga benar-benar sesat dijalan.
Setalah berkali-kali Tanya kesana-kemari akhirnya kami menemukan jalan yang sebenarnya. Memasuki kawasan perbukitan Pegunungan Cermai. Kami melewati jalan kecil, medan yang begitu berkelo-kelok, kondisi jalan yang rusak, kanan kiri jalan kebun dan beberapa kali kami melewati jalan yang sebelahnya jurang cukup terjal. Jalan pun semakin menaik tidak ada pencahayaan dikanan dan kiri, kondisi sudah gelap waktu menunjukan pukul 7 malam, gerimis pun akhirnya datang menemani perjalanan kami. Tak ada nyanyian, tak ada canda dan tawa. Beberapa sepupuku sudah tertidur lelap. Namun aku tetap terjaga mendengar pembicaraan orang dewasa si sekitar tempat duduku. Mereka mengatakan cukup kawatir dan sudah snagat lelah dalam perjalanan ini. Beberapa diantaranya membaca ayat-ayat Al Qur’an, ada yang berdzikir dan semuanya berdoa untuk keselamatan perjalanan kami. Jalanan[un semakin terjal dan aku didalam merasakan guncangan yang cukup besar karena jalanan yang rusak membuat aku berpegang erat pada lengan ibu. Perjalanan yang kami rasakan di daerah perbukitan ini cukup membuat ketakutan. Perjalanan ini terasa begitu lama. Diawal perjalanan dari magelang aku merasakan keceriaan dan akupun berfikir tak ingin menyudahi perjalanan ini. Namun ketika sampai di jalan perbukitan ini aku begitu ketakutan. Aku melihat kondisi kanan dan kiri melalui kaca mobil begitu gelap tanpa pencahayaan kanan kiri hanya ada pohon yang terlihat kokoh dan tak jelas pohon apa yang disekelilingku ini. Kondisi ini mendorong imajinasiku semakin menakutiku terkadang bias air hujan dan gerimis yang terkena sinar lampu mobil dibelakang rombonganku menyiratkan bayangan bentuk-bentuk orang yang tak beraturan, bentuk kepala manusia dengan rambut super lebat yang ternyata ini pohon beringin besar, bentuk orang berdiri dengan ramput dikuncir yang ternyata ini hanya pohon pisang. Dan imajinasi konyol lain yang berkembang diotaku semakin membuat aku tak bisa terlelap walaupun tubuh ini sudah sangat letih. Aku menuggu untuk segera sampai ketempai tujuan kami. Malampun semakin larut beberapa waktu kemudian kamipun sampai di rumah calon mertua Paman disinilah tempat hajat akan diadakan esok harinya.
Pagi hari setelah selesai sarapan pagi bersama keluwarga, aku, kakak, dan beberapa sepupu bermain keluar rumah. Kami menuju jalan besar, subhanalloh luarbiasa indah, kanan kiri banyak terdapat pohon cemara, pohon pinus, banyak bunga-bunga indah dikanan kiri jalan yang kami lalui. Kami lari-lari kecil menuju sebuah jembatan yang sebenarnya cukup jauh letaknya dari rumah calon mertua Paman. Sebelum menuju jempatan kami melewati sebuah SD. Desa yang begitu sejuk, asri, dan cukup sunyi. kemipun berlarian menuju sebuah taman dekat sebuah SD (Sekolah Dasar) tersebut. Kami bermainan kesana kemari, memetik beberapa bunga yang kami suka. Setelah itu kami melewati sebuah makam dipinggiran jalan. Disini kami saling berlarian karena kakak sepupu laki-laki ku yang terpaut 4 (empat) tahun dari usiaku menakut-nakuti kami tentang cerita hantu yang waktu itu aku anggap seram luarbiasa. Karena usiaku paling kecil diantara kami akupun lari pontang-panting ingin mengejar mereka yang telah berlari duluan didepanku. Aku hampir menangis karena mereka tak dapat ku kejar. Namun semangatku tak terhenti disini. Aku anggap saudara-saudaraku tak peduli padaku sehingga aku memutuskan untuk berhenti mengejar mereka. Akupun melanjutkan perjalanan pagi itu dengan nafas yang tersengal-sengal karena lelah berlari san sangat takut. Aku menelusuri jalan lurus didepan mataku sendirian dan aku melihat saudara-saudaraku terlihat sudah sangat jauh sehingga tubuh mereka terlihat kecil dari tempatku berdiri. Terlihat mereka sudah sampai sebuah dijembatan. Setelah sampai dijembatan ternyata keindahanpun semakin Nampak, terlihat gunung yang sangat kokoh seakan tepat berada didepan mata. Kicauan burung-burung yang saling bersahutan menambah semaraknya pagi hari yang bersih dan sejuk. Udara yang begitu dinginpun terasa begitu menyegarkan. Ketika barusaja aku menikmati suasana disekitar jembatan yang dibawahnya ada sebuah sungi kecil yang begitu jernih airnya. Namun kembali saudara-saudaraku menjahiliku lagi. Merekapun segera pergi meninggalkanku sambil berlarian. Aku menahan diri untuk tidak mengejar mereka lagi. Sehingga akupun berjalan menuju rumah calon mertua Paman tanpa ada menemani. Aku sendiri merasa sangat kesal, hampir aku meneteskan air mata karena kecewa atas sikap para saudaraku, tambah lagi ketika aku melewati makam dipinggir jalan besar itu aku semakin takut. Aku putuskan untuk segera berlari secepat mungkin. Ketika melewati pertigaan, aku sempat lupa jalan pulang. Untung ada babap-bapak tua yang sedang mengumpulkan daun dan ranting kering diseberang jalan. Akupun menghampirinya dan bertanya dengan bahasa Indonesia plus logat medok ketika itu tentang arah jalan menuju ke rumah calon mertua paman. Aku Tanya dengan bahasa yang membingungkan sehingga bapak tua itu tak mengerti apa maksudku. Namun bapak tua itu tahu kalau aku tamu dari jawa dan dikampung itu hanya satu orang yang sedang ada hajat yaitu keluwarga calon istri Paman. Sehingga akupun diantar oleh bapak tua itu sampai rumah dengan selamat. Aku sangat mengenang kejadian demi kejadian dalam perjalanan ini yang sangat mengesankan bagiku.
Tahun Baru 2008 “DETIK Menanti Malam Berganti Pagi di Cipanas Garut
kini usiaku sudah bukan anak-anak lagi seperti ceritaku tentang perjalanan menuju Kuningan diatas ,,,,,,,,kali ini aku memang sengaja tinggal di Bandung untuk berlibur di rumah kakak sepupu perempuanku yang sudah 8 tahun ia tinggal di Majalaya Kabupaten Bandung Jawa Barat. Ini kali pertama aku bisa merayakan tahun baru secaya bersama-sama di Kabupaten Garut Jawa Barat.
Sesampai di Water Boom Garut aku langsung terbangun dan dengan penuh semangat ingin segera bermain di kolam air panas. Suasana begitu ramai menambah semarak tahun baru kali ini. Aku bermain bersama keponakan kecilku. Berendam di dalam kolam air hangat dan menikmati beberapa wahana permainan. Tak terasa waktu pun semakin siang. Kami makan siang bersama , untung kakak sepupuku yang sudah menikah membawakan kami bekal makanan dari rumah sehingga kami tidak perlu membeli makanan di tempat ini. Setelah selesai makan aku pun melaksanakan solat dzuhur di musola kecil yang terletak di dalam kawasan ini.
Tak terasa hari ini tanggal 31 Desember terasa begitu cepat tinggal 12 jam lagi menuju tahun baru 2008. kami sengaja berangkat agak lebih awal agar kami tidak kehabisan tiket masuk di wahana kolam renang dang waterboom cipanas Garut ini.
Aku, saudara, dan teman-temanku yang tinggal di Bandung juga tidak melewatkan kesempatan untuk bermain air dan meluncur dengan perosotan yang cukup tinggi. Menyenangkan sekali bisa berkumpul bersama menikmati liburan akhir tahun dan awal tahun.
(oto bersama kakak didepan kolam air hangat)


Tahun baru bagi kami sekeluwarga adalah waktu dimana harus ada perubahan lebih baik kedepanya. Setelah semalam kami menikmati indahnya kembang api dan riuh suara terompet menunjukan malam pergantian tahun.
Selang satu hari Aku dan keluarga pergi ke Kota Bandung untuk merayakan ulang tahun Kakak Perempuanku sekaligus kakak sepupu perempuanku ingin belanja beberapa HP pesanan rekan-rekanya karena kakak sepupu perempuanku juga berbisnis jual-beli HP.
Tempat pertama yang kami kunjungi yaitu BEC Bandung Electronic Center yaitu pusat jual beli dan grosiran HP terbesar di Bandung. Setelah itu aku menuju ke BTM dan beberapa tempat belanja yang terkenal di Kota Bandung, mampir ke Gramedia dan juga berbelanja sepatu, tas dan beberapa baju di Pasar Baru. Lelah jalan kesana kemari tak terasa suasana semakin gelap.


(setelah selesai berbelanja keperluan masing-masing)
Kami pun makan malam bersama keluwarga.

(suasana makan bersama di KFC Bandung)
“PESONA LUKISAN ALAM CIWIDEY 2008”
Perjalananku di Tanah Prabu Siliwangi tak hanya sampai di kabupaten Garut saja, namun aku nelanjutkan liburan tahun baruku di kawasan nun sejuk, asri, menyatu dengan alam, serasa tak ingin usai menikmati suasana CIWIDEY,,,,,,nah ini yang kali ini akan aku ceritakan bagaimana kawasan wisata pegunungan disini menyajikan begitu nyata krindahan alam Indonesia.
Perjalanan kali ini aku lakukan ketika aku tinggal di Bandung pada tahun 2008 disebuah kampung yang bernama Sukaraja gang Sumaja. Aku melakukan perjalanan dengan kakak perempuanku dan dua temanku yang sudah aku anggap seperti kakaku sendiri. Kami melakukan perjalanan untuk berlibur ke Ciwide sudah jauh-jauh hari ini juga dalam rangka merayakan ulang tahun kakaku. Aku begitu antusias menuju ciwide daerah kawasan wisata di Jawa Barat. Perjalanan kami lakukan dengan mengendarai motor.

Tempat pertama yang aku tuju adalah Kawah Putih disini aku begitu menikmati pemandangan yang sangat indah. Walaupun udara dingin terasa menusuk hingga ke tulang namun aku tetap bahagia.

Aku melihat begitu indah ciptaan Tuhan dimana aku sangat bersyukur Alloh memberiku mata sehingga aku dapat menikmati keindahan demi keindahan dengan mata ini. Jalan yang berkelok-kelok dan semakin menaik cukup menambah antusiasku untuk segera sampai ke kawasan “kawah putih”. Memasuki area parkiran “kawah putih” bau belerang begitu menyengat menandakan bahwa kawah semakin dekat dari posisiku berdiri. Kami harus jalan memebara menit untuk memasuki kawah. Subhanalloh luarbiasa lukisan alam yang maha indah. Air kawah memang terlihat begitu putih, aku pun menyempatkan diri untuk ber foto dan merasakan hangatnya air Kawah Putih dengan tanganku. Aku mengambil beberapa gambar yang sampai saat ini begitu membuat aku selalu ingin kesana ketika melihat album fotoku yang mengingatkan ku pada keindahan Kawah Putih.
Kami melanjutkan perjalanan dengan mengendarai motor dan kami melewati perkebunan teh yang sangat luas. Terlihat para wanita pekerja di perkebunan teh itu sedang memetik teh dengan memakai capil dan menggendong keranjang-keranjang besar di punggung mereka tempat menaruh teh yang mereka petik. Kami menuju sebuah pemandian air hangat tidak jauh dari Kawah Putih. Aku pun menyempatkan untuk mandi dan menikmati kehangatan air di kolam yang dipercaya mengobati gatal-gatal dan penyakit kulit. Disini juga ada banyak buah tangan dan penjual buah strawberry yang dapat dibeli dan dibawa pulang. Setelah beberapa menit bermain di kawasan kolam aku kembali bersiap-siap untuk menuju tempat wisata berikutnya.

|
S |
itu Patenggang yaitu sebuah danau yang cukup cantik nun elok tempat tujuan kami berikutnya. Kami pun kembali melewati perkebunan the yang sangat luas, jalan berkelok-kelok, dengan udara yang begitu dingin. Sampai di Situ Patenggang hatiku tak sabar rasanya ingin mengabadikan memory ini dengan kamera yang aku bawa. Di Patenggang ini terdapat “batu cinta” yang dipercaya oleh sebagian penduduk bahwa apabila kami pasangan kekasih yang mengukir atau menuliskan nama mereka dibatu tersebut maka hubungan mereka akan langgeng. Untuk mencapai batu “cinta” harus naik kapal kecil dengan membayar 30 ribu. Sesampai ditempat “batu cinta”. Mitos ini memang sering dilakukan mayoritas pasangan kekasih yang datang ketempat ini.
(diatas kapal menuju Batu Cinta)
Aku naik kapal yang telah disewakan dan disediakan di tempat ini menuju lokasi “batu cinta” dan akhirnya sampai juga ke tempat dimana “batu cinta” yang penu dengan coretan nama-nama pasangan kekasih. Namun karena aku datang tanpa pasangan kekasih sehingga aku hanya ber foto saja disamping batu yang besar itu yang dikenal sebagai “batu cinta”.
Perjalanan kami lanjutkan menuju sebuah perkebunan strawberry. Aku dan kakaku memetik beberapa buah strawberry. Rasanya segar ditenggorokan ditambah udara dingin yang menyejukan tubuhku. Hari semakin senja aku pun beranjak pulang dan membeli beberapa buah tangan khas Ciwide.
Menuju Dinginya Puncak Bogor
Perjalanan kali ini aku awali dari liburanku di Kota Kembang Bandung.

(gedung sate pemerintahan Kota Bandung Provinsi Jawa Barat)
setelah beberapa hari menginap di Rumah Saudara yang tinggal di Cibiru aku melanjutkan perjalananku ke Bogor menuju rumah kakak perempuanku di Gunung Batu Kota Bogor. Perjalanan aku lanjutkan dengan membonceng motor saudara laki-lakiku. Jalur yang kami ambil yaitu jalur puncak, walaupun pada jalur ini sering macet ketika liburan tiba namun aku ingin sekali menikmati sejuk dan dinginya puncak Bogor walaupun hanya sejenak.
Setelah sekitar kurang lebih menempuh perjalanan dari kota Bandung selama 3 jam akhirnya aku dan kakak sampai di puncak Bogor sebuah kawasan perbukitan nun sejuk tempat para pelancong mendokumentasikan moment2 mereka di Puncak Bogor sambil menikmati jagung bakar, kacang rebus, tahu asin, asinan, dan makanan lezat lainya. Hmmmmmmmmm pandanganku lempar jauh ke kawasan hijau dimana kebun the menyebar dari berbagai penjuru dan terasa mengelilingiku.

(kawasan puncak kabupaten Bogor)


(solat di Masjid Puncak Bogor)
setelah kurang dari 2 jam akhirnya aku dan kakak sampai di rumah kakak perempuanku,,,,,,,luarbiasa rasa capeku terasa lenyap setelah sejenak memanjakan mata di kawasan Puncak Bogor.

Schedule untuk keesokan harinya yaitu menuju wisata wahana kolam renang “The Junggle”.
Setalah kami selesai memanjakan diri menikmati wahana air dan kolam renang kami menuju sebuah tempat yang begitu menjadi pusat perhatian masyarakat Bogor maupun luar Bogor. Yaitu,,,,,,,,,,,
Kebun Raya Bogor “Taman tak Berkesudahan”
Yupppppppsssssssss,,,,,,,,betul sekali Kebun Raya Bogor dan kawasan Istana Bogor, tempat dimana orang nomor satu di Indonesia sering mengadakan acara-acara besar disini.

(istana Bogor tampak dari Samping)
Sekeliling istana berdiri kokoh pagar besi yang tinggi. Tidak semua orang diperbolehkan masuk ke dalam istana Bogor, jadi aku dan saudara-saudaraku hanya bisa melihat-lihat istana putih itu dari luar pagar di kawasan ini banyak sekkali rusa yang cantik dengan kulit yang dihiasi polkadot putih di kulit coklatnya. Aku pun mencoba memberikan makanan kepada rusa-rusa cantik itu beberapa helai rumput yang aku ambik di sekitar kawasan luar istana Bogor.

(memberi makan rusa)
setelah selesai bercengkrama dengan rusa-rusa cantik itu aku dan saudaraku berkeliling taman yang begitu indah dan luas di kawasn Kebun Raya Bogor. Terdapat bunga-bunga yang luarbiasa indah. Terdapat juga berbagai tanaman dan pohon langka. Seakan kaki ini pun tak lelah terus melangkah menyusuri satu-demi satu kawasan Kebun Besar ini. Ketika kami melalui jembatan merah kakaku bercerita tentang mitos yang disandang jembatan yang memang berwarna merah ini. Yaitu apabila pasangan kekasih yang belum menikah melewati jembatan ini maka hubungan pasangan tersebut akan segera putus atau berakhir,,,,,,,namun jujur aku pribadi tak mempercayai mitos tersbut,,,,guys,,,,kalian boleh percaya boleh enggak,,,but jangan ragu-ragu apabila kalian melewati jembatan ini besama pasangan kaliyan,,,,okey,,,

(jembatan merah)

(tugu pancasila)

(di sekitar taman)


(bunga nun warna-warni)
So,,,,ayo kawan kita lestarikan dan jaga alam Indonesia yang begitu Indah ini. Jangan kalian rusak,,,and satu lagi jangan buang sampah sembarangan, maupun metik bunga sembarangan di kawasan wisata manapun……okeyyy,,,trimakasih kawand2 imyuuuut ku,,,trimakasih msh tetap setia membaca bait-demi bait cerita sederhanaku ini,,,,,,,,,
SEMANGAT!!!!!!!!!!!






