Ku Temukan Surga Dalam Tari Tradisional Indonesia

Indonesia kaya akan seni budaya dan sumber daya alam yang melimpah ruah, anak kecil pun tahu. Belanda dan Portugis yang bermil-mil jaraknya, berusaha bertahun-tahun untuk menemukan dan akhirnya berhasil mengeruk kekayaan Nusantara. Malaysia beberapa kali mencoba mengklaim kesenian budaya Nusantara untuk dijadikan identitas negaranya. Bahkan, banyak pelajar dari Amerika dan Eropa yang ingin belajar kesenian Nusantara, seperti angklung dan gamelan. Pertanyaanya, sudah sadarkah kita kalau kita itu “kaya”?

Pertanyaan itu mungkin ga akan “menusuk” ku jika dilontarkan pada saat aku masih remaja. Aku dulu lebih gandrung dengan kesenian pop semacam hip hop dan break dance. Pernah saat SMP dulu aku mengikuti ekstrakulikuler wajib, tari daerah. Saat itu aku berpikir, kenapa ga break dance aja ekstrakulikulernya? Kan lebih modern. Mainset  ini mungkin juga berlaku untuk remaja sekarang, apalagi dengan hadirnya K-POP. Aga jengkel emang kalau lihat anak SMP-SMA saat ini yang lebih rajin mendengarkan lagu-lagu korea selatan dari pada lagu Indonesia. Rasanya udah mau tak marahin aja tuh anak. Malah, tambah jengkel juga yang teman kuliahku dulu, sekiranya lebih dewasa, sampai-sampai mempelajari budaya dan bahasa Korea. Ya, sah-sah aja sih emang. Toh, ga ada larangan untuk itu.

Untitled-4

Aku baru sadar kalau Indonesia kaya akan seni dan budaya, saat aku pergi meninggalkan kampung halaman. Saat pertama membuka mata, ternyata Indonesia itu luas dan beragam. Moment itu aku dapat saat aku jalan di mall sendiri dan secara tak sengaja pada saat itu juga ada sebuah acara pertukaran budaya Indonesia dengan beberapa negara di Asia. Yang membuatku interest untuk gabung melihat acara itu sebenarnya pada MC membuka acara dengan lihai dan natural. Acara itu murni penampilan kesenian tradisional masing-masing negara. untuk pembuka, penampilan Tari Selamat Datang dari Papua. Moment itu lah, pertama kali aku melihat ada yang beda dari seni daerah. Disusul selanjutnya penampilan tari tunggal dari China yang aku ga tahu namanya. yah, semacam tari drama gitu lah pokoknya. Aku ga tahu pesan apa yang disampaiakan tari itu, tapi aku dapat feel-nya. Disusul kesenian tradisional Korea Selatan berupa seni musik alat pukul dengan durasi agak panjang. Tapi lumayan, aku dapat klimaksnya.

Untitled-3 copy

Baru, saat penampilan Tari Piring, adrenalinku naik. Tari Piring ini lah yang akhirnya membuatku kepincut dan dapat melihat “seni”nya tari tradisional. Entah dari sisi mananya, apakah karena sebelum penampilan tadi ada sebuah prosesi “bacaan-bacaan” yang dibaca oleh bapak-bapak dibelakang. Gerakan-gerakan tarian ini seakan-akan mengelus-elus hatiku dan mengelitiki otakku sehingga serasa dibelai dan dimanja. Padahal, kalau dilihat dari gerakanya, Tari ini lebih terkesan tegas dan tidak cenderung lemah gemulai. Antiklimaks dari tarian ini adalah saat para penari menginjak-injak beling yang tidak aku duga sebelumnya. Mereka terus menginjak dan menginjaknya berulang-ulang sehingga penonton bertepuk tangan seperti reflek. Wow, luar baisa indah sekali.

Untitled-1

Euforia itu berlanjut tiga bulan setelahnya aku masuk Beswan Djarum. Tampil di panggung malam puncak Dharma Puruhita 2011 adalah sebuah moment yang tak akan terlupakan seumur hidup. Bukan gagap gempitanya yang membuatku terkesan tapi proses belajar menarinya yang hanya 3 hari untuk penampilan di sebuah pentas pertunjukan besar. meskipun tari kontemporer yag aku pelajari di sini, tapi seenggaknya akau belajar dan mengerti bahwa tari itu indah. Meskipun latihan mulai pagi sampai malam, tapi ga ada capeknya karena menari membuat hati senang. Meski paginya susah bangun karena badan terasa kaku semua. Setelah moment ini, aku baru sadar bahwa seni budaya nusantara itu indah sekali dan beragam. aku ingin melihat dan menguasainya satu per satu.

Setelah sadar akan istimewanya seni budaya nusantara, aku jadi kangen dengan budaya asli daerah kelahiran, Jejer Gandrung atau lebih dikenal dengan sebutan Tari Gandrung. Aku menyesal, kenapa saat masih sekolah dulu aku tidak mendalaminya dengan baik? Sebaliknya, malah lebih memilih untuk belajar budaya asing. Ngomong-ngomong saat itu lagi ngetren-ngetrennya F4, jadi pada wo ai ni-wo ai ni gitu.

Untitled-2 copy

Dan akhirnya, aku selalu merindukan segala bentuk budaya tradisional yang di miliki Nusantara ini. akhir 2012, aku benar-benar menikmati Festival 1000 Gandrung yang digelar di kampung halamanku, Banyuwangi. Sungguh sebuah sajian seni budaya istimewa yang sangat funtastik sekali yang digelar di tepi pantai saat sore hari. Aku berharap setelah ini, akau bisa terus menikmati seni budaya tradisional nusantara dan aku bisa berkeliling Indonesia untuk menemukan setiap detailnya.

Tags:

Indonesia Adalah “The Hidden Paradise”, Tapi…………………

Aku pernah dengar kalau Atlantantis, kota yang tenggelam, berubah menjadi dan itu Indonesia. Aku juga pernah dengar, kalau Indonesia adalah harta terpendam Raja Korun yang kaya raya itu. Tapi semua itu hanya sekedar rumor yang belum terbukti kebenaranya. Mungkin, bisa dibilang semua itu sebagai penggambaran keindahan bumi Indonesia. Faktanya, Indonesia memang kaya raya dan subur alamnya. Ibarat kata, tongkat saja bisa tumbuh menjadi pohon subur jika ditancapkan di bumi Indonesia.

Januari 2013 adalah pengalaman pertama dalam hidup yang tak akan pernah aku lupakan. Pengalaman pertama yang membuat mata terbuka bahwa tuhan telah meletakkan secuil surganya di bumi dalam bentuk Indonesia.

Untitled-2

Sebuah tugas akhir yang diberikan oleh kampus sebagai salah satu syarat kelulusan mutlak. Aku dan beberapa mahasiswa yang tergabung dalam satu kelompok ditugaskan untuk mengabdi di masyarakat desa terpencil yang sebelumnya belum pernah aku dengar namanya meski masih lingkup Jawa Timur. dengar punya dengar, desa ini sangat jauh dari pusat kota dan fasilitas umum, bahkan sulit dijangkau kendaraan umum.

Mau ga mau, kalau mau lulus, harus menyelesaikan tugas ini. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 3 jam dari Surabaya, akhirnya sampai di Lokasi pukul 21.00 wib. Tempat ini bernama Dusun Tretes Desa Kedungsumber yang masih masuk wilayah Kabupaten Bojonegoro. Benar, sampai di sini sinyal hilang sama sekali dan mobil L 300 yang kami tumpangi harus berhati-hati karena jalan naik turun gunung tanpa lampu penerangan jalan. Ketika memasuki dusun, kami harus jalan kaki karena kondisi jalan yang tidak mungkin untuk dilewati mobil. Jalan sempit berbatu dengan campuran tanah gamping alami, membuat kondisi jalan ini licin karena baru saja diguyur hujan. Selain itu, untuk masuk desa ini harus melewati jembatan kayu yang sudah lubang di sana-sini. Lokasi dusun ini dikelilingi bukit hutan jati. Bisa dibilang, dusun ini terisolasi ditengah hutan. Sempat terlintas dipikiran, kira-kira betah ga ya tinggal di sini?.

Ketika hari mulai terang, embun di dusun ini masih sangat tebal dan baru pertama kali ini otak dan jiwaku terasa fresh. Polusi pekat Surabaya seakan luntur seketika saat aku menghirup udara kualitas nomor wahid yang pernah ku temui. mata beredar ke sekeliling semua terhampar hijau dan alami deretan pohon jati berbaris rapi. Aku pun tergoda untuk berkeliling dusun. bukit hijau di depan rumah tinggal sementara menggoda untuk didaki. aku nekat mengajak teman, karena hari pertama masih belum terlalu banyak tugas, maka kudakilah bukit ini. dengan susah payah mendaki bukit karena tidak tahu jalan, akhirnya sampai juga di puncak. Begitu indah pemandangan di bawah sana. Dusun yang ku tempati kelihatan asri dengan pola bangunan masih dari kayu. Hamparan jati sangat luas sekali yang membuat kami terkagum-kagum. Setelah jalan beberapa meter, kami menemukan di bawah sana yang ga terlalu jauh sebuah danau hijau alami. Tanpa berpikir panjang, kami langsung ke sana. Luar biasa indah waduk yang kami anggap danau itu. Dan, mumpung kamera LSR yang dari tadi ku pegang masih full batery, kami manfaatkan moment ini untuk photo-photo. Ini hanya sebuah dusun kecil yang terpencil dari secuil keindahan Indonesia. Semakin penasaran dan aku berkeinginan suatu saat aku akan jelajahi keindahan Indonesia.

Untitled-3

Waktu sudah berjalan beberapa hari dan saatnya untuk bekerja. Memang, kalau ditotal sih, waktu satu bulan di sini lebih banyak refreshingnya dengan hamparan alam yang indah. Mandi di sungai, mancing di waduk, bakar jagung dari ladang penduduk, dan masih banyak hal menyenangkan lainya. Tapi kita tetap fokus untuk menguraikan masalah di dusun ini.

Kondisi penduduk di dusun ini masih sangat terbelakang, khususnya di bidang pendidikan, baik umum maupun agama. Dari 250 penduduk yang mendiami wilayah ini, sebagian besar adalah lulusan sekolah dasar, 17% SMP, 6% SMA, dan hanya tiga orang yamg melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bahkan, ada beberapa penduduk yang tidak mengenyam pendidikan sama sekali. Tak heran jika penduduk di sini kurang peduli masalah kebersihan sanitasi dan lingkungan. Bayangkan, hanya 5 rumah saja yang memiliki kakus. Sisanya, berak di sungai atau di hutan.

Untitled-1

Sebagian besar dari mereka mempunyai pola pikir “Ekonomi lebih Penting dari Pendidikan”. Keseharian mereka habis di ladang, ngurus ternak, cari kayu di hutan, dan menangkap ikan di waduk. Hidup mereka memang sederhana dan ga neko-neko. Makanya, mereka tidak terlalu menanggapi secara serius keinginan anak untuk menempuh pendidikan tinggi demi cita-cita. Anak pun terbawa kondisi orang tua dan secara perlahan-lahan mereka akan mengikuti pola yang sama dengan orang tua mereka. Remaja dan pemuda di dusun ini hampir semuanya merantau ke Surabaya bekerja di sektor infomal, Yang cewek jadi pembantu yang cowok jadi tukang batu.

Untitled-7

Untitled-6

Padahal, dusun ini sangat berpotensi dan memiliki modal alam yang sangat melimpah. Kayu jati, keindahan alam, dan kekayaan waduk yang melimpah. Yah, meskipun kayu jati tinggal yang kecil-kecil karena yang besar habis di jarah pada era Presiden Abdurrahman Wahid, juga waduk yang tidak selalu berair sepanjang tahun. tapi seenggaknya mereka bisa mengolah potensi kekayaan alam yang mereka miliki juga bisa meningkatkan potensi pariwisata daerahnya.

Di sisi lain, mereka bisa memanfaatkan sesuatu yang ada di sekitar, seperti kotoran ternak. Jika dilihat, hampir setiap rumah di kampung ini memiliki ternak, terutama sapi. Jika mereka mau melanjutkan program yang telah kita bikin, yaitu bank kotoran ternak, dimana value dari program ini nanti pada akhirnya penduduk bisa mandiri dengan membuat pupuk sendiri dari kotoran ternak yang sudah dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk organik. Sehingga mereka tidak perlu lagi mengandalkan pupuk kimia yang harganya tambah hari tambah “mencekik” petani.

Untitled-9

Untitled 6

Memang, semua itu tidak bisa dirubah dalam waktu satu bulan. Butuh sebuah program yang berkelanjutan terus menerus yang akhirnya membuat masyarakat dusun ini mandiri. Tidak hanya pada program institusi perguruan tinggi yang berlangsung sebualan atau program pemerintah yang bersifat kampanye, tapi lebih pada pemandirian masyarakat yang menjadikan mereka sebagai subyek perubahan untuk daerah bukan obyek.

Tags: ,

Yes, I Love Indonesian Movie So Much……..

Kalau ngomongin tentang film , biasanya terlintas list film-film Hollywood baru yang keren dan canggih, yang terkadang membuat film Indonesia tersisihkan. Banyak film Indonesia yang ga kalah seru dan menarik yang rilis dan tayang di bioskop namun hanya mampu bertahan selama seminggu dan menariknya tidak lebih dari 5.000 penonton, seperti Film Minggu Pagi di Victoria Park. Apa yang salah dengan Film Indonesia?

 

Jika saya pergi ke bioskop atau mungkin melihat jadwal tayang film di koran, yag terlihat lebih banyak komposisi film asing dari pada film dalam negeri. Jika dilihat perbandingannya, bisa dibilang 1:5 antara film Indonesia dan film luar negeri, khususnya Hollywood, yang tayang di bioskop seluruh Indonesia. Well, sepertinya penonton Indonesia telah menjadi tuan rumah yang baik untuk industri seni asing hingga “menomor duakan” industri seni sendiri.

 

slide-4-10284

Yah, itulah faktanya. Aku juga tidak mungkin mendiskriminasikan film Hollywood yang sudah merajai bioskop tanah air. Atau mungkin memojokkan pemerintah yang kelihatanya kurang serius merawat industri seni negeri sendiri, khususnya industri perflman.

 

Jika aku mensurvey 10 dari 10 orang temanku, antara memilih untuk nonton sekuel terbaru Film Iron Man atau nonton film bergenre perjuangan Indonesia semacam Soegija, pasti lebih memilih nonton sekuel terbaru Film Iron Man. Ini bukan survey yang pasti sih tapi juga bisa dipastikan begitu.

 

thor

Fakta ini cukup berat bagi para sineas perfilman tanah air. Mereka harus bersaing secara ketat, tidak hanya dengan film Hollywood saja, tetapi juga dengan beberapa film asing yang sudah berhasil masuk ke dalam list jadwal tayang bioskop tanah air, seperti film-film dari Hongkong, Korea, Jepang, India, bahkan Thailand.

 

Namun, jika diperhatikan, film Indonesia semakin ke sini memang semakin membaik bahkan mendunia. Beberapa tahun belakangan ini, banyak film-film tanah air yang diboyong ke luar negeri bahkan berhasil masuk theater berkelas Hollywood, seperti The Raid. Ga hanya sampai di sini, salah satu pemain film The Raid diambil oleh salah satu produser film Hollywood untuk bermain di sekue ke 6 film Fast and Farious.  Bangganya lihat Joe Taslim ada di film berkelas yang ga hanya sekedar sebagai figuran. Dan kabar terbaru yang membanggakan dari Film Indonesia adalah masuknya film Sang Kiai sebagai nominasi film terbaik Oscar kategori Film Berbahasa Asing yang sebelumnya ada Sang Penari yang juga berhasil masuk di nominasi yang sama di tahun sebelumnya.

Untitled-1

Banggaku terhadap film nasional bukan saat Film Sang Penari atau Sang Kiai yang berhasil masuk ke dalam nominasi begengsi sekelas Oscar. Namun, aku sudah jatuh cinta sejak pertama kali melihat Dian Santro main di Film Ada Apa Dengan Cinta, atau mungkin Sandy Aulia di film Eifel I’m in Love. Waktu itu aku memang belum sempet nonton di bioskop sih karena aku besar di kota kecil ujung Pulau Jawa. Tapi aku rajin sewa DVD-nya saat weekend atau siap-siap dimarahin Ibu karena tidur malam akibat bela-belain lihat Film bioskop Indonesia yang tayang di TV.

 

Memang, sepertinya aku sudah menonton sebagian besar film Indonesia, kecuali Film yang ga jelas, seperti film-film horor JUPE-DP. by the way, akting Jupe di Film Cinta Setaman dan Gending Sriwijaya oke juga loh. Ralat, aku hanya menoton Film Indonesia yang berkualitas, kecuali film horor komedi esek-esek dengan alur cerita ga jelas, seperti Filmnya Nikita Mirzani-Dewi Persik.

 

Mulai dari Pertualangan Sherina sampai Tanah Surga Katanya, Catatan Akhir Sekolah sampai Radio Galau, dan Sang Penari sampai Sang Kiai. Jika ada sebuah kuis untuk menyebutkan judul-judul Film Indonesia, mungkin akulah pemenangnya. Tapi bukan berarti aku anti film luar negeri. Aku juga pemburu sekuel Harry Potter beberapa waktu yang lalu, dan aku paling gandrung dengan film Hollywood bengenre Sci Fi macam Avatar. Tapi rasanya beda aja kalau nonton film Indonesia. Rasanya itu kayak deket banget antara cerita yang dicitrakan dalam film dengan kehidupan sehari-hari dan rasa bagganya itu lebih besar berlipat-lipat jika dibandingkan nonton film Hollywood box office sekalipun.

 

Kenapa aku lebih tertarik menonton film Indonesia dibanding film Hollywoond, mungkin lebih ke cerita dan alur film. Jika nonton film Hollywood semacam Batwan dan sejenisnya, alur dan serita sudah bisa ditebak. Lakon super hero terseok-seok dulu di awal cerita dan tersohor diakhir cerita. Tidak berhenti sampai di situ saja, diakhir film pasti ada sebuah clue yang menandakan film ini bersambung layaknya sinetron. Tapi, bukan berarti semua film Hollywood seperti ini. Banyak juga yang bagus alur dan ceritanya seperti Beautiful Mind, Black Swan, Brokeback Mountain, Passion, dan masih banyak lagi.

 

Namun, pilihanku masih tetap pada film Indonesia. Gambaran menjadi seorang anak Kiai besar yang mempunyai beban moral segunung yang meski dipikul, hanya akan aku temukan di film  Perempuan Berkalung Sorban. Beratnya menanggung beban hidup keluarga di desa dan sulitnya mengimbangi diri karena negative mindset masyarakat tentang TKW tidak akan aku temukan di film dunia manapun kecuali di film Minggu Pagi di Victoria Park.

 

Untitled-2

Seperti apa perasaanku atau mungkin kecintaanku terhadap film Indonesia, memang susah digambarkan. Dan, jika memang bisa digambarkan, satu halaman blog tidak akan cukup. Kecintaanku terhadap film Indonesia bisa dilihat pada keputusan study yang aku pilih. Kenapa aku mengambil study Ilmu Komunikasi, nah itulah bentuk kecintaanku terhadap Film Indonesia. Memang, aga rumit sih dan terkesan ga nyambung.

 

Sejak pertama kali aku lihat Sandy Aulia di Film Eifel I’m in Love, aku langsung berucap “suatu saat aku akan beracting seperti itu”. Dan kegilaanku semakin menjadi-jadi saat aku tonton film Kuntilanak-nya Julie Estele. Aku banyak belajar acting dari film ini saat SMA. dan euforianya, aku selalu berakting ketakuatan dengan berlari seakan-akan aku dikejar-kejar setan ketika pulang sekolah.

 

zzzzzzzzzzz copy

Hubungan antara kecintaanku terhadap Film Indonesia dengan study Ilmu Komunikasi, lebih pada aku ingin belajar ilmu perfilman. Meski ga sedalam anak Jurusan Sinematografi, namun di Komunikasi ini jalanku untuk belajar film sangat terbuka lebar meski aku ambil fokus study di Public Relations. Aga rumit sih sebenarnya. Namun diawal-awal kuliah aku banyak belajar dengan kakak kelas yang juga sama-sama pecinta film dan akhirnya membentuk komunitas film indie. Sebenarnya komunitas inilah yang membuka jalanku hingga akhirnya kenal beberapa sineas film indie Jawa Timur bahkan Jogja dan Jawa Tengah. komunitas inilah yang membuatku mengikuti beberapa kompetisi video and sort movie tingkat daerah bahkan nasional. Dan, yang paling menggembirakan, aku bisa sering jumpa dengan para sineas film nasional bahkan belajar banyak dengan mereka, seperti Joko Anwar.

 

COVER FULLLLL

Namun, saat ini aku terlempar jauh dari impian. Aku harus kembali ke realitas dan untuk sementara waktu, break dari mengejar impian untuk terjun ke dunia film. Sebagai fresh graduate, aku harus merelakan diri menjadi karyawan dan bekerja layaknya orang pada umumnya demi bertahan hidup. Namun, bukan berarti impianku mati begitu saja. Aku terus mengatur langkan untuk terus maju mengejar impian sampai akhirnya bisa masuk di dunia perfilman tanah air dan membawanya bangkit lebih tegak lagi.

 

 

Wisuda “Galau”

Selain karena setelah ini gue harus mati-matian cari kerja, wisuda gue kurang “bahagia” karena konflik cinta. Sebenernya masalahnya bukan karena ada pada siapa sih, melainkan diri gue sendiri. Gue yang terlalu “chicken” dalam masalah cinta harus disuguhi kenyataan hidup yang beda dengan sinetron atau seenggaknya film romantis Hollywood yang selalu happy ending.

Iya sih, kalau dipikir-pikir, ini memang cinta lokasi. teman jadi cinta, atau mungkin pagar makan tanaman.

Ceritanya sih gini, gue sama mereka, sebut aja “Fahri” dan “Aisya” (biar kayak pelm Ayat-ayat Cinta), temen  sejurusan, malah sekelas sejak pertama kuliah. Gue sama “Aisya” udah deket sejak maba dulu. Dan malah dia orang paling  care sama gue. “Fahri” juga baik sama gue. Gue sama “Fahri” sahabatan sama kayak “Aisya”.

nih, bukti banget. walau keadaannya senyum, tapi hati sakit parah.

nih, bukti banget. walau keadaannya senyum, tapi hati sakit parah.

Kalau masalah cinta, gue udah cinta banget sama “Aisya” sejak pertama kali bertemu. Bahkan gue udah nyatain cinta gue secara becandaan ke dia. Karena becandaan jadi dia pun nanggepinya juga becanda.

Tapi gue yakin, kita sama-sama cinta. Gue tau lah. Cuman, kita sama-sama nunggu. Gue yang terlalu sibuk ngebangun karir dan dia juga ga mungkin ngungkapin duluan, akhirnya Cuman gantung aja. Gue sering jalan berduaan sama dia. Motifnya sih sahabatan, padahal kita sama-sama tahu perasaan masing-masing.

Karena kelamaan nunggu, akhirnya “Aisya” diembat si “Fahri”. Gue tahu kalau “Fahri” juga ngebet sama “Aisya” sejak awal. Dan gue baru tahu mereka pacaran saat Yudisium, 3 hari sebelum wisuda tanggal 23 Maret. Perfect! Mereka sukses backstreet dibelakang gue.

Pas wisuda, gue total mati gaya ngelihat mereka berduaan. Rasanya udah ga betah aja kumpul sama mereka berdua. Apa lagi banyak yang ngecie-cie pas “Fahri” ngasih mawar ke “Aisya”, hadeeeeeeh……

Saat ini gue menghindar dari mereka sebagai upaya move on. Gue udah jarang main twiter sama mereka, males nge-ping atau sekedar say hi! Di whatsup. Sekarang sih gue cuman mikir, ya kalau jodoh ga bakal lari kemana.

Tags:

Gurita dan Lintah Darat (19 Maret 2013)

Sebenernya lagu wajib yang harus aku putar ketika nyalain laptop itu “Suara Hati Seorang Kekasih”-nya Melly Guslow. Tapi ga tau kenapa malah “Separuh Aku”-nya Noah yang masuk playlist windows media player. Lagu lawas memang ga ada duanya jika harus dibanding dengan lagu yang release baru-baru ini. Banyak kenangan yag melekat dengan lagu tersebut sehingga membuat lagu itu tambah klasik dan melekat di hati.

Sebenarnya aku ga mau ngebahas masalah lagu favorit atau lagu ngebanding-bandingin lagu yang satu dengan yang lain. Semua punya selera masing-masing. entah kenapa “fokus” yang ada dalam otak ini semakin kabur. Tadi pagi mikirin apa, fokus dengan apa, malem ini jadi fokus ke mana juga arahnya kemana. Entah mengapa setelah moment wisuda kemaren Sabtu membuat tujuanku terombang ambing. Ga terombang ambing gimana, kerjaan aja belum pasti dan saldo di tabungan tinggal 27ribu doang. …………………………………………………………………………………………………

gurita

Sebenernya bukan masalah kerjaan yang belum pasti sih yang membuat pikiranku terombang-ambing selama tiga hari berturut-turut. Hanya saja permintaan nyokab dan keluarga yang memintaku untuk mendalami ilmu agama. Ini yang selama ini jadi “momok” yang sangat menakutkan dalam hidupku. Sebenarnya hal yang lumrah untuk seorang keluarga, terlebih nyokab, menginginkan yang terbaik buat anaknya. Namun bagaimanapun juga hati ini kurang srek aja dengan kemauan keluarga satu ini. Rasanya hati in ingin menjerit menggugurkan salju dipuncak gunung Jaya Wijaya ketika keluarga sudah mulai memaksakan kehendaknya. Di sisi lain, finansilaku masih ditanggung nyokab sepenuhnya sampai saat ini. Dan, kondisi kritis pada finansial saat ini mau ga mau aku harus nodong nyokab minta ditranfer uang untuk beberapa hari ke depan bahkan satu bulan ke depan. Yah, aku sendiri sebenarnya ga enak hati, sungkan lah. Tapi mau gimana lagi, kalo ga nodong, ya ga makan. Memang, pilihan yang benar-benar sulit.

 

(10 Maret 2013)

Aku punya waktu 20 hari.

 

Satu minggu,

 

Atau sebenarnya aku ga pernah punya waktu sama sekali?

Sebenernya Sih Bukan “Etnic Runway” (30 Januari 2013)

Gini nih kalo lagi nulis dengerin lagu galaunya Agnes Monica, ga konsen……….

 

———————————————————————————

 

(diary fiksinya ga sempet selesai karena lagi sibuk pas KKN “SEBENERNYA SIH, LAGI MALES NULIS AJA :D )

HARI INI ANTARA BULE CANTIK TINGGI SEMAMPAI DENGAN DIKTAKTOR UDIK…. (Jumat, 7 September 2012)

Perasaanku hari ini “huaaaaaaaaaaakkkkkkkkk” banget nget. Group BBM satu ini memang membuatku bener-bener ingin teriak ngilangin suntuk yang membeban di kepala. Gimana ga suntuk, tiba-tiba aja ada undangan yang sangat begitu ga jelas yang ngajakin ke arah ga jelas.

Oh ya, aku belum jelasin group apa ini yang membuatku begitu enek dan haduh, saking eneknya ga bisa digambarin pake kata-kata. Sebut aja group itu bernama paduan suara. Beberapa bulan yang lalu aku sudah menonaktifkan diri karena, yah mungkin udah ga betah lagi dengan sistemnya, banyak hal yang ga bisa ku sebut satu persatu. Yang jelas sudah ga ada lagi alasan yang membuatku harus bertahan di tempat itu.

Ceritanya jam 15.00 tiba ada pemberitahuan kurang lebih gini “pelatih said, saya minta tolong ke jenegan kumpulkan dan datangkan semua agkatan jenengan agar datang tanggal 11 pukul 18.00 d kampus acara Choir 2012 sampaikan salam saya pada alumni paduan suara. Terima kasih, cc: pelatih”. Tanpa pikir panjang aku bales “aku kan belum alumni L”, dan selang beberapa detik langsung ada balesan dari anggota group yang lain yang sangat “shit” banget.

Yah, aku rasa kalian bisa bayangin hal apa yang pernah aku alami dengan group ini sehingga ngebuat akau begitu membenci dan, aduh, males nyeritainya. Soal pelatih yang aku sebut ‘diktaktor udik’ juga males banget ditulis di sini. Terlalu males untuk dijabarin. Kalian tebak aja seperti apa mereka dari tulisanku di atas.

Hah, aku mau balik aja ke beberapa jam belakang di mana aku berpapasan dengan bule cantik yang tingginya hampir dua meteran. Bule yang ngebuatku ke-GR-an dan cari perhatian ketika jalan di depanya. Haduuuuhhhh, luar biasa pokoknya moment itu.

Untitled-2

Well, ceritanya kenapa aku begitu pede sampai ke-GR-an di depan bule, karena temenku yang pernah ke Amrik cerita kalau bule kayak gitu tuh seleranya orang seperti aku, bermuka Indonesia asli dengan kulit hitam tropis. Keyakinanku diperteguh dengan pengalamanku ketika kerja beberapa bulan lalu di sebuah Advertising.

Nah, gini ceritanya. Waktu itu aku lagi presentasi produk di salah satu mall surabaya sebut aja PTC. Di lantai bawah, tepatnya DI KFC sebelah pintu masuk bagian tengah, aku presentasiin produk ke beberapa pengunjung di tempat itu. Waktu itu memang targetku koko-koko berbaju kantoran. Selesai presentasi sama mimi-mimi labil, aku mencoba mendekati koko-koko berbaju kerja rapi sedang santap menikmati friedchicken di bangku pojok. Dengan pede-nya aku langsung say hi dan duduk begitu saja. Setelah sort story, ngenalin diri, dan dia menjawab “sorry, I’m Japanese can’t speak Indonesia”. Speachless dan seketika itu pula otak berputar keras untuk berimprovisasi dengan muka senyum dibuat-buat. “damn, salah market guwe!” batinku. Yah, mau ga mau akhirnya aku presentasi produk dengan bahasa inggrisku yang miskin kosa kata dan dia hanya senyum sambil berpikir keras memahami apa yang aku omongin.

 

Setelah lima menit aku presentasi, dari awal aku nebak ga bakalan closing dengan bule jepang satu ini dan tebakanku terjawab benar. Sebagai seorang marketing profesional, aku harus tetap mengontrol emosi dan merehash kembali presentasi dengan tarik ulur komunikasi. Tapi bule itu jawab “you’re so sweet” dengan senyum anehnya layak om-om sakit. Mausia mana kalo disanjung ga seneng dan reflek aku jawab “thank you sir” dengan cengangas-cengenges ga jelas. Dia nyabung lagi “you know JW Mariott hotel?”. Aku jawab aja “yes” tanpa meninggalkan senyum murahan. “how much you?”. Hah, speachless dan aku jawab”what do you mean”, dia hanya senyum ga jelas dan aku jawab lagi “me?!”, dia tetap senyum dan menatapku dalam. Oh men, kenapa aku ketemu bule hombreng ditengah kerja siang bolong gini….. “no, thank you sir”, aku ngucapinya dengan senyum murahan dan meninggalkan bule gila itu dengan salah tingkah.

Sebenernya waktu itu perasaanku campur aduk, antara kepedean, geer, dan ingin menceritakan kejadian ga biasa ini ke siapa saja. Tapi kalo aku bangga seperti ini kelihatan begitu murahanya diriku. Alasan kenapa aku bangga karena bule jepang gila itu masuk lah kalo dibilang cakep, tajir ya pasti, dan yang paling gila adalah ini pengalaman pertama. Tapi hati baikkku bilang, jangan jadi orang gila dengan kejadian semacam ini. Yah, ini ga bener.

Itu lah alasan yang menguatkan kenapa aku begut kegeeran ketika ada bule lewat depan mata. Bawaanya pengen tebar pesona aja kalo-kalo bule itu nyapa dan ngajak kenalan. Betapa senangnya diriku kalo hal itu benar-benar terjadi. sorry, aga norakJ.

Tapi tebar pesonaku kali ini ga ngebuain apa-apa. Bule tinggi semampai berbaju olahraga tersebut berlalu tanpa memperhatikanku hanya fokus sama Ipod di genggamannya. Tapi aku yakin bule tersebut berpikir betapa mempesonannya aku dan menunggu waktu tepat aja untuk kenalan dengan ku, gubrrraaaaaaaaakkkkkkkkk.

PAGIKU DIAWALI DENGAN CERAMAH AGAMA PINGGIR JALAN…… (Jumat, 7 Desember 2012)

Ga seperti biasa, jam 4.30 aku sudah bangun tidur. Sebenernya kalo nengok jadwal yang aku buat kemaren malem, jam 3.00 udah harus bangun tapi ya seperti bisa molor. Tapi untuk kali ini molornya ga terlalu parah lah biasanya jam 7.00 baru bangun.

Dengan berat hati aku mengangkat tubuh ini yang masih terlalu lengket sama bantal dan kasur keras kost-kostan seratus ribuan per bulan. Ku tengok temen se kost dan se kasur kalo-kalo dia udah bangun tapi yang bangun bukan dianya tapi bagian tubuh dia yang lain “sebutnya aja Mr.P”. ngidupin lampu dan keluar ke kamar mandi umum yang ada di lantai bawah. Seperti biasa langsung aku lepas celanaku hot pant tidurku, telanjang bawah, dan ganti sarung. Shalat Shubuh dilanjut baca surat Waqiah dan habis itu ngececk BB yang semaleman aku tinggal tidur.

Ada dua BBM spam jualan dan ngasih info ga penting banget. check tweeter ada beberapa mention-an salah satunya dari Prof yang aku tunggu-tunggu balesanya dari kemarin-kemarin, padahal baru beberapa jam saja dari semalem *lebay, tapi aku lagi ga mood buat bales mention. Keluar tweeter dan masuk facebook. Ada beberapa pemberitahuan yang salah satunya dari akun “sang benevaktor” yang ngasih komen photo bareng-bareng 2 tahun lalu. Bayangin ini orang ngomenya setiap setahu sekali. Tuh photo diphost 8 Agustus 2010 dan aku ngasih koment “liat tuh, sebelah anak berkaca mata paling cool kan… hahahaha” dan dia baru komen “ini malah ada orang ngerasa paling oke… ooo00000..pukul pake gitar baru tahu rasa” di 9 September 2011. Dan kali ini dia koment lagi dengan kata-kata alay “aduh, kapan ya kita bisa kumpul-kumpul lagi kayak gini?” di 7 Desmber 2012 jam 2.00, pemuda yang malang.

 

baru

 

Komennya memang lumayan jleb sebenernya, mampu bertahan di otak sampe beberapa jam. Selese ngotak-atik BB menit, jam 5.00 keluar kost cari sarapan di warung bu Retno. Seperti biasa, mau keluar gang aku ngelewatin segerombolan ms-mas yang berjudi on line setiap saat di kontrakan mbak Sri. Keluar gang lewat rumah berhalaman luas milik juragan kost-kostan Pabrik rambut dan ketemu pasuntri yang sudah stay menjajalkan gorenganya di depan musholla. Keluar jalan ketemu toko Parmin yang muter kenceng-kenceng ceramah Yusuf Mansur yang samar-samar apa berceramah entah tentang apa. Masuk warung bu Retno, sudah ngantri ibu-ibu campur nenek-nenek juga ada mas-mas yang berebut dadar jagung yang memang dagangan laris milik bu Retno.

Alasanya kenapa warung Bu Retno, pertama  aku bisa beli nasi pecel Rp.4000 dengan lauk dadar jagung plus dapat cemilan krupuk segenggam. Kedua, warung ini tergolong bersih jadi enak aja makan di sini.

Setelah selesai di layani mas-mas putra bu Retno, aku keluar dari kerumpulan antrian dan balik ke kost. Lewat toko Parmin, ada kata-kata dari Yusuf Mansur yang tiba-tiba kedengaran jelas. Nih potonganya “…. Dan mereka akan meminum minumanya ahli neraka. Minumanyaahli neraka itu.. bla bla bla bla”. Kata-kata itu sejenak membuatku tertegun dan berpikir sejenak, tepatnya melamun, yang ga aku dapat ke mana arah pkiranku berjalan. Yang jelas ceramah semacam itu sudah menjadi sarapanku rutin sejak kecil.

RANDOM FILM, MELO DRAMA (10 Desember 2012)

Jarang-jarang aku nulis cerita di masjid. Paling-paling kalo ke masjid, ya shalat doang. Tapi kali ini aku pengen ambil suasana masjid yang ga begitu aku  sukai, bising jalan, banyak mahasiswa cangkru’an, malah ada yang kuliah di sini, payah kan. Ya, maklum gedung kuliahnya lagi direnovasi.

Seberang lagi fokus kuliah entah kuliah apa. Jurusan, fakultas apa, juga ga tau aku. Lah, ngapain juga kondisi kayak gini aku masukin ke cerita?

Yah, mau gimana lagi. Mahasiswa tingkat akhir kayak aku gini memang otaknya random. lagi dimana pikiran lari ke mana. Yah begitulah kondisinya.

Hari ini aku berencana ke kampus jam 8.00. seperti biasa pengen fokus sama tugas akhir. Aduh, kuliah sebelah ganggu, mecah konsentrasi nih. Biarin deh,  terusin nulis diary ga pa pa. tapi seperti biasa planing yang sudah disusun cantik semalem ambyar gara-gara bangun kesiangan. Lihat, kebiasaan bodoh yang selalu terulang dan terulang lagi setiap harinya. Terpaksa sampai planing mau fitness pun juga ga dilakoni. Yah, cuman sampe pada pemanasan suara bentar sampe satu jam aja, habis itu keinget film semalem yang belum selesai ditonton.

Buka laptop jam 8.30 dan langsung buka file “Sang Pencerah”. Videonya kacau udah banyak yang rusak, maklum filmnya udah out of date. Duh, kok tiba-tiba suasana masjid ini ngebuat ku ga mood ya untuk lanjut cerita? Berisik banget tuh pemotong rumput depan. Duh, kenapa ini serambi masjid mendadak jadi ruang kuliah gini ya? Pindah ga ya enaknya? Terusin aja deh. Kalo kayak gini tuh aku teringat dialog film “Perempuan Berkalung Sorban”,  “mood tuh bukan untuk dicari tapi diciptakan”… ya deh kalo gitu, aku lanjut cerita.

 

laptop

 

Singkat cerita aku mainin filmnya di laptop pas bagian akhir-akhir, bagian adegan Ky Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Eh, ngomong -ngomong semua film Indonesia yang bintangin Lukman Sardi ya?, hahahaaa…. Lanjut cerita adegan sudah masuk ke scene pertemuan tokoh-tokoh Masjid Gede ngediskusiin soal kelahiran Muhammdiyah.  Well, akhirnya adegan sampe pada perseteruan antara pengikut masjid gede yang ngejudge “kafir” para santri Ky Ahmad Dahlan sebagai golongan Muhammdiyah. Nah, diakhir-akhir film ini banyak banget quoto-quoto sakti yang aku up date di time line. Diantaranya, “kita boleh punya prinsip tapi jangan fanatik. Karena fanatik itu ciri-ciri orang bodoh…”, dialog Ky Ahmad Dahlan saat adegan diskusi sama murid-muridnya, trus “Agama itu adalah sebuah proses seperti udara pagi yang kita hirup dan masuk ke tubuh kita”, dialog Ahmad Dahlan saat adegan sidang dengan petinggi Masjid Gede soal pemikiranya, “kadang manusia lebih melindungi dari pada bertanya untuk apa sebenarnya kewibawaan yang dia punya untuk dirinya”, dialog peran yang diamani Slamet Raharjo saat scene berdialog dengan karakter Ahmad dahlan.

Film ini membuatku ngelihat bagaimana seseorang teguh dengan prinsip dan pemikiranya. Tak peduali banyak yang menentang sampai  keluarganya sendiri, dia tetap teguh tegak berdiri diatas pendirianya. Luar biasa sih, Cuman kalo hidupku aku bentuk seperti film tersebut,  pasti akan sangat melo drama setiap saat meski karakter Ky Ahmad Dahlan yang dicitrakan ada kemiripan dengan karakterku.

Film kelar, nama-nama pemain dan crew mulai ditampilkan, soundtrack dinyanyikan satu persatu, dan tiba-tiba telingaku terasa panas karena hadset. Hedset aku copot dan tanganku meraba-raba sekitar nyari BB merah maroon. BB ketemu dan tangan langsung skrol satu persatu socnet diawali dengan tweeter. Ga ada mention-an langsung beralih ke facebook yang juga ga ada pemberitahuan penting. Ngececk BBM ga ada yang nge-ping dan untuk ngisi waktu, liat profil BB temen-temen.

Waktu berlalu dua jam dan aku masih males untuk beranjak dari tempat tidur. Laptop masih nyala dan mata masih melek. Coba ngacak-ngacak file dan dengan sengaja mengarah ke file video be-ef alias bokep. Emang sengaja banget buka file video ini cari hiburan ditengah kondisi badan yang males setengah mati. Satu persatu video aku mainkan, mulai dari American style sampe japanese style yang mebuat ku fokus sampai klimaks, tau lah yang dimaksud klimaks di sini.

Habis klimaks, aku udah ga nafsu lagi liat video bokep. Kondisi badan semakin lemes aja dan membuatsemakin males ngapa-ngapai. Stock file film memang banyak banget di laptop. Tanpa pikir panjang, aku langsung buka file drama percintaan Jepang. Kalo ga salah judulnya “”. Yah, kayak giman sih film drama percintaan, pasti udah ketebak kayak gimana alur ceritanya apalagi drama Asia. Cuman yang membuatku semakin tambah idih sama cewek Jepang, dalam film itu digambarkan kalau cewek Jepang  udah jatuh cinta, diapain aja sama pasanganya mau-mau aja. Bahkan sampe hamil. Nah loh, efek nonton bokep. Dan begitulah seterusnya, pokoknya inti dari cerita film ini si cowok mati gara-gara kanker. Yah, pasti bisa nebak kayak gimana jalan ceritanya, si cewek setia ngerawat si cowok sampe mati dan bla bla bla….

Capek  mainan laptop akhirnya aku punya dorongan untuk ke kamar mandi dan mandi tentunya, dilanjut Dzuhuran dan berangkat ke kampus, entah mau ngapain di kampus. Namun, pas di kamar mandi aku sempat kepikiran untuk merubah kebiasaan buruk ini. Entah siapa yang membisiki aku yang begitu kacau parah di tengah-tengah dilema usia 20 tahunan. Yah, aku hanya bisa berharap meski aku tahu perubahan itu ga bisa diraih hanya dengan berharap, harus ada tindakan.

Tags:

Switch to our mobile site