Protected: Aku tak kan bertahan, bila tak teryakinkan
Filed Under : Uncategorized by sucilestari
Jun.9,2013
Filed Under : Uncategorized by sucilestari
Jun.9,2013

” Jadi semalam itu kamu kenapa ? ” Tanya suara di seberang sana.
” He ? Semalam ? yang mana ? ” Aku balik bertanya.
” Itu pesan yang kamu kirimkan ” Jawabnya.
Semisal pintu kemana saja itu benar-benar ada, malam ini aku boleh ya nebeng tidur di kamarmu. Aku susah tidur malam ini. Aku pinjam bantal dan selimut mu ya. Gulingnya aku bawa sendiri. Tenang, aku gak mau ngajak mesum kok. Besok pagi, sebelum orang-orang rumahmu bangun, aku pasti sudah pulang.
Oh damn. Aku baru ingat, semalam aku mengirimkan pesan itu padanya.
” Mengerikan pesanmu, hahaha ” Tawanya terdengar renyah.
” Begitu ya ? Kamu tahu, waktu aku masih kecil dulu, kalau aku gak bisa tidur, biasanya aku menggelandang ke kamar saudara ku atau orangtua ku untuk menebeng tidur, makanya begitu kemarin aku insomnia, mungkin tanpa sadar aku mengirimimu pesan itu. Hahaha. ” Ceritaku sambil menekuri pemandangan dibalik jendela.
” Memangnya gak boleh ya ? ” tanyaku setengah bercanda.
” Janganlah, berbahaya …. ” Dia masih dengan tawanya.
” Tapi itu kan cuma semisal saja. Eh, memangnya kalau benar ada pintu kemana saja dan aku bisa ke tempatmu berada dalam sekejap seperti pesan yang ku kirim semalam, tempatmu cukup gak kalau aku nebeng tidurnya di tempat tidur ? Hahahaha ” Cuma Tuhan yang tahu kenapa aku sulit sekali berhenti menggodanya.
” Gak cukup. Apalagi kamu gendut. Hahaha ”
” Dih, sialan ! Kalau begitu aku nebeng di hatimu saja ya, semoga cukup lapang untuk menampung banyak orang didalamnya. Boleh ya ? ” Kalimat itu terlantur begitu saja.
Dia tak menjawab apa-apa. Barangkali aku pun tak mau mendengar jawabannya.
Ah, bahkan Pintu Kemana Saja pun tak bisa membawaku ke hatimu.

Pertama berjumpa denganmu, kamu sedang dengan wanitamu,
” Tadi pas aku ke salon, ada om2 gitu nungguin istrinya hair spa, so sweet banget ya … ” Seru Wanitamu.
Dan kamu duduk disana, berkata dengan tenang dan tanpa dibuat-buat ” Nanti kalau udah nikah aku tunggu kamu di rumah aja, sambil masak. Biar pas kamu pulang, kamu tinggal makan dan rambutmu gak usah kena asap makanan ”
Wanitamu tampak tersipu. Dan seketika itu kamu yang biasa saja telah menarik perhatianku.
Lalu baru-baru ini ku dengar hubunganmu dengan wanitamu itu telah berakhir. Apa yang terjadi ? Kamu sudah sangat serasi dengannya. Ku dengar dari seorang kawan, wanitamu ingin segera berlabuh di pelaminan, sementara kamu masih haus akan petualangan. Masih ingin bebas. Belum mau terikat. Ah kamu, tidak kah suatu hari nanti kamu akan menyesal telah melepas gadis yang manis itu ? Tapi aku bisa mengerti perasaanmu. Aku pun begitu. Masih haus akan petualangan. Berada di tempat-tempat baru, berkenalan dengan orang-orang yang baru pula. Ah, aku ini benar-benar orang yang beruntung. Karena dikelilingi orang-orang yang membuatku merasa bersyukur telah dipertemukan dengan mereka. Dan kamulah salah satunya. Sayang sekali saat ini, takdir hidup kita belum berpotongan.
Suatu hari nanti, saat waktu kita beririsan, dan jalan yang panjang ini sama-sama mempertemukan kita di sebuah pemberhentian, ceritakanlah kembali padaku tentang mimpi-mimpi itu, tentang tempat-tempat yang jauh dan asing, tentang keponakanmu yang masih bayi itu, tentang adikmu yang memutuskan untuk menikah muda, tentang ibu dan ayah mu yang biarpun usianya sudah senja tapi tak pernah kehilangan keceriaannya, dan banyak hal lainnya.
Karena, saat mendengarmu berbicara dengan mata yang berbinar-binar itu, aku bisa apa selain jatuh hati ?
Filed Under : Personal by sucilestari

( Masih ingat Mel yang saya ceritakan pada postingan ini ? Well, they finally marriaged. Here I told you how was the story. Sekaligus menepati janji pada Mel yang dipelaminan berkata pada saya ‘ cerita gue di blog lu, belom ada endingnya kan ? Now you can finish the story ‘ . Ijin masang poto lu sama Andre ya Mel,hehehe )
“ Hati-hati Mel ….Jalannya sambil nendang Mel, biar gaunnya gak keinjek, ntar lo jatuh lagi… “ Pesan Neina, saat Mel, si mempelai wanita, hendak meninggalkan kamar untuk memasuki arena resepsi .
“ Iya.. Iya… kalian cepet nyusul yaa “ Jawab Mel yang nampak masih sukar berjalan dengan gaun pengantinnya, walaupun adiknya yang menjadi pengiring pengantin telah memegangi ekor gaunnya yang panjang. Saya memandang Mel dengan gaun itu, untuk pernikahan antara dua insan yang beda suku, gaun putih ala western memang sangat cocok, netral, tidak mewakili suatu identitas tertentu.
Begitu Mel keluar, kami teman-teman wanitanya yang sedari tadi ribut merecoki Mel yang sedang dirias, langsung bergegas mematut diri. Eyeliner, mascara, lipstick, bedak, blush on, you named it.
“ Kamu mau aku pakaikan eyeliner gak ? “ Tanya Naina.
Saya menggeleng, dan memilih mengulaskan lipgloss di bibir. Tak lama terdengar lagu A thousand Years dari Christina Perry diluar.
“ Waaahhh, itu lagu pengiring mempelai masuk ke pelaminan “ Seru Karin. Kami langsung menuju balkon kamar. Ya, resepsi memang di gelar di Taman sebuah Wisma di Salatiga, dan kebetulan sekali arena resepsi dapat terlihat dari balkon kamar. Dari kejauhan kami memandang Mel dan Andre memasuki pelaminan diiringi dengan lagu soundtrack breaking down itu. Biarpun lagu itu pernah sangat booming, tapi baru kali itu saya meresapi liriknya.
“ How to be brave?
How can I love when I’m afraid to fall ?
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow “
Mel suka sekali dengan lagu ini. Sekarang saya tahu mengapa, lagu ini memang sangat mewakili hubungan Mel dan Andre, yang kini telah menjadi suaminya.
***
Saya ingat beberapa bulan yang lalu di sebuah Taxi menuju kawasan Senayan, Mel mengangkat telepon dari Andre. Sambil terpekur menatap lalu lintas Jakarta yang padat, saya sempat mendengar perbincangan mereka.
“ Yang yang, aku kan cerita ke temenku kalau kita udah pacaran 9 tahun. Terus dia bengong gitu Yang, dia nanya gini ‘ lo pacaran 9 tahun ngapain aja ? Gak bosen apa ‘ terus aku bingung jawab apa, soalnya gak kerasa udah 9 tahun aja ya. Kita 9 tahun ini ngapain aja ya Yang, hahaha “ Mel bercerita dengan gaya ceriwisnya yang khas.
“ Ya 9 tahun itu nungguin kamu lah. Nungguin restu dari orang tua kamu “ Jawab suara dari seberang sana.
“ Oooh, jadi kamu nyalahin aku , nyalahin orang tua aku ? “ Mel menanggapi dengan sebal, dan saya diam-diam tertawa mendengar percakapan mereka.
“ Nyebelin banget ya dia jawab kayak gitu “ Keluh Mel, ketika Taxi berhenti di sebuah mall di kawasan Senayan.
“ Lah emang bener kan ? 9 tahun itu kan nungguin restu dari ortu lo “ Ujar saya.
“ Ah elo juga sama aja jawabannya kayak Andre “ Mel langsung cemberut, merasa disalahkan tanpa ada yang membela.
Sebenarnya memang bukan salah Mel. Bukan salah siapa-siapa. Mel yang gadis batak menjalin kasih dengan pria jawa, dan orang tuanya Mel tidak merestui. Itu saja masalahnya. Sederhana ? Tidak sama sekali.
Saya pertama kali mengenal Mel, oktober 2011. Kami sama-sama new joiner, bedanya saya junior staff sedangkan dia sudah senior staff. Mungkin karena sama-sama new joiner, kami jadi sering curcol di sela-sela pekerjaan.
“ Kok lo suka banget warna ungu sih Mel ? “ Tanya saya ketika itu, setelah memperhatikan bahwa semua barang-barangnya dari mulai tas, handphone, dompet, dan kalung, semuanya berwarna ungu.
“ Iyaaa, gue suka banget warna ungu, gak tahu kenapa. Pacar gue kan baru beli rumah, dia sampai ngecat rumahnya pake warna ungu dan putih, terus dia beli kulkas warna ungu, sofa warna ungu, pokoknya rumahnya bernada ungu dan putih “ Jawabnya bersemangat sambil menunjukan foto-foto rumah baru di handphone, dan memang rumah tersebut eksterior dan interiornya berwarna Ungu dan putih.
“ Wah cantiknya, rumah udah ada, jadi kapan nikahnya Mel ? “ Tanya saya, dan raut mukanya langsung berubah ketika saya menanyakan hal itu. Kemudian dia bercerita tentanghubungannya bersama Andre yang tidak direstui oleh orangtuanya, karena perbedaan suku.
“ Biarpun bukan batak, tapi kan bisa dimargakan Mel ? “ komentar saya begitu tahu bahwa alasan hubungan tuna restu tersebut adalah karena Andre bukan orang batak.
“ Bukan itu masalahnya Ci… gak semudah memargakan terus case closed ‘”
“ Terus apa ? “ Saya semakin heran.
“ Bokap gue tuh gak mau kalau misalnya ntar gue punya anak, anak gue tuh darahnya gak asli batak “ Jawab Mel, dan disitulah saya tahu tahu bahwa perkaranya tidak mudah. Kita bisa berupaya untuk lebih kaya, lebih pintar, ataupun lebih cantik. Tapi kalau soal darah, tidak mungkin bisa diubah.
“ Gue gak enak sama keluarganya cowok gue. Ortunya kasihan ngelihat hubungan kita, dulu begitu tahu alasannya karena Andre bukan orang batak, mereka menawarkan agar Andre dimargakan. Teman orangtuanya Andre tuh ada orang batak gitu, keluarganya Andre dah nanya-nanya soal perbatakan sama tetangganya itu. Tapi bokap gue menolak, bokap gue pengen gue nikah sama orang batak asli. Upacara pemberian marga gak ada artinya buat bokap gue. Terus karena itu orangtuanya Andre yang asalnya merestui, malah menuduh gue mempermainkan Andre “ Lanjut Mel panjang lebar, dan saya makin mengernyitkan dahi.
“ Heh ? Jadi orang tuanya Andre balik gak merestui juga sekarang ? “ Tanya saya.
“ Sekarang sih udah gak apa-apa, ngelihat kita sungguh-sungguh mereka malah mendukung banget supaya gue sama Andre memperjuangkan hubungan kita “
Saya langsung merenung, kalau hal macam itu terjadi sama saya, barangkali kalau gak putus saya sudah kawin lari. Tapi Mel dan Andre tidak secupu itu. Beberapa lama kemudian, saya mengetahui bahwa Mel sedang melanjutkan studinya di salah satu universitas swasta terkemuka di Jakarta, tanpa sepengetahuan orang tuanya. Orangtua Mel, menyangka kalau Mel selama ini pulang larut malam adalah karena lembur, yeah pekerjaan kami memang identik dengan lembur.
“ Gue pengen ngasih kejutan sama ortu gue, jadi tiba-tiba ngasih undangan wisuda gitu. Lagian karena gue yang bayar sendiri, gue juga pengen ngundang Andre ke wisuda gue. Waktu wisuda S1, kan gue gak enak ngundang Andre sebagai pendamping wisuda karena kuliah yang bayarin bokap gue, dan bokap gue kan dari awal gak setuju gue pacaran sama Andre. Moga aja ya ciii, dengan ini bokap gue hatinya mulai tersentuh dan bisa sedikit demi sdikit ngerestuin hubungan gue sama Andre“ Ujar Mel, yang hanya bisa saya amini. Walaupun pada hari H-nya, Andre tidak bisa menghadiri wisuda Mel, karena sedang bertugas di penambangan minyak lepas pantai nun jauh di laut jawa.
Pernah suatu pagi, setelah seminggu tak berjumpa karena sama-sama cuti, saya ngobrol dengan Mel. Dia baru pulang dari Bali untuk menghadiri pernikahan sepupunya, seorang gadis Batak yang disunting oleh pria berkewarganegaraan Australia.
“ Bokap lu dateng gak ke nikahan sepupu lo ? “ tanya saya begitu mendengar cerita bahwa Mel ke pernikahan sepupunya bersama Andre, pacarnya. Saya penasaran bagaimana interaksi antara Papa Mel dan Andre di pernikahan tersebut.
“ Bokap gue gak dateng Ci, dia bilang kalau dia datang ke nikahan sepupu gue, berarti secara tidak langsung dia telah merestui hubungan gue sama Andre. Sepupu gue kan kasusnya mirip-mirip gue, cowoknya bukan orang batak, bule malahan “ Jawab Mel, jawaban yang sudah saya duga sebelumnya. Lalu saya menanyakan rencana dia dan Andre selanjutnya, 9 tahun penantian untuk mendapatkan restu bukanlah waktu yang singkat.Sekarang usia Mel 28 tahun, dan Andre sekitar 30-an, sampai kapan mau menunggu restu ?
“ Iyaaa, gue sama pacar gue mau berusaha semaksimal mungkin sampai tahun ke 10. Kalau sampai tahun ke 10 bokap gue gak ngerestuin juga, ya terpaksa kawin lari… “ jawabnya.
“ Eh… Eh Ci, lihat deh ini, tante gue sms ini ke bokap gue, semoga bokap gue tersentuh yaa “ Lanjut Mel sambil menyodorkan BBnya yang berwarna ungu. Saya membaca BBM dari tantenya yang dia tunjukkan, isinya kurang lebih seperti ini ;
Mel, barusan nantulang kirim sms ini ke Papa mu, semoga membantu : “ Amang Bao, sebelumnya saya minta maaf, Amang Bao jangan marah ya, saya hanya ingin mengutarakan isi hati saya. Seperti yang Amang Bao tahu, selama ini kami sekeluarga tinggal di Bali, kalau kami ke Jakarta, Andre selalu membantu kami dengan ringan tangan.Selama ini saya memperhatikan Andre, dia anak yang baik dan cepat ,menyesuaikan diri dengan keluarga kita.Saya melihat ketulusan di matanya, tak kami temukan kepura-puraan dimatanya. Selama ini kami selalu berdoa agar Tuhan Yesus memisahkan hubungan Mel dan Andre, tapi Tuhan Yesus malah semakin merekatkan jalinan kasih diantara keduanya. Saya melihat Andre sangat memahami sifat Mel yang manja, dan memperlakukan Mel dengan Baik. Barangkali inilah jodoh yang diberikan Tuhan Yesus untuk Mel. Kemarin waktu pemberkatan pernikahan Bella di Gereja katolik, Mel lah yang menjadi pengiring pengantin, dan dia menangis sangat lama. Saya,Lae mu, dan orang-orang yang tahu mengenai hubungan Mel dan Andre sangat terharu melihatnya, karena kami memahami duka yang ditanggung Mel selama ini. Maaf apabila saya lancang mengatakan hal ini, saya dan Lae mu hanya ingin melihat Mel bahagia. Dan saya tidak ingin Amang Bao dan Eda menyesal nantinya “
Saya terenyuh membacanya. Seperti Tantenya, saya pun memahami betul duka yang dirasakan Mel selama ini. Walaupun dari luar dia hampir selalu terlihat riang.
“ Lo sabar aja, bentar lagi paling Bokap lo merestui hubungan lo sama Andre. Mana ada ayah di dunia ini yang pengen anaknya jadi perawan tua “ Hibur saya pada suatu jam makan siang setelah Mel curhat bahwa setelah mulai mendapat dukungan dari Paman dan Bibinya,Mel malah diusir dari rumah oleh Ayahnya.
“ Lo gak ngerti sih bokap gue tuh kayaknya lebih baik gue jadi perawan tua dibanding harus bersuamikan orang yang bukan batak “ Mel sama sekali tidak merasa terhibur.
“ Lah, terus kalau tahu ujung-ujungnya gak bakal direstuin, ngapain juga lo nunggu sampai 10 tahun ? Toh tetep gak bakal direstui juga kan, nikah aja bulan depan “ Ujar saya terheran-heran.
“ Gue pengen punya waktu untuk berbakti sama orang tua gue. Kalau misalnya gue nanti nikah sama Andre, gue pasti gak bakal diijinin menginjak rumah orang tua gue lagi. Jadi ya biarlah waktu 10 tahun ini gue gunakan buat berbakti sama keluarga gue. Jadi kalaupun nantinya, gue harus angkat kaki dari rumah dan gak lagi dianggap sebagai anak, gue gak akan terlalu menyesal karena gue telah berusaha semaksimal mungkin buat menunggu restu dari orang tua gue “
Saya hanya tertegun mendengar jawabannya Mel. Mereka berdua bukannya tak pernah kalah dan menyerah, menurut cerita Mel, pada tahun ke 6 mereka berpisah karena melihat bahwa hubungan mereka sepertinya tidak akan memiliki masa depan. Namun selama putus, yang hanya sekitar beberapa bulan itu, Mel dan Andre malah jatuh sakit. Mungkin inilah yang dinamakan belahan jiwa tidak dapat dipisahkan. Menyadari bahwa mereka tidak bisa bahagia tanpa satu sama lain, akhirnya tali kasih itu direjut kembali dengan tekad yang lebih kuat.
Saya mengenal banyak pasangan yang tidak direstui orangtua mereka. Tapi Mel dan Andre adalah tertangguh yang saya tahu. Dari mereka saya belajar tentang memperjuangkan cinta, tanpa tidak mengurangi bakti kepada orang tua. Bagi sebagain orang, alasan penolakan Papanya Mel terhadap Andre adalah sebuah alasan yang kuno.Tapi selama ini, saya tidak pernah mendengar Mel mengeluh tentang prinsip Papanya yang boleh dibilang kolot itu.
Mel pernah berkata kepada saya “ Ya buat orang mungkin alesan bokap gue itu kuno. Tapi gue percaya bahwa masing-masingorang memiliki nilai yang mereka junjung tinggi, entah itu agama atau adat dan dalam kasus bokap gue, dia memang sangat menjungjung tinggi adat batak. Gue sebagai anak, akan berusaha sebisa mungkin menghormati bokap gue “
Kemudian Mel resign dari kantor, dan beberapa bulan saya tidak mendengar kelanjutan hubungan Mel dan Andre. Pada Januari lalu, kabar baik itu datang melalui pesan singkat di BBM.
Mel : Ci, lo April sibuk gak ?
Saya : April ya, kayaknya sih nggak. Kenapa emang ?
Mel : Kalau sempat datang yak ke nikahan gue akhir April nanti. Tapi jauh di Salatiga. Nanti gue sediain tempat nginapnya. Gue pengen lo dateng karena lo salah satu teman yang dekat sama gue. Nanti kalau undangannya udah jadi, gue kirim ke kantor ya…
Saya : Wahhhh lo jadi nikah Mel, akhirnya, gue pasti datang. Kenapa jauh-jauh di Salatiga Mel ?
Mel : Soalnya kan gue masih gak direstuin sama orang tua gue. Jadi seenggaknya, gue bisa menghormati keluarga Andre dengan menggelar pernikahan dan resepsi di Salatiga,kampungnya Andre.
Saya : Orang tua lo udah tau belom lo mau nikah ntar April ?
Mel : Gue belom bilang…gue takut … nanti aja bilangnya kalau udah deket-deket..
Saya : Waduh …. Jadi ini beneran kawin lari nih ?
Mel : Hmmm … Kayaknya…
***
Akhirnya April lalu undangan pernikahan Mel tiba juga di Meja saya di kantor. Warnanya dapat dengan mudah diterka, ungu, ada motif batik dan ulos di sampulnya. Manis sekali.
“ Dalam kasih dan rencanaNya, Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktuNya “
Demikian tertulis di pembuka undangan. Kalimat pembuka macam itu barangkali sudah banyak, tapi baru kali ini terasa sangat bermakna. Beberapa hari sebelum undangan itu tiba di kantor, Mel mengabarkan bahwa orang tuanya akhirnya (terpaksa) merestui hubungan mereka.
“ Seriusan lo Mel ??? Kok bisa ??? Congrats, yeayyy “ Saya langsung girang mendengar kabar tersebut.
“ Iya, kemaren di arisan keluarga akhirnya Bokap gue disidang sama keluarga. Paman2 dan Bibi2 yang selama ini diacam oleh bokap gue kalau sampai berani ngedukung hubungan gue sama Andre, akhirnya malah bersekutu melawan bokap gue. Puji Tuhan banget kan Ci ? Mereka bilang ‘ Silakan kalau Amang (ayahnya Mel ) tetap tidak merestui hubungan Mel dan Andre, tapi kami akan tetap membawa Mamanya Mel ke Salatiga untu menyaksikan pernikahan Mel. Karena dia adalah perempuan yang mengandung, melahirkan dan membesarkan Mel ‘ Terus keluarga gue juga mengundang keluarganya Andre ke rumah untuk lamaran minggu depan, pas banget sama hari ulang tahun gue. Gue gak nyangka banget. Tuhan baik banget sama gue. Selama ini gue gak pernah sama sekali kepikiran kalau gue bisa lamaran kayak pasangan pada umumnya “ Cerita Mel panjang lebar dengan nada yang sangat riang.
“ Ya ampuuun, alhamdulilah banget, gak nyangka banget “ Saya pun turut bergembira “ Kalau gitu berarti entar lo gak jadi kawin lari kan ya. Bokap lo datang dong ke nikahan lo ? “
“ Kayaknya nggak. Dan menurut gue juga sebaiknya nggak. “ jawab Mel.
“ Loh ? Kenapa ? “ Tanya saya heran.
“ Jangan lah Ci, Selama ini kan bokap gue keras banget menentang hubungan gue. Orang-orang yang mendukung hubungan gue sama Andre diancam, Om2 gue, Tante2 gue, Romo gue di gereja. Nanti apa orang bilang kalau Bokap gue datang ke Salatiga. Bisa ditertawakan dia seumur hidupnya “ Jawaban Mel tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh saya.
“ Gue yang penting Bokap dan Nyokap gue udah merestui. Mereka gak datang ke nikahan gue juga gak apa-apa, gue bisa mengerti “ Lanjut Melan penuh pengertian. Ah, anak yang begitu pengertian. Tuhan pasti punya rencanaNya sendiri, membuatnya menunggu begitu lama untuk sebuah restu.
***
Saya sampai di Salatiga tepat saat pemberkatan dimulai. Saya lihat di kursi depan, baik kedua orang tua Mel dan Andre hadir. Entah pertimbangannya apa, tapi syukurlah. Pernikahan Mel ini sangat terasa kekeluargaannya. Pendeta didatangkan dari Jakarta. Begitu pula dengan paduan suara, penata rias, gaun pengantin dan pernak-perniknya juga. Dan semua itu tanpa Wedding Organizer, Mel dan Andre hanya dibantu teman-teman gereja dan kerabat di Salatiga untuk menyiapkan pernikahan yang pada rencananya adalah semacam kawin lari ini. Teman-teman yang manis bukan ? Tamu undangan pun hanya teman dan kerabat dekat saja.
Ada yang eneh waktu saya bersalaman dengan orang tua Mel di resepsi. Mereka nampak seperti orang tua pada umumnya. Orang tua yang berbahagia menyaksikan putrinya melepas masa lajang. Dari senyuman mereka, raut wajah mereka, siapa yang bisa menyangka kalau sebelumnya mereka pernah sekeras itu menentang hubungan Mel dan Andre ?
“ Papanya Mel itu anak laki-laki tertua di keluarga, orang tua kamu sudah tidak ada. Jadi dia merasa bertanggung jawab menjaga adat dan tradisi keluarga. Ditambah lagi Mel adalah anak sulung, selain diharapkan menjadi contoh bagi adik-adiknya, dia juga diharapkan menjadi contoh bagi keluarganya yang lain untuk tetap mempertahankan adat dengan menikah dengan sesama Batak. Makanya Papanya Mel ini keras sama hubungan Mel dan Andre, karena kalau Mel dan Andre dibiarkan ‘lewat’ begitu saja, maka orang lain di keluarganya bisa saja mencontoh. Tapi yaaa.. mau bagaimana lagi, mungkin memang sudah jalannya begini …. “ Cerita Tantenya Mel di Stasiun Tawang, ketika kami menunggu kereta yang akan membawa kami pulang ke Jakarta.
Yeah, setiap orang menghadapi persoalannya sendiri. Gamang, mengalah pada cinta atau mesti menjunjung adat. Tapi dalam kasus Mel, akhirnya cinta lah yang menemukan jalannya. Dan persis seperti pada kalimat pembuka undangan, dalam kasih dan rencanaNya Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktuNya.

Bagian sebelumnya bisa dibaca disini
Di tengah hiruk pikuk anak muda yang merasa dirinya adalah agen perubahan ataupun yang sibuk menikmati masa muda seolah tak ada lagi hari esok, Ben adalah sosok yang biasa. Yang tak pusing untuk menjadi luar biasa karena sudah merasa cukup keren tanpa perlu embel-embel. Yang tak cuma mengeluh,apalagi tunduk oleh arus yang acapkali di luar logika. Yang asik dengan apa yang dia tekuni, tanpa ribut berkoar tentang perubahan. Yang barangkali tidak sadar, kalau ternyata dirinya sudah menjalani hidup yang luar biasa. Kalian boleh bilang aku berpendapat demikian karena dia pacarku, tapi nanti kalian bisa menilainya sendiri.
Seperti pagi ini, aku dibuat jatuh hati oleh kolom yang ditulis Ben di sebuah majalah mingguan yang terbit hari ini yang bertepatan dengan hari perempuan internasional. Beberapa waktu lalu, Ben memang pernah bercerita kalau dia diundang menjadi kontributor di sebuah majalah untuk edisi khusus hari perempuan. Orang dari majalah itu ingin sudut pandang yang segar dari seorang pria muda tentang hubungan pria dan wanita.
Menurutku sudut pandang yang diambil Ben kali ini unik, dia mengambil contoh kecil, hubungan pria,pasangannya,dan ibunya. Karena perempuan terdekat yang dimiliki oleh seorang pria pasti Ibu dan pasangannya bukan ? Dari hal kecil itu kemudian dia elaborasi ke hal yang lebih besar tentang hubungan pria-wanita dalam konstruksi masyarakat Indonesia yang telah banyak bergeser.
” Edisi kali ini terbit bertepatan dengan hari perempuan internasional.Ketika pertama kali diminta menulis untuk edisi kali ini, yang saya ingat adalah menjelang lebaran dua tahun yang lalu, saya dan seorang teman wanita berada di sebuah kafe, menunggu adzan. Lalu iklan dari sebuah perusahaan rokok diputar,dalam iklan itu sepasang suami istri tergesa-gesa masuk ke dalam rumah, ‘ Jadi ikut gak sih ibu kamu ? ‘ Omel sang istri sambil menunjuk arloji di tangannya, sang suami lalu bergegas ke kamar Ibunya, dan dia mendadak terenyuh ketika melihat sang ibunda sedang mengenakan pakaiannya denga terambat perlahan, karena tubuhnya yang sudah begitu tua dan ringkih.
Sebuah iklan yang sederhana namun menyentuh,terutama pada bagian ‘ Ibu kamu ‘, dalam budaya Indonesia, pernikahan tidak hanya penyatuan dua insan tapi juga dua keluarga besar. Keluargamu, keluargaku juga, begitulah filosofinya. Jadi pasti ada sesuatu yang keliru ketika sang istri menyebut mertuanya dengan ‘ Ibu kamu ‘.
” Yang aku perhatikan dari sekitarku, kenapa ya wanita itu sepertinya tidak terlalu suka kalau suaminya lebih menomor satukan ibunya dibanding istrinya ” Tanya saya pada teman saya.
Teman wanita saya termenung sejenak, kemudian menjawab ” Hmmm. Mungkin karena dalam konstruksi sosial masyarakat kita, bagi wanita pernikahan itu semacam penyerahan kedaulatan, begitu menjadi istri dari seorang pria, maka baktinya yang paling utama adalah kepada suaminya,bukan lagi kepada orang tuanya. Jadi wajar dong, kalau si wanita juga menuntut hal yang sama dari suaminya, untuk di nomor satukan Tentu saja itu dalam ranah normatifnya ya “
Waktu itu saya tertawa mendengar istilah ‘penyerahan kedaulatan’ yang dia gunakan. Kesannya seolah kami para pria ini setara dengan ‘kompeni’ pada masa penjajahan. Tapi mungkin perkataan teman wanita saya ini ada benarnya, barangkali tanpa perlu poligami pun, ternyata pria sudah diperebutkan kesetiaannya.
Saya yang dibesarkan dalam budaya jawa, sejak kecil sudah diajarkan bahwa belumlah anda menjadi pria jika belum memiliki wisma (rumah), garwa (pasangan), turangga (kendaraan), curiga (senjata) dan kukila (hobi). Mungkin saya perlu menambahkan, belumlah anda menjadi pria jika belum bisa menempatkan diri dalam perebutan pengaruh antar Ibu dan pasangan anda ……. “
” Kamu sudah lihat tulisanku ? Bagaimana menurutmu ” Tanya Ben ketika dia tiba di sebuah kafe tempat aku menunggunya.
” Agak feminim sih gayanya, tapi suka banget. What a good point of view “ Aku mencium pipinya.
” Itu hadiah ceritanya ? Cuma segitu doang buat ukuran ‘what a good point of view ‘ ? Hahaha. ” godanya.
” Apalah artinya aku yang sekedar teman wanita ini ? ” Sindirku.
” Hahahahaha. Haus pengakuan ya kamu ”
” Dih, gak gitu juga kali. Tapi kocak gitu baca tulisanmu, seolah-olah kamu benar-benar paham posisi pria yang terjepit antara istri dan ibu, padahal nikah aja belum. Hahaha ” aku meledeknya.
” Dih, siapa bilang perebutan pengaruh antara Ibu dan pasangan itu cuma dilema pria beristri, cowok lajang juga ngalamin tahu. ” Jawabnya.
” Oh ya ? Kamu juga ? ” Aku menatap penuh rasa ingin tahu.
” Terutama sejak pacaran sama kamu. Mama kan gak terlalu suka aku pacaran sama kamu. Yah contohnya kalau Mama telpon dan gak sempat aku angkat, beliau suka bilang ‘ sekarang kamu lebih sibuk ngurusin pacarmu ya sampai gak sempat angkat telepon Mama ‘. Anak cowok mana yang tidak terintimidasi dikatai seperti itu oleh ibunya. ”
” Ya itu salah kamu sendiri, gak angkat teleponnya. Jadi aku yang dikambing hitamkan. Padahal aku kan gak pernah ngerepotin kamu, sampai ngangkat telepon Mama mu saja, kamu gak sempat ” Gerutuku sebal.
” Tuh kan,ditambah kamu ngomong begitu. Sama Mama aku disalahin, sama kamu aku juga disalahin. Gimana gak dilema coba, hahahaha ”
” Udah ah,jangan ngomongin topik itu. Kamu mau pesan apa ? ” Kataku sambil menyodorkan buku menu padanya.
” Aku suka banget kalau kamu nulis kolom gitu, bukan karena aku pacarmu ya. Tapi ya memang bagus ” Ujarku sambil menunggu pesanan makanan kami datang. Dalam usianya yang semuda itu, Ben memegang sebuah kolom tentang gaya hidup anak muda untuk edisi akhir pekan sebuah surat kabar di Jawa Barat.
” Kamu kenapa gak jadi jurnalis atau penulis aja sih ? Pasti bagus loh ” aku bertanya padanya.
” Nggak ah, itu kan cuma hobi aja. Kalau jadi profesi, aku malah takut terbebani, dan mengurangi kesenangannya. Kadang kita memang harus menjaga jarak dari sesuatu, agar sesuatu itu tidak kehilangan pesonanya, dan yeah tetap seperti itu. Untuk pekerjaan, aku lebih suka programming, seperti yang kupelajari di kuliah sekarang ” Tanggapnya.
***
Aku mengagumi Ben sejak pertemuan pertama kami di acara launching sebuah buku di Bandung. Aku bersama kawanku, dan dia bersama kawannya. Kami sama-sama duduk di sebuah meja bersofa nyaman di sudut kafe,sambil menunggu acara dimulai. Kami sama-sama kikuk, karena tidak semua diantara kami saling mengenal. Obrolang berlangsung kering dan basi.
Tiba-tiba Angga,kawannya Ben, nyeletuk ” Orang jaman sekarang tuh aneh deh, Ariel yang jelas-jelas salah malah dibela, sedangkan Aa gym yang poligami yang jelas-jelas legal dan halal malah dihujat dan dikucilkan ” Ujarnya sambil menutp sebuah majalah yang ada di meja, pasti di majalah itu ada tulisan tentang kasus Ariel Peterpan yang memang sedang heboh pada waktu itu.
” Ya beda dong. Orang suka Ariel sebagai musisi, dia diapresiasi karena karya-karyanya. Sedangkan Aa Gym sebagai ulama,dihormati karena keteladanannya. Jadi begitu dia berbuat sesuatu yang bagi umatnya tak pantas ya habislah dia ” komentarku.
” Jadi menurut lo, asal gak dilakuin sama ulama, maka masyarakat boleh mentolerir perbuatan asusila gitu ? ” Angga balik bertanya, nadanya terdengar sinis.
” Hati-hati kalo jelek-jelekin Ariel didepan Ranti, dia itu salah satu sahabat Peterpan, hahahahaha ” potong Nanta.
” Ya kalo gue pribadi sih, gak peduli kehidupan pribadinya Ariel kayak gimana ya. Gue cuma suka karya-karyanya aja. Kalo nanti begitu keluar dari penjara, peterpan formatnya jadi kayak boyband, dan namanya jadi peterplash, ya sebagai penikmat musik gue juga bakal ngehujatlah. ” Aku membela vokalis Peterpan itu.
” Justru karena anak muda sekarang cenderung udah jauh dari ulama dan pendidikan agama, makanya wajar dong kalau kita berharap keteladanan bisa didapatkan dari tokoh publik yang digandrungi remaja seperti musisi, aktris, dsb. Nah sekarang kan jadinya malah kebalik, demi membela idola, anak muda jadi malah balik mengkritik ajaran agama dan nilai-nilai sosial yang ada ” Angga tak mau kalah.
” Memangnya agama ataupun nilai-nilai sosial sama sekali gak boleh dikritik ya ? ” Ben yang sebelumnya diam kemudian angkat bicara.
” Ya kalo menurut gue sih untuk hal yang memang berkembang seiring dengan jaman boleh aja,tapi kalo yang di kitab suci udah jelas boleh kayak poligami gak usah dikritik seolah kita menolaknya mentah-mentah, itu kan menentang ketentuan Tuhan ” Jawab Angga.
” Oke, I see. Sekarang, lo miris gak kalo lihat ada TKI yang diperkosa sama majikannya di Arab sana ? Lo setuju perbudakan gak ? ” Ben balik bertanya kepada Angga.
” Ya nggaklah. Perbudakan itu kan melanggar HAM ”
” Tapi di Quran, islam gak pernah ngeharamin perbudakan loh. Islam cuma menganjurkan agar perlakuan kepada budak menjadi lebih humanis. Jadi kalo lo menentang perbudakan, lo menentang ketentuan Tuhan dong ? “Angga tak bisa berkata-kata mendengar pertanyaan Ben.
“” Dibanding teksnya, justru yang harus diresapi itu adalah semangatnya. Dengan cara itulah agama akan terus relevan dengan konteks kekinian. Misalnya terkait perbudakan,dulu budak diperlakukan dengan tidak manusiawi, ajaran islam muncul untuk membawa pencerahan dalam praktik perbudakan ini agar menjadi lebih humanis dengan menganjurkan umatnya untuk memerdekakan budak atau setidaknya memperlakukan budak dengan baik. Kemudian orang-orang setelah nabi, menghapuskan perbudakan karena yang mereka lihat adalah semangat ajaran islam untuk terus memperbaiki kehidupan manusia. Begitu pun dengan poligami,dulu waktu di arab pria boleh beristri berapa saja, di Cina dan Eropa Raja bisa memiliki ratusan, islam membatasinya hanya sampai 4 saja itu pun dengan syarat yang tidak sembarangan. Jadi kalau pada masanya ajaran islam adalah yang paling humanis. Nah kalau dewasa ini, saat masyarakat di hampir seluruh dunia menganggap bahwa praktik monogami adalah suatu hal yang ideal, kok umat islam mau-maunya aja mudur ke peradaban ratusan tahun lalu dengan menyetujui praktik poligami ? apalagi kalau itu dilakukan oleh ulama yang merupakan representasi umat. Jadi sebenarnya praktik poligami itu gak kontekstual” Jelas Ben panjang lebar, dan aku bisa apa selain terpesona ?
” Oke gue ngerti logika lo. Cuma menurut gue poligami dalam beberapa kasus masih kontekstual kok, misalnya kalau istrinya gak bisa memberi keturunan ? ” Angga masih belum menyerah.
” Ya lo coba empati aja Ga. Kalau misalnya lo menderita disfungsi ereksi atau apalah namanya sehingga gak bisa memberi keturunan sama istri lo, terus istri lo menikah sama cowok lain, alias poliandri, gimana perasaan lo ? ” Aku sudah semakin kesal saja dengan Angga ini.
” Ya beda dong Ran, kalau praktik poliandri itu gak bisa dibenarkan karena nantinya akan menimbulkan kebingungan tentang siapa ayah si anak … ”
” Kan kalo sekarang bisa tes DNA , lagian dalam kasus yang dibilang Ranti kan si suami pertama ceritanya mandul jadi kalo istrinya punya anak udah jelas dong itu anak bukan dari si suami pertama. ” Nanta yang biasanya menghindari perdebatan kali ini ikut berkomentar.
Perdebatan malam itu mungkin akan berlangsung lebih panas seandainya acara tidak segera dimulai.
Begitu acara selesai, aku menghampiri Ben. ” Makasih loh, tadi gue merasa dibela didepan Angga. Bukan cuma gue sih, tapi gue rasa semua perempuan merasa dibela ”
” Sama-sama. Menurutku memang tidak ada perempuan yang pantas dipoligami ” Jawabnya simpatik. ” Hmmm anyway, lo beneran shabat peterpan ? ” Tanyanya.
” Heh ? cuma fans biasa, bukan groupist atau fanatik. Kenapa memangnya ? “Aku balik bertanya.
” Uki, tau kan personel Peterpan, punya proyek band baru, launchingnya jumat depan. Kalo lo mau, kita bisa pergi bareng kesana, siapa tahu bisa mengobati rasa kangen lo sama Peterpan sementara Ariel di penjara, hehe ” Tawarnya.
” Hmmm. Jumat depan ya ? Kalau aku gak ada acara aku mau banget. Nanti aku kabarin yah, nomor telepon kamu berapa ? ” Dan malam itu diakhiri dengan saling tukar nomor telepon.
Sejak malam itu, aku jadi sering jalan bareng Ben, ke acara musik, ke acara premiere film,diskusi buku, yeah kebanyakan menemani dia mengumpulkan bahan tulisan untuk kolomnya. Awalnya kami pergi bareng teman-teman Ben atau teman-teman ku, namun lama kelamaan kami sudah cukup nyaman untuk pergi berdua saja. Waktu itu kami masih berteman biasa, pokoknya gak ada lah unyu-unyuan kayak pasangan PDKT jaman sekarang. Kalau jalan bareng, paling cuma ngobrol mendiskusikan ini itu, tak pernah terpikirkan olehku untuk pacaran dengannya, sampai suatu ketika aku dan dia makan malam di suatu kafe.
Aku sedang menikmati Lasagna Ayam Panggang favoritku ketika HP-ku berdering. Nomor yang tak dikenal. Aku langsung memberi kan telepon itu pada Ben, ” angkatin dong Ben “.
Ben mengangkat panggilan itu, benar dugaanku, orang salah sambung.
” Lo kenapa sih Ran, kalau panggilan dari nomor tak dikenal pasti dikasih ke orang lain buat ngangkatnya ” Tanyanya.
” Males ah. Suka banyak yang gak jelas, apalgi kalau telepon dari cowok, salah sambung terus ujung-ujungnya ngajak kenalan. Norak banget ” Jawabku sekenanya.
” Hahahahaha. Sampai segitunya sih lo, bagus dong kalau ada yang ngajak kenalan, siapa tahu cocok dan akhirnya pacaran ”
” Males ah pacaran ” Aku masih cuek sambil asyik mengunyah Lasagna-ku.
” Kenapa males ? ” Tanyanya penasaran.
“ Nanti gue gak bisa nongkrong bareng sama lo kayak gini, hahahahaha ” Jawabku asal. ” Kamu jugagak punya pacar kan, makanya cari dong … ”
” Males ah ” Jawabnya.
” Males apa gak laku ? Hahahaha . ” Aku menggodanya.
” Males. Nanti gue gak bisa nongkrong bareng sama lo kayak gini ”
” Dih. Jawabannya ikut-ikutan gak kreatif ” Gerutuku.
” Yaudah kita pacaran aja yuk Ran ? ” Pertanyaannya membuatku tersedak.
” Heh ? Bercanda banget lo. ”
” Seriusan ” Katanya dengan tampang yang tidak meyakinkan.
” Kenapa kita mesti pacaran ? ” Tanyaku mulai serius.
” Kenapa kita gak pacaran ? Secara kita sama-sama gak punya pacar, terus so far ngobrol nyambung-nyambung aja. Jadi gimana ? ”
Singkatnya begitulah pada awalnya. Tadinya aku mengira bahwa kami berdua akan rikuh menjalani hubungan sebagai pasangan kekasih, tetapi siapa sangka baik aku ataupun Ben begitu ‘fasih’ membiasakan diri. Misalnya elu-gue yang segera berubah menjadi aku-kamu, aku yang refleks menggandeng tangannya kalau sedang jalan ke mall, atau dia yang melingkarkan tangannya di pinggangku saat mengantri tiket di bioskop. Yang kurang diantara kami, mungkin cuma masalah panggilan sayang saja.
” Menurutmu kita harus memanggil satu sama lain dengan panggilan sayang gak ? ” Tanyanya pada suatu ketika.
” Aku gak mau ah ” Jawabku datar.
” Kenapa ? ” Tanyanya
” Aku sama mantanku dulu biasa saling memanggil ‘sayang’ gitu, jadi tiap dia memanggilku nama aku biasanya bete banget. Aneh kan ? Padahal kan namaku bukan ‘sayang’ hahahahaha ” Jawabku sambil mengingat-ingat mantanku yang satu itu.
” Iya sih. Aku juga pernah ngerasain kayak gitu. Pas giliran pacar kita gak manggil kita dengan nama kesayangan, kita suka mikir ‘duh gue salah apa ya ? Hahahaha ”
” Tuh kan ”
” Tapi Ran, kalo sekali aku manggil kamu sayang boleh kan ? ” Tanya Ben.
” Boleh manggil sayang, kalau lagi merasa sayang. Hahaha, ”
” Sayang … ” Ben mengucapkan kata Sayang perdananya padaku dan aku terkikik geli.
” Ehmm.. Sayang jugaaa… hahaha ” Balasku. Mungkin benar kata pepatah kalau cinta bisa datang karena biasa. Seperti cintaku pada Ben. Walaupun aku masih merasa aku dan Ben terlalu logis untuk ukuran sepasang kekasih. Misalnya waktu kami tanpa sengaja makan di cafe tempat aku dan dia jadian.
Saat itu kami mengenang awalmula kami resmi menjadi sepasang kekasih, tentu saja kami tertawa mengingat kejadiannya agak sinting juga.
” Dulu kita jadian dengan cara begitu, well who knows kita juga bakal putus dengan kejadian yang se-spontan itu ” Tutur Ben tiba-tiba.
” Hmmm, bukan suatu opsi yang buruk sih menurutku. Dibanding putus dengan drama kayak sinetron, hahaha ” Tanggapku sambil memikirkan, kemungkinan itu, kalau misalnya aku putus dengan Ben, kira-kira karena apa ya ? Karena sungguh, bagiku pribadi, tidak ada alasan untuk tidak tetap bersamanya. Dan ku harap Ben pun begitu.
***
” Ran, lusa aku pulang ke Semarang ya. Paling balik Bandung lagi pas mau masuk kuliah, bulan depan ” Ujar Ben, membuyarkan lamunanku.
” Naik apa ? Biar aku antar ke bandara atau stasiun, ”
” Naik pesawat. Pagi-pagi ”
” Yaaaaah, kenapa gak naik kereta aja sih Ben ”
” Idih. Memangnya kenapa kalau naik pesawat ”
” Kalau naik kereta kan lebih kayak orang pacaran ”
” Memangnya menurutmu kita gak kayak orang pacaran ”
” Bukan. Maksudku kalau nganterin ke stasiun itu kan lebih romantis. Aneh ya aku ini ? ”
” Itu karena referensi kamu film India sih. Hahaha. Film Ada-Apa dengan Cinta kan di Bandara, memangnya menurutmu itu gak romantis ? ”
” Nggak ”
” Naik kereta lama. Aku mau naik kereta asal kamu ikut aku ke Semarang”
” Emang boleh ? Nanti Mama kamu marah ”
” Iya sih… ”
” Tuh kan …. ”
” Oh ya, selama di Semarang mungkin aku bakal jarang hubungin kamu. ”
” Kenapa ? ”
” Gak enak aja sama Mama. Aku gak bisa menyenangkan beliau dengan putus sama kamu, jadi setidaknya selama aku di rumah, aku mau menjaga perasaan beliau dengan gak terlalu sering menghubungi kamu ”
” Hmmmmmmmmm kalau aku kangen gimana ? ”
” Ya aku gak bakal hilang kontak total kayak gitu lah. Aku bakal tetap sms tapi mungkin gak telepon ”
” Aku gak bisa tidur kalau belum ngobrol sama kamu di telepon ”
” Iya lah, kamu kan suka ninggalin aku tidur. Aku udah ngomong panjang lebar, terus kamunya udah tidur . Hahahaha. ”
” Aku juga susah beranjak dari tempat tidur kalau belum kamu bangunin”
” Pacarku manja benar …. ”
” Tapi nanti bawa oleh-oleh ya ”
” Apa ? ”
” Hati yang semakin penuh kasih boleh ? ”
” Idiiih. Bahasamu kok jadi alay begitu sih, hahaha ”
” Jadi ga boleh ? ”
” Boleh lah, tapi ada syaratnya ? ”
” Apa ? ”
” Jaga kesehatan ya. Aku gak mau denger kamu masuk rumah sakit lagi karena asma-mu kambuh ”
” Kamu gak bakal denger. Aku kan gak boleh telpon ”
” Aku serius dear …. hindari tempat yang terlalu dingin, berdebu, dan kurangi minuman dingin ”
” Iya Pak Ben …. ”
” Gitu dong. Hahaha. Aku pasti kangen sama kamu ”
” Aku sekarang saja sudah kangen sama kamu ”
( Sosok Ben ini terinspirasi dari sebuah tulisan di Majalah Bung ! Edisi 4 dan iklan Ramadhan Djarum entah tahun berapa
)