Mita Ikra Anzani

Anything About My World

Lalu………….

Aku memberi kasih
Aku memberi harap
Aku bersabar
Aku terdiam
Tak ku dambakan balasan
Tak ku dambakan pujian
Tak ku dambakan riuh tepuk tangan
Hanya dihargai walau hanya seujung kuku saja
Aku memikirkan yang bukan milikku
Aku menjaga yang bukan hatiku
Aku menghargai setiap tetesan keringat atasku
Aku mencintaimu
Tapi kadang hati ini lelah untuk menahan
Hati ini ingin berontak tuk melawan
Tak lihatkah ku berusaha?
Yang kau lakukan hanya menerima saja
Tanpa menjaga yang bukan hatimu
Hatiku
Aku bukan Tuhan yang bisa melakukan segalanya
Kalau aku terus menjaga yang bukan hatiku,
Lalu siapa yang menjaga bukan hatimu?

Seperti Angin

Aku menapaki jalan baru dengan senyum terhangat layaknya mentari pagi. Menemukanmu dalam lembaran kisah hidupku memang sangat berarti. Aku merintih, masih menangisi pedih. Lalu kau datang memberi harapan yang sudah ku tahu pasti.

Aku menemukanmu. Ketika hati ini butuh sandaran menghapus luka. Renyah tawamu seakan mengingatkanku pada remah-remah cookies cokelat yang selalu ibu sediakan di rumah. Manis. Aku mengingatnya.
Kita mulai menuliskan kisah lama. Bukan kisah kita. Kisahmu, kisahku. Semakin dalam menorehkan cerita masa lalu, kita menemukan jalan searah pada cerita baru. Jauh di seberang, ku dengar kau mengajakku mengarungi misteri esok hari dengan bergenggaman. Dari sini kita memulai.

Bahagia! Ku temukan kau lebih manis daripada cookies buatan ibu. Tak bisa ku sembunyikan tawa riang penuh kasih dari hatiku. Kita mengubur buku masa lalu, dan kembali dengan buku yang baru. Kali ini kita menuliskan kisah kita. Hanya kita.

Senyum terindah yang pernah Tuhan ciptakan untukku. Aku teduh. Kau sang penghangat jiwa. Berlari ke dalam pelukmu menjadi hal yang ku nanti. Mencium keningku menjadi hal yang selalu ku ingini. Jangan pergi.

Hangat ini begitu terasa. Bahkan membuatku terlena hingga tak ku sadar adanya awan kelam. Kilat terang melewati jalan setapak kita. Memaksa kita menghela nafas panjang. Kita tercengang. Petir ini menyambar terlalu tiba-tiba.

Ku terus coba menapaki jalan ini walau terasa sulit. Menyerah? Aku tak menghiraukan badai. Aku berjuang untuk terangnya pelangi. Aku percaya.

Sedikit demi sedikit ku tapaki jalan mendaki. Aku tersesat. Tak ku dapatkan dirimu berdiri di sampingku menggenggam. Dimana genggamanmu? Bahkan sejam yang lalu aku masih merasakan hangat sentuhanmu. Sejam yang lalu aku masih mendengar deru nafasmu. Engkau hilang.

Aku diam. Ku coba kembali menelusuri jalan ke belakang. Berharap kau hanya lelah di setengah perjalanan. Aku berlari. Berharap kau tak hilang terlalu jauh.

Disana! Aku menemukanmu! Mata ini menahan haru ketika melihatmu di tempat………………………………………………….

Yang sama saat pertama kali kita melihat awan kelam. Aku menghentikan langkahku. Hampir lemas jatuh, namun ku tahan dan aku kuatkan hatiku. Aku datang, menghampiri sang penghangat jiwa. Aku memandangmu, tak ada lagi senyum manis cookies buatan ibu. Ku sentuh, tak ada rasa hangat yang pernah mampir dalam hidupku. Aku menahan tangis.

Buku ini bahkan belum sampai seperempat halaman. Namun penamu telah kau hentikan jauh sebelum penaku kembali ke cerita awal. Jalan ini bahkan belum sampai angin topan. Namun langkahmu telah terhenti, bahkan belum bergerak sedikit pun dari tempat awal.

Aku terdiam, tak tahu harus bicara apa. Haruskah ku tutup dan ku kubur seperti buku yang lalu? Dalam goyah ku langkahkan kembali kakiku. Ke depan, namun tanpamu. Badai reda, hanya angin yang menemaniku. Engkau sejuk seperti angin, namun hilang tanpa bisa ku gapai. Aku mengharapkan hangat mentari, yang ku temukan kini hanya dinginnya angin saja. Dalam diam ku simpan semua hangat bayangmu, berdoa untuk ceritamu yang lebih indah. Aku pergi.

Indahnya Keramahan Bhineka Tunggal Ika

Semboyan yang menjadi identitas negara kita ini, tentu sudah tak asing lagi di telinga kita. Aku sudah mendengarnya sejak SD, tapi aku tak yakin mengerti akan maknanya. Sampai seiring berjalannya waktu, detik demi detik kedewasaanku, aku pun akhirnya mengerti makna semboyan bangsa itu. Hanya 3 kata saja, TIDAK ADA DISKRIMINASI.
Negara ini tak sedikit jumlah penduduknya pun suku dan budaya. Rupa kita pun berbeda, marga pun tak sama, namun kita bernaung dalam satu bendera, merah putih!

merah-putih-di-puncak

Tidak peduli apa warna kulitmu, apa warna dan bentuk rambutmu, atau darimana kamu berasal, tak ada perbedaan yang berarti kecuali di mata Tuhan. Kita memang diajarkan untuk menghormati sesama tanpa memandang ras atau suku. Dan itu diakui di mata dunia. Terasa getaran rasa bangga saat dunia mengagumi bangsa kita oleh indahnya Bhineka Tunggal Ika.

Sempat beberapa kali aku berbincang renyah bersama warga negara asing, orang kita sih menyebutnya bule, tak sekali atau dua kali, tak sering juga, namun dapat menambah rasa cintaku pada negara dari hal terkecil yang tak pernah ku duga. Dari sekedar membalas sapaan “Hai”, berubah menjadi layaknya obrolan sahabat masa kecil. Sering ku tanyakan mengapa mereka suka datang kemari, selain pesona alamnya yang tak bisa ditolak dan masakan-masakan yang menggoda tentunya, setidaknya aku melontarkan pertanyaan itu pada warga negara asing yang memang sering datang kemari. Semua inti jawaban sama, “You guys are very nice to us”. Namun, ada satu jawaban yang selalu ku ingat, datang dari sahabat Sri Langka ku, Sammith.

“I love to come here cause I feel like i’ve been accepted in here. Your country people are so awesome, so friendly, like you are. I can see everyone could talk each other no matter how you look like or where you come from. No discrimination. This is heaven.”

Dari Sammith, dan beberapa teman asingku yang lain, aku mengetahui bahwa negara ku adalah satu-satunya (selama yang ku tahu) negara paling ramah yang pernah ada. Sempat tak percaya namun itu adanya.

Me and Sammith :)

Me and Sammith :)

Itulah negaraku, itulah Indonesiaku. Nenek moyang mengajarkan keramahan yang hangat untuk siapa saja. Layaknya hangat pelukan ibu dan genggaman tangan ayah. Dari senyum dan keramahan, kita dapat rasa nyaman, hangat, dihargai, serta tenang.

Djarum Beasiswa Plus pun mengajarkan kita untuk selalu memegang teguh keyakinan nenek moyang bahwa kita satu. Dari acara Nation Building lalu, aku akhirnya benar-benar mengerti indahnya Bhineka Tunggal Ika. Kami dari seluruh nusantara, berkumpul jadi satu, berbagi tawa dan duka bersama, tanpa memandang darimana kita berasal. Ya walaupun kadang tak mengerti juga kalau mereka sudah berbicara menggunakan bahasa masing-masing. Tapi tak membuat kami canggung karena toh kami miliki bahasa ibu, Bahasa Indonesia.

291780_4137473599750_783826904_n

542690_4137491320193_405103104_n

556328_4137525921058_1316748385_n

61845_404752546268002_528083523_n

Ya, inilah keramahan Bhineka Tunggal Ika, dan aku bangga menjadi salah satu bagian penting di dalamnya.

542635_4137386757579_591514946_n

Cermin Ayah dan Ibu

“Ver, itu kembang telon ada di deket Nurul Huda”

“Dimananya? Nanti suruh Toto deh ambilin”

“Iya dipakein buat Akma tiap pagi sama sore biar kotoran di matanya keluar”

“Kemarin suruh si Lia tapi salah ambil”

“Perut juga kasih kapur sama ragi, dicampur jeruk nipis tuh tiap pagi sama sore sesudah mandi. Biar kempes perutnya terus gak ada garis-garis habis melahirkan lagi”

Begitulah rumpi ibuku dan tante sejak kemarin. Bagai ibu-ibu komplek dasteran bergosip tiap sore. Tanteku baru saja melahirkan, yang artinya aku punya mainan baru. Akma namanya, si mungil cantik yang nyanyiannya nyaring saat haus ASI ibunya. Tapi bukan Akma yang akan jadi topik hangat kali ini (kemudian Akma nangis jejeritan).

Orang tua kita, kamu mungkin juga, punya cara-cara yang unik untuk merawat bayi pun merawat tubuh atau kita yang sedang sakit (walaupun kadang pakai obat dokter). Dulu, waktu adik bontotku umur 2 bulan, aku sering lihat ibuku mencuci daun berwarna ungu yang entah apa namanya, lalu ditaruh di atas pusar adikku. Kadang juga suka kasih air kembang telon, seperti yang dibicarakan ibuku dan tante, ke mata adikku.

Yaaaa waktu itu mungkin aku sekitar 8 atau 9 tahun. Aku belum ngerti apa-apa, yang jelas aku suka adik baruku (tapi udah gede ngeselin). Aku sering memperhatikan ibuku merawat adik. Dengan cara tradisional tentunya. Ya, negara kita ini terkenal dengan kekayaan alam yang melimpah. Tanah subur menjadikan negara kita dihuni oleh tanaman-tanaman tradisional yang turun temurun diwariskan nenek moyang, kepada anak cucunya.

Ibuku berpegang teguh pada cara tradisional itu, walaupun tidak setradisional dulu, karena zaman sekarang banyak dokter dan klinik kesehatan. Selain kembang telon, ada satu cara lagi yang sampai sekarang masih dilakukan. Ingat bedong? Ya, bedong, aku rasa kalian juga pernah begitu sewaktu bayi. Gak percaya? Tanya saja sama ibu kalian.

Si bayi dililitkan pada kain sampai bentuknya menjadi seperti kepompong. Orang dulu bilang, itu fungsinya untuk pembentukan tulang, biar tulangnya gak bengkok. Katanya sih begitu. Percaya gak percaya, tapi tetap dilakukan sampai sekarang.

“Nih perhatiin. Jadi nanti kalau kamu punya bayi, bisa ngebedongnya”, kata Ibuku.

Unik menurutku, cara-cara seperti ini diwariskan sampai sekarang. Ada yang bilang tidak ada teori atau korelasinya, tapi ada benarnya juga dilakukan.

Selain itu, negara kita juga terkenal akan tanaman-tanaman herbal, yang dipercaya memiliki khasiat yang terkandung di dalamnya. Aku hanya tahu sedikit menurut pengalamanku. Ibuku, sering kasih aku kecap sama jeruk nipis kalau suaraku hilang akibat teriak-teriak galau.

unduhan

Adikku juga pernah diolesi lidah buaya sewaktu jatuh dari sepeda. Kata ibuku, supaya lukanya cepat kering dan tidak membekas. Ayahku pernah makan bawang merah mentah, kalau tidak salah sih katanya untuk menurunkan kolesterol. Pernah juga adikku yang bontot diberi air rebus daun jambu biji untuk menyembuhkan diare. Daun sirih dikenal untuk membersihkan daerah kewanitaan. Dan masih banyak lagi yang lain.

lidah buaya

Indonesia itu cermin ayah dan ibu. Ayah, karena Indonesia berjuang keras dan bangkit dari tekanan apapun. Ibu, karena Indonesia dengan kekayaan alamnya, mampu membuat kita merasa nyaman dan hilang rasa sakit.

kartun-papa

images (2)

Indonesia terkenal dengan cara-cara tradisional dan mitos-mitos yang berkembang. Menyebar dari mulut ke mulut antara satu dengan yang lain. Walau agak sedikit kolot, tapi aku rasa aku akan melakukannya jika punya bayiku sendiri suatu saat nanti. Nanti akan kuwariskan pula ke anak cucuku. Aku senang tinggal dan bangga menjadi warga Indonesia. Indonesia menyediakan kita alam untuk belajar dan menikmati manfaatnya.

Si Bundar Idaman Bangsa

“Jebreeeeetttt..!!”

Ya, kalimat singkat itu mungkin masih terngiang jelas di telinga kita belakangan ini. Olahraga yang memiliki pendukung terbesar di negara tercinta ini, Sepak Bola. Indonesia bangga, Indonesia bahagia. Penantian lama akhirnya terbayar sudah. Kemenangan atas timnas Indonesia dalam ajang piala AFF 2013 yang telah lama dinantikan seluruh rakyat Indonesia, akhirnya dicapai dengan indah oleh timnas U-19 Indonesia. Riuh sorak sorai mewarnai kemenangan yang diperuntukan kepada ibu pertiwi.

**

14 Juli 2007

“Yah, beliin tiket dong buat nonton bola nanti sore.” Pintaku pada ayah yang sedang terhanyut dalam koran dan secangkit teh manis hangat ditemani uli bakar yang harum.

“Memang berapa harganya? Sama siapa nontonnya? Tumben.” Begitulah saut ayahku yang keheranan dengan permintaanku sore itu.

Ya jujur saja, aku memang bukan penggemar sepak bola. Klub sepak bola yang ku tahu hanya Persija, Persib, dan Persita saja. Itu pun karena ayah berkali-kali meneriakkan nama itu ketika menonton sepak bola di layar kaca. Aku hanya tertarik pada olahraga basket. Semua timnya pun aku tahu, pemain favorit pun aku punya. Tapi entah mengapa, tiba-tiba sore itu aku mengiyakan ajakan sepupuku, Adji, dan langsung meminta ayah untuk membelikan tiketnya.

“Perginya sama Adji, Mugi, Iqbal (sepupuku yang lain), terus sama anak-anak yang lain.”

“Ya sudah minta beliin sama Adji, uangnya nanti ayah ganti. Hati-hati nanti di jalannya.”

Antara senang dan heran, karena biasanya ayahku tak mengizinkan pergi ke pertandingan mana pun kecuali basket, walaupun pergi bersama saudara sendiri. Yaaaaaa itu biar hanya ayah dan Allah saja yang tahu, yang ku tahu, aku boleh pergi *nyengir kuda*

Tiket Pertandingan

**

“Jangan kemana-mana, pegang tangan gue, nanti lo ilang gue dimarahin babeh lo.” Kata Adji yang bertugas memegangiku di depan pintu masuk stadion.

Takjub karena melihat banyak orang datang beramai-ramai untuk menyaksikan pertandingan malam itu. Kali ini lawan Indonesia adalah Saudi Arabia. Entahlah siapa saja pemainnya, yang jelas aku penasaran rasanya menonton pertandingan sepak bola secara langsung.

Tak lama aku di depan pintu, akhirnya pintu terbuka dan aku pun masuk. Sesaaaaaakkk! Entah berapa banyak orang yang mencoba untuk masuk. Aku bertopang pada pegangan tangan sepupuku. Aku tertinggal di belakang, tapi tak luput karena pegangan sepupuku sangatlah kuat, tanganku sampai merah.

Hal pertama yang ku lihat adalah……………..HIJAU! Ya lapangan sepak bola memang hijau. Terbentang luas dibanding dengan yang ku lihat di televisi layar flat sebesar 21 inch yang duduk manis di atas lemari (kalau kata orang sih bupet).

Ribuan orang sesaki stadion Gelora Bung Karno bagai lautan semut. Semua memakai kostum Indonesia berwarna merah (aku pakai baju hitam). Yaaahhh, tak sia-sia juga aku datang. Aku bisa merasakan getaran semangat yang dibuat oleh para supporter yang memenuhi Gelora Bung Karno.

“Haus nih” gurauku.

“Yeeee tadi kenapa gak beli minum dulu?” balas Adji

“Mana tau kalau di dalam ternyata gak ada tukang jualan.”

“Ya sudah, tunggu saja sampai pertandingan selesai”

Aku tak percaya kata-kata sepupuku. Selama 90 menit aku harus menahan haus?

“Awas kalau gue pingsan. Biar suruh gotong” pikirku.

Akhirnya Kick Off (bener kan?) pun dilakukan. Aku yang tak suka sepak bola pun menjadi teriak kegirangan saat bola dimainkan oleh kaki-kaki terlatih para timnas masing-masing negara. Lumayan seru untuk ukuran orang yang tak suka sepak bola sepertiku. Melihat indahnya bola dimainkan di bentangan rumput yang hijau, diterangi lampu-lampu stadion yang menyala terang. Namun terkadang, sekilas tak ku perhatikan jalannya pertandingan. Mataku menuju pemandangan indah lainnnya.

PARA SUPPORTER!

Ya, sekilas pemandangan supporter yang berteriak-teriak dengan semangat mengalihkan pandanganku sebentar dari lapangan hijau.

“Yo ayo, ayo Indonesia. Ku yakin, kita harus menang!”

Kira-kira begitu lah sebagian lirik yang dinyanyikan ribuan supporter. Euforia malam itu sangat terasa, aku pun merinding dibuatnya. Bukannya apa-apa, dulu aku hanya melihat kejadian ini di televisi saja, yang notabennya tidak selalu menyoroti para supporter yang setia mendukung timnas Indonesia. Waktu itu, detik itu, aku disana, aku pun yang menjadi salah satu pemeran terbesar dalam kemajuan sepak bola Indonesia. Tiap kali nama negaraku disebut, ada darah yang mendesir di dalam tubuhku, ada air mata haru yang ku tahan di kelopak mataku. Tak ku sadari, ternyata aku sangat mencintai negara ini dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dengan segala baik dan buruknya, aku ingin dimakamkan di tanah airku.

images (1)

90 menit pun berlalu.

Akhir pertandingan tidak sejalan dengan harapan bangsa. Kami kalah, dengan skor 2-1. Padahal awalnya kami bersorak riang ketika timnas kami mencetak satu gol indah di gawang lawan. Apa boleh buat, semua yang terbaik sudah dikeluarkan. Tak ada tangis kesedihan malam itu, walaupun kami menerima kemenangan yang tertunda. Semua bertepuk tangan di akhir pertandingan saat para pemain timnas menundukkan kepala dan lemas. Tanda bahwa kami bahagia dan bangga, aku pun, karena semua perjuangan tak ada yang sia-sia. Indonesia pasti bangkit. Kami yakin itu! Karena kami INDONESIA. Bangsa yang tak pernah menyerah biar diterpa apapun.

Kami pulang, kami bahagia, kami bangga!

“Besok-besok ajak lagi ya” kataku.

“Cie sekarang jadi suka sama sepak bola ya?” ledek sepupuku.

Yaaahh, walaupun sampai sekarang aku masih tidak suka bola dan kadang salah sebut kalau Steven Gerrard itu ada di Arsenal padahal di Liverpool (berkali-kali diingetin sama si adik!), aku selalu berusaha menonton pertandingan sepak bola negaraku. Desir semangat yang mengalir di dalam darahku setiap Indonesia disebut, membuatku makin mencintai negara dengan segala kekayaan yang ada disini. Bangga? Aku rasa itu sudah bukan hal yang harus dipertanyakan lagi. Tegakkan kepalamu kawan! Kita tunjukan INDONESIA pada dunia! :)

images

indonesia

When It Won’t Ever Be A Secret

Secret?? Gue rasa semua orang di dunia ini punya rahasia. Mau diungkapin atau enggak, it depends on the person. Tapi setau gue, enggak ada satu orang pun yang sanggup nahan rahasia itu sendiri. We must be need someone to share. Gue pun begitu. Gue pernah mencoba untuk meng-keep rahasia gue sendiri. Gue bertekad untuk menyimpan itu dalam-dalam selama hidup gue. I won’t let everyone know about it. But I can’t, why?? Karena itu bikin sesak nafas. Ngerasa tembok aja enggak mau dengerin cerita kita. Gue pernah berharap dengan teriak sekenceng-kencengnya, orang akan tau kalo gue sedang tidak baik-baik saja. Tapi enggak segampang itu. Gue selalu butuh seseorang buat share, walaupun enggak semua gue share, at least gue bisa sedikit mencoba untuk keluar dari zona nyaman gue dan take a risk. Ya, zona nyaman gue adalah dunia gue sendiri. Keasikan dengan diri gue sendiri. Asik. Tapi sendiri.

Tapi gue sempet berpikir, haruskah gue share semua cerita gue ke orang lain?? Haruskah gue menceritakan semua rahasia gue ke seseorang bernama sahabat?? Ah, gue bukan tipikal yang bisa percaya sama hal kekanakan kaya sahabat #nooffense. Gue enggak butuh sahabat, gue cuma butuh orang yang bisa gue ajak share semua rahasia gue TANPA dia umbar lagi ke orang lain. Ya, diumbar ke orang lain. Useless dong kalo punya sahabat tapi mulutnya ember. Ada orang ngaku-ngaku sahabat tapi mulutnya ember, kadang ngarang cerita juga. Ada bangeeeetttt.

Gue sering mempertimbangkan hal itu. Ketika kita bicara suatu rahasia yang kita ceritakan ke orang YANG KITA PERCAYA, lalu ia menceritakan lagi ke orang lain, bahkan ditambahin dari yang ada jadi enggak ada, atau yang enggak ada jadi ada, apa itu namanya rahasia lagi?? I don’t think so. Karena dari zaman gue kecil, setau gue yang namanya rahasia itu bukan suatu hal untuk konsumsi publik. Gue enggak tau kalo fungsi dan artinya udah berubah. Maklum, gue tidak mengidolakan kamus besar bahasa Indonesia sebagai bacaan favorit gue. Kita emang enggak bisa merubah seorang yang BERMULUT BESAR untuk tidak mengumbar apa yang sudah kita ceritakan ke mereka. Yaaaahhh, kitanya aja yang salah pilih orang buat cerita. Tapi ketika dia udah membuka mulut besarnya, apa yang bisa kita lakukan?? Atau lebih tepatnya gue. Apa yang bisa gue lakukan?? Menelan itu dalam-dalam, mencoba klarifikasi terlepas yang diklarifikasiin percaya atau enggak.

Yah bermula dari mulut ember, bisa merusak sesuatu yang namanya kepercayaan. Bisa mempengaruhi yang namanya nama baik, bisa menimbulkan yang namanya fitnah. Terus, kalo semua rahasia hidup sudah dibongkar, apalagi yang jadi rahasia?? Kita juga kalo cerita ke orang lain, namanya bukan rahasia lagi dong?? Tapi, kalo enggak cerita, gimana mau ngerasa ‘ada yang mau denger’?? Jadi, sebenarnya itu enggak akan pernah jadi rahasia?? Interesting enough.

Move On Itu, Sejenis Makanan Apa??

Sesuai judul, biasanya yang bilang begitu orang-orang yang sering galau dan susah move on (lah??gueeeeee??*ngemil paku*). Dari beberapa blog yang gue baca, ada yang bahas tentang gagal move on dari Beswan Djarum. Yah gagal pertamax gaaannnn!! Gue juga mau bahas, nggak apa-apa kali yaaaaa namanya juga “AKU ANAK INDONESIA CINTA BESWAN DJARUM”, ahuahahahahaha *cuss lanjuutt*.

Gue ini siapa sih? Pinter? Nggak juga. Lucu? Katanya sih. Berprestasi? Yaaahh nggak sehebat beswan lain yang pernah ke luar negeri atau juara tingkat nasional lah. Tapi kenapa gue bisa diterima jadi Beswan Djarum? Kalo kata mas sapto, “Yaudah yang begitu nggak usah dipikirin. Yang penting kamu masuk kriteria makanya diterima, udah gitu aja”, kira-kira begitu kata mas sapto. Iya kah? Entahlah.

Tapi apapun itu, gue bahagia bisa diterima jadi bagian keluarga Beswan Djarum. Flash back sedikit ketika awal oprec. Yah benar kata emak gue, apapun yang dilakukan dengan maksimal, hasilnya sebanding. Bersusah-susah payah bikin persyaratan, deg-degan nungguin lolos berkas, ikut tes, sabar nunggu pengumuman yang sebulan lebih, sampai akhirnya pengumuman lolos jadi Beswan Djarum. Gue sampai nyuruh temen gue di Belanda buat buka pengumuman karena koneksi disini yaaahh, you know laaahh. Dan ALHAMDULILLAH gue diterima sebagai Beswan Djarum 28. Kalau dibilang bisa move on, ya nggak bisa. Banyak hal yang akan selalu jadi kenangan manis.

Beswan Djarum memberikan perubahan besar dalam diri gue, dan gue sangat berterima kasih untuk itu. Blog yang dibatasi dengan 300 kata nggak cukup untuk menceritakan semua kegagalan move on gue dari Beswan Djarum. Ketemu orang-orang hebat, teman-teman yang luar biasa, itu akan jadi kenangan yang nggak akan bisa bikin gue move on sampai akhir zaman  Inget banget pas acara Leadership Development rasanya sangat ingin memeluk mas Sapto. Karena beliau telah memberikan seorang “Tata” kesempatan untuk berubah. Salam peluk cium untuk mas Sapto :*

DSC_0007

Capture17_44_34

DSC_0722

IMG_1572

DSC_1046

Ketika Putus Cinta Bukan Lagi Alasan Gagal Move On

Dear Diary…..
Pacar aku ninggalin aku sama yang lain, sahabatku sendiri. Aku sakit ry (?). Diary, apakah aku sejelek itu hingga dia pilih temanku?? Dia mutusin aku!! Aku nggak bisa move on!!

Yah yang kaya begitu mah ibarat nasi didiemin 2 hari, basi braaayyy!! Sekarang itu lagi jamannya PHP alias Pemberi Harapan Palsu. Udah seneng-seneng diperhatiin, ditraktir, dikasih hadiah, dikasih surprise, dikasih harapan, eh ternyata dia biasa aja. Syakiiiiiitttt cekilit-cekiliiitt!! Ujung-ujungnya, galau plus gagal move on!!

Bagaimana dengan gue? Alhamdulillah gue nggak pernah diPHPin :D (bilang aja nggak laku ta *pukpuk*). Sampai akhirnya, untuk pertama kalinya gue diPHPin sejak awal menjabat sebagai keluarga Beswan Djarum angkatan 28. PHP itu selalu dan selalu…………RED CORNER di bandara Soekarno-Hatta. Kenapa? Karena kami, khususnya gue sih, selalu liat beswan lain turun dari pesawat. Gue ngarep bangeeeetttt naik pesawat secara pas awal jadi beswan, senior beswan entah bapak hanif atau bapak bedul yang mengatakan bahwa kami, mahasiswa/i Untirta, pasti naik pesawat suatu hari nanti bersama Beswan Djarum. Kegiatan pertama itu di Semarang, acara Nation Building. Mikir deh gue, jauh, 18 jam perjalanan, pasti naik pesawat. Gue, udah girang pake kebangetan. Kenyataan? Naik bis coy!!*muntah paku* Gugurlah harapan naik pesawat di acara pertama.

Paling menyesakkan adalah acara terakhir. Leadership Development!! Menurut alur plot kan harusnya Untirta di Surabaya. Beswan Surabaya pun bilang kalo batch 8 di Surabaya. Seneng dong akhirnya naik pesawat?? Gue udah rencanain apa aja yang bakal dilakuin di Surabaya kalo extend. Iya extend!! Belum berangkat aja udah mikirin extend. Sampai akhirnya, Bu Poppy bersabda : “Batch 7 dan 8 di Swissbell hotel Jakarta” *jleeeebbbb!!!!!*. Gue dadah-dadah sama tiket pesawat yang ada di pikiran gue *showeran*. Fix!! Gue gagal move one!! Satu-satunya obat move on hanyalah tiket LIMUN biar naik pesawat. #PrayForTataGoesToLIMUN2013 :’)

IMG_2867

page 2

IMG_2423

Hello world!

Welcome to Djarum Beswan Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!