Buku Terbaruku

buku nurul

Inilah buku terbaruku,

Judul Buku: Peace Education.

Penulis: M Nurul Ikhsan Saleh

 

, ,

No Comments

Nurul: “Aku Menulis, Maku Aku Berprestasi”

Nurul dalam ruang acara

Nurul dalam ruang acara

M Nurul Ikhsan Saleh yang akrab di panggil Nurul, adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Ia lahir di Sumenep tanggal 27 Juli 1988, menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep tahun 2006, kemudian menempuh pendidikan tinggi pada jurusan Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2008. Selama menempuh kuliah di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan ia aktif di berbagai organisasi baik di dalam kampus dan di luar kampus, diantaranya, Penyelaras Bahasa Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Pengurus Devisi Kajian dan Penelitian Forum Badan Eksekutif Mahasiswa Pendidikan (FBEMP) Yogyakarta, Pengurus Devisi Bahasa Inggris DPP Bidang Pengembangan Bahasa Asing Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Koordinator Departemen Penelitian dan Pengembangan Kelompok Studi Ilmu Pendidikan (KSiP) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Anggota Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Senyum Community, Pegurus Devisi Eksternal Beswan Djarum DSO Yogyakarta, Anggota Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) dan Person in Charge (PIC) bidang Keuangan Peace Generation Yogyakarta.

Kebiasaanya dalam bidang tulis menulis mengantarkan Nurul menyabet banyak prestasi. Ia menjadi juara pertama Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) se-Yogyakarta Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Yogyakarta tahun 2012, 5 komentator terbaik Blog Competition Beswan Djarum tahun 2011, Nominator Nutrifood Leadership Award Wilayah Yogyakarta tahun 2011, 20 penulis terbaik Sayembara Esai Nasional IDEA Institute Pertanian Bogor tahun 2011, The Most Favorite Leadership Training Djarum Beasiswa Plus tahun 2011, 30 penulis terbaik Kompetisi Esai Nasional ANBTI (Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika) tahun 2010, juara pertama LKTI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2010, juara kedua LKTI se-Yogyakarta dan Jawa Tengah Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2010, juara kedua LKTI DPP Bidang Penelitian Fakutas Tarbiyah dan Keguruan tahun 2009, juara ketiga LKTI Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan tahun 2009. Tidak berhenti di situ, selain berprestasi di luar kampus Nurul juga tetap berprestasi dibidang akademik, terbukti Nurul pernah mejadi siswa tauladan semasa di bangku sekolah menengah pertama, sedangkan IPK terakhir setelah menyelesaikan skripsi yang berjudul Peace Education dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam adalah 3,63.


Menulis Jalan Kemandirian

Nurul mulai belajar menulis secara serius ketika tinggal di Yogyakarta. Tepatnya pada Oktober 2007, setahun sebelum menempuh perkuliahan. Sedangkan sembilan bulan sebelumnya ia mengasah kemampuannya berbahasa Inggris di Pare Kediri. Nurul belajar menulis di Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta, dibawah naungan Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari yang didirikan oleh Zainal Arifin Thoha (alm.). Lembaga ini menampung mahasiswa dari golongan orang kurang mampu, atau mahasiswa yang memilih jalan kemandirian. Pengasuh yang ada di lembaga ini mengharuskan mahasiswa mencari uang sendiri untuk kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya untuk kuliah. Salah satu jalan kemandirian di lembaga ini adalah dengan menulis di media massa. Sebelum tulisannya mampu tembus di media massa, santri di lembaga ini menjadi loper koran, berjualan di angkringan dan berjualan dengan asongan. Nurul sendiri pernah menjadi loper koran dan membantu seorang pembisnis buku obral berjualan ke beberapa kota, seperti Surabaya, Semarang, Selatiga, Kudus, Solo, Yogyakarta, dan Bandung.

Di sela-sela bekerja, Nurul belajar menulis puisi, kemudian berkali-kali ia mengirimkan ke media massa. Tapi, tidak ada satupun media yang memuatnya. Suatu waktu Nurul bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang membuat puisinya tidak di muat, ia berpikir, “Mungkin saja karena Nurul menggarapnya tidak serius”, ungkapnya. Akhirnya Nurul menekuni tulisan resensi buku. Resensi buku yang ditulis Nurul pertama kali dimuat pada koran Lampung Pos tahun 2007. Kemudian tulisan resensi buku dan tulisan berbentuk opini dimuat pada koran Seputar Indonesia, Media Indonesia, Surabaya Post, Bali Post, Koran Jakarta, Bernas Jogja, Majalah Flamma, Malajah Suluh. Pada dua tahun terakhir tulisannya yang dimuat dalam bentuk buku kompilasi adalah berjudul Potret Realita; Pendidikan Masa Kini diterbitkan oleh IPB Press, Asa Itu (Masih) Ada diterbitkan oleh ANBTI, dan Islam; National Character Building dan Etika Global diterbitkan oleh UIN Sunan Kalijaga.

Bagi Nurul, dalam menulis butuh rasa percaya diri dan optimisme yang besar. Meskipun sebagian teman-temannya beranggapan bahwa tulisan Nurul tidak bagus, tetap saja Nurul kirimkan ke media massa. Nurul bahkan tidak tahu sudah berapa banyak tulisan yang ditolak redaktur, tapi Nurul terus memberanikan diri mengirim tulisannya dan terus mengikuti lomba karya tulis ilmiah meskipun sering gagal masuk sebagai nominator. Bahkan “mungkin para redaktur kasian dengan saya hingga akhirnya tulisanku dimuat” begitu ungkap Nurul. Itulah bagian dari sedikit cerita bagaimana Nurul mengasah dunia kepenulisan hingga akhirnya tulisan Nurul bisa dimuat di koran-koran lokal dan nasional.

Kemampuan Perlu Terus Diasah

Bagi Nurul, setiap manusia yang lahir di muka bumi membawa bakat dan potensi. Berkat bakat dan potensi yang diasah, seseorang bisa menjadi sukses dan terpandang. Tinggal bagaimana kesungguhan seseorang itu menggali dan mengasahnya. Ibaratkan pisau, apabila ia sering diasah, akan menjadi tajam. Sebaliknya, apabila tidak diasah, pisau itu tetap tumpul dan sulit dimanfaatkan untuk memotong barang apapun. Otak manusia pun begitu. Ada yang mampu mengasah bakatnya dengan baik. Salah satu contohnya beberapa tokoh terkenal Indonesia yang tekun mengasah di bidang tulis menulis. Misalnya, Goenawan Mohamad, Rendra, Kuntowijoyo, Umar Kayam, Gus Dur, Gus Mus, Nurcholis Madjid, Emha Ainun Nadjib dan masih banyak lagi yang lainnya. Mereka mampu menulis dan mengembangkan bakatnya dengan baik. Bahkan mereka menginspirasi banyak orang.

Bagaimana dengan diri kita, sudahkah mengasah bakat yang kita miliki dengan baik? Pertanyaan ini butuh kita jawab bersama-sama, Ungkap Nurul, sebagai pribadi yang telah diberikan bakat oleh Tuhan, sebelum semuanya terlambat. Mungkin saja ada yang memiliki bakat lain, seperti musik, sepak bola, tari atau yang lainnya. Memang, setiap orang dalam mengasah bakatnya hingga akhirnya menuai kesuksesan membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Mungkin saja, ada yang hanya butuh berbulan-bulan, ada pula yang sampai bertahun-tahun. Kesungguhan hati untuk terus berlatih yang perlu dibangun. Bersungguh-sungguh dalam berproses, tanpa takut akan kegagalan. Karena kegagalan sendiri adalah pintu menuju kesuksesan, tambah Nurul.

Pesan penting dari Nurul adalah, jika ingin menjadi penulis handal. Tinggal latihan dan latihan. Suatu waktu, kesuksesan pasti bisa diraih dengan penuh kebanggaan. Salah satu jalan menuju kesuksesan adalah dengan memilih jalan menulis. Ini juga seperti moto Nurul, “Aku Menulis, Maka Aku Berprestasi”. Setidaknya dari beberapa prestasi inilah kemudian Nurul mendapatkan beasiswa dari Djarum Beasiswa Plus, Kementerian Agama, Pemerintah Daerah Sumenep, dan kesempatan dari Dikti untuk ikut The 15th UNESCO-APEID International Conference pada akhir Desember 2011. (MNIS).

, ,

4 Comments

Memperhatikan Peran Guru

Jumat kemarin (25/11), kita memperingati Hari Guru Nasional. Peringatan tersebut sebagai tanda penghargaan terhadap guru. Betapa peranan seorang guru sangatlah penting bagi pencerdasan kehidupan bangsa. Sampai-sampai negara-negara maju seperti Cina, Jepang, dan Singapura memperketat dalam seleksi penerimaan guru. Hal ini berbeda dengan negara kita yang masih terkesan longgar.

Mestinya pemerintah harus semakin serius melakukan rekrutmen calon anggota guru. Pemerintah harus ketat dengan kriteria kompetensi yang telah ditetapkan bagi siapa saja yang ingin masuk menjadi guru. Setidaknya, bertambah besarnya tunjangan yang dikucurkan terhadap profesi guru berbanding lurus dengan peningkatan kualitas. Meski dalam beberapa kasus proses pemberian tunjangan seringkali di panggkas oleh pihak pemerintah daerah bidang pendidikan.

Tak salah apabila di beberapa daerah masih ditemukan kejanggalan dan kesenjangan tunjangan dibanding dengan yang diterima guru-guru di perkotaan. Padahal memberikan perhatian yang besar serta memperlakukan adil terhadap semua guru adalah hal yang sangat penting. Agar setiap guru merasakan penghargaan yang sama. Tidak dibeda-bedakan.

Pada momentum peringatan Hari Guru Nasional inilah menjadi evaluasi penting bagi pemerintah dalam mewujudkan perhatian yang sama terhadap semua guru yang ada di pelosok-pelosok negeri. Semua guru sama. Mereka adalah pahlawan bagi peningkatan sumber daya manusia Indonesia. Kebangkitan dunia pendidikan dimulai dari kebangkitan seorang guru. Apabila guru diperhatikan dengan baik kemungkinan besar mereka akan termotivasi dengan serius mengelola lembaga pendidikan.

Memperhatikan guru sama halnya dengan memperhatikan masa depan generasi-generasi muda. Penting bagi semua pihak memahami peran strategis guru dalam membangun bangsa yang memiliki masyarakat cerdas, kompetitif dan bermartabat. Sehingga masyarakat Indonesia tidak hanya dikenal oleh dunia luar sebagai negara tertinggal-penuh dengan TKI terbelakang.

Tentu, komitmen besar pemerintah terhadap peningkatan kesejahteraan guru perlu dibarengi dengan keseriusan para guru dalam berbenah diri, introspeksi, dan berkerja lebih serius lagi meningkatkan kualitas dan kompetensinya. Dari sinilah kemudian cita-cita akan terwujudnya pendidikan yang berkualitas bisa tercapai. Dimana akan lahir masyarakat yang mampu memanfaatkan potensi alam berlimpah dengan sebaik-baiknya demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera serta mandiri.

Kualitas Menjadi Prioritas

Kita berharap besar terhadap upaya pemenuhan guru berkualitas bisa secepat mungkin tercapai. Dimana saat ini guru di Indonesia yang berjumlah sekitar empat juta orang sementara yang sudah mendapatkan sertifikasi baru sekitar 35%. Kendalanya adalah banyak guru tidak memenuhi kualifikasi sertifikasi, yaitu di antaranya harus lulus Strata 1 (S-1) dan belum bisa memenuhi masa kerja yang disyaratkan. Semua dari kita tentu memimpikan akan terwujudnya target pemerintah pada tahun 2013 proses sertifikasi guru selesai tuntas, dimana sudah sejak awal Kemendikbud menargetkan 300 ribu guru tersertifikasi setiap tahunnya.

Memang ada banyak persoalan yang tengah menyelimuti dunia pendidik kita seperti yang ungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, baik dari soal kompetensi, profesionalitas, kesejahteraan, dan distribusi guru yang tidak merata di beberapa daerah terpencil. Maka perencanaan yang matang harus diberengi dengan realisasi yang bagus pula. Bukan hanya bermain-main program di atas kertas.

Kita yakin pemerintah telah bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme guru. Sejak empat tahun yang lalu pemerintah memberikan tunjangan profesi yang cukup besar setara dengan gaji pokok bagi guru yang melewati proses sertifikasi pendidikan dan memenuhi persyaratan. Hal ini dilandasi persepsi bahwa kualitas sekolah dan anak didik sangat bergantung pada kualitas guru.

Semoga peringatan demi peringatan yang dirayakan untuk mereflesikan Hari Guru Nasional bisa meningkatkan kesadaran dan komitmen pemerintah serta kalangan guru dalam meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan sesuai dengan tema rencana acara yang akan dilaksanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Sentul International Convention Center Bogor Jawaba Barat pada 30 November mendatang yaitu “Meningkatkan Peran Strategis Guru untuk Membangun Karakter bangsa; Peningkatan Kinerja guru untuk Pendidikan Bermutu”.

,

7 Comments

Tulisan Penutup: Berawal dari Semangat Bermimpi

Bulan Oktober 2006, saya nekat datang ke Yogyakarta. Kedatangan itu merupakan mimpi yang menjadi kenyataan. Sebelumnya, pertengahan tahun 2006 setelah lulus Sekolah Menengah Atas, SMA Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, saya bermimpi kuliah di Yogyakarta, tapi tidak diperbolehkan oleh kedua orang tua dengan alasan tidak kuat membiayai dan didukung kepercayaan

Inilah kota impian Nurul, Kota Yogyakarta

Inilah kota impian Nurul, Kota Yogyakarta

dalam keluarga saya bahwa kota Yogyakarta adalah sarang pergaulan bebas. Maklum saya hidup dalam keluarga yang taat beragama, dan seringkali beranggapan buruk terhadap pergaulan di kota-kota besar. Walhasil, dengan tanpa pamit di bulan Oktober tersebut, saya berangkat ke kota yang kaya akan budaya ini dengan hanya berbekal uang 600 ribu rupiah.

Namun, setelah sepuluh hari tinggal di Kota Gudeg, saya berubah pikiran. Teman saya Bernando J. Sujibto menyarankan kepada saya untuk pintar bahasa Inggris terlebih dahulu sebelum tinggal di kota pelajar ini. Dengan tanpa pertimbangan panjang akhirnya saya memutuskan pergi ke Pare Kediri untuk menimba bahasa Inggris. Berselang setengah bulan kemudian, uang saku saya habis. Ketika mencoba meminta kiriman uang kepada kedua orang tua di rumah, mereka tidak ada yang mau mengasihkan uang sepeser pun. Alhamdulillah tanpa diduga saya diterima menjadi officer pada lembaga kursus Raymond English Course, Pare dengan hanya bermodalkan bisa mengetik sepuluh jari dan melayout di Corel Draw. Saya mulai hidup tenang. Makan gratis. Tempat tinggal gratis.

Setengah tahun kemudian selama belajar bahasa Inggris di Pare, saya mulai direstui oleh kedua orang tua atas kepergian selama berbulan-bulan. Tapi, sejak saat itu saya tidak lagi berpikir untuk seenaknya meminta kiriman uang, saya bermimpi untuk hidup mandiri. Hingga pada tahun 2007, ketika saya kembali lagi ke Yogyakarta, tinggal di Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) bersama sahabat-sahabat yang dalam membiayai kehidupan sehari-harinya adalah dari hasil jerih payah sendiri. Tidak salah,

Pembelian Komputer Second Hasil dari Berjualan Koran dan Menulis di Media Massa

Pembelian Komputer Second Hasil dari Berjualan Koran dan Menulis di Media Massa

ketika awal mula di Yogyakarta, saya sempat selama empat bulan berjualan koran di sekitaran Maliboro dan selama empat bulan membantu toko buku Yusuf Agency berjualan buku obral pada even-even tertentu di beberapa kota. Di Surabaya, Malang, Semarang, Selatiga, Solo, Kudus, Yogyakarta, dan Bandung. Dari kumpulan uang yang saya dapatkan tersebut ditambah hasil menulis di media massa akhirnya saya belikan komputer second dan untuk biaya masuk kuliah pada tahun 2008. Berselang dua tahun kemudian, bulan Oktober 2010, saya mendapatkan beasiswa cukup bergengsi di lingkungan mahasiswa Indonesia, yaitu Djarum Beasiswa Plus.

Memimpikan Menjadi Blogger

Pada awal menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saya memiliki mimpi. Mimpi menjadi blogger. Blogger di bidang apa? Padahal, untuk membuat blog saja masih kesulitan. Beberapa kali saya berusaha untuk mewujudkan mimpi itu, tetapi tidak pernah menjadi kenyataan. Setiap kali mimpi itu memproses menjadi sebuah wujud nyata, setiap kali gugur di tengah jalan. Ibarat orang mimpi yang tiba-tiba terbangun, terputus mimpi itu. Saya bertanya, apakah seumur-umur hanya akan bermimpi dan tidak berusaha menghidupkan blog yang bisa dibaca oleh banyak orang dan syukur-syukur berguna bagi masyarakat luas? Pertanyan itu yang antara lain menjadi pendorong saya untuk mewujudkan mimpi itu. Mimpi menjadi blogger sejati.

Pertemuan Pertama Bersama Beswan Djarum Jogja Angkatan 26

Pertemuan Pertama Bersama Beswan Djarum Jogja Angkatan 26

Saya sangat bahagia, dikala bulan Oktober 2010 saya secara resmi diterima menjadi anggota Beswan Djarum, segeralah mimpi itu bersinar lagi. Saya mendapatkan account baru Blog Beswan Djarum. Kali ini harus menjadi kenyataan! Karena itu, saya berusaha menuliskan setiap kali ada event-event pengembangan softskill dari Djarum Beasiswa Plus dan mengumpulkan tulisan-tulisan yang berceceran baik yang sempat dimuat di media massa atau tulisan yang ditolak, untuk mewujudkan impian itu. Dan di saat mendapatkan sambutan baik dari sahabat-sahabat Beswan Djarum lain, keinginan untuk aktif ngeblog bertambah kuat. Maka saya pun mulai belajar mempergunakan blog dengan baik selama bermalam-malam, bahkan berminggu-minggu full.

Tidak terasa, saya semakin terbiasa memanfaatkan blog berkat ditambah penjelasan dari sahabat-sahabat alumni Beswan Djarum lewat komunikasi di dunia maya. Terus terang, saya terinspirasi untuk secara konsisten dan aktif menulis di blog setelah melihat blog Magfur Amin yang memenangkan perlombaan Blog Beswan Djarum pada tahun 2010 silam. Memang, blog saya ini jauh dari sempurna dan sangat jauh apabila dibandingkan dengan tulisan karya-karya Margareta Astaman yang sudah aktif bertahun-tahun menulis. Semoga kekurangan dari karya ini bisa saya kembangkan terus-terus di masa berikutnya.

Ketika Mimpi Itu Bermuara Pada Kompetisi Blog Beswan Djarum

Laptop Nurul dari Hasil Mendapatkan Djarum Beasiswa Plus

Laptop Nurul dari Hasil Mendapatkan Djarum Beasiswa Plus

Pada akhirnya, tidak bisa saya pungkiri bahwa keberadaan blog ini sampai detik ini adalah atas dukungan dari banyak orang. Sudah sepantasnya kalau saya mengucapkan terimakasih kepada mereka yang telah memberikan kesempatan, membantu, dan mendorong eksistensinya blog ini. Yang paling utama, saya harus mengucapkan terimakasih kepada pihak penyelenggara Djarum Beasiswa Plus, yang telah menfasilitasi Blog Beswan Djarum dalam pengembangan softskill bagi penerimanya. Juga atas pemberian bantuan dana berupa uang sebesar Rp. 600.000 perbulan, sehingga saya bisa membeli laptop Compac dengan kredit Rp. 467.500 perbulan selama setahun. Dengan laptop inilah saya bisa terbantu menyelesaikan tugas kuliah, menuliskan opini, resensi buku, kebudayaan, ikut LKT, dan tentu juga untuk keperluan tulisan pada Blog Beswan Djarum.

Terimakasih juga saya sampaikan kepada pembina Beswan Djarum Yogyakarta beserta juga sahabat-sahabat Beswan Djarum di suluruh Indonesia, terlebih sahabat Blogger Beswan Djarum yang telah memberikan dukungan kepada saya. Secara khusus juga saya ucapkan terimakasih kepada Irma Lestari dan Magfur Amin yang sempat beberapa kali memberikan masukan kepada saya sehingga terwujudlah impian saya untuk aktif di dunia blog ini. Dari kegiatan ngeblog, saya akhirnya juga tidak ketinggalan untuk aktif di Office Website Beswan Djarum, yang secara berurutan saya dua kali mendapatkan hadiah buku dari forum Tokoh Kita yaitu Your Job is Not Your Career ketika bertanya kepada Enda Nasution-seorang Penulis dan Blogger, dan buku Pak Beye dan Istananya ketika bertanya kepada Tina Talisa-seorang News Presenter.

Foto Bersama Para Penerima Djarum Beasiswa Plus Angkatan 26

Foto Bersama Para Penerima Djarum Beasiswa Plus Angkatan 26

Ucapan terimaksih juga patut saya sampaikan kepada Anis Baswedan yang telah memberikan dorongan semangat kepada saya lewat komentarnya di blog ini pada tulisan Bersama Kita Mengajar, yaitu kegiatan tour promosi Indonesia Mengajar di Auditoriaum University Club UGM pada 11 Januari 2011.

Terakhir sekali, saya mengucapkan banyak terimakasih kepada semua orang yang telah berperan penting dalam hidup saya. Kepada semua sahabat pembaca blog ini yang telah bersedia memberikan komentar-komentar, baik yang berbentuk masukan, kritik dan support. Sehingga pada tahun ini saya bisa mengikuti kompetisi Blog Beswan Djarum 2011 yang bertema Budaya Indonesia. Ada tiga tulisan yang saya ikutkan dalam kompetisi ini sebagai bentuk apresiasi saya terhadap ke-budaya-an Indonesia; Pertama, Taman Sari; Bukan Sekadar Tempat Rekreasi. Kedua, Royal Wedding Jogja: GKR Bendara dan KPH Yudanegara. Ketiga, Ketika Keajaiban Dunia Ada di Yogyakarta. Semoga ketiga tulisan tersebut, juga semua tulisan yang ada di blog ini secara umum bermanfaat dan berguna bagi para pembaca, masyarakat sekalian. Terlebih bagi saya sendiri sebagai bahan pembelajaran dalam mengembangkan blog, agar nantinya saya dapat meraih mimpi-mimpi baru di masa kini dan masa mendatang. Mohon doa dan dukungannya untuk blog ini dengan cara mengklik di sini, selanjutnya pilih tab Blog Terdaftar, dan klik Like M. Nurul Ikhsan Saleh. Terima kasih. Mari berkarya tunjukkan pada dunia! [Ke Artikel Sebelumnya Klik di sini]

best-comment7

, , , ,

66 Comments

Ketika Keajaiban Dunia Ada di Yogyakarta

Perayaan Jogja Java Carnival yang dihelat Sabtu 22 Oktober 2011 mendapat perhatian besar dari masyarakat luas. Pemberitaan yang begitu gencar mengenai akan diadakannya peringatan besar pada hari jadi Yogyakarta yang ke 255 ini, semakin

Salah Satu Peserta Karnaval di Sepanjang Malioboro

Salah Satu Peserta Karnaval di Sepanjang Malioboro

meningkatkan rasa ingin tahu warga hampir dari seluruh Indonesia pada kota budaya sekaligus kota pelajar ini. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya masyarakat yang berkunjung ke Yogyakarta untuk menyaksikan perayaan tersebut. Tidak hanya media dalam negeri saja yang meliput, bahkan media asing cukup banyak yang ikut andil menyiarkan langsung perayaan ini.

Banyak wisatawan yang datang langsung ke Yogyakarta untuk menyaksikan pawai Mozaik Jogja Java Carnival. Bisa kita lihat, ada puluhan ribu orang memadati jalan Maliboro sampai ke Alun-Alun Utara. Selain itu ratusan bahkan ribuan undangan hadir untuk secara langsung melihat aksi-aksi fenomenal dari peserta karnaval. Turut hadir dalam perayaan ini, yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono X, Herry Zudianto selaku Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, Pejabat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi/Kota Yogyakarta, dan beberapa pejabat dari instansi lainnya. Beberapa sajian yang turut dipertontonkan adalah Serigala Babilonia, Taman Gantung Ababionia, Kuda Troya sebagai legenda saat terjadi perang Troya oleh tentara Yunani, termasuk pasukan Gladiator yang berpakaian perang lengkap. Kemeriahan karnaval kali ini tampak sekali di malam itu, yang berlangsung sejak pukul 18.00 WIB.

Jogja Java Carnival: Keajaiban Dunia

Berjalan Melenggan di Tengah Jalan

Berjalan Melenggan di Tengah Jalan

Jogja Java Carnival tahun 2011 menjadi puncak dari banyak rangkaian kegiatan lain di hari-hari sebelumnya, yaitu sejak 8 Oktober 2011 yang berlangsung di 45 kelurahan. Mengambil tema The Magniworld (Mangenifence World) atau Keajaiban Dunia. Pemberangkatan peserta karnaval dimulai dari Parkir Abu Bakar Ali dan Jalan Pasar Kembang dengan menempuh jarak sepanjang dua km. Dari tempat inilah penonton sudah berdesak-desakan memenuhi badan jalan. Begitu juga di jalanan Pasar Bringharjo hingga Alun-alun Utara Keraton Ngyogyakarta Hadiningrat, penonton tetap bertahan meski dalam suasana yang cukup ‘panas’. Sampai-sampai ada penonton terutama ibu-ibu tua, pingsan karena tergencet dan sulit mengambil nafas.

Ada kurang lebih 37 atraksi dan 15 peserta lomba, 7 peserta utama dan sisanya partisipan. Dari peserta karnaval, turut serta meramaikan adalah Jogja Brodawy persembahan Teater Garasi Enterprise dengan persembahan karya seni Liberty di Jalan Kebudayaan Yogyakarta. Liberty simbol Amerika itu diarak menggunakan andong dan dibuat dari alat-alat rumah tangga seperti sendok, loyang, ember, panci dan lain-lain. Tak kalah menarik adalah penampilan peserta dari Java Ardvertising yang menampilan pertunjukan musik akordiaon, saksofon dan DJ serta puluhan warga negara asing yang berjalan mengiringi mobil hijau yang mereka tumpangi. Peserta lain menampilkan ogoh-ogoh bertajuk Narasima, yaitu karya para mahasiswa dari Persatuan Keluarga Putra Bali. Ada yang berasal

Patung Piramida

Patung Piramida

dari Kutai, Kalimantan Timur, juga dari delegasi Suriname. Penampilan para peserta mampu menghibur pada pengunjung. “Luar biasa pertunjukannya, tidak rugi saya datang dari Cilacap ke Yogyakarta untuk menonton Jogja Java Carnival, keren deh pokoknya”. Ungkap Maria Ulfa yang datang bersama teman-temannya.

Dari 7 peserta yang mengusung tema keajaiban dunia, mendapat sambutan meriah dari penonton. Salah satunya penampilan dari Sanggar Dewata Indonesia yang merupakan seniman-seniman Bali di Yogyakarta. Mereka menampilkan tema ‘Memorabilia of Moses’ menampilkan Sphinx dan Piramida dengan mengacu era runtuhnya Firaun Ramses II dengan visual Sphinx penjaga makam suci Piramida bertubuh robotik. Menariknya, saat patung Sphinx dengan tinggi 5 meter bisa dimasukkan ke dalam Piramida dalam satu atraksinya. 15 peserta yang terdiri dari berbagai komunitas memperebutkan hadiah total Rp. 100 juta. Setidaknya, even karnaval ini merupakan karnaval pertama yang dilombakan di Indonesia dengan menyediakan hadiah cukup besar. Hadiah pertama berupa hadiah senilai Rp. 55 juta. Hadiah pemenang kedua adalah Rp. 25 juta, pemenang ketiga Rp. 15 juta dan pemenang favorit Rp. 5 juta. Lomba ini juga memperebutkan trofi bergilir Adikarya Ciptarupa Kencana dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Di sini, bukan hadiahnya yang manarik kita

Patung Raksasa dalam Jogja Java Carnival 2011

Patung Raksasa dalam Jogja Java Carnival 2011

cermati, tapi antusiasme penonton dan partisipasi aktif dari pesertanya yang patut kita banggakan. Dengan cara inilah kebudayaan di Nusantara akan terus menggeliat, sehingga orang-orang dari mancanegara tertarik untuk berkunjung ke Indonesia.

Yogyakarta yang nota bene sudah dikenal masyarakat luas sebagai kota budaya, semakin ditegaskan bahwa kota ini menjadi salah satu pusat kebudayaan di negeri Indonesia tercinta. Kota Yogyakarta sebagai kota yang harmoni serta menunjukkan lingkungan masyarakat yang berbudaya, juga inkulturasi yang dapat menciptakan interaksi seni budaya yang mendunia. Kemudian akan mampu menyerap budaya mancanegara menjadi karya seni yang kreatif. Penampilan dari peserta Jogja Java Jarnival setidaknya melibatkan seniman lokal dan seniman dari luar negeri.

Kita berharap semoga pagelaran Jogja Java Carnival yang merupakan kegiatan tahunan yang sudah empat kali digelar untuk memperingati ulang tahun kota Yogyakarta, pada tahun-tahun berikutnya semakin meriah lagi. Dengan dihadiri oleh peserta yang lebih banyak serta apresiasi dari masyarakat semakin besar. Dan secara terus menerus berkelanjutan yang memberikan dampak positif terhadap kota Yogyakarta, terlebih dibidang peningkatan bidang pariwisata di Indonesia. Jika ada dari sahabat-sahabat Beswan Djarum (penerima Djarum Beasiswa Plus) yang juga berkesempatan datang atau tidak pada acara ini silakan ceritakan dan berikan komentar pada kotak komentar di bawah. Semoga bermanfaat. Salam Budaya Indonesia! [Ke Artikel Sebelumnya Klik di sini]

best-comment6

, , , ,

24 Comments