Renungan Indah (W.S Rendra)

Refleksi untuk kita (http://fc07.deviantart.net)

Ketika semua orang memuji milik-ku,

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan,
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya,
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya,
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi,  mengapa aku tak pernah bertanya
 
Mengapa Dia menitipkan padaku???
 
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagi petaka, kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita. Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku.
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua “derita” adalah hukum bagiku.
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat hidup kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja.” 

(WS. Rendra)

Natal dan Keakraban

Great Christmast Tree

Great Christmast Tree

Tetangga tepat samping rumah saya adalah keluarga beragama Katolik. Ketika saya kecil, Ayah dan Ibu bilang kalau mereka tidak ikut Lebaran seperti keluarga kita. Mereka punya lebaran sendiri, namanya Natalan. Sering sekali saat Natal tiba, malam harinya kami ke sana untuk mengobrol dan saya sih pilih kue-kue yang enak, Intinya perayaan hari besar itu berarti nyicip-nyicip kue J. Alhamdulillah tidak pernah ada perselisihan, amit-amit jangan sampai. Dulu, pernah beberapa kamis kedua rumah menggelar ibadah masing-masing – di rumah saya yasinan, di rumah tetangga sembahyangan, bersuara bersamaan. Tapi tidak ada niat untung keras-kerasan suara.

Saya mau cerita tradisi keluarga saya dan tetangga. Setiap malam Idul Fitri, ibu saya selalu berinisiatif menyuruh saya mengantarkan kue lebaran ke tetangga “Bu, ini nyicip suruh ibu”. Begitupula saat sehari sebelum natal tiba “Mas yogi, ni nyicip kue dulu”. Saat lebaranpun mereka ikut berlebaran, datang ke rumah dan ke tetangga yang lain. Mengobrol santai tanpa canggung, karena sama-sama mengerti untuk bertoleransi.

Selamat berkumpul bersama keluarga J

CongGRADUATION. 5 years is enough!!

Mom and Grandpa (My Dad saw me :D from heaven)

Mom and Grandpa (My Dad saw me :D from heaven)

Classmate, seandainya kita bisa keluar bareng2 lebih banyak :D

Classmate, seandainya kita bisa keluar bareng2 lebih banyak :D

Thanks Reza, JengSud, Mae rea :)

Thanks Reza, JengSud, Ma'e rea :)

My beloved kids (Taruna Bakti)

My beloved kids (Taruna Bakti)

English Debating Community UPI

English Debating Community UPI

WOW.. Lampung Culture and Tapis Carnival 2012

“Kalau saya gagal nonton tahun ini berarti saya harus menunggu tahun depan, ah males banget”

Yap, itulah kalimat yang menyemangati saya datang ke PKOR Saburai siang-siang yang teriknya wuedan tenan. Tak ingin terlewat satupun rangkaian acara, setengah 1 siang saya sudah stand by dan tak sempat pulang ganti baju sehabis ngajar kelas Bahasa Inggris. 6 jam kedepan siap-siap pegal-pegal pakai pantofel kemana-mana. Sungguh tidak cocok, kecuali saya adalah tamu undangan yang duduk manis di tribun kehormatan diantara pejabat-pejabat daerah.

So, Hai… this is Lampung Culture and Tapis Carnival, parade budaya lampung dan kreasi pakaian tapis seperti Jember Fashion Carnival gitu. Jadi LCTC ini adalah salah satu rangkaian acara Festival Krakatau XXII propinsi Lampung, semacam hajat besarnya Dinas Pariwisata. Setidaknya da 20 duta Besar Negara sahabat yang turut hadir, mulai dari Brunei, Bosnia, Palestina, Iran, Ekuador, dll.

awesome stage

awesome stage

Mr. and Mrs. Ambassador, thank you thank you for coming

Mr. and Mrs. Ambassador, thank you thank you for coming

Ratusan Penari Sigekh Pengunten (Welcome dance)

Ratusan Penari Sigekh Pengunten (Welcome dance)

Tapis Fashion Show by Muli Lampung

Tapis Fashion Show by Muli Lampung

Hal yang paling disesalkan oleh pengunjung adalah ketika mereka lupa bawa kamera. Sure, tujuan ke sini pasti ingin jeprat-jepret. Dan untungnya, kamera pocket saya sudah di charge sebelum ngajar. Sampe di venue, si Damas sudah narik-narik saya ke back stage “kak itu udah ada peserta carnivalnya, ayok ke sana pumpung belum rame” Hm.. baiklah. Dan ternyata gadis-gadis berkostum tapis kreasi dengan lukisan wajah itu sudah siap. Mereka adalah tim dari Tulang Bawang. Kasian mbak-mbaknya, mulai keberatan mahkota, bajunya seabreg, pasti berat. Tapi kreasinya keren-kerenlah. “Kak yang sebelah sana ada juga” walah..ini bener-bener mantep. Ini semacam manusia-manusia yang badannya ditumbuhi bunga-bunga menjalar kemana-mana, juga semacam pesta national costume miss Universe. Saya hampir ngeliatin kaki setiap peserta carnival ini. Bukannya gimana, saya Cuma mau lihat mereka pakai heels, wedges atau flat shoes alias sepatu teplek. Kebayang sekarang nunggu-nunggu giliran tampil dan nantinya harus berjalan dari Lapangan Saburai sampai ke Mahan Agung. Matilah kalau pada pakai heels.

Sementara mengumpulkan foto-foto unik mereka, rombongan Gajah dari Taman Nasional Way Kambas sudah datang. Sumpah ini kalau keinjek “keplenet” beneran. Kenapa.. kenapa kalau di film-film itu gajah kesannya lucu, tapi ini lucu dari mana, gede, item, banyak makan, bau lagi. Tak ada kepikiran nunggang. “Hmm.. tiba-toba gajahnya ngamuk, tribunnya diinjek-injek, tidak!!!!!!!” boong ding, sudah ada pawangnya yang sabar, nurut-nurut saja mereka. Mungkin gajahnya agak misuh-misuh juga soalnya pembukaannya lama banget.

Ini dia beberapa jepretan saya

Selain LCTC, ada rangkaian kegiatan lainnya seperti Pameran Tenun Nusantara, Pertunjukan Seni budaya Lampung, Tour de Krakatau, dll. Sepertinya saya akan datang ke Pameran Tenun Nusantara di Museum Lampung *periksa buku tabungan. This is once a year. Tahun kedua carnival. Dan itu WOW.. I’m proud of my own province in this part. Benar-benar menyedot ratusan fotografer dan media.

Brand New Presentation Technique by GYA

“Normal is boring”. Kata-kata inilah yang cukup menggambarkan presentasi-presentasi yang sering kita ikuti. Presentasi di kelas yang umumnya datar, membosankan, dan membuat kita kadang-kadang ingin cepat-cepat keular ruangan. Atau kata-kata pembukaan yang general seperti “selamat pagi, terimakasih atas kesempatannya, saya akan menyampaikan presentasi tentang……”. But, how about this:

  1. Laporan Departemen Kesehatan tahun 2012 menunjukan bahwa 25 juta penduduk Indonesia mengidap Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Angka yang sangat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 4 juta penduduk. Bagaimana masalah kesehatan ini menjadi semakin parah? Bagaimana langkah pemerintah dalam hal ini. Selamat pagi, saya Suprayogi akan menyampaikan presentasi tentang Penyembuhan Infeksi Saluran Pernafasan Akut. (Showing the surprising fact)
  2. Di Jawa Barat ada Kujang, di Jawa Barat ada Mojang geulis, di Jawa Barat juga ada angklung tapi belum banyak yang tahu kalau di Jawa Barat juga ada batik, batik Jawa Barat. Batik Jawa Barat memiliki corak khas dan motif yang berbeda dengan batik-batik dari Solo, Pekalongan, dan Yogyakarta. Seperti apakah Batik Jawa Barat? Saya Suprayogi akan membawa anda pada cerita 7 menit tentang keindahan ragam batik Jawa Barat. (4 repeated sentences)
  3. Albert Einstein pernah berkata “Hidup yang bermakna adalah hidup yang melayani orang lain” Melayani melayani dan melayani. Tapi seringkali ketika kita bertanya kepada orang lain, hal yang kita dapatkan bukanlah jawaban, melainkan perkataan lain yang mungkin merendahkan kita. Dan seringkali kita mengalaminya di kehidupan perkotaan. Selamat pagi, hari ini saya akan menyampaikan Tinjauan Sosial terhadap interaksi masyarakat perkotaan. (Quotation)
  4. Kemarin pagi anak-anak lingkungan saya sudah berkumpul rapi di rumah. Wajah mereka tampak riang dan wangi anak-anak sehabis mandi pagi. Saya juga sudah siap mengajar. Mereka menunggu saya, tapi mereka tidak mau diajar oleh saya. Mereka menunggu saya karena menunggu laptop saya untuk bermain game. Mereka lebih menyukai laptop saya dari pada saya. Lihatlah, anak-anak sangat antusias dengan teknologi baru. Bayangkan jika di setiap sekolah ada fasilitas ini yang bisa mereka gunakan. Saya suprayogi akan menyampaikan gagasan mengenai computer untuk pendidikan di pedesaan. (Cerita/anekdot)
  5. Now singing “When I see your face there is another thing……. Cause you are so amazing just the way you are” this is my favorite song which inspire many people to be confident, to him/herself. Sometimes we are not confident to speak in front of people who have higher status than us, who are older than us, or who smarter than us. Therefore, I would like to explain about improving self confident in speaking in front of public. (Audio impact)

Ini adalah seklumit dari catatan-catatan besar yang saya dapatkan dalam seminar Grab Your Audience (GYA) dari Mr. James Gwee beberapa waktu lalu. Bertempat di Ciputra Hotel Jakarta, seminar ini dihadiri oleh 24 beswan yang merupakan 12 finalis LKT nasional 2012, 10 finalis LKT nasional 2011, lalu yang dua lagi adalah Ferdinand dan Saya – beswan bangkoter yang juga pernah nyicip panggung presentasi LKT nasional taun sebelumnya. Dua hari itu saya sukses di bully sebagai yang paling tua dan mukanya paling klasik. Kalau kalah presentasi malu, kalau menang presentasipun tetep dibilang “ah wajar, udah bangkot sih”. Aakkk awas kalian!!!.

bareng mr. Tjantana..

bareng mr. Tjantana..

Individual presentation. me, pius, maja, madun

Individual presentation. me, pius, maja, madun

demo disuruh outrageous

disuruh be outrageous

Rabu malam, rombongan Bandung datang disambut beswan-beswan Jakarta Semarang Surabaya, dan yang paling nyolok mata adalah si bohay gentong yang mencipikacipiki Tides, lalu terlihat mas-mas dan mbak-mbak wong wetan. Ada satu nyempil si Lukman sang pemecah rekor beswan – pemenang blog dan pemenang LKT wohooooo…. Ada juga Nyonya 37,5 jutawan mbak Kamasean a.k.a Nana. Mulailah semua saling bersalaman dan sesudah itu pasti lupa lagi namanya.

Seminar ini benar-benar upbeat, pembukaan disambut dengan lagu-lagu semangat dan crewnya juga semangat abis. Setiap 5 menit materi dari Mr. James Gwee sekali pasti gerak atau lagu. Benar-benar mebjaga semangat. Tiba-tiba sudah coffee break, tiba-tiba sudah waktunya makan siang. This is what I learned – music should be the part of our dynamic presentation. Setelah diajari teknik pembuka presntasi seperti lima poin tadi, Mr. James Gwee juga memberikan teknik impromptu speech/presentation dengan tiga cara: 1). Triangle: yakni menjelaskan sebuah materi dalam tiga poin apapun itu. Misalnya ketika membahas tentang Busway kita bisa membahas dari segi kapasitas, fasilitas, dan ruas jalurnya. 2) Clock: yakni membagi materi berdasarkan waktu, dulu, sekarang dan akan datang. Misalnya kita membahas tentang dahulu orang menggunakan sepeda untuk transportasi, sekarang orang menggunakan mobil, dan di masa depan mudah-mudahan orang bisa meggunakan pesawat pribadi. 3) Balance atau timbangan: yakni menceritakan sesuatu dari sudut pandang positif dan negatifnya. Tiga model ini bisa menjadi pegangan kita untuk melakukan presentasi dadakan.

Setelah makan siang kita ditantang untuk membuat presentasi sendiri dengan alat bantu seperti spidol, crayon, Koran, kertas lipat, dll. Saya sekelompok dengan Harini, Pius, Maja, Tides, Indah, Nana, dan Madun. Presentasi yang ringan dan kadang bikin ngakak karena dibawakan dengan outrageous. Ya, harus outrageous.

Hari Kedua kami diajak untuk menonton video dari para great speaker, belajar bagaimana mereka menggunakan feeling, tempo, dan tone dengan bahasa-bahasa berirama dan bikin merinding. Presentasi adalah show kita, kita yang mengemudikannya, seperti pilot yang mengemudikan pesawat. Be prepared dan akhir juga dengan pesan yang jelas, summary apa yang telah kita sampaikan dan punchline atau kata-kata terakhir yang menggambrkan presentasi kita.

The rest is chit chat..GENTONK BOHAY YANG MIMPIN

The rest is chit chat..GENTONK BOHAY YANG MIMPIN

RA SIDO NGAWE YEL-YEL

RA SIDO NGAWE YEL-YEL

***

Saya merasakan hal yang sama dengan teman-teman lain – reunion dan pengetahuan baru. Exciting moment seru-seruan sambil tetap belajar. Dan setelah kembali ke rumah masing-masing, ke pekerjaan masing-masing, kami siap menerapkannya.

Happy Batik Day Indonesia

Unik kan?

Unik kan?

In this very morning I got this picture around ITB, near basketball field. Creative, right?. So, everything related to batik will always be captured in my cam. I am a batik addict. Yes. Don’t invite me to visit a batik gallery or batik workshop, I will lose my hundred thousand of money if I find artistic stamp batik or hand made one. hehe. So, I am really glad that 2nd of October finally came. Seeing hundreds of people wearing batik proudly and knowing so many ways celebrating it is a big surprise in the 2nd of October. Yeas.. Happy Batik Day Indonesia. Hopefully, people will give higher appreciation to batik by buying and wearing the stamped or hand made batik, not the printed one :)

About Entrepreneurship with Wydia

“Kalau mau tau banyak tentang traveling murah, bergaulah dengan backpacker. Kalau mau tau banyak tentang bisnis, ya bergaulah dengan entrepreneur.”

Rasanya semalam saya mendapatkan momen yang pas. Meskipun officially belum lulus a.k.a belum diwisuda, menjadi pengangguran luntang-lantung tiap hari nonton tivi lalu tidur siang rasanya sangat sudah ingin cepat-cepat “menggawe”. Intinya adalah menjadi produktif, sehingga tidak terlalu lama santai di rumah dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tetangga “Sekarang kegiatannya ngapain aja atau kerja dimana?”. Dan tadi malam, teman saya Wydia – teman beswan 27 dari Pontianak- menyapa saya lewat chat facebook.

Wydia adalah finalis Wirausaha Muda Mandiri beberapa tahun lalu yang sukses dengan bisnis fashionnya. Sekarang ia sudah punya butik sendiri. Dia termasuk anak yang senang bercerita tentang usahanya. Rasanya seperti obrolan lewat telepon, chat kami mengalir begitu saja dengan reply yang panjang-panjang. Wydya cerita kalau sekarang ia mendapatkan CSR dari Bank Mandiri dimana usaha dia sangat diperhatikan dan dibantu, diundang ke acara-acara bank tersebut dan mengikuti pelatihan-pelatihan wirausaha. Lucky her. Itu semua membawa dia jadi punya mindset yang bagus – smart mencari peluang, bagus dalam manajemen dan smart memilih strategi penjualan.

Wydia memberi saya semangat, mencoba memberanikan diri saya untuk mencari peluang usaha. Bener nggak sih sebagai orang yang jarang berurusan dengan bisnis, kita cenderung dihantui pikiran malu jualan, pikiran takut modalnya kekuras, takut barangnya nggak kejual, dan banyak waktu terbuang. “Hey rejeki Allah yang ngasih, ada cara untuk menjemputnya”. Apapun usahanya, niatkan sepenuh hati dulu, buang jauh-jauh perasaan pesimis tadi. Doa kita pasti didengar, usaha kita pasti membuahkan hasil. Dan jangan lupa untuk sedekah. Widya akhirnya cerita kalau sedekah yang banyak sekalian, karena Allah akan membalasnya 10 kali lebih banyak lewat tangan-tangan yang nggak kita sangka. Dan satu lagi Wydya cerita kalau berbagi rezekilah kepada yang membutuhkan. Yang ini agak jleb memang, karena kita sering terlarut dalam budaya menraktir teman dengan acara makan-makan atau nonton atau karaokean. It can be. Tapi dengan berbagi ke yang benar-benar membutuhkan, doa dari mereka bisa membantu kesuksesan usaha kita. Dan yang terakhir, selain berbagi tadi, ibadah kepada Allah dengan meningkatkan kualitasnya juga mendorong rejeki itu terjemput. Wydia cerita kalau ada temannya yang benar-benar ibadahnya bagus, membaca asmaul husna saat berwudhu – mungkin shalat malam dan tahajud juga- dan akhirnya sukses dengan usahanya.

Hm.. sampai ketemu di Bandung ya Wid, I STILL WANNA HEAR YOUR STORY J

Garudo Muko Batik Kediri

Garuda Muka Stamp Batik
Batik Cap Motif Garudo Muko

Teater dan Suguhan Ceritanya

This is how we see beauty

floor of Kediri Train Station

floor of Kediri Train Station

“A place might look ugly for some people, but I think it’s just that not everyone can see the beauty in it. May be some ugly places are actually just too damn beautiful that the beauty decide to hid itself. Maybe. But still it’s unfair to me that some places, cities, countries, whatever, are more beautiful than the other. Sometimes I imagine a world where all the places look exactly the same, so wherever you go you’ll find the exact same beautiful things. Like, if you want to go to beautiful beaches like the ones in Bali you don’t have to travel anywhere, if you want to go on a romantic canal cruise like the one in Amsterdam you don’t have to travel anywhere, if you want to go glacier skiing whatsoever you don’t have to travel anywhere. But then if it was real, there would be no special places at all. And beauty, I believe, has to be somewhat related with being special.” Farhana Nariswari – XI grader – on her tumblr blog.

Wajah-wajah Wisata Kediri

Yaeh, Finally Kediri. Sebenarnya mimpi mengunjungi Kediri sempat terkubur seiring raibnya Blackberry saya di acara tahun baruan 2012 lalu berikut kontak teman masa kecil saya yang tinggal di sana. Tapi, inilah berkah Ramadhan tahun ini. Sebuah sms masuk dari nomor tanpa nama tapi rasanya tak asing. Iya benar, sms itu dikirim dari teman kecil saya, Agung. “Aaaakk kenapa pas banget gini”, pas free, pas baru dapet rejeki. Obrolan berlanjut hingga akhirnya saya memenuhi janji saya semasa kuliah dulu – bertandang ke Kediri. Dengan segala persiapan, akhirnya izin orang rumah approved, tiket kereta booked, pakaian packed. Yes, I’m ready, menuju stasiun Bandung. Oya, itinerary juga sudah dibuat. Terimakasih Dinas Pariwisata Kediri, website panjenengan bisa diandalkan.

Bandung at 3 p.m.

Bandung at 3 p.m.

Kenikmatan sebuah travelling adalah “it forces you to trust stranger”, kata Cesare Pavese. Bertemu dengan seorang Ibu yang akan menjemput anaknya di Pesantren Gontor membawa saya pada obrolan ngalor-ngidul menyenangkan, terutama masalah agama, padahal saya baru bertemu dengan beliau. Dari sini saya percaya dalam niat baik perjalanan saya, akan dikelilingi pula dengan orang baik. Rasanya tiket seharga Rp 175.000,- ini memberi saya service yang lebih, service yang memberi saya pandangan baru tentang traveling.

Kediri 4 a.m.

Kediri 4 a.m.

Kereta Malabar Express ini berhenti di stasiun Kediri pukul empat pagi. Manusia-manusia di stasiun sangat bisa dihitung dengan jari. Lengang, bahkan saya tidak melihat petugas PT. KAI. Memasuki lorong penyambung antara stasiun dan tempat parkir, saya dihadang oleh sekawanan orang berbaju kuning, sekitar 10 orang, Oalah, ternyata tukang becak. “Ngapunten nggih Pak, kulo mpun dijemput” (Maaf ya Pak, saya sudah dijemput).

Welcome to my consecutive travelling. Dua teman baru saya, Lina dari Trenggalek dan Sulis dari Jombang sudah siap. Agung siap jadi pak sopir. Let’s go.

Pare, The Village of English

Sepanjang jalan Brawijaya ini, suasana kampung belajar sangat hidup dengan lalu lalang sepeda keranjang yang digowes para remaja, seperti nuansa kota pendidikan Jogja. Inilah Pare, sebuah kampung yang menyediakan banyak sekali lembaga belajar Bahasa Inggris, dari mulai conversation, grammar, TOEFL, public speaking sampai cruisship interview dengan harga yang sangat murah, kisaran 100 ribu/ dua minggu setiap hari. Untuk biaya hidup hitung-hitung saja, bayangkan di sana masih bisa makan Rp 5.000,00 per sekali makan. Menyewa camp sekitar Rp 170.000,00/ bulan dan untuk sepeda Rp 100.000/ bulan. “Murah banget kan!!.” Traveling and learning in one step.

Sepda Keranjang, ingat masa SD

Sepeda Keranjang, ingat masa SD

Ada puluhan Lembaga sejenis ini

Ada puluhan Lembaga sejenis ini di Pare

Saya sempat meng-update status BBM “@Pare, Village of English”, teman-teman Bandung banyak yang bertanya “Gi, beneran ya di situ orang-orangnya ngomong pake bahasa Inggris?” Perkenalan saya dengan salah seorang mentor bahasa Inggris bernama Citra menjawab semuanya. Citra bilang kalau Pare diisi remaja SMA dan anak kuliahan dari berbagai daerah di Indonesia yang memang ingin belajar dari dasar. Mereka bisa memilih camp/kosan yang memberlakukan English Zone setiap hari atau camp biasa. Jadi, tidak semuanya ngomong pake Bahasa inggris. Citra juga cerita kalau di salah satu camp hukuman terberat jika melanggar English Zone adalah dimandikan rame-rame di depan camp.” Apah, mau dong!! #eh”. Kalau lagi singgah di Pare, jangan lupa mencoba kuliner nasi tumpang dan pentol atau bakso tusuk.

Distro sejenis Cakcuk, Dagadu atau Joger

Distro sejenis Cakcuk, Dagadu atau Joger di Pare

Dengan penuh kesomombongan tadinya saya tidak percaya ada tempat seunik ini di Kediri, daerah yang saya pikir pedesaan dan penuh masyarakat penutur bahasa Jawa. Seketika sampai di sini, ego saya rontok, when you are travelling, there are lots of places challenge the world believes. Sebuah daerah yang terus bertahan dan menjaga identitas tak akan peduli dengan perbedaan tajam di lingkungannya, dan terus membuat orang ingin tahu di dalamnya. Mungkin seperti Baduy yang tetap mengakarkan budayanya dan bertahan di tengah pergolakan zaman.

Brantas dan Wisata Air

Sedan Hyundai ini melaju pelan melewati jembatan Lama. Beberapa detik saya berada di atas sungai Brantas yang lebar, tenang, bersih, biru. Rasanya pengen cari ban dan nyebur. Brantas adalah sungai terbesar kedua di Jawa yang melintasi pertengahan kota Kediri. Mirip seperti Citanduy, sungai yang melintasi Kota Banjar. Entah mengapa, Sungai selalu dikaitkan dengan sejarah kerajaan masa lalu. Kalau Citanduy menjadi saksi sejarah Kerajaan Galuh, Brantas menjadi saksi sejarah kerajaan agraris Kanjuruhan. Jadi berkhayal ingin menggali dasar kali, siapa tau ada harta karun, hehe. Kalau saja saya datang pertengahan Juli lalu, pasti bisa liat pesta Larung Sesaji- semacam pesta sedekah bumi gitu dengan acara berebut tumpeng raksasa di tengah-tengah sungai di hari jadi Kota Kediri. But this is more than enough.

Brantas kala sore

Brantas kala sore

Keindahan ini membuat pinggiran sungai Brantas dipenuhi oleh gubug-gubug bambu yang dibangun untuk tujuan rekreasi. Ketika matahari mulai terbenam, lampu di gubug-gubug mulai menyala, menerangi pengunjung yang semakin banyak berdatangan. Cocok kalau bawa pacar, haha. Kawasan ini diberi nama Wisata Air Panjalu Joyoboyo. Nama Panjalu Joyoboyo diambil dari sejarah kerajaan Kediri. Panjalu adalah nama pecahan kerajaan Kediri, sedangkan Joyoboyo adalah raja Kediri yang menulis kitab ramalan masa depan”Jongko Joyoboyo”. Terimakasih Pemerintah yang telah mengikat nama “Panjalu Joyoboyo” di pinggir sungai ini, agar wisatawan baru jadi bertanya “siapakah Panjalu Joyoboyo?”, lalu diceritakanlah kisah itu dan semakin abadi dikenang banyak orang akhirnya.

Brantas berlatar GG (Ups kompetitor)

Brantas berlatar GG (Ups kompetitor)

Sebuah Klenteng di tikungan Yos Sudarso

Sebenarnya tujuan saya melewati Jalan Yos Sudarso adalah untuk memenuhi rasa penasaran saya terhadap stick tahu, tahu Takwa dan tahu Pong, tapi begitu melewati tikungan, saya melihat Klenteng. Saya menyuruh Agung menepi, lalu mengajak Lina masuk Klenteng.

Gapura masuk

Gapura masuk

Klenteng ini bernama Tjoe Hwie Kiong, salah satu cagar budaya yang berada di bawah pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur. Klenteng ini termasuk Klenteng Tridarma – Klenteng untuk umat Tao, Budha, dan Konghucu. Dominasi warna merah-kuning, lampion, altar, dan mural-mural khas Cina membuat saya malu-malu untuk masuk rumah ibadah yang jarang sekali saya rambah. Rasanya tidak enak juga ya memandangi orang yang ibadah. Ada sebuah patung besar di tengah-tengah halaman Klenteng ini. Ternyata itu adalah patung dewa penolong dan welas asih Makco Thian Siang Sing Boo, yang didatangkan langsung dari Desa Buthien, Cina. Megah dan tertata. Ya, inilah yang membuat saya belajar tentang arti rumah ibadah, dibuat seindah mungkin untuk wujud terimakasih, dan berpakaian sebaik mungkin menghadap ketika menghadap Tuhan.

Berdoa untuk yg terbaik

Berdoa untuk yg terbaik

Sore-sore di Aloon-aloon

Lina dan Sulis mengajak saya ngabuburit di Aloon-aloon (baca: Alun-alun). Biasanya, komplek alun-alun terdiri dari lapangan luas, masjid Agung, dan pusat jajanan tenda seperti yang saya lihat di Sumedang dan Garut. Tapi Alun-alun Kediri sedikit berbeda, zaman dahulu alun-alun ini memang berupa lapangan luas dengan beberapa pepohonan, tapi sekarang ditata ulang menjadi taman bermain permanen yang di tengahya terdapat patung pahlawan. Taman menjadi tempat rekreasi murah warga Kediri dan sekitarnya. Banyak juga kaula muda Kediri yang menghabiskan sorenya di spot alun-alun ini, ehem.. ya begitulah, kalo jomblo lihat pasti pengennya nyilet-nyilet tangan. Haha.

Di sisi utara alun-alun terdapat warung-warung tenda lesehan yang menawarkan makanan-makanan murah. Semakin menuju maghrib, tempat-tempat duduk di sini dipenuhi oleh rombongan keluarga, warung merakyat dengan suasana kesederhanaan ala Jawa Timuran. Yeay… bebek goreng, es soda gembira dan es kelapanya sudah siap. Slurrpp…

Kurang lengkap rasanya kalau saya tidak singgah ke Masjid Agung Kediri. Saya tidak mau kehilangan momen shalat maghrib di sini. Saya bisa khusuk sholat, suasanya adem, tenang, bahkan banyak yang sholat di teras, bukan di ruang utama masjidnya. Saya mengambil wudhu di lantai satu, lalu menaiki tangga di lantai 2. Serambi lantai 2nya cukup luas dan bukan lautan sandal, jadi masjid ini lebih bisa dinikmati keutuhannya. “Terimakasih Tuhan, saya bisa sholat di sini”

Kediri menunggu Maghrib

Kediri menunggu Maghrib

Gumul, France in Java

Saya memandangi monumen Gumul dari jauh. “Tuhan, ini Indonesia kan? Kali ini Sulis yang menemani saya menuju bangunan utama Gumul. Area parkiran dan monumen Gumul dihubungkan oleh terowongan kurang lebih 50 meter, jadi kita tidak perlu menyebrang jalan simpang lima– yang ramai kendaraan melintas. Sulis cerita kalau monumen ini cukup kontroversial karena menghabiskan dana milyaran rupiah APBD, pantesan, bagus dan terkonsep gini. Kata orang, Gumul terlihat lebih indah di malam hari. Memang benar. Lampu sorot yang ditembakkan dari berbagai sudut membuat menara ini terlihat mewah, bersejarah, dan ikonik.

Yeay.. France....

Yeay.. France....

Wow, bener-bener serasa di Perancis. Monumen ini mirip banget dengan Arch De Thriomphe Perancis, dari bentuk bangunan utamanya, cuma Gumul ini lebih pendek. Ada relief pada empat pilar Gumul yang ceritanya beda-beda. Beberapa yang saya lihat adalah kisah masyarakat bertani, kisah empat sekawan, gambaran kerukunan umat beragama, kisah kerajaan dan dewa langit.Pesan sejarah yang disampaikan dalam tempat yang tepat, akan banyak yang melihat, akan banyak yang meresapi, akan banyak pula yang mengenang masa lalu.

It's free of charge

It's free of charge

Bagi saya, Gumul bukan semata menjadi seonggok bangunan mewah yang berdiri di tengah-tengah simpang lima. Kediri menjadi semakin dikenal karena Gumul. Ke Kediri ya harus ke sini. Gumul selalu ramai oleh wisatawan dan anak muda. Gumul seakan menjadi pelepas lelah, tempat untuk mengahabiskan quality time, tempat berbagi, dan tempat dimana semua orang dari berbagai kasta bisa ikut menikmati. Gumul juga membawa berkah bagi para pedagang kecil yang berjualan di kawasan pasar malamnya. Dan wedang jahe seharga 3.000 ini yang membuat saya tetap melek menikmati malam yang dingin sambil menatap Gumul dari sudut pasar malam ini. Beautiful!

Pasar Malam Gumul. Cheap!!

Pasar Malam Gumul. Cheap!!

Kediri dalam 5 Sentuhan Budaya

My dream came true. Saya telah berhasil menginjakkan kaki di Kediri berbekal persahabatan. Perjalanan singkat yang sangat berkesan, mungkin berkesan karena singkat. Oya, saya baru sadar saat menulis catatan perjalanan ini kalau saya telah menapaki 5 sentuhan Budaya yang membentuk wajah Kediri: nuansa Inggris di Pare, penamaan Hindu pada wisata air di Brantas, sentuhan Tionghoa di Klenteng Tjoe Hwie Kiong, kekentalan Islam di Alun-alun, dan sentuhan Perancis di SLG. Lesson learned kali ini adalah consecutive traveling membawa saya menemukan kata “harmoni” dan “keterbukaan” di dalamnya, seperti di sini, Saya menemukan wajah Kediri yang berbeda-beda, rupa-rupa yang unik. “A ship is safe in the harbor, but that’s not what ships are built for.” kata Gael Attal. Kapal diri saya sudah berlayar sampai sini, meraup cerita yang membuat saya kaya hati, begitu juga dengan kamu. Terimakasih Agung, Lina dan Lilis. Nanti kita ketemu lagi.

*****

Travelquiz

1. Apa nama kawasan Wisata Air Sungai Brantas?

2. Apa nama monument yang menjadi ikon kota Kediri?

Sudah bisa menjawab? Terimakasih ya. Sempatkan datang ke sini, Kediri Bersinar Terang.

Menemukan Cerita di Kampung Batik Trusmi

Baru kali ini saya merasakan pasar batik dengan konsep rumahan. Jadi, ini serasa jalan-jalan di kampung tempat nenek dengan suasana yang tidak ramai kendaraan lewa. Cuma bedanya, tiap rumah ada plang merk batiknya masing-masing. Cuaca Cirebon yang kata orang panas sepertinya berlaku di sini, justru saya menemukan spot sejuknya Cirebon. Hampir tiap rumah batik punya pohon besar, membuat saya betah jalan-jalan di sini.

Kampung ini dikenal dengan nama Kampung Batik Trusmi, letaknya di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon. Saya tidak akan ke sini kalau tidak di ajak Fikha, wanita tahan banting di bisnis online yang mengajak saya, Fikri, dan Ginta untuk mendirikan toko batik merk sendiri. Ceritanya, kami berempat adalah calon jutawan batik yang mendapat hibah dari kampus. Dan Cirebonlah tujuan pertama kita, hunting kain produksi season 1. Perjalanan kami ditemani ibu Kae, mamanya Fikha, yang menjadi driver setia Bandung- Sumedang – Majalengka – Cirebon. 3 jam lho.

Good Morning Cirebon

Pagi itu sarapan kami ditemani nasi Jamblang di sebrang Grage Mall – sensasi makan nasi dengan bungkus daun jati. “Enake!!”. sebenarnya masih ada docang, empal gentong dan nasi lengko yang belum tercicipi, tapi nanti saja, sekarang hunting batik dulu. Dari Kota Cirebon kami menuju Trusmi di Kabupatennya melalui Jalan Tuparev. Sekitar 15 menit perjalanan, sebuah plang tua dan lusuh bertuliskan “Sentra Batik Trusmi” sudah dadah-dadah ke saya berada di atas jalanan Pasar Trusmi yang tumpah-ruah oleh pedagang kaki lima, pengendara motor, sepeda, dan becak. Kepadatan ini malah seolah melupakan bahwa jalan ini adalah pintu gerbang wisata batik yang semestinya rapi dan memberikan kesan pertama yang anggun. Semacam menemukan sebongkah zamrud setelah melewati semak belukar.

Coba saja kalau dipugar, pasti tambah keren

Coba saja kalau dipugar, pasti tambah keren

Saya menghadap jalanan Trusmi yang lurus, tak jauh dari pasar. Ratusan tahun yang lalu, tanah yang saya pijak ini adalah belukar belantara. Hingga suatu saat, Sunan Gunung Jati mengutus pengikutnya untuk mengajak penguasa belantara agar memeluk agama Islam. Saat belukar belantara ditebang untuk membuka jalan, keajaiban terjadi. Setiap pohon yang ditebang tumbuh kembali terus bersemi. Itulah asal mula penamaan Trusmi. Kebayang ya kalau sekarang masih ada pohon itu pasti banyak yang minta pesugihan di sana. Haha…imajinasi liar.

Suasana Kampung Batik Trusmi

Suasana Kampung Batik Trusmi

Suasana Kampung Batik Trusmi tak seramai jalanan Malioboro, jalannya juga lebih sempit. Tapi karena sempitnya itu, suasana kampungnya lebih terasa, kontras dengan keramaian pasar tradisional yang saya lewati tadi. Kami berempat mulai masuk ke toko batik pertama, sementara bu Kae pergi cari makan. “Sabar ya Super Mom”. Karena konsep rumahan tadi, makanya kita semua harus lepas alas kaki, dan kita harus ketok pintu karena pintunya banyak yang ditutup walaupun tulisannya “open.”

Rumahan banget kan?

Rumahan banget kan?

Saya penasaran apa yang khas dari batik Cirebon. Saya mencoba ngobrol dengan yang punya rumah batik dan akhirnya menemukan empat jenis batik Cirebonan.

1. Motif pesisiran. Karena Cirebon terletak di tepi laut, yakni wilayah pantura atau pantai utara, motif batiknya mengambil dari flora dan fauna laut. Biasanya kombinasi ikan, udang dan rumput laut.

2. Motif keraton atau klasik. Di Cirebon ada empat keraton yakni Kacirebonan, Kanoman, Kasepuhan dan Kaprabonan. Motif keraton dihubungkan dengan kehidupan keraton dan kepercayaan keraton terhadap alam langit atau makrokosmos, seperti motif Paksinagaliman (binatang yang terdiri dari burung, naga, dan gajah), motif Pewayangan, dan motif Taman Arum Sunyoragi.

3. Motif kumpeni. Cirebon adalah bekas daerah penjajahan. Motif-motifnya menggambarkan suasana penjajahan Belanda, mulai dari tentara militer sampai kerja rodi. Yang khas dari kumpenian ini adalah latar putihnya. Jadi saat proses pembuatan, bagian latar putih ini diblok dengan malam, atau istilah batiknya “ditembok”, untuk merintangi warna putih ini dari warna saat dicelupkan. Sekarang, kumpenian tak melulu bercerita tentang penjajahan, tapi maknanya bergeser kepada cara pembuatannya yang ditembok tadi.

4. Motif pengaruh budaya Cina. Motif buketan (rangkaian bunga) dan gentong menunjukan akulturasi budaya Cina di Cirebon, yang diwali dengan kedatangan Putri Ong Tjien kala itu.

Nah, kalo diliat-liat, banyak batik yang mendapat sentuhan megamendung sebagai pelengkap motif utamanya. Motif Megamendung menyerupai gugusan awan. Dulu waktu di Bandung bertemu Pak Komarudin Kudiya, seniman batik Jawa Barat, beliau sempat cerita kalau Megamendung itu motif yang menggambarkan kisah hidup manusia dari lahir sampai dipanggil Tuhan, setiap gradasi dan setiap lekukan dari kecil ke besar menunjukan fase hidup manusia, bahwa manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Saya diam, kagum. Ternyata sedalam itu pemaknaan pada sebuah motif yang diciptakan.

Ornamen megamendung dalam setiap batik Cirebonan

Ornamen megamendung dalam setiap batik Cirebonan

Dua jam tak terasa keluar masuk rumah batik. Benar-benar belanja besar dan cukup menghabiskan welcome snack di sana. Kisaran harga batik Cirebonannya Rp 40.000,00 untuk KAIN batik satu warna dan Rp 60.000,00 untuk KAIN batik mulai dari dua warna. Oya, kalau benar ingin beli yang motif Cirebonan, lebih baik tanya langsung ke penjaga rumah batiknya, soalnya Trusmi juga dibanjiri batik Pekalongan.

Mari belanja tjiiinnnn

Mari belanja tjiiinnnn

Bertemu sang Maestro Batik

Diantara rumah-rumah batik di sepanjang jalan Trusmi, ada sebuah rumah putih sederhana yang terletak di sebrang jalan Koperasi Batik Budi Tresna. Rumah itu milik Pak Katura, salah satu maestro batik Cirebon. Pak Katura adalah seniman batik yang dipercaya untuk mengonstruksi ulang motif-motif keraton Cirebon, dan pernah mendapatkan penghargaan Upakarti dari SBY.

Di Koperasi ini transaksi bahan-bahan batik Cirebon terjadi setiap harinya

Di Koperasi ini transaksi bahan-bahan batik Cirebon terjadi setiap harinya

Bertemu Pak Katura adalah kali kedua saya ke Cirebon, gara-gara di suruh Fikha mengambil pesanan batik tulis pulau Lengkuas dan Sail Belitong yang dibuat Pak Katura. Tak ada lagi gratisan ke sini, saya harus naik bus. Mas Sutrisno, teman kampus sekaligus desainer motif Belitong, yang menemani perjalanan saya 3 jam malam-malam naik bus Bhineka.

Pagi itu, memasuki halaman samping rumah beliau yang teduh dan disambut sebuah gambar kunjungan ibu Ani Yudhoyono. Lalu saya memasuki halaman belakang – tempat pembatikan. Di sudut halaman, ada beberapa remaja setempat yang siap-siap belajar membatik. Sementara itu ada seorang mbak yang sudah mulai nyanting. Kalau kamu ingin belajar batik dari nol sampai mahir, kamu bisa belajar di sini.

Sepertinya mbak ini sedang nyanting Kumpenian

Sepertinya mbak ini sedang nyanting Kumpenian

Suasana ruang tamunya nya seperti rumah jaman dulu dengan empat kursi kayu meja bundar. Saya melihat pajangan bahan pewarna tradisional, lengkap dengan pajangan canting dan penutup kepala bermotif megamendung. Terpajang bingkai berisi foto Pak katura yang mendapat penghargaan Honoris Causa dari University of Hawaii atas kepiawaiannya dalam membatik. Sejak saat itu, nama beliau menjadi Katura, M.A. Kemegahan karya otodidak, karya yang dibuat bukan di bangku pendidikan, juga bisa mengantarkan seseorang untuk mendapatkan tempat yang tinggi di mata akademisi. Inilah yang membuat saya percaya “He who does not travel does not know the value of men.” milik Moorish. Kalau saya tidak langsung datang ke sini, saya tak akan tahu kenapa Pak Katura bisa disebut Sang Maestro, saya juga tak akan tahu kalau penghargaan dari Hawai itu bukan karena beliau mengenyam pendidikan formal. Beliau adalah seorang pembatik yang masih bertahan dengan batik tulis klasiknya – menjaga budaya asli, kepiawaian dalam kesederhanaan.

Bahan Pewarna Alam. Rumah ini seperti museum kecil

Bahan Pewarna Alam. Rumah ini seperti museum kecil

Kebanggaan karya kami

Pak Katura, Mas Sutrisno, Saya dan Ibu. Batik pesanannya bagus bgt

Di ujung ruang tamu itu ada sebuah ruang kecil berisi buku-buku batik koleksi Pak Katura. Beliau berkata dalam logat khas Cirebon “Ya, biar tidak ketinggalan info dan biar anak muda bisa belajar”. Ada majalah fashion batik, buku tentang batik Belanda, batik Jepang, batiknya Iwan Tirta, sampai Tugas Akhir tentang batik. Koleksi buku ini menjadi upaya Bapak untuk mewariskan ilmu membatik ke orang-orang seusia saya. Senang sekali bisa belajar banyak tentang batik dari beliau, tapi sedihnya beliau sering sakit dan punya gejala stroke. “Cepet sembuh ya, Pak.”

Perpus kecil milik Pak Katura

Perpus kecil milik Pak Katura

Nah, liat buku bahasa Jepang di atas? Buku itu menjadi simbol hasil karya batik Pak Katura mulai merambah pasar Jepang di tahun 1990 sejak kedatangan seorang desainer tekstil bernama Yumeko Katsu. Sejak itu batik-batik tulis Pak katura semakin di kenal dan sering diliput media. Pembeli-pembeli batik dari Jepang sangat mengapresiasi batik karena kualitas dan detail motifnya.

Satu mimpi tercapai, mimpi lain bersambut

Ya inilah yang saya rasakan. Tak pernah juga terpikirkan mengunjungi Trusmi. Karena satu mimpi ingin coba-coba bisnis, saya datang ke sini, dan akhirnya tak sekedar belanja. Mimpi lain bersambut, ingin bertemu Maestro Batik, dan kesampean juga. Saya menemukan keragaman cerita mulai dari cerita dalam lembar-lembar kain batik, menemukan cerita sosok sederhana dengan karya yang luar biasa dari Pak Katura, atau cerita tentang masa lalu Trusmi. Mimpi itu bercabang dan semakin bercabang. Dan inilah yang menginspirasi saya untuk singgah ke kampung batik yang lain, dan menemukan cerita-cerita lagi.

Mari diintip video perjalanan kami berempat

Berbelanja di Kampung Batik Trusmi

Batik tentang Batik

Batik tentang Batik