I’m Bowo & This is My Story

Through Story Sharing My Thought

Salam Beswan! Selamat pagi, siang, sore whenever you read this post. Berlanjut lagi nich cerita saya, oleh-oleh dari penataran Fasilitasi Pembinaan Penyelenggaraan Sekolah Inklusi. Bagi yang belum baca postingan sebelumnya wajib baca dulu the previous post . Kali ini saya tidak akan berbagi konten dari penataran yang saya ikuti, melainkan bercerita pengalaman luar biasa yang saya alami.

Hari ke tiga atau tepatnya hari terakhir penataran berisi agenda kunjungan ke kelas-kelas di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang. Penataran yang saya ikuti bertempat di Balai Pelatihan Pendidikan Khusus (BP Diksus) yang kebetulan lokasinya satu lingkungan dengan SLB tersebut. Sehingga untuk berkunjung ke kelas-kelas di sekolah tersebut tidak perlu naik becak apalagi taxi haha…. I\m Sorry Good Bye!

Masuk ke kelas-kelas yang berisi tiga sampai lima anak berkebutuhan khusus sungguh menjadi pengalaman yang mengharukan sekaligus menakjubkan. Kelas-kelas tersebut berisi siswa-siswa dengan kebutuhan yang sama. Ada satu kelas yang berisi tiga anak lelaki usia delapan sampai sembilan tahun yang sedang belajar bersama seorang guru dan pendamping guru. Salah satu diantara ketiga siswa tersebut adalah tuna ganda (tuna netra dan tuna grahita), sementara yang lain adalah tuna netra.

I\m Sorry Good Bye!

Seorang anak tuna ganda sedang bernyanyi

Ketika kami (peserta penataran) masuk ke dalam kelas beberapa dari kami menyalami anak tersebut. Anak yang menderita tuna ganda tersebut menolak disalami, sejurus kemudian sang guru berkata “Maaf Bu, Pak, siswa ini agak kurang terbuka dengan orang asing, mohon maklum,” jelasnya. Kami pun memaklumi keadaan itu, dan terus memperhatikan kegiatan mereka belajar. Tiba-tiba “Bu saya mau nyanyi..” tutur bocah tuna ganda tersebut. Sang guru dan beberapa peserta yang berada dalam kelas menyambut gembira keinginan anak tersebut. Kemudian sebuah lagu mengalun dari bibirnya. Saya tidak tahu lagu apa yang sedang ia nyanyikan, yang jelas ia terlihat sangat menikmati nyanyiannya. Diiringi tepukan tangan mungilnya dan anggukan kepala sang anak melantukan lagu, hingga dua buah lagu ia dendangkan. Saya sempat haru melihat semangat anak tersebut menyanyi.

Kami pun melanjutkan ‘tur’ ke kelas-kelas yang lain. Berikutnya saya melihat seorang anak tuna netra belajar baris-berbaris. Anak lelaki yang tak mampu melihat itu harus berusaha keras untuk jalan di tempat. Bayangkan jika sobat tidak pernah melihat kaki sobat sendiri apalagi melihat bagaimana orang melakukan jalan di tempat dan diminta untuk melakukan jalan di tempat. Betapa sebuah perjuangan besar bagi anak itu hanya untuk jalan di tempat. Sang guru nampak sabar mengangkatkan kaki anak satu persatu tersebut hingga pahanya rata-rata air. Rasa haru kembali muncul di benak.

I\m Sorry Good Bye!

Siswa tuna grahita menyulam taplak meja

Pemandangan yang saya lihat tak semuanya nampak ‘indah’. Di sebuah kelas khusus anak tuna grahita nampak beberapa siswa meronta ingin keluar, sementara yang lain nampak sibuk mewarnai gambar. Ada juga anak tuna grahita yang tidak bisa duduk diam, dia selalu berjalan kesana kemari. Di kelas yang lain seorang anak tuna daksa berlatih keras menyususn balok kayu dengan tangannya yang bengkok akibat urat saraf yang tertarik (cacat bawaan). Di ruang terapi seorang anak autis sedang diterapi motorik. Mereka merangkak di atas matras didampingi seorang terapis dan asistennya.

Ketika sedang berjalan menuju ke kelas berikutnya, saya sempat terkejut ketika rombongan anak-anak tiga sampai enam tahun yang berjalan beriringan sambil bergandengan tangan sempat menabrak saya. Ditelinga mereka nampak menempel sebuah alat bantu pendengaran. Ya… rombongan anak-anak mungil yang nampak lucu dan menggemaskan itu adalah tuna rungu dan tuna wicara. Tapi yang mengagumkan dari mereka adalah mereka mampu mengikuti instruktur guru dengan baik. Hal ini sempat disimulasikan dalam penataran.

I\m Sorry Good Bye!

Siswa autis melakukan terapi fisik

Sehari sebelumnya salah seorang narasumber dalam penataran. Ciptono yang merupakan kepala sekolah  luar biasa (SLB) negeri Semarang sempat menceritakan betapa sebuah perjuangan besar bagi dirinya untuk merintis sekolah tersebut. Berawal dari sebuah sekolah yang menggunakan balai RW sebagai kelas dan sempat berpindah ke garasi rumah miliknya, sekolah yang dirintis Ciptono untuk anak-anak berkebutuhan khusus ini sempat mengalami pasang surut. Dengan dedikasinya dan dukungan dari orang tua/wali murid sekolah ini pun berkembang hingga sekarang.

I\m Sorry Good Bye!

Siswa tuna rungu membuat bakpao untuk dijual di kantin sekolah

Sekolah luar biasa ini pun telah menghasilkan anak-anak luar biasa yang mampu menunjukkan bakat dan potensinya. Andi Wibowo, Gigih Prakoso, Bambang Purwanto, Delly Meladi, dan Kharisma Rizki Pradana adalah sedikit contoh anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak bisa sobat lihat sebelah mata. Selain masing-masing pernah meraih rekor MURI, keajaiban mereka sangat menakjubkan.

I\m Sorry Good Bye!

Anak tuna netra sedang latihan jalan di tempat

Andi Wibowo yang disebut idiot justru bisa menghasilkan lukisan-lukisan dahsyat dengan dua tangan bersamaan. Gigih Prakoso yang tangannya tidak berfungsi malah sangat berprestasi. Gigih dapat menulis dan membuat kerajinan dari manik-manik dengan kakinya. Bambang Purwanto yang tunagrahita hafal 200 lagu. Delly Meladi yang juga tunanetra hafal 650 lagu. Kharisma Rizki Pradana yang autis sangat ajaib karena dapat menirukan dan menghafal apa pun dengan cepat. Bahkan Kharisma menjadi anak autis pertama di dunia yang memasuki dunia rekaman.

Kisah perjuangan Ciptono memunculkan bakat luar biasa anak-anak didiknya dan kisah mengharukan para anak didik Ciptono ditulis lengkap oleh Ciptono dan temannya, Ganjar Triardi dalam sebuah buku berjudul “Guru Luar Biasa: Membangun Sekolah Luar Biasa dari Garasi hingga Raih 9 Rekor MURI”. Ciptono dan beberapa anak didiknya termasuk Kharisma sempat diundang di acara talk show Kick Andy untuk berbagi inspirasi dengan masyarakat Indonesia. Tahun 2010 Ciptono mendapat penghargaan dari Kick Andy sebagai pemenang The Heroes 2010 atas dedikasinya di dunia pendidikan khususnya untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

I\m Sorry Good Bye!

Ciptono, Kepala SLB Negeri Semarang 9courtesy of kickandy.com)

Itu baru sedikit potret anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki kemampuan luar biasa ketika dididik dengan tepat dan oleh orang tepat. “Menjadi anak berkebutuhan khusus bukan akhir segalanya,” tutur Ciptono. “Anak-anak berkebutuhan khusus bila kita didik, kita arahkan, dan kita bimbing dengan sepenuh hati akan menjadi anak bertalenta luar biasa,” tambahnya. Hal ini dapat dilihat pada anak-anak didik Ciptono di SLB Negeri Semarang. Bagi saya sosok heroes bukan hanya untuk Ciptono melainkan juga bagi seluruh anak-anak luar biasa yang saya jumpai disana atas kerja keras, semangat dan motivasi yang kuat untuk mengembangkan diri dan tidak tekurung dalam ketidakberdayaan. Sungguh inspirasi yang luar biasa bagi saya telah bertemu dengan the real heroes. I\m Sorry Good Bye!

  1. ipad case
    2:08 am on June 4th, 2011

    It is good to meet with the heroes.

  2. tristyantoprabowo
    2:40 pm on June 4th, 2011

    Yes it was……thanks for comment

  3. arnissilvia
    3:34 am on June 5th, 2011

    Subhanallah.. They are the real heroes!

    Visit balik ya :D

  4. tristyantoprabowo
    2:29 pm on June 5th, 2011

    yes they are arni…mksh udah comment…..siap visit! :)

  5. arnissilvia
    8:57 pm on June 6th, 2011

    Tris, hari rabu di SUN TV ada talkshow Ayah Edy dengan seorang ibu dari anak yang dinyatakan autis, yang dengan sabarnya menghadapi si anak hingga anak justru menjadi juara olimpiade2 matematika..

    Hey, aku menulis tentang Pendidikan Calon Koruptor, disini

  6. tristyantoprabowo
    9:46 pm on June 6th, 2011

    wah iya ya Subhanallah? itulah bukti kebesaran Tuhan dan kesabaran seorang ibu dalam mendidik dan mengarahkan anaknya yang ‘spesial’…… mksh udah comment…..siap kunjg balik nich :)

  7. pratiwicristinharnita
    2:16 pm on June 8th, 2011

    benar2 bikin terharu, kita yang normal perlu bercermin diri untuk lebih bersyukur dan mencontoh optimisme mereka. Mereka yang cacat saja bisa melakuna hal luar biasa apalagi kita yang diciptakan lengkap? tulisanmu inspiratif kawan….

  8. tristyantoprabowo
    10:33 pm on June 12th, 2011

    100% agree with u mbk Tiwi’, bertemu mereka membuat saya lebih bersyukur dan lebih optimistis! mksh udah comment :)

  9. arnissilvia
    12:41 pm on June 15th, 2011

    Ini baru Sekolahnya Manusia dan gurunya manusia!

    Mau tau apa itu sekolahnya Manusia? Ayo kunjung ke

  10. Alfonsus D. Johannes
    11:08 am on November 3rd, 2011

    wah.. mantep2 ya…

    aku juga pernah bertemu dengan kawan2 yg tuna netra, ada juga yang lumpuh dan harus di kursi roda…

    mereka memiliki semangat yng berlipat… kadang kita jadi malu juga sering males2an gini… hehe

Before you post, please prove you are sentient.

what is 2 + 2?