Saya ini Orang Mana?

img_5309

Lampung, Angklung, Prambanan jadi satu. mean that?

Saya: Halo, saya yogi (sambil menyodorkan tangan mau bersalaman).

X: Hi, Melisa.

Saya: nice to see you. (smile)

X: dari kampus mana?

Saya: UPI Bandung

X: Asli Bandung?

Saya: Bukan, saya dari Lampung.

X: Lampung? Wow jauh, tapi koq kaya orang Jawa (mengernyit).

Saya: Kamu orang ke seratus sekian yang ngomong gitu.

X: Oya?

Saya: Iya. Jadi gini ceritanya. Dulu tahun 1920an kakekku diajak kapal Belanda untuk pindah ke Lampung karena “diiming-imingi” tanah yang subur, kehidupan yang lebih baik, dll. Setelah sampai Lampung mereka disebar ke beberapa daerah transmigrasi seperti Metro, Pesawaran, Pagelaran, dll. Dulu kakek saya dibohongi. Tadinya disuruh tinggal di daerah Metro, tapi malah dipaksa tinggal di daerah Pringsewu yang notabene daerah belukar. Kalau mau kenduri saja susah banget ngundangnya, jarak antar tetangga itu 2 km. Semakin ke sini, pringsewu semakin ramai dan banyak orang-orang yang memiliki kekerabatan keluarga. Jadi orang tuaku memang lahir di Lampung dan kami tinggal di daerah yang isinya orang Jawa semua. (Cerita diakhiri karena keburu bosen yang dengerinnya J).

X: Pringsewu? Koq kaya nama Jawa gitu?

Saya: Maap ye cerita lagi. Iya begitulah. Nggak tau juga ya kenapa dinamai dengan nama-nama daerah yang mirip dengan nama di Jawa. Tapi nama-nama Jawa itu ngeblok di daerah tertentu saja, tidak semua. Misalnya kalau di Tanggamus itu penamaan tempatnya so Lampung ada daerah Pulau Panggung, Pugung, Semaka, Padang Cermin. Keliatan kan beda namanya?

X: Oooo..jadi kamu sebenernya orang mana?

Saya: Ya saya orang Lampung berdarah Jawa yang sekarang sedang tinggal di Bandung.

Dialog diatas hampir saya ulangi setiap ada yang menanyakan “Kamu asli mana?” Bercerita tentang asal mula kedatangan keluarga kakek saya sampai akhirnya berakhir dengan “Oo.. gitu toh.”

Zaman SD, SMP, SMA masih belum care dengan identitas budaya. Tugas saya adalah belajar, nilai bagus, bermain, mengaji, titik. Setelah Hijrah ke London (maunya), Bandung maksudnya, dan setelah ketrima Djarum Beasiswa Plus dengan beragam latar belakang budaya para Beswan Djarum, semakin bertanya tentang identitas budaya saya.

Pertanyaan itu mencuat tajam saat saya berda di semester keempat. Saya ditanya: “Kamu orang Lampung bisa budaya apa?”. Lagu Lampung ya satu dua dari niruin kaset. Boro-boro tari Lampung, sekolah tak punya sanggar seni. Upacara adat tidak ada yang tahu karena saya tidak tinggal di komunitas orang Lampung. Saya diam, saya bingung. Sejak kecil dan masa SD-SMP saya mendapatkan pengetahuan budaya Lampung yang minim: cuman dari beberapa jam pelajaran muatan lokal yang seminggu sekali itu. Mungkin hanya dasar-dasar bahasa Lampung dan menapis, hanya dasarnya saja. Saat SMP saya tidak pernah berpikiran buat apa saya belajar beginian. Pertanyaan lain yang muncul adalah “Kamu kan keturunan Jawa, kamu bisa apa aja?”. Nah loh, bahasa Jawa halus saya pas-pasan, jadi saya susah untuk memimpin acara-acara desa. Kalau ditanya upacara selametan pake kenduri ini maknanya apa, saya juga nggak tau. Kamu bingung kan? Sarua urang oge lieur (sama saya juga bingung). Lalu pertanyaan terakhir juga muncul, “Kamu udah empat tahun di Bandung udah tau apa saja tentang budaya Sunda?” hm….hm.. krik krik.

Sekarang saya berada dipersimpangan tiga budaya: Lampung, Jawa, dan Sunda. Bagaimana menunjukan identitas saya? Mungkin kamu juga merasakan hal yang sama dengan saya. Kamu terlahir blasteran Padang-Jawa, Betawi-Sunda, Makassar-Palembang, atau mungkin China-Jawa? Pusing juga saya dalam kondisi ini, bisanya Cuma setengah-setengah atau tidak tau latar belakang budaya saya samasekali. Saya harus gimana kalau ditanya orang? Dulu saya sedih kenapa harus terlahir seperti ini, nggak punya latar belakang budaya. Namun sekarang saya bangga menjadi Pujakesuma (Putera Jawa Kelahiran Sumatera). Kalau kamu orang Sunda lahir di Makassar, cari sendiri ya singkatannya J.

Saya bersyukur bisa lahir dan tinggal dalam persimpangan budaya ini. This is me, Yogi. Kondisi yang “menjepit” ini akhirnya mengantarkan saya untuk belajar adat istiadat Jawa, Lampung, dan Sunda lebih dekat. “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” atau “Lain lubuk lain ikannya, lain ladang lain belalangnya”. Bisa dibilang, tekanan sosial yang memaksa saya harus tau, awalnya. Dulu saya berpikir, dan sampai sekarang berpikir “Hey man, sanksi sosial itu sakitnya nggak habis-habis lho.” Tapi kemudian menyelami identitas 3 budaya ini menjadi sesuatu yang luar biasa. Saya belajar banyak hal. Selalu ingin tahu. Dan Yeay i’m rich of cultural knowledge. Saya tidak menyesal terlahir sebagai orang Indonesia.

By the way, keluarga tidak mengajarkan secara eksplisit tentang adat istiadat, so kepekaan diri adalah kuncinya. Don’t blame anyone. Start doing. Saya ingin sekali anak saya nanti tetap bisa berbahasa Jawa, tetap mengenal Lampung secara luas juga meskipun tidak melakukan “ritual” adatnya. Gimana caranya? Saya akan menjadi guru bagi mereka, Gurunya sedang belajar sekarang.

Dua tahun terakhir ini dan terus berlanjut saya mencoba semakin dekat dengan identitas budaya saya. Saya ingin berbagi empat tahun saya di Bandung secara singkat. Saya belajar bahasa Sunda, bermain angklung, memahami kecapi, mengeksplor batik Jawa Barat, mengenal pupuh, mengenal tata krama di dalam keluarga. Betapa kata “Anjing” itu sangat kasar sampai di tingkat PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) kata “anjing” diganti dengan “gogog”. Ketika menerima makanan harus diwalai dengan “Ibu ditampi”. Dan masih banyak lagi dari apa yang saya lihat sambil berpikir.

img_1060

So fun mempelajari budaya Jawa Barat melalui batiknya

Perlahan, saya juga sudah mulai bisa mempromosikan Lampung. Saya bisa menari Bedana (tarian muda-mudi), menapis (membuat sulaman dengan benang emas), menyanyikan lagu-lagu Lampung, mengenal sulam usus, mengenal festival kebudayaan daerah, tentang asal-usul daerah Lampung, dll.

rt-ppan-2010

mengenal Budaya Lampung lebih dekat

Bagaimana dengan kebudayaan Jawa saya? Saya mendapatkan informasi kesejarahan asal mula kakek nenek saya dengan teman alm. Kakek yang tinggal di dekat rumah sebisanya yang saya dapatkan. Sedangkan ketika ada ritual-ritual tertentu termasuk mitos saya sekarang lebih KRITIS menanyakan maksud mitos dan ritual keagamaan tertentu. Saya menjadi lebih sering menggunakan bahasa Jawa alus ke ibu saya, ya walaupun masih sering salah.

050620092082

Kesederhanaan dalam budaya Jawa (nggak pake blankon juga sih di rumah)

Sekarang, judul tulisan ini sudah mulai bisa dijawab. Sekarang saya sudah bisa bercerita lebih banyak tentang adat istiadat dan kebudayaan lain tempat saya lahir, nenek moyang saya dan tempat saya tinggal sekarang. Karena saya berpikir, inilah cara sederhana yang bisa dilakukan setiap warga Indonesia untuk mengekspresikan budayanya. In the end, ini adalah kegiatan sukarela karena saya proud to be Indonesian dengan persimpangan budaya ini. Karena semakin banyak orang yang menikah beda suku dan khawatir latar belakang budayanya tidak diturunkan. Also, sebagian besar budaya ini diturunkan secara lisan, langsung kepada orangnya, dan jarang melalui tulisan. Kalau bukan kita, siapa lagi?

My last words:

we are not paid to learn our cultural identity, but harmony of future life is something you’ll find right after you learn it.

58 comments to Saya ini Orang Mana?

  • azhari

    kita sama mas,, PUJA KESUMA (Putra Jawa Kelahiran Sumatra).. cinta smw nya deh,, bangga berdarah jawa, bangga tanah kelahiran di Lampung, juga bangga bertanah air satu, tanah air indonesia..^^V

  • suprayogi

    kita sama mas,, PUJA KESUMA (Putra Jawa Kelahiran Sumatra).. cinta smw nya deh,, bangga berdarah jawa, bangga tanah kelahiran di Lampung, juga bangga bertanah air satu, tanah air indonesia..^^V

    Yap bangga pernah tinggal dan terus tinggal di daerah yang beragam :)

  • Ditta.w.Utami

    Hehehe… banyak mengenal budaya membuat kita kaya, kan, mas ^^

  • uji

    kalo saya sih papa jawa mama sumatra… jadinya PAJAMASU

  • suprayogi

    kang uji: Haha..singkatanya agak2 aneh, kaya nama orang mana gitu.. hehe… thanks kang Uji

  • suhandi

    Wah yogi salut dengan akulturasi budayanya,tks sudah berbagi tentang kebudayaan yg ada dalam personal Yogi Pujakesuma :)

  • Heriyanto

    waw…GREAT kak yogi!!! and I just realised that culture is very imptortant for us to know. Apalgi saat ne kebnykn generasi muda atau ank2 TK pun lbh mengenal justin beiber ketimbng ap it Piil Pesinggiri,dll?ternyata stlh aku kmren dpt ilmu ttg Piil Pesinggiri itu luar biasa bgt ilmunya. semoga artikel kak yogi ne bisa menginsiprasi kita ttg betapa culture yg berada dlm identitas dri kita masing2…

  • suprayogi

    waw…GREAT kak yogi!!! and I just realised that culture is very imptortant for us to know. Apalgi saat ne kebnykn generasi muda atau ank2 TK pun lbh mengenal justin beiber ketimbng ap it Piil Pesinggiri,dll?ternyata stlh aku kmren dpt ilmu ttg Piil Pesinggiri itu luar biasa bgt ilmunya. semoga artikel kak yogi ne bisa menginsiprasi kita ttg betapa culture yg berada dlm identitas dri kita masing2…

    IYAP her, Piil passangiri itu luar biasa banget her. tata krama yang kita junjung sebagai masyarakat Lampung dan sebenarnya mah untuk general. Ada banyak pesan-pesan moralnya. Amin-amin semoga bisa menginspirasi.

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

what is 2 plus 6?