Archive for category Budaya Indonesia

Tulisan Penutup: Berawal dari Semangat Bermimpi

Bulan Oktober 2006, saya nekat datang ke Yogyakarta. Kedatangan itu merupakan mimpi yang menjadi kenyataan. Sebelumnya, pertengahan tahun 2006 setelah lulus Sekolah Menengah Atas, SMA Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, saya bermimpi kuliah di Yogyakarta, tapi tidak diperbolehkan oleh kedua orang tua dengan alasan tidak kuat membiayai dan didukung kepercayaan

Inilah kota impian Nurul, Kota Yogyakarta

Inilah kota impian Nurul, Kota Yogyakarta

dalam keluarga saya bahwa kota Yogyakarta adalah sarang pergaulan bebas. Maklum saya hidup dalam keluarga yang taat beragama, dan seringkali beranggapan buruk terhadap pergaulan di kota-kota besar. Walhasil, dengan tanpa pamit di bulan Oktober tersebut, saya berangkat ke kota yang kaya akan budaya ini dengan hanya berbekal uang 600 ribu rupiah.

Namun, setelah sepuluh hari tinggal di Kota Gudeg, saya berubah pikiran. Teman saya Bernando J. Sujibto menyarankan kepada saya untuk pintar bahasa Inggris terlebih dahulu sebelum tinggal di kota pelajar ini. Dengan tanpa pertimbangan panjang akhirnya saya memutuskan pergi ke Pare Kediri untuk menimba bahasa Inggris. Berselang setengah bulan kemudian, uang saku saya habis. Ketika mencoba meminta kiriman uang kepada kedua orang tua di rumah, mereka tidak ada yang mau mengasihkan uang sepeser pun. Alhamdulillah tanpa diduga saya diterima menjadi officer pada lembaga kursus Raymond English Course, Pare dengan hanya bermodalkan bisa mengetik sepuluh jari dan melayout di Corel Draw. Saya mulai hidup tenang. Makan gratis. Tempat tinggal gratis.

Setengah tahun kemudian selama belajar bahasa Inggris di Pare, saya mulai direstui oleh kedua orang tua atas kepergian selama berbulan-bulan. Tapi, sejak saat itu saya tidak lagi berpikir untuk seenaknya meminta kiriman uang, saya bermimpi untuk hidup mandiri. Hingga pada tahun 2007, ketika saya kembali lagi ke Yogyakarta, tinggal di Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) bersama sahabat-sahabat yang dalam membiayai kehidupan sehari-harinya adalah dari hasil jerih payah sendiri. Tidak salah,

Pembelian Komputer Second Hasil dari Berjualan Koran dan Menulis di Media Massa

Pembelian Komputer Second Hasil dari Berjualan Koran dan Menulis di Media Massa

ketika awal mula di Yogyakarta, saya sempat selama empat bulan berjualan koran di sekitaran Maliboro dan selama empat bulan membantu toko buku Yusuf Agency berjualan buku obral pada even-even tertentu di beberapa kota. Di Surabaya, Malang, Semarang, Selatiga, Solo, Kudus, Yogyakarta, dan Bandung. Dari kumpulan uang yang saya dapatkan tersebut ditambah hasil menulis di media massa akhirnya saya belikan komputer second dan untuk biaya masuk kuliah pada tahun 2008. Berselang dua tahun kemudian, bulan Oktober 2010, saya mendapatkan beasiswa cukup bergengsi di lingkungan mahasiswa Indonesia, yaitu Djarum Beasiswa Plus.

Memimpikan Menjadi Blogger

Pada awal menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saya memiliki mimpi. Mimpi menjadi blogger. Blogger di bidang apa? Padahal, untuk membuat blog saja masih kesulitan. Beberapa kali saya berusaha untuk mewujudkan mimpi itu, tetapi tidak pernah menjadi kenyataan. Setiap kali mimpi itu memproses menjadi sebuah wujud nyata, setiap kali gugur di tengah jalan. Ibarat orang mimpi yang tiba-tiba terbangun, terputus mimpi itu. Saya bertanya, apakah seumur-umur hanya akan bermimpi dan tidak berusaha menghidupkan blog yang bisa dibaca oleh banyak orang dan syukur-syukur berguna bagi masyarakat luas? Pertanyan itu yang antara lain menjadi pendorong saya untuk mewujudkan mimpi itu. Mimpi menjadi blogger sejati.

Pertemuan Pertama Bersama Beswan Djarum Jogja Angkatan 26

Pertemuan Pertama Bersama Beswan Djarum Jogja Angkatan 26

Saya sangat bahagia, dikala bulan Oktober 2010 saya secara resmi diterima menjadi anggota Beswan Djarum, segeralah mimpi itu bersinar lagi. Saya mendapatkan account baru Blog Beswan Djarum. Kali ini harus menjadi kenyataan! Karena itu, saya berusaha menuliskan setiap kali ada event-event pengembangan softskill dari Djarum Beasiswa Plus dan mengumpulkan tulisan-tulisan yang berceceran baik yang sempat dimuat di media massa atau tulisan yang ditolak, untuk mewujudkan impian itu. Dan di saat mendapatkan sambutan baik dari sahabat-sahabat Beswan Djarum lain, keinginan untuk aktif ngeblog bertambah kuat. Maka saya pun mulai belajar mempergunakan blog dengan baik selama bermalam-malam, bahkan berminggu-minggu full.

Tidak terasa, saya semakin terbiasa memanfaatkan blog berkat ditambah penjelasan dari sahabat-sahabat alumni Beswan Djarum lewat komunikasi di dunia maya. Terus terang, saya terinspirasi untuk secara konsisten dan aktif menulis di blog setelah melihat blog Magfur Amin yang memenangkan perlombaan Blog Beswan Djarum pada tahun 2010 silam. Memang, blog saya ini jauh dari sempurna dan sangat jauh apabila dibandingkan dengan tulisan karya-karya Margareta Astaman yang sudah aktif bertahun-tahun menulis. Semoga kekurangan dari karya ini bisa saya kembangkan terus-terus di masa berikutnya.

Ketika Mimpi Itu Bermuara Pada Kompetisi Blog Beswan Djarum

Laptop Nurul dari Hasil Mendapatkan Djarum Beasiswa Plus

Laptop Nurul dari Hasil Mendapatkan Djarum Beasiswa Plus

Pada akhirnya, tidak bisa saya pungkiri bahwa keberadaan blog ini sampai detik ini adalah atas dukungan dari banyak orang. Sudah sepantasnya kalau saya mengucapkan terimakasih kepada mereka yang telah memberikan kesempatan, membantu, dan mendorong eksistensinya blog ini. Yang paling utama, saya harus mengucapkan terimakasih kepada pihak penyelenggara Djarum Beasiswa Plus, yang telah menfasilitasi Blog Beswan Djarum dalam pengembangan softskill bagi penerimanya. Juga atas pemberian bantuan dana berupa uang sebesar Rp. 600.000 perbulan, sehingga saya bisa membeli laptop Compac dengan kredit Rp. 467.500 perbulan selama setahun. Dengan laptop inilah saya bisa terbantu menyelesaikan tugas kuliah, menuliskan opini, resensi buku, kebudayaan, ikut LKT, dan tentu juga untuk keperluan tulisan pada Blog Beswan Djarum.

Terimakasih juga saya sampaikan kepada pembina Beswan Djarum Yogyakarta beserta juga sahabat-sahabat Beswan Djarum di suluruh Indonesia, terlebih sahabat Blogger Beswan Djarum yang telah memberikan dukungan kepada saya. Secara khusus juga saya ucapkan terimakasih kepada Irma Lestari dan Magfur Amin yang sempat beberapa kali memberikan masukan kepada saya sehingga terwujudlah impian saya untuk aktif di dunia blog ini. Dari kegiatan ngeblog, saya akhirnya juga tidak ketinggalan untuk aktif di Office Website Beswan Djarum, yang secara berurutan saya dua kali mendapatkan hadiah buku dari forum Tokoh Kita yaitu Your Job is Not Your Career ketika bertanya kepada Enda Nasution-seorang Penulis dan Blogger, dan buku Pak Beye dan Istananya ketika bertanya kepada Tina Talisa-seorang News Presenter.

Foto Bersama Para Penerima Djarum Beasiswa Plus Angkatan 26

Foto Bersama Para Penerima Djarum Beasiswa Plus Angkatan 26

Ucapan terimaksih juga patut saya sampaikan kepada Anis Baswedan yang telah memberikan dorongan semangat kepada saya lewat komentarnya di blog ini pada tulisan Bersama Kita Mengajar, yaitu kegiatan tour promosi Indonesia Mengajar di Auditoriaum University Club UGM pada 11 Januari 2011.

Terakhir sekali, saya mengucapkan banyak terimakasih kepada semua orang yang telah berperan penting dalam hidup saya. Kepada semua sahabat pembaca blog ini yang telah bersedia memberikan komentar-komentar, baik yang berbentuk masukan, kritik dan support. Sehingga pada tahun ini saya bisa mengikuti kompetisi Blog Beswan Djarum 2011 yang bertema Budaya Indonesia. Ada tiga tulisan yang saya ikutkan dalam kompetisi ini sebagai bentuk apresiasi saya terhadap ke-budaya-an Indonesia; Pertama, Taman Sari; Bukan Sekadar Tempat Rekreasi. Kedua, Royal Wedding Jogja: GKR Bendara dan KPH Yudanegara. Ketiga, Ketika Keajaiban Dunia Ada di Yogyakarta. Semoga ketiga tulisan tersebut, juga semua tulisan yang ada di blog ini secara umum bermanfaat dan berguna bagi para pembaca, masyarakat sekalian. Terlebih bagi saya sendiri sebagai bahan pembelajaran dalam mengembangkan blog, agar nantinya saya dapat meraih mimpi-mimpi baru di masa kini dan masa mendatang. Mohon doa dan dukungannya untuk blog ini dengan cara mengklik di sini, selanjutnya pilih tab Blog Terdaftar, dan klik Like M. Nurul Ikhsan Saleh. Terima kasih. Mari berkarya tunjukkan pada dunia! [Ke Artikel Sebelumnya Klik di sini]

best-comment7

, , , ,

66 Comments

Ketika Keajaiban Dunia Ada di Yogyakarta

Perayaan Jogja Java Carnival yang dihelat Sabtu 22 Oktober 2011 mendapat perhatian besar dari masyarakat luas. Pemberitaan yang begitu gencar mengenai akan diadakannya peringatan besar pada hari jadi Yogyakarta yang ke 255 ini, semakin

Salah Satu Peserta Karnaval di Sepanjang Malioboro

Salah Satu Peserta Karnaval di Sepanjang Malioboro

meningkatkan rasa ingin tahu warga hampir dari seluruh Indonesia pada kota budaya sekaligus kota pelajar ini. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya masyarakat yang berkunjung ke Yogyakarta untuk menyaksikan perayaan tersebut. Tidak hanya media dalam negeri saja yang meliput, bahkan media asing cukup banyak yang ikut andil menyiarkan langsung perayaan ini.

Banyak wisatawan yang datang langsung ke Yogyakarta untuk menyaksikan pawai Mozaik Jogja Java Carnival. Bisa kita lihat, ada puluhan ribu orang memadati jalan Maliboro sampai ke Alun-Alun Utara. Selain itu ratusan bahkan ribuan undangan hadir untuk secara langsung melihat aksi-aksi fenomenal dari peserta karnaval. Turut hadir dalam perayaan ini, yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono X, Herry Zudianto selaku Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, Pejabat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi/Kota Yogyakarta, dan beberapa pejabat dari instansi lainnya. Beberapa sajian yang turut dipertontonkan adalah Serigala Babilonia, Taman Gantung Ababionia, Kuda Troya sebagai legenda saat terjadi perang Troya oleh tentara Yunani, termasuk pasukan Gladiator yang berpakaian perang lengkap. Kemeriahan karnaval kali ini tampak sekali di malam itu, yang berlangsung sejak pukul 18.00 WIB.

Jogja Java Carnival: Keajaiban Dunia

Berjalan Melenggan di Tengah Jalan

Berjalan Melenggan di Tengah Jalan

Jogja Java Carnival tahun 2011 menjadi puncak dari banyak rangkaian kegiatan lain di hari-hari sebelumnya, yaitu sejak 8 Oktober 2011 yang berlangsung di 45 kelurahan. Mengambil tema The Magniworld (Mangenifence World) atau Keajaiban Dunia. Pemberangkatan peserta karnaval dimulai dari Parkir Abu Bakar Ali dan Jalan Pasar Kembang dengan menempuh jarak sepanjang dua km. Dari tempat inilah penonton sudah berdesak-desakan memenuhi badan jalan. Begitu juga di jalanan Pasar Bringharjo hingga Alun-alun Utara Keraton Ngyogyakarta Hadiningrat, penonton tetap bertahan meski dalam suasana yang cukup ‘panas’. Sampai-sampai ada penonton terutama ibu-ibu tua, pingsan karena tergencet dan sulit mengambil nafas.

Ada kurang lebih 37 atraksi dan 15 peserta lomba, 7 peserta utama dan sisanya partisipan. Dari peserta karnaval, turut serta meramaikan adalah Jogja Brodawy persembahan Teater Garasi Enterprise dengan persembahan karya seni Liberty di Jalan Kebudayaan Yogyakarta. Liberty simbol Amerika itu diarak menggunakan andong dan dibuat dari alat-alat rumah tangga seperti sendok, loyang, ember, panci dan lain-lain. Tak kalah menarik adalah penampilan peserta dari Java Ardvertising yang menampilan pertunjukan musik akordiaon, saksofon dan DJ serta puluhan warga negara asing yang berjalan mengiringi mobil hijau yang mereka tumpangi. Peserta lain menampilkan ogoh-ogoh bertajuk Narasima, yaitu karya para mahasiswa dari Persatuan Keluarga Putra Bali. Ada yang berasal

Patung Piramida

Patung Piramida

dari Kutai, Kalimantan Timur, juga dari delegasi Suriname. Penampilan para peserta mampu menghibur pada pengunjung. “Luar biasa pertunjukannya, tidak rugi saya datang dari Cilacap ke Yogyakarta untuk menonton Jogja Java Carnival, keren deh pokoknya”. Ungkap Maria Ulfa yang datang bersama teman-temannya.

Dari 7 peserta yang mengusung tema keajaiban dunia, mendapat sambutan meriah dari penonton. Salah satunya penampilan dari Sanggar Dewata Indonesia yang merupakan seniman-seniman Bali di Yogyakarta. Mereka menampilkan tema ‘Memorabilia of Moses’ menampilkan Sphinx dan Piramida dengan mengacu era runtuhnya Firaun Ramses II dengan visual Sphinx penjaga makam suci Piramida bertubuh robotik. Menariknya, saat patung Sphinx dengan tinggi 5 meter bisa dimasukkan ke dalam Piramida dalam satu atraksinya. 15 peserta yang terdiri dari berbagai komunitas memperebutkan hadiah total Rp. 100 juta. Setidaknya, even karnaval ini merupakan karnaval pertama yang dilombakan di Indonesia dengan menyediakan hadiah cukup besar. Hadiah pertama berupa hadiah senilai Rp. 55 juta. Hadiah pemenang kedua adalah Rp. 25 juta, pemenang ketiga Rp. 15 juta dan pemenang favorit Rp. 5 juta. Lomba ini juga memperebutkan trofi bergilir Adikarya Ciptarupa Kencana dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Di sini, bukan hadiahnya yang manarik kita

Patung Raksasa dalam Jogja Java Carnival 2011

Patung Raksasa dalam Jogja Java Carnival 2011

cermati, tapi antusiasme penonton dan partisipasi aktif dari pesertanya yang patut kita banggakan. Dengan cara inilah kebudayaan di Nusantara akan terus menggeliat, sehingga orang-orang dari mancanegara tertarik untuk berkunjung ke Indonesia.

Yogyakarta yang nota bene sudah dikenal masyarakat luas sebagai kota budaya, semakin ditegaskan bahwa kota ini menjadi salah satu pusat kebudayaan di negeri Indonesia tercinta. Kota Yogyakarta sebagai kota yang harmoni serta menunjukkan lingkungan masyarakat yang berbudaya, juga inkulturasi yang dapat menciptakan interaksi seni budaya yang mendunia. Kemudian akan mampu menyerap budaya mancanegara menjadi karya seni yang kreatif. Penampilan dari peserta Jogja Java Jarnival setidaknya melibatkan seniman lokal dan seniman dari luar negeri.

Kita berharap semoga pagelaran Jogja Java Carnival yang merupakan kegiatan tahunan yang sudah empat kali digelar untuk memperingati ulang tahun kota Yogyakarta, pada tahun-tahun berikutnya semakin meriah lagi. Dengan dihadiri oleh peserta yang lebih banyak serta apresiasi dari masyarakat semakin besar. Dan secara terus menerus berkelanjutan yang memberikan dampak positif terhadap kota Yogyakarta, terlebih dibidang peningkatan bidang pariwisata di Indonesia. Jika ada dari sahabat-sahabat Beswan Djarum (penerima Djarum Beasiswa Plus) yang juga berkesempatan datang atau tidak pada acara ini silakan ceritakan dan berikan komentar pada kotak komentar di bawah. Semoga bermanfaat. Salam Budaya Indonesia! [Ke Artikel Sebelumnya Klik di sini]

best-comment6

, , , ,

24 Comments

Royal Wedding Jogja: GKR Bendara dan KPH Yudanegara

Selasa 18 Oktober 2011 menjadi puncak kebahagiaan pasangan antara GRAj Nurastuti Wirajeni yang bergelar GKR Bendara dengan Achmad Ubaidillah yang bergelar KPH Yudanegara. Selain disaksikan keluarga kraton Sri Sultan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani serta Wapres Budiono dan Ibu Herawati, mantan presiden/wapres, menteri dan ribuan pasangan tamu

KPH Yudanegara dan GKR Bendara Melambaikan Tangan Kepada Masyarakat

KPH Yudanegara dan GKR Bendara Melambaikan Tangan Kepada Masyarakat

undangan lain termasuk 40 raja Nusantara yang memenuhi pelataran Bangsal Kencana menyaksikan secara langsung proses pernikahan keduanya. Ijab kobul yang dilaksanan pada pukul 07.20 WIB berlangsung selama tiga menit di Masjid Panepen Kraton, menandakan sepasang kekasih yang resmi menjadi sepasang suami isteri.

Setelah perhelatan prosesi pernikahan selesai. Selanjutnya dilakukan iring-iringan kirab. Rombongan kirab pasangan pengantin GKR Bendara dan KPH Yudanegara berangkat dari Keben sekitar pukul 15.50 WIB dan sampai pada tujuan di Kepatihan sekitar 17. 40 WIB. Karena padatnya pengunjung yang berdatangan dari berbagai penjuru kota, akhirnya rombongan kirab berjalan dengan sangat pelan. Panitia yang memperkirakan durasi kirab pasangan pengantin akan tepat waktu, ternyata jarak tempuh yang hanya 1,5 km bisa sampai lebih dari satu jam. Sebagai pihak yang menyambut kedatangan pengantin di Kepatihan adalah GKR Pembayun dan KGPH Hadiwinoto.

Ribuan masyarakat menyemut dari sepanjang ruas jalan yang menghubungkan Kraton Ngoyogyakarta Hadiningrat hingga Bangsal Kepatihan, yaitu antara Keben hingga jalan Malioboro. Mereka melihat kedua mempelai melambaikan tangan diiringi taburan senyum manis pasangan pengantin puteri bungsu Sri Sultan Hamenku Buwono X. Masyarakat sudah sejak siang menantikan iring-iringan lima kereta kuda tersebut yang membawa

Para Pasukan dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Para Pasukan dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

rombongan pengantin. Decak kagum tak henti-hentinya terdengar ketika pasangan pengantin GKR Bendara dan KPH Yudanegara menampakkan wajahnya ke arah mereka di Kereta Kyai Jong Wiyat. Arti dari nama kereta tua peninggalan Sultan Hamengku Buwono VII ini adalah perahu angkasa.

Masyarakat Rela Berdesakan

Kedua pasangan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara Wijareni dengan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudhanegara menaiki kereta pusaka yang berada di urutan kedua setelah Kereta Kyai Kus Ijem atau Landower yang dinaiki oleh pengantin GBPH Yudhaningrat dan GBPH Condrodiningrat. Setelah kereta Jong Wiyat di belakangnya menyusul Kyai Roto Biru, Kyai Landower Surabaya dan Kyai Permili. Dua bregada prajurit Kraton berada di barisan depan, yaitu Bregada Wirabraja dan Bregada Ketanggung. Dua Bregada prajurit ini melewati ribuan masyarakat yang menonton. Rombongan kirab terdiri dua bregada prajurit, lima kereta kuda dan empat belas kuda yang ditunggangi penari Lawung Ageng. Kirab berjalan tersendat-sendat, bahkan di beberapa titik, terpaksa berhenti karena masyarakat yang menonton sangat padat-berjubel.

Di pinggir-pinggir jalan, sejumlah orang yang berasal dari lingkungan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya tumpah di sekitaran Malioboro, mereka rela menaiki tiang lampu, pagar, berdiri di atas bangunan, dan toko-toko. Mereka tidak takut meski berada

Wartawan dari Salah Satu Stasiun Televisi Sedang Meliput Kirab

Wartawan dari Salah Satu Stasiun Televisi Sedang Meliput Kirab

di ketinggian hanya karena ingin melihat kirab pengantin dengan sepuasnya. Pada kesempatan itu juga, masyarakat disuguhkan dengan berbagai kesenian se-DIY dan sejumlah kesenian dari beberapa daerah lain seperti group reog, tarian Caci, tari Dayak, tari Kontemporer, Jathilan Kulonprogo, dan Ketomprak dari Yogyakarta. Di beberapa titik jalan, tim keamanan merasa kesulitan untuk sedikit melebarkan lorong perjalanan kereta yang digunakan pasangan pengantin untuk sampai ke tempat tujuan. Beberapa tim keamanan membuka akses untuk jalan dengan susah payah, masyarakat yang awalnya berada di belakang kemudian memilih saling berdesak maju agar bisa melihat lebih dekat.

Semuanya nampak bahagia. Kebahagiaan ini tentu tidak hanya dirasakan oleh kerabat Kraton sendiri, tapi juga masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Mereka mendapatkan makanan gratis di 200 angkringan yang tersedia di sepanjang jalan Malioboro. Masyarakat di situ, turut larut dalam pesta pernikahan putri bungsu Sri Sultan HB X. Begitu gerobak angkringan, mei ayam, bakso, jagung bakar dan wedang ronde mulai dibuka, ribuan orang yang tumpah ruah menyerbu makanan tersebut yang secara khusus disediakan. Dalam hitungan jam bahkan hitungan menit makanan-minuman pun habis tidak tersisa. Bisa saja, karena

Ribuan Masyarakat Memadari Kawasan Maliboro

Ribuan Masyarakat Memadari Kawasan Maliboro

saling berdesak-desakan menyaksikan prosesi pernikahan membuat masyarakat lapar dan haus. Berbagai macam makanan minuman di angkringan seperti nasi kucing, kerupuk, mendoan, tahu, tempe, es teh tadinya bisa didapat. Sedang para penjaga gerobak dengan senang hati melayani dengan mengenakan pakaian khas Jawa yang dilengkapi dengan blangkon.

Demikianlah, bahwa adat pernikahan yang begitu luhur, khidmad, khusuk, dan adiluhung ini perlu tetap dilestarikan sebagai bentuk kekayaan budaya Indonesia yang khas. Semoga jalinan pernikahan antara keduanya akan membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa rakhmah. Akhirnya, Saya sangat bersyukur bisa meliput secara langsung dari dekat prosesi pernikahan sepasang pengantin dari orang tua Sri Sultan Hamengku Buwono X dan DKR Hemas serta Jusami Ali Akbar dan Nurbaiti Helmi, mungkin saja gara-gara saya dikira wartawan media massa sehingga petugas mempersilakan. Tentu, pekerjaan ini saya lakukan sebagai bentuk apresiasi saya terhadap ragam budaya Indonesia. Bagaimana menurut sahabat-sahabat Beswan Djarum (mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus), apa tanggapan sahabat terhadap tradisi pernikahan seperti yang terjadi di Kraton Yogyakarta ini? [Ke Artikel Sebelumnya Klik di sini]

best-comment5

, , , ,

24 Comments

Gebyar Potensi dan Bakat di Taman Budaya

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional, Suyanto Ph.D menegaskan agar masyarakat terutama para orang tua bersemangat dan penuh optimis menyekolahkan anaknya, penyandang ketunaan atau yang biasa di kenal dengan

Bapak Suyanto Sedang Memberikan Sambutan

Bapak Suyanto Sedang Memberikan Sambutan

anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, setiap anak yang memiliki keterbatasan, juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Siapapun bisa berkarya, tanpa melihat keterbatasan yang dimiliki, tidak terkecuali bagi para penyandang ketunaan. Itulah pesan Suyanto pada sambutan penutupan Gebyar Potensi dan Bakat PK-LK Dikdas Nasional 2011 pada Jumat, 14 Oktober 2011 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

Terkadang masyarakat umum, memandang kecacatan, seperti anak tunalaras, tunaganda, tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunagrahita, dan lain-lain, sebagai penghalang untuk berbuat sesuatu. Namun hal itu dapat dipatahkan oleh prestasi dan kemahiran dalam keterampilan pada anak-anak penyandang ketunaan atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Setidaknya pada acara malam penutupan ini, yang sudah berlangsung selama empat hari, banyak dari kalangan ABK yang memiliki bakat tinggi dan mampu ditampilkan, dengan memperebutkan banyak piala perlombaan, diantaranya Lomba Tari Tradisional, Desain Grafis, Cerdas Cermat MIPA, Pidato Bahasa Inggris, dan Penelitian Iptek, juga memperebutkan juara perlombaan Manajemen Sentra PK-LK dan Lomba Pameran Stand yang diikuti oleh 33 propinsi yang tersebar di seluruh Indonesia. Juara umum, adalah propinsi Jawa Tengah sebagai propinsi yang paling banyak menyabet piala penghargaan.

Piala Penghargaan Bagi Pemenang Lomba

Piala Penghargaan Bagi Pemenang Lomba

“Seringkali mereka menjadi siswa kelas dua dalan prioritas pendidikan. Bahkan sebagian orang sepertinya alergi jika anak mereka harus duduk di kelas yang sama dengan penyandang cacat. Selain itu banyak orang tua yang malu memiliki anak cacat, maka diantara tujuan diakannya even tersebut, antara lain agar mendekatkan ABK kepada lingkungan masyarakat umum dengan prestasi yang mereka miliki. Sehingga melalui penyelenggaraan tersebut nantinya akan membiasakan keberadaan ABK diantara anak normal. Sangat cocok kemudian dengan diadakannya pendidikan inklusif dimana ABK disekolahkan bersamaan dengan anak normal,” ungkap Suyanto.

Suyanto berharap, lambat-laun masyarakat bisa menerima keberadaan SLB serta bagi orang tua tidak segan lagi untuk menyekolahkan anak mereka yang cacat ke SLB, karena dari kekurangan mereka pastilah masih ada hal yang bisa dikembangkan. Adanya pendidikan inklusif menjadi pendekatan yang strategis untuk mencapai pendidikan untuk semua. Pendidikan ini, menjadi isu utama di kawasan Asia Pasifik karena adanya berbagai macam perbedaan dan semakin menguatnya proses demokratisasi termasuk berkembangnya populasi anak di belahan pelosok. Indonesia menjadi laboratorium hidup pendidikan inklusif. Hal ini dilatar belakangi oleh keragaman budaya, bahasa, agama, serta kondisi alam yang terfragmentasi secara geologis dan geografis.

Diantara ABK yang Memenangi Perlombaan

Diantara ABK yang Memenangi Perlombaan

Karena jika kita perhatikan, Indonesia merupakan kepulauan yang terbesar di belahan dunia, yaitu lebih dari 17.500 pulau yang terbentang dan tersebar mulai dari Sabang hingga Merauke yang berupa daratan meliputi pulau-pulau besar dan kecil. Sehingga paling menarik untuk menghadapi permasalahan dan tantangan pendidikan iklusif. Untuk menjawab permasalahan tersebut pemerintah punya tekad kuat untuk menuntaskan wajib belajar sembilan tahun pada tahun 2008. Karena hal itu merupakan sikap dan komitmen politik sekaligus kepedulian terhadap bangsa Indonesia.

Apa Peran yang Bisa Kita Lakukan?

Sebenarnya, kita sudah banyak terinspirasi oleh penyandang ketunaan yang memiliki prestasi tinggi, bahkan sampai pada tingkat Internasional. Kita harus memberikan pelayanan bagi anak berkebutuhan khusus bukan dilihat dari segi belas kasihan, namun mereka perlu diberikan kesempatan yang sama dengan orang umum agar mereka menunjukkan talenta sebenarnya. Mendidik ABK bukan hanya memberikan keterampilan tapi mengangkat mereka agar setara dengan anak-anak yang lain.

Pemerintah melalui Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa terhadap program PK-PLK (Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus) memberikan bantuan berupa modal kecakapan hidup. Dari sini diharapkan mereka bukan hanya menjadi insan yang terampil, tapi dapat mandiri dan bersaing di masyarakat. Tentu saja pendidikan dan keterampilan tersebut harus terus di

Persembahan Tari dari SMP I Kasean Bantul

Persembahan Tari dari SMP I Kasean Bantul

integrasikan dan dikembangkan. Apabila PK-PLK dianggap sebagai pendidikan untuk membangun martabat, maka PL-PLK tidak boleh dilakukan secara konvensional. Tapi PLK mesti menjadi suatu bagian dari upaya meningkatkan martabat bangsa, sehingga sensitivitas terhadap perkembangan Iptek dan Industri menjadi suatu pertimbangan dalam kurikulum PK-PLK.

Bagi masyarakat terutama orang tua, termasuk para mahasiswa berprestasi seperti Beswan Djarum sendiri, bahwa ABK menjadi tanggung jawab kita bersama. Program PK-PLK tidak mengenal diskriminasi, karena mereka memiliki hak yang sama dan tidak boleh satupun sekolah baik sekolah umum yang melarang mereka untuk masuk sekolah. Bahkan Tuhan pun tidak melihat mereka dari kelainan fisik tapi dilihat dari bagaimana tingkat keberilmuan dan ketakwaannya. ABK berhak mendapatkan pekerjaan dan berprofesi, berhak untuk memelihara kesehatan dan fisiknya yang baik, berhak untuk hidup mandiri dan berhak untuk mendapatkan kasih sayang.

Semua itu tergambar dalam pusi Allan Zefo Umboh, Sang seniman dari Manado yang dibawa pada even ini dengan judul Aku Juga Harapan Bangsa. “Siapa bilang aku tak punya hari esok yang cerah…?; Siapa bilang aku ini tak bisa berbuat apa-apa…?; Katanya aku ini tak ada yang bisa dibanggakan; Katanya ini hanya sebuah lelucon bagi mereka yang berakal; Karna aku ini hanya seorang penyandang cacat kata mereka…; Eiiissssssss…Tunggu dulu…; Aku dengan kalian memang beda; Aku diciptakan Tuhan dengan berbagai kekurangan; Sedangkan kalian dapat beridiri tegak berbicara; Dan bisa mendengar; Tapi kita satu dalam kandungan Ibu Pertiwi; Kalian Indonesia…Aku juga Indonesia…;

Peserta Lomba Stand PK-PLK dari Sulteng

Peserta Lomba Stand PK-PLK dari Sulteng

Kalian generasi muda Indonesia…Aku juga generasi Muda Indonesia…; Kalian bisa berkarya bagi Indonesia….Aku juga bisa berkarya bagi Indonesia…;Kita sama bukan….???; Cuma fisik kita yang berbeda…;Kita sama-sama warga Negara Indonesia; Kita sama-sama berhak bersekolah; Kita sama-sama penerus bangsa Indonesia; Karna aku juga harapan bangsa Indonesia”.

Akhirnya, pendidikan Inklusi, sebagai bentuk pendidikan yang didasari semangat terbuka untuk merangkul semua kalangan dalam pendidikan. Pendidikan inklusi merupakan implementaasi pendidikan yang berwawasan multikultural yang dapat membantu peserta didik mengerti, menerima, serta menghargai orang lain yang berbeda suku, budaya, nilai, kepribadian, dan keberfungsian fisik maupun psikologis. Sehingga kita sebagai penerima Djarum Beasiswa Plus dengan kelebihan yang kita miliki harus kita syukuri. Dan kita juga harus memiliki apresiasi yang bagus terhadap pendidikan inklusi itu sendiri. Terlebih lagi apabila kita bisa secara praktis dapat membantu ABK dalam proses pembelajaran di sekolah. Selamat berjuang! [Ke Artikel Sebelumya Klik di sini]

best-comment4

, , , ,

16 Comments

Benteng Vredeburg Yogyakarta; Museum Perjuangan

Kota Yogyakarta adalah salah satu dari sekian banyak kota di Indonesia yang mempunyai peranan penting dalam perjalanan sejarah dalam merintis, mencapai, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia.

Benteng Vredeburg Tampak dari Depan

Benteng Vredeburg Tampak dari Depan

Peristiwa-peristiwa penting sebagai tonggak sejarah terjadi di kota Yogyakarta. Sehingga bukan tidak beralasan apabila Presiden Soekarno menyampaikan kesannya atas kota Yogyakarta bahwa “Yogyakarta menjadi termashur oleh karena jiwa kemerdekaannya, hiduplah terus jiwa kemerdekaan itu”.

Peristiwa bersejarah tersebut berjalan seiring dengan berputarnya roda sang waktu yang selalu bergerak dalam kesatuan dimensi waktu. Saat ini, dan yang akan datang. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya merupakan akumulasi dari gejolak jiwa jaman yang menggerakkan sejarah itu sendiri. Sejarah senantiasa berjalan bersama dinamikanya yang kemudian menjadi ciri khusus dari pembabakan.

Masa lalu, sekarang dan yang akan datang merupakan kesatuan rantai waktu yang tak dapat dipisahkan. Di dalamnya terhadap hubungan sebab akitab yang erat, dimana antara satu dengan yang lain saling kait-mengkait. Masa sekarang merupakan produk masa lalu dan masa sekarang menjadi lampau bagi masa yang akan datang. Demikian seterusnya.

Kejadian di masa lampau akan berlalu begitu saja tanpa makna apabila tidak dapat dipentaskan kembali dalam bentuk apresiasi dan rekonstruksi. Dengan begitu masa yang telah lalu menjadi guru yang terbaik bagi masa sesudahnya. Pemaknaan kembali masa lampau melalui rekonstruksi sejarah ini merupakan hal yang sangat penting dalam proses pembentukan jati diri bangsa.

Patung Jenderal Soedirman

Patung Jenderal Soedirman

Adalah sebuah kesalahan besar apabila sejarah adalah omong kosong dan hal yang penuh dengan kesia-siaan. Pendapat itu dipandang benar sejauh memandang bahwa masa lalu adalah potret usang tanpa makna dan tak mampu bercerita apa-apa.

Sejarah berjalan dengan berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya tanpa mengesampingkan nilai positif dan negatifnya, merupakan sebuah pengalaman kolektif yang sangat besar maknanya. Demikian pula yang terjadi dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Seluruh peristiwa yang terjadi di dalamnya merupakan pengalaman kolektif bangsa Indonesia sebagai bagian dari Sejarah Nasional Bangsa Indonesia. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di daerah merupakan bagian dari kesatuan peristiwa nasional.

Lahirnya Kesultanan Yogyakarta, bersama dengan proses yang mendahuluinya, memulai sejarah Yogyakarta. Berdirinya kerajaan Mataram oleh Penembahan Senopati di Kota Gede, merupakan cikal bakal lahirnya Kasultanan Yogyakarta. sultan Agung Harnyakrakusuma, nenek moyang raja-raja Kasultanan Yogyakarta telah memulai menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah perjuangan dengan mengadakan serangan terhadap Belanda di Batavia. Meski serangan tersebut gagal namun telah mampu memudarkan mitos bahwa pribumi tidak harus menuruti kehendak bangsa Barat. Terbukti perlawanan terhadap Belanda terus berlangsung bahkan makin gencar.

Sejarah dengan perkembangan yang terjadi menunjukkan, bahwa perjuangan dengan otak akan lebih menjanjikan. Disamping itu resiko yang mungkin terjadi relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan perjuangan dengan otot. Maka dimulailah perjuangan melalui organisasi modern yang dimulai dengan berdirinya Organisasi Budi Utomo. Meski demikian, kongresnya yang pertama berlangsung di Yogyakarta.

Para Pejuang Kemerdekaan dalam Lukisan

Para Pejuang Kemerdekaan dalam Lukisan

Makin matangnya janin nasionalisme yang dibidani oleh Budi Utomo, makin hari makin tumbuh berkembang dengan pesatnya. Hingga terkristal dalam kongres Pemuda yang berlangsung di Jakarta tahun 1928. Sebagai tindak lanjut dari hasil kongres tersebut maka Jong Java mengadakan kongresnya di Yogyakarta di tahun yang sama, demikian juga kaum perempuan Indonesia juga segera mengadakan kongresnya yang pertama di Yogyakarta sebagai perwujudan proses perkembangan nasionalisme Indonesia. Demikianlah, sejarah telah membuktikan bahwa Yogyakarta banyak menyimpan masa silam yang besar artinya dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Ketika masa awal kemerdekaan Indonesai tahun 1945, Yogyakarta tampil ke permukaan mendukung berdirinya negara baru tersebut. Di bawah naungan kharisma Sultan Hamengku Buwono IX, Yogyakarta sanggup berdiri di belakang RI. Hal itu dibuktikan ketika ibukota RI dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Ketika itu pula Yogyakarta tampil sebagai penjaga gawang terakhir Republik Indonesia. Peristiwa kepahlawanan banyak terjadi di Kota Perjuangan ini.

Benteng Vredeburg: Museum Perjuangan Indonesia

Masa lalu dengan berbagai dinamikanya merupakan peristiwa bersejarah yang besar artinya bagi generasi mendatang. Dengan demikian sungguh bukan hal yang berlebihan apabila saya mengupas Benteng Vredeburg pada tulisan kali ini. Dengan tujuan agar kita semua bisa mengenal lebih dekat peristiwa-peristiwa bersejarah yang terangkung di tempat ini. Setidaknya Soekarno pernah bilang dalam sebuah pidatonya agar tidak meninggalkan sejarah.

Salah Satu Teras Benteng Vredeburg

Salah Satu Teras Benteng Vredeburg

Benteng Vredeburg sendiri, di Yogyakarta berdiri sebagai tempat pengumpulan, menyimpan, merawat, meneliti dan mengkomunikasikan benda-benda bukti material perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang terkait dengan sejarah perjuangan bangsa, yang dikenal lengkap dengan nama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Museum ini sangat strategis karena berada di pusat kota Yogyakarta. Oleh sebab letak yang strategis ini maka kegiatan-kegiatan atau even-even besar, maupun kegiatan rutin tahunan berskala baik nasional maupun regional banyak diselenggarakan di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Hal ini sebagai salah satu wujud pelayanan Museum Vredeburg terhadap masyarakat di lingkungan Yogykarta secara khusus.

Sesuai dengan visi Benteng Vredeburg, yaitu mewujudkan peran museum sebagai sarana edukasi, pusat informasi, pengembangan ilmu dan pariwisata; meningkatkan pemahaman sejarah masyarakat untuk mewujudkan ketahanan nasional dalam rangka memperkokoh keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia; mewujudkan pelestarian benda-benda peninggalan sejarah dan purbakala untuk memperkokoh jati diri bangsa; mewujudkan penyajian tata pameran benda-benda peninggalan sejarah dengan nuansa edutainment; serta menyediakan sarana dan prasarana pengembangan pembelajaran ilmu sejarah dan budaya pada umumnya.

Pada Mulanya

Di dalam Museum Benteng Vredeburg

Di dalam Museum Benteng Vredeburg

Sebelum dibangun benteng pada lokasinya yang sekarang, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, atas permintaan Belanda, Sultan HB I telah membangun sebuah benteng yang sangat sederhana berbentuk bujur sangkar. Di keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut seleka. Benteng tersebut keadaannya sangat sederhana. Tembok dari tanah yang diperkuat dengan tiang-tiang penyangga dari kayu pohon kelapa. Bangunan di dalamnya terdiri atas bambu dan kayu dengan atap ilalang.

Pada tahun-tahun selanjutnya, benteng diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen dengan tujuan agar lebih menjamin keamanannya. Setelah selesai bangunan benteng yang telah disempurnakan tersebut diberi nama Rustenburg yang berarti “Benteng Peristirahatan”.

Berkat terjadi gempa dahsyat tahun 1877 di Yogyakarta, Benteng Rustenburg serta bangunan lain banyak runtuh. Akhirnya bangunan tersebut dibangun kembali. Benteng Rustenburg dibenahi di beberapa bagian bangunan yang rusak. Setelah selesai bangunan benteng yang semula bernama Rustenburg diganti menjadi Vredeburg yang berarti “Benteng Perdamaian”. Nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dengan pihak Belanda yang tidak saling menyerang waktu itu.

Sungguh, sejarah di masa lalu mempunyai makna yang sangat bernilai bagi kita yang bisa memahaminya dengan baik. Dengan demikian saya mengajak kepada mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus atau yang akrab dipanggil Beswan Djarum, dimanapun Anda berada dan kapanpun kita hidup, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Terkahir, semoga tulisan ini bermanfaat bagi masyarakat luas. Hidup Indonesia Merdeka! Salam perjuangan! [Ke Artikel Sebelumnya klik di sini]

best-comment2

, , , ,

24 Comments