msgbartop
Blognya untuk berbagi… ^_^
msgbarbottom

14 Mar 14 Sekuat apa hatimu?

Pernah baca tulisan di bawah ini?

Sabar itu, ilmu tingkat tinggi…
Belajarnya setiap hari,
Latihannya setiap saat,
Ujiannya sering mendadak,
dan sekolahnya: seumur hidup.

Ada yang bilang…
semakin Alloh sayang pada hamba-Nya, maka semakin kuat pula ujian untuknya.

Sepakat?

Tags:

29 Dec 13 Praduga

Memikirkan orang lain, kadang memunculkan banyak praduga. Sebuah prasangka… yang celakanya terkadang hasil pemikiran/penilaian sepihak.

Dia itu gini gini gini…
Ah, kalau A itu orangnya gitu gitu gitu….
Kenapa sih B itu orangnya bla bla bla?

Pernah, memikirkan atau mengucapkan kalimat yang mirip dengan tiga kalimat di atas?
Well… Tidak salah memang, karena toh setiap kita bertemu dengan orang baru sekalipun akan timbul suatu kesan bahkan mungkin penilaian singkat mengenai orang yang kita temui. Terlebih jika kita semakin banyak berinteraksi dengan orang tersebut, maka makin lengkap lah “judge” kita terhadapnya.

Hal yang berat adalah ketika kita (pada suatu hari/waktu) menemukan sisi kelam/buruk dari sosok yang dekat dengan kita. Pertanyaannya adalah: mampukah kita menerimanya? Memaafkannya? Membimbingnya? Karena kebanyakan yang terjadi adalah sebaliknya. Bagaimana dengan Anda?

Kurang lebih dua bulan yang lalu, seorang teman mengatakan bahwa masa yang benar-benar efektif untuk pembentukan pribadi anak adalah pada usia balita hingga 10 tahun. Selebihnya, anak tersebut yang akan menentukan. Kita hanya bisa mengarahkan.

Jadi, jika sekarang Anda menemukan orang yang memiliki rasa jealous tingkat tinggi, pecandu rokok atau obat-obatan, pemarah, pemalu, penakut, dll… pernahkan Anda bertanya bagaimana masa kecilnya? Kehidupan dalam keluarganya? Apakah sikapnya itu akibat trauma? Pernahkah terpikir bahwa akan selalu ada alasan di balik setiap tindakan?

Jadi, mari pahami lebih baik lagi orang-orang di sekitar kita. Tidak peduli seberapa cuek pun Anda terhadap orang lain. Just keep trying… karena tidak akan pernah ada kata sia-sia untuk kebaikan sekecil apa pun :)

Tags: , , ,

27 Dec 13 Masalah: How to Face It?

Ketenangan dan kesabaran… merupakan bagian penting yang harus kita miliki dalam menghadapi setiap masalah. Ketenangan akan membuat pikiran kita jernih untuk memikirkan solusi, sedangkan kesabaran akan membawa kita pada harapan bahwa kelak masalah itu akan berakhir.

Lantas bagaimana caranya agar kita dapat tenang dan sabar?
Latihan? Perlu waktu yang cukup lama?  Ah, mungkin jawabannya akan singkat…

Allah subhanahu wata’ala bahkan sudah memberi kita petunjuk… banyak sekali petunjuk dalam surat cinta yang Ia sampaikan untuk kita melalui Rasul-Nya. Salah satunya tertulis dalam surat Ar-Ra’d ayat 28 yang artinya,

“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

Nah, jelas kan ya? Kuncinya satu: ingat Allah.
Caranya? Banyak… bisa dengan dzikir, baca Quran, shalat, dan lain sebagainya…

Lantas bagaimana dengan kesabaran?
Sederana saja. Saya pernah mendengar cerita mengenai dua orang yang ingin belajar untuk sabar. Satu orang pergi ‘bertapa’ ke gunung tak berpenghuni, sedangkan satu orang yang lain pergi ke kota yang hiruk pikuk – sesak dengan manusia. Menurut Anda, manakah yang akan lebih belajar mengenai arti kesabaran?

Sobat… Ibnu Qayyim pernah berkata bahwa sabar adalah menahan diri dari menggerutu, menahan lisan dari mengeluh, dan menahan anggota badan dari menampar pipi, merobek-robek baju, dan perbuatan tidak sabar selain keduanya.

Sabar merupakan hal penting dalam menghadapi masalah. Allah subhanahu wata’ala bahkan telah menganjurkan kita untuk “meminta” pertolongan Allah dengan sabar dan shalat (QS. Al Baqarah: 153). Ingat yaa… mintanya ke Allah, bukan yang lain karena Allah lah tempat bergantung segala sesuatu (QS. Al Ikhlas: 2).

Hal itu berarti, jika kita mampu untuk bersabar, maka insya Allah… pertolongan Allah itu akan datang… sebagaimana janjiNya bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan (Asy-Syarh: 5-6).

Jika Anda pernah melihat film garapan Ang Lee, Life of Pi, tentu Anda menyadari bahwa dalam kondisi seburuk apa pun, we’ll never be alone cuz there is God who always watch us and helps us no matter who we are. Nah, buat yang belum nonton… monggo dicari kasetnya buat ditonton… mumpung masih liburan. Hee… ^_^

semoga bermanfaat,
Salam… ;)

Tags: , , , , , ,

27 Dec 13 Kuat karena Masalah

Entah sejak kapan diri ini mulai percaya bahwa setiap masalah yang datang untuk kita hanya akan membuat kita semakin kuat. Mentally or physically.

Masalah atau cobaan adalah suatu niscaya, karena Allah subhanahu wata’ala pun telah berfirman:

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mekatakan: ‘kami telah beriman’, sedang mereka belum diuji?” (QS. Al Ankabut: 2-3)

bahkan Rasul kita yang mulia pernah ditanya tentang manusia mana yang paling berat ujiannya? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.(HR. Tirmidzi)

Nah, jadi… jangan sedih jika mendapat masalah, karena insya Allah, dalam setiap masalah akan ada ibrah (pelajaran) yang bisa kita petik untuk membuat diri kita menjadi lebih baik dan lebih kuat (dalam menghadapi masalah) dari sebelumnya. Kuat karena masalah… :)

*baca juga: Masalah: How to Face It?

Tags: ,

19 Nov 13 Akreditasi

Well…
Just wanna say, kalo sejak Selasa 12 Nopember 2013, Ditta dan teman-teman di sekolah sibuk menyiapkan akreditasi sekolah yang akan dilaksanakan pada tanggal 25 Nopember – 2 Desember 2013.

Fiuh…
Ternyata… banyak sekali yang harus dipersiapkan, terutama bukti fisik dari seluruh komponen biotik dan abiotik yang ada di sekolah. He…

Tenaga dan pikiran jelas terkuras…
Bahkan beberapa di antara kami ada yang “lembur” di sekolah…
Beruntung… sekolah kami adalah Boarding School… sehingga para guru yang menginap dapat sejenak beristirahat di kamar yang telah disediakan :)

Bersyukur…
karena kami dibagi tim dan Ditta masuk tim yang dipimpin oleh orang yang bertanggung jawab, cerdas, ulet, dan memiliki kemampuan manajerial yang baik: Pa Iik Taufik, S.PdI., S.Kom. yang sedang menempuh S2 :) tim nya juga solid… alhamdulillah… ^_^

Berharap…

Semoga kami dapat mempertahankan nilai A yang telah kami peroleh dari akreditasi sebelumnya :)

Aamiin… aamiin… aamiin… ^_^

17 Oct 13 Hadapi Saja…

Sebagian dari kita mungkin terlahir dan tumbuh di lingkungan yang luar biasa. Luar biasa baik atau justru sebaliknya.

Salah seorang anak didik saya misalnya, hidup di lingkungan yang bisa dikatakan kurang baik. Dekat dengan gudang miras dan dekat dengan tetangga yang suka mabuk maupun berjudi. Sementara teman saya yang lain selalu hidup di tengah-tengah orang shalih dan shalihah yang tiap hari senang membaca al Qur’an, menghafalnya dan menafakurinya.

Jadi teringat dengan apa yang pernah saya baca dari website Ummi, bahwa terkadang ada ungkapan menyatakan “orang yang bisa menjaga keshalihannya di tengah orang-orang yang shalih, itu biasa. Tapi, orang yang mampu menjaga keshalihannya di tengah-tengah orang yang tidak shalih, itu baru luar biasa”. Inilah mungkin yang dimaksud oleh Ust. Samson Rahman MA , Ketua Bidang Kajian Islam Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) mengenai sensasi spiritual dalam pergaulan.

Meski demikian, bukan berarti orang-orang shalih di lingkungan yang shalih adalah orang biasa. Hal ini sedikit banyak mirip dengan apa yang saya perbincangkan dengan rekan kampus saya ketika masih menduduki bangku kuliah.

Menjadikan murid biasa menjadi luar biasa memiliki tantangan tersendiri bagi seorang guru. Perlu tenaga ekstra, pikiran ekstra, dan ekstra-ekstra yang lain. Teman saya yang super duper pintar kemudian menuturkan pendapatnya (setelah menyatakan sepakat dengan pendapat saya) bahwa mengajari anak-anak yang “luar biasa” pun memiliki tantangan tersendiri.

Kalau dipikir, benar juga. Toh, jika hidup di tengah-tengah orang pintar, kita pun tentu akan tertantang untuk menghadapi bagaimana agar talenta yang mereka miliki dapat terus berkembang tanpa terlantar begitu saja.

Rasul kita yang mulia pernah bersabda bahwa, “seorang mukmin yang bergaul dan sabar terhadap gangguan orang, lebih besar pahalanya dari yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Barangkali inilah salah satu pendukung bahwa kita harus bisa bergaul dengan siapa saja. Namun bukan berarti kita harus sembarangan bergaul. Seperti kata salah seorang guru saya, “Hiduplah seperti ikan laut. Meski mereka hidup di lingkungan yang asin, tapi mereka tidak ikut-ikutan (menjadi) asin.”

Intinya, kita harus punya prinsip untuk membentengi diri kita agar tidak terbawa arus ketika kita hidup di lingkungan yang kurang baik.

Ingatlah, segala sesuatu diciptakan dengan maksud tertentu. Maka, jika kita hidup di lingkungan yang baik, bersyukurlah. Namun, jika kita hidup di lingkungan yang kurang baik, tak perlu merutuki diri sendiri. Hadapi saja. Karena siapa tahu, Alloh memang telah menakdirkan kita untuk menjadi penerang dalam kegelapan… ;)

So… keep smile….. :D :D :D

Tags: , ,

16 Oct 13 Adil-kah kita???

Lebih dari 23 tahun diri ini menghirup nafas di dunia…
Beribu-ribu percakapan dengan berbagai orang dari berbagai kalangan, berbagai latar belakang, berbagai keperluan, dan berbagai-berbagai laninnya telah, akan, dan sedang dilalui…

Suatu pengamatan sederhana…
Hanya suatu pengamatan sederhana…
Ketika perbincangan dilakukan dengan jumlah orang yang (umumnya) “ganjil”.

Manusia, memiliki kecenderungan untuk lebih dekat kepada mereka yang “sekufu” dengannya. Dimana mereka akan merasa “nyaman” akibat adanya persamaan yang membuat dirinya seolah diterima apa adanya. Dan sudah menjadi sifat manusia juga bahwa kita (baca: manusia) cenderung untuk menerima sesuatu yang berawalan “di-”: disayangi, diperhatikan, dicintai, dihormati, dan sebagainya. Terkadang, hal itulah yang membuat kita “lupa” untuk melakukan sesuatu yang berawalan “me-”: memerhatikan, mendengarkan, menghormati, menghargai, dan sebagainya.

Adil dalam wikipedia disebutkan berasal dari bahasa Arab yang artinya berada di tengah-tengah, jujur, lurus, dan tulus. Dikatakan pula bahwa orang yang adil selalu bersikap imparsial, atau tidak memihak kecuali pada kebenaran. Lalu apa hubungannya dengan kalimat-kalimat pembuka saya?

Well…
Pernah merasa bingung ketika kita berbincang-bincang dengan katakanlah dua orang? (total jadi tiga orang)
Sadarkah, bahwa terkadang atau seringkali perbincangan kita hanya mengarah kepada salah satu orang saja?
Entah karena persamaan profesi, keadaan, dsb?
Pernahkah kita ‘berusaha’ untuk berada di tengah-tengah?
Mencoba bersikap “adil”?
Atau… justru kita lah yang ditinggalkan?

Beberapa orang yang saya temui, sudah mampu bersikap adil… selalu membagi pembicaraan kepada orang-orang yang sedang berdiskusi dengan mereka. Mereka tidak hanya menjadi orang yang mendapatkan “di-, di-” (dihormati, dihargai, didengarkan, disayangi). Jauh daripada itu, mereka adalah orang-orang yang telah “mampu” melakukan apa-apa yang berawalan “me-” (menghargai, mendengarkan, menghormati).

Karena setiap manusia memiliki perasaan…
Mari… kita jaga perasaan mereka dengan mencoba untuk bersikap lebih adil ketika kita terlibat dalam suatu perbincangan… :)
Insya Alloh, membagi rata perbincangan akan dapat menimbulkan perasaan bahwa sahabat kita tengah diperhatikan, dan oleh karena itu rasa sayang di antara sesama pun akan tumbuh dengan baik :)

So…
siapkah kita bersikap adil? ^_^

11 Oct 13 Siap jadi Teladan???

Menjadi teladan memang tidak mudah.

Akan ada konsekuensi dalam setiap hal yang kita lakukan. Mau tidak mau, kita harus “terlihat” lebih baik dari mereka yang meneladani kita. Sulitnya, adalah bagaimana kita bisa bersikap “jujur”. Jujur dengan apa yang kita lakukan (baca: ada maupun tidak ada orang yang melihat, kita tetap melakukan yang terbaik).

Mungkin, teladan berhubungan dengan posisi/jabatan seseorang di masyarakat. Di lingkungan dimana ia tinggal dan hidup. Semakin tinggi jabatannya, semakin banyak ia dikenal orang, maka “mungkin” akan semakin banyak pula orang-orang yang memerhatikannya.

Teladan adalah pertarungan. Pertarungan dengan diri sendiri. Pertarungan agar bisa lebih baik. Pertarungan agar kita tidak (atau sebisa mungkin meminimalisir) segala bentuk kesalahan. Pertarungan untuk terus mau belajar. Pertarungan untuk bersikap jujur. Pertarungan untuk bisa rendah hati. Pertarungan untuk siap menjadi terasing. Pertarungan untuk bisa menggerakkan.

Menjadi teladan bagi orang lain, adalah amanah besar yang bisa hadir pada siapa pun.
Seorang teman bisa menjadi teladan bagi teman lainnya.
Seorang guru bisa menjadi teladan bagi muridnya.
Seorang ayah maupun ibu bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya.
Seorang kakak bisa menjadi teladan bagi adiknya.
Orang yang sakit dan dapat bertahan bisa jadi teladan bagi orang-orang yang sehat.
Dan sebagainya…

Jadi, dimana posisi Anda saat ini???
Sudahkah Anda siap menjadi teladan?

Tags: , ,

26 Mar 13 Cinta yang tak pernah menyakiti

Cinta itu anugerah…

Hadirnya tak hanya diminta, tapi diberi…
Ditanam oleh Sang Pemilik Cinta
yang cinta-Nya mengalir…
di setiap hembus nafas kita…
di setiap denyut jantung kita…

Ia tak pernah menyakiti,
sekalipun kita menjauh dari-Nya.
Cinta-Nya tak pernah pudar,
sekalipun acap kali kita enggan melakukan apa yang Ia suka.

Aku, kamu, dia, mereka…
adalah milik-Nya.

Tidak secuil pun kita “berhak” memiliki apa yang Ia punya.

Maka saat cinta itu pergi…
Biarlah ia pergi…

Karena Alloh tahu… Ia lebih mengetahui…
apa yang “terbaik” untuk kita dan dirinya…
karena Ia tahu… Alloh lebih mengetahui…
apa yang kita butuhkan saat ini, esok dan nanti.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.
Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu.
Sesungguhnya Alloh lebih mengetahui…”

Ditta.w.Utami
Memories for my little brother @TKJ :)

26.2.2013

Tags: , ,

12 Dec 12 HOME

Setiap orang punya rumah…
atau, berharap punya rumah.
Tak perlu besar atau berhias permata,
karena tanpa cinta dan bahagia semua kan terasa hampa.

Setiap orang punya rumah…
atau, berharap punya rumah.
Tempat untuk melepas lelah,
dan kerinduan.

Rumah adalah tempat kita dibesarkan…
dengan sejuta cerita membersamai…

Ia mungkin menjadi saksi bisu kehidupan kita,
sederet kisah bahagia bahkan duka dan lara…

Tak peduli dimana pun kau saat ini…
Kerinduan itu pasti ada.
Karena kau hanya singgah sementara,
di tempat kau berada kini.

Lalu…
bilakah kita merindukan “rumah” yang sesungguhnya???
Tempat dimana kekal itu ada.