Articles Comments

Apriyata dr. » Uncategory » Watermark pada Manuskrip Islam

Watermark pada Manuskrip Islam

Research of Watermarks

WATERMARKS IN MANUSCRIPT

Manuskrip merupakan karya tulis masa lampau yang bertuliskan tangan. Ia adalah peninggalan sejarah yang sangat unik. Indonesia mewarisi khazanah manuskrip yang termasuk dalam salah satu yang terkaya didunia. Bahkan dari peninggalan tersebut, kejayaan Indonesia masa lampau tertulis dengan rapi. Pernyataan kolonial Belanda tentang 99% orang Indonesia buta huruf dipertanyakan. Dalam kajian Islam, manuskrip digunakan untuk mempelajari agama. Manuskrip Islam ini sering juga disebut Manuskrip Islam Pesantren. Selain ditulis oleh orang Islam sendiri, manuskrip ini juga berisikan kajian tentang Islam. Manuskrip Islam sendiri masih belum banyak yang menaruh perhatian lebih. Padahal dengan mempelajari manuskrip-manuskrip Islam yang sebagian besar berada atau karya dari pesantren, kita dapat merekontruksi peradaban Islam Indonesia pada masa lampau.

Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20, kertas Eropa digunakan dalam menulis manuskrip Islam, meskipun tidak semua manuskrip. Namun, seiring kolonialisasi yang terjadi di Indonesia, penjajah Belanda mengenalkan jenis kertas tersebut. Banyak manuskrip Islam yang menggunakan kertas ini, termasuk pesantren. Pada abad ke-19 mayoritas manuskrip yang ditulis di pesantren-pesantren di Indonesia khususnya Jawa Timur, menggunakan kertas yang berasal dari Eropa ini.

Ciri khas dari kertas ini memiliki Watermarks, yang apabila diterawang melalui sinar matahari akan terlihat cap air pada kertas tersebut. Watermarks ini bergambarkan tulisan, hewan dan lainnya. Tanda air dari gambar-gambar tersebut merupakan identitas (logo) dari perusahaan-perusahaan pembuat kertas tersebut, yang berasal dari Eropa.

Biasanya watermarks tampak pada bagian tengah atau kiri atas kertas itu. Watermarks dapat membantu menentukan usia naskah jika didalam manuskrip tidak memiliki keterangan (kolofon) mengenai kapan penulisan dilakukan. Bentuk dari watermarks atau tanda perusahaan kadang-kadang sering berubah, namun ada daftar cap yang dapat membantu mengetahui tahun diproduksinya kertas tersebut. Kertas diekspor ke Indonesia dengan persediaan terbatas sehingga akan cepat habis. Dengan begitu dapat diketahui bahwa naskah dibuat tidak jauh dari sejak kertas diproduksi.

Penjajah/pemerintah Belanda yang mengenalkan kertas tersebut di Indonesia. Sehingga pada masa itu kertas Eropa (kertas impor) dapat menggantikan peran Kertas Gedog (kertas asli pribumi) dalam melakukan penulisan manuskrip. Ini dikarenakan hanya tinggal sedikit yang memproduksi kertas gedog dan semakin hari semakin berkurang. Dan karena kualitas kertas Eropa lebih baik maka orang-orang pun banyak yang beralih menggunakan kertas ini.

Sehingga tidak bisa ditampikkan bahwa pada manuskrip Islam pesantren terutama yang berisi tentang Al-Qur’an, ada yang menggunakan kertas Eropa berwatermarkskan binatang atau bahkan bergambar salib. Hal ini tidak terjadi di Mesir karena para ulamanya mengeluarkan fatwa haram menulis Al-Qur’an diatas kertas berwatermarks salib. Ini dikarenakan Islam melarang melukis semua jenis mahluk hidup dan salib merupakan lambang bagi non-muslim. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa di Indonesia terjadi hal yang demikian tersebut, yaitu adanya Al-Qur’an yang ditulis pada kertas berwatermarks salib ataupun makhluk hidup.

Written by

Young Businessman, Importer, Owner of Szeva Brand.

Filed under: Uncategory

Leave a Reply

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

What is 9 multiplied by 8?