DESKRIPSI UMUM TANAMAN ANGGREK

Bunga Anggrek adalah salah satu bunga kebanggaan dan merupakan ciri khas daerah Indonesia. Bunga ini hampir dikenal oleh semua kalangan masyarakat Indonesia, apakah itu karena keindahan, daya tahannya atau mungkin juga karena harganya barangkali. Melihat semua kelebihan dan daya tariknya tersebut, memungkinkan dan mengharuskan agar kita lebih peduli dan menghargai bunga tersebut. Berikut adalah deskripsi umum mengenai bagian bunga anggrek, yaitu :

  1. Bunga

Bunga Anggrek dapat tumbuh pertanaman sekitar 1 sampai 15 kuncup bunga dan termasuk kedalam bunga majemuk. Berdasakan letak tumbuhnya terdiri dari dua jenis secara umum, yang pertama tumbuh disekitar ketiak daun pada lateral atau sisi-sisi batang, jenis ini dinamakan pleuranthe (ex. Vanda, dendrobium) dan yang kedua tumbuh dari ujung tanaman atau dinamakan dengan acranthe (ex. Cattleya, Oncidium).

Bunga Anggrek terdiri dari lima bagian utama, yaitu sepal (daun kelopak), Petal (daun mahkota), Stamen (benang sari), Pistil (putik), dan ovari (bakal buah). Sepal adalah mahkota bunga yang terletak dibelakang sedangkan petal yang di depannya. Sepalnya berjumlah tiga, yang diatas bernama sepal dorsal dan dua yang disamping menjorok bawah dinamakan sepal lateral. Pada beberapa jenis anggrek tertentu terdapat sepal lateral yang menjadi satu contohnya adalah Slipper orchid.

Petalnya juga berjumlah tiga, dua petal diapit sepal dorsal dan sepal lateral dan membentuk sudut sekitar 1200, sedangkan yang dibawah termodifikasi menjadi petal bibir atau labelum (di alam berguna sebagai tempat hinggap serangga dalam proses reproduksi tanaman). Pada labelum terdapat gumpalan yang berisi protein, zat wangi dan minyak sebagai penarik serangga.

Diatas labelum terdapat alat reproduksi bunga (gynandrium), yang jantan dinamakan androecium dan yang betina dinamakan gynoecium. Alat reproduksi anggrek seperi tugu, diujungnya ada bulatan menonjol yang dapat dibuka dan dinamakan cap, apabila cap ini dibuka terdapat serbuk sari. Serbuk sari yang berjumlah satu dinamakan monondrae dan yang berjumlah dua dinamakan diandrae. Sebuk sari pada anggrek membentuk suatu gumpalan yang dinamakan dengan polinia, umumnya berjumlah dua tetapi kadang ada yang berjumlah empat atau enam. Polinia ini dihubungkan oleh seperti benang yang pada ujung benangnya sedikit lengket yang disebut plasenta. Kepala putik anggrek menghadap ke bawah, seperti lubang dangkal ke atas yang terdapat dibawah atau dibalik tugu, apabila dipegang seperti lem yang lengket atau seperti cairan kental berwarna putih.

  1. Buah

Buah anggrek berbentuk capsular segi enam. Tidak seperti buah pada umumnya yang memiliki cadangan makanan (endosperm), buah anggrek tidak memiliki cadangan makanan sendiri, karena sifatnya ini pada masa awal perkecambahannya adalah masa yang paling rentan, di alam biji ini mendapatkan makanan hasil penguraian sisa-sisa tanaman oleh jasad renik micoriza sedangkan di pembudi daya anggrek bijih ini di tumbuhkan melalui media agar dan pupuk serta ditanam dalam botol karena sifatnya yang sangat rentan tersebut. Jumlah biji anggrek perbuah, ada yang hanya puluhan sampai ada juga yang jutaan, dengan embrio dalam biji terdiri dari sekitar 8 – 100 sel.

Bunga anggrek yang telah dikawinkan akan menjadi buah, hal ini diidentifikasi dengan membengkaknya column (tugu) lalu disusul membengkaknya tangkai. Buah ini pertama kali berwarna hijau lalu sedikit demi sedikit berwarna kuning sampai masaknya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam terjadinya pembuahan para pembudi daya anggrek biasanya mengawinkannya pada waktu pagi akan menjelang siang atau waktu dhuha.

  1. Batang

Pola batang pada tanaman anggrek terdiri dari dua secara umum, yaitu monopodial atau batang tunggal tanpa ranting disisi kanan dan kiri terdapat daun helai, batang ini dapat tumbuh terus tak terbatas (ex. Vanda, Phaelonopsis), sedangkan yang lainnya adalah simpodial yang pertumbuhan tingginya terbatas dan ketika mencapai limitnya akan disusul tumbuhnya tunas disamping batang tersebut (ex. Dendrobium, Cattleya).

Pada anggrek simpodial antara batangnya terdapat penghubung yang dinamakan dengan rhizome, umumnya yang berbatang simpodial memiliki tempat penyimpanan makanan yang dinamakan dengan pseudobulb. Ketika batang yang satu telah menua dan habis daunnya, pseudobulbnya tetap aktif dan apabila rhizome diantara tumbuhan tersebut tidak dipotong maka batang yang lebih muda dapat memanfaatkan sari makanan di pseudobulb disebelahnya. Anggrek yang memiliki pseudoblb lebih tahan terhadap kekurangan air tetapi apabila pseudobulb tersebut tertanam dalam media tanamnya akan rentan terhadap kebusukan.

  1. Akar

Anggrek berdasarkan tempat hidupnya bisa digolongkan kedalam tiga jenis, yang pertama adalah anggrek epifit atau anggrek yang pada habitat aslinya hidup menempel di tanaman lain, perlu difahami bahwa anggrek bukanlah tanaman parasit yang menghisap sari makanan inangnya, tetapi hanya ikut menempel saja dan mendapatkan keuntungan dengan hidup di tempat yang tinggi untuk memperoleh cahaya, udara dan nutrisi yang lebih baik dibandingkan hidup di tanah, akar anggrek epifit pada umumnya bersimbiosis dengan jenis mikoriza tertentu. Mikoriza ini biasanya adalah sejenis jamur yang mengambil nutrisi dari humus yang akan dipergunakan oleh anggrek, sedangkan jamur tersebut mendapatkan keuntungan hasil assimilasi berupa gula. Yang kedua adalah anggrek tanah atau terestrik, jenis anggrek ini seperti halnya tanaman lain mampu hidup ditanah tetapi akan lebih baik apabila medianya adalah tanah yang berporous atau berongga dibandingkan tanah pada umumnya, seperti diketahui bahwa anggrek kurang menyukai air yang menggenang karena akan sangat rentan terhadap kebusukan akar dan mudahnya tumbuh jamur. Yang ketiga adalah anggrek saprofit yaitu anggrek yang hidupnya mampu menyesuaikan diri dengan humus atau bahan organik lainnya. Anggrek jenis ini seperti halnya anggrek epifit bersimbiosis dengan dengan mikoriza, tetapi akarnya tidak sekuat anggrek epifit dan hanya menempel pada humus saja. Anggrek ini tidak memiliki daun sama sekali dan bunganya semuanya berwarna putih, karena tidak melakukan fotosintesa sedangkan nutrisi didapatkannya karena kemampuan anggrek tersebut untuk mengambil CO2 dari udara secara langsung sedangkan serapan nutrisi dari akar sangat minim.

Akar anggrek umumnya lebih besar dibandingkan akar tanaman yang seukuran dengannya. Akar ini lunak, bersifat spongy karena memiliki lapisan velamen, dindingnya licin tetapi pada ujung akar biasanya sedikit lengket. Ujung akar juga bisanya berkedudukan lebih padat dan berwarna hijau cerah atau hijau gelap bergantung kepada bunganya. Biasanya bunga yang gelap akarnya juga sedikit gelap dan yang terang akarnya juga sedikit terang.

Ujung akar akan mencari tempat yang lebih lembab atau berairdan ketika menyentuh media akan cepat menempel. Akar yang mati atau sudah tua berwarna coklat dan ketika dipegang mudah terbawa, kecuali bagian dalam akar sedikit liat. Anggrek juga memiliki akar aerial atau akar yang keluar dari batang dan tidak berada di media, umumnya besar dan bias bercabang.

  1. Daun

Daunnya berjenis monokotil yang biasanya tidak memiliki urat daun atau hanya tulang daun memanjang dari pangkal sampai ujung. Ada daun yang helaiannya tipis tapi sebagian besar berdaging atau sukulen, dilihat dari bentuknya ada bermacam-macam, hastate (mata tombak), sagittate (panah), triangular (segitiga), cordate (jantung), trullate (sekop), jarum (subulate), pita (linear) dsb . Daun saling berhadapan setiap tumbuh daun di kanan akan disusul tumbuh daun di kiri.


About this entry