Ketikan Jari…

Dudih Sutrisman | Just another Djarum Beswan Blogs site

Tantangan Transformasi Nilai-Nilai Pendidikan Kebudayaan pada Era Kesejagatan

Oleh Dudih Sutrisman, S.Pd.

 

Kebudayaan Merupakan Modal Dasar Yang Sangat Penting Sebagai Salah Satu Sumber Daya Utama Pembangunan.

(Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI)

 

Gugusan kepulauan Nusantara terdiri atas kurang lebih 13.000 pulau, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Pulau-pulau tersebut memiliki keanekaragaman suku, ras, agama dan kebudayaan yang berbeda, namun itu semua menjadi penguaat identitas nasional sebagai sebagai sebuah Nation. Keseluruhannya memiliki jatidiri masing-masing, sehingga muncul pernyataan bahwa pada hakikatnya tidak ada satu pun kebudayaan yang sama.

Kebudayaan menurut E.B Taylor dalam buku “Merajut Kembali Keindonesiaan Kita” adalah

“keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat”

 

Secara garis besar, kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, hasil karya manusia yang terkandung dalam kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia. Kebudayaan yang terdapat antara umat manusia itu sangat beraneka ragam dan selalu berkembang menjadi lebih komplek karena memiliki sifat yang dinamis.

Setiap masyarakat mewariskan kebudayaannya kepada generasi yang akan datang kemudian agar tradisi kebudayaannya tetap hidup dan berkembang, melalui pendidikan. Secara alamiah kodrati manusia tidak dapat hidup tanpa proses pembelajaran dan pendidikan, karena untuk menjadi dirinya yang mandiri diperlukan suatu proses yang panjang. Sehingga dapat diartikan bahwa pendidikan adalah sarana untuk pewarisan kebudayaan.

Pendidikan sebagai salah satu sarana pewarisan kebudayaan dalam masyarakat memiliki keterkaitan yang erat dan tak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebagaimana Plato mengungkapkan bahwa pendidikan yang sejati (true education), akan memiliki kecenderung terbesar dalam membentuk manusia yang beradab dan memanusiakan manusia dalam hubungan mereka bermasyarakat dan mereka yang berada dalam perlindungannya.

Konsep dari ”founding fathers” kita yang mengatakan bahwa kebudayaan nasional sebagai puncak-puncak kebudayaan suku-suku yang ada di Nusantara ini dapat dikaji secara terus-menerus dalam rangka membina apa yang disebut kebudayaan Indonesia yang akan merupakan landasan yang kuat bagi Sistem Pendidikan Nasional. Tetapi hal mendasar yang perlu dicermati adalah “sistem pendidikan kita bukan merupakan tempat di mana kebudayaan dapat berkembang dan di mana pendidikan tersebut merupakan bagian dari kebudayaan secara menyeluruh”. Hal tersebut senada dengan pernyataan Yamin (2009, hlm. 24) yang menyatakan bahwa “Pendidikan dapat mengembangkan jati diri kemanusiaan yang berdaulat dan bermartabat, bahkan bisa melahirkan masyarakat yang beradab dan berbudaya ketika pendidikan betul-betul menjadi dan dijadikan tulang punggung sebuah perjalanan bangsa ke depan.”

Apabila mencermati hakikat kebudayaan dan pendidikan yang dikemukakan di atas, dapat dikatakan inti dari setiap kebudayaan adalah “manusia”, manusia yang berbudaya dan membudaya. Demikian pula hakikat pendidikan, inti dari pendidikan adalah “manusia”, yaitu manusia berpendidikan dan pendidikan untuk manusia.

Pendidikan Seni Budaya dan Bahasa Sunda di lingkup persekolahan di Jawa Barat utamanya menjadi salah satu ujung tombak dalam upaya memperkenalkan generasi muda kepada kekayaan Budaya Bangsa dan begitu luhurnya nilai-nilai kebudayaan yang dimiliki bangsa ini sebagaimana dijelaskan oleh Gunawan (dalam Yamin, 2009, hlm. 17) bahwa “pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi, yaitu sosialisasi nilai, pengetahuan, sikap dan keterampilan.” Proses sosialisasi tersebut adalah sosialisasi nilai-nilai luhur kesundaan agar peserta didik dapat bersikap layaknya nonoman sunda yang terkenal akan nilai-nilai sikap tatakramanya yang santun. Begitupun dalam aspek keterampilan, dengan dipelajarinya Bahasa Sunda, Karawitan atau Seni Tari, maka akan meningkatkan keterampilan peserta didik terkait dengan berbagai hal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai media memperkenalkan dan mempertahankan kebudayaannya seperti contohnya dengan mengenal aksara sunda, peserta didik memiliki keterampilan untuk dapat mengenalkan huruf-huruf sunda kepada masyarakat lainnya yang tidak bisa menuliskan aksara sunda, dengan mempelajari karawitan peserta didik akan diasah kemampuan menyanyi lagu-lagu tradisionalnya dari berbagai ragam lagu, tembang, pupuh, atau bahkan sawer. Begitupula dengan mempelajari seni tari, terjadi suatu proses transfer kebudayaan kepada generasi muda dimana seni tari terutama tari tradisional saat ini masih kurang diminati oleh generasi muda, melalui lembaga pendidikan formal itulah, peserta didik dituntut untuk setidaknya mengenal tari-tarian tradisionalnya masing-masing.

Tantangan terberat dalam pendidikan kebudayaan adalah derasnya arus kesejagatan yang didukung oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat. Generasi muda saat ini sangat tergantung pada beragam perangkat teknologi canggihnya dalam menjalankan kehidupannya. Nilai-nilai sosial budaya masyarakat mulai luntur sedikit demi sedikit, paradigma dan gaya hidup mulai bergeser, tatanan kehidupan sosial yang dijiwai oleh semangat intisari Pancasila yakni gotong royong mulai menghilang dalam keseharian, masyarakat menjadi cenderung individualis.

Permasalahan tersebut menjadi sebuah tantangan tersendiri sebab sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa kebudayaan bersifat dinamis, kita tidak bisa menghalangi kemajuan jaman. Untuk tetap menjaga kebudayaan agar tetap diminati oleh generasi muda adalah dengan memanfaatkan kemajuan jaman tersebut untuk kepentingan media sosialisasi nilai-nilai kebudayaan dan memperkenalkan beragam kebudayaan kita. Hal ini sesuai dengan pepatah sunda yang berbunyi “Ngindung ka waktu, Mibapa ka jaman” dimana, kebudayaan apapun akan punah jika mengambil sikap melawan arus, tetapi kebudayaan akan tetap dapat bertahan bila mampu mengikuti perkembangan jaman. Mengikuti perkembangan jaman disini bukan berarti menghilangkan nilai-nilai kebudayaan yang ada dan menggantinya dengan yang baru melainkan lebih pada melakukan inovasi dan kreasi bagaimana agar kebudayaan tersebut masih dapat diterima dalam konteks kekinian tapi dengan catatan tidak menghilangkan pakem-pakem budaya yang sudah ada.

Strategi demikian perlu kiranya untuk dilakukan, sebab ketika bertahan pada sikap defensif dan konservatif, maka harus siap kiranya kebudayaan kita tidak akan dilirik oleh generasi muda. Sekarang pun bukan waktunya untuk meributkan tentang ketidaksesuaian dengan budaya asli dan lain-lain karena jika terus menerus meributkan hal tersebut sama saja dengan membuang waktu kita sedangkan jaman terus berubah. Perkembangan jaman yang sangat dinamis ini mengingatkan kita pada perkataan “Urang mah kedah ngigelan jaman, sanes urang anu diigelan ku jaman”  dimana kita harus bisa mengendalikan kemajuan jaman bukan justru kita dikalahkan dan dikendalikan oleh kemajuan jaman.

Semua hal tersebut dapatlah kiranya menjadi pemikiran bersama akan pentingnya pendidikan berbasis budaya namun bukan budaya dalam paradigma yang “kolot” tapi budaya yang dapat masuk dalam kehidupan generasi muda serta dapat dijiwai dalam pengaplikasian kehidupan mereka. Demikian pula dengan lembaga pendidikan formal maupun non-formal di wilayah Jawa Barat haruslah dapat mengikuti nilai-nilai luhur dan kearifan lokal masyarakat sunda, sebab lembaga pendidikan menjadi salah satu agen yang memiliki peran dominan dalam sosialisasi nilai-nilai watak masyarakat sunda yang Cageur, Bageur, Pinter, Bener, Singer, Cangker, dan lain-lain.

PENTINGNYA MENGASAH SOFTSKILL

Sejak SMP kita sudah dikenalkan dengan beragam kegiatan di luar jam pelajaran sekolah yang tergabung dengan nama ekstrakurikuler atau sering kita sebut sebagai ekskul dan di SMP juga kita sudah mengenal apa itu yang disebut OSIS. Sebagai organisasi yang menaungi seluruh aspirasi yang ada di sekolah, orang-orang yang aktif di OSIS ataupun ekskul seringkali dipandang sebagai “pejabat” yang punya banyak kesibukan.

Nah, akibat dari kesibukan yang mereka alami, seringkali orang dalam hal ini siswa yang tidak aktif dalam organisasi memiliki pandangan bahwa mereka pasti nilainya merosot, waktu yang dimiliki pun banyak tersita sehingga mereka dianggap “kuper” akibat jarangnya mereka bermain dengan rekan sebayanya. Tapi siapa sangka justru anggapan mereka kebanyakan meleset dan tidak sesuai dengan realitanya, orang yang aktif di dunia organisasi justru malah memiliki kemampuan intelegensi yang melebihi orang yang pasif. Kenapa hal itu bisa terjadi?

Memang diakui bahwa orang yang aktif di organisasi memang lebih banyak memiliki kesibukan disbanding yang pasif tapi bukan berarti bahwa nilai akademik mereka dibawah yang pasif dan juga tidak bisa disebutkan bahwa mereka adalah orang “kuper” sebab mereka telah terasah softskill-nya. Lalu apa itu softskill? Dalam bukunya Making College Count, Patrick S. O’Brien mengkategorikan 7 area yang disebut Winning Characterictics (Karakter Pemenang), yaitu, Communication Skill, Organization Skills, Leadership, Logic, Effort, Group Skills, dan ethics. Kemampuan nonteknis yang tidak terlihat wujudnya (intangible) namun sangat diperlukan itu, disebut soft skill. (Dasim Budimansyah, 2011:34)

Dari pernyataan diatas mari kita telaah satu persatu Communication Skills adalah kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara luwes dengan lingkungannya, Organization Skills adalah kemampuan berorganisasi dalam hal ini seorang pemenang adalah orang yang mampu memanajemen dirinya dalam berbagai hal dan komunitasnya.

Leadership adalah jiwa kepemimpinan dimana orang tersebut adalah pemimpin untuk dirinya dan orang lain, dia mampu memimpin orang lain untuk dapat bersama-sama mencapai tujuan yang telah disepakati bersama sebelumnya, Logic adalah bahwa seseorang memiliki pola pemikiran yang logis, tidak mengada-ada, dalam hal ini bahwa orang tersebut mampu berpikir secara sistematis, terperinci sehingga tidak akan bertindak gegabah dalam perilaku kesehariannya.

Effort diartikan sebagai Usaha, sebab dalam upaya mencapai tujuan yang diharapkan, orang harus berusaha dengan gigih menghadapi beragam rintangan yang muncul, Group Skills ialah kemampuan bekerjasama dengan orang lain dalam satu grup sehingga dapat dipastikan orang yang memiliki kemampuan ini akan mampu menciptakan suatu tim yang solid, dan Ethics yang berarti Etika, dalam hal ini seseorang yang beretika dalam sikap dan perilakunya akan disebut sebagai pemenang sebab orang yang demikian akan mampu mendapat kepercayaan dari orang lain.

Keseluruhan aspek yang disebutkan O’Brien itu saling berhubungan satu sama lain tidak terpisahkan. Lalu darimana kita bisa memperoleh sifat para pemenang itu? Di dalam kegiatan belajar persekolahankah?

Dunia pendidikan umumnya lebih banyak menekankan pada pengembangan kemampuan akademik yang bisa disebut sebagai Hardskill atau kemampuan keras. Pengembangan kemampuan akademik siswa ini lebih banyak dijejali dengan beragam teori dengan tidak memberikan pengaplikasian yang nyata kepada siswanya sehingga akan menghasilkan siswa yang memiliki pikiran yang cenderung sempit, sebab siswa tidak dapat menghubungkan antara teori yang mereka dapat dengan dunia nyata yang akan mereka petik hasilnya sendiri.

Lalu darimana kita bisa mendapatkan softskill itu? Jawabannya adalah di Organisasi yang ada di sekolah seperti OSIS atau Ekstrakurikuler. Keberadaan organisasi ini sangat penting bagi perkembangan peserta didik, sebab di OSIS peserta didik akan dilatih menjadi seorang pemimpin dan organisatoris yang mampu memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan kemampuan berpikir secara kritis dan logis terhadap keadaan sekelilingnya sebab mereka dituntut untuk peka pada berbagai permasalahan.

Peserta didik yang aktif dalam organisasi pun akan mampu memajemen diri, utamanya dalam masalah waktu sebab selain mereka memang sibuk dengan beragam kegiatannya, mereka harus mampu membagi waktunya untuk beragam kepentingan lain seperti urusan sekolah dan urusan keluarga atau urusan pribadinya. Sebab tidak ada peserta didik yang mau nilainya turun, apapun alasannya termasuk para peserta didik yang aktif berorganisasi itulah mengapa mereka pun tetap memiliki prestasi di sekolahnya bahkan tak jarang mereka malah menorehkan tinta emas di saat-saat akhir mereka di dunia sekolah (lulus) sebab mereka mampu membagi waktunya secara efisien dibanding peserta didik yang pasif.

Berbeda dengan OSIS yang lebih banyak memberikan penekanan pada penanaman kepemimpinan, di ekstrakurikuler, mereka di latih kemampuan berdasarkan minat dan bakatnya sehingga bakat mereka akan lebih terasah sehingga mereka dapat memberikan prestasi yang membanggakan.

Peserta didik yang pasif memang bukan berarti memiliki kemampuan akademik rendah, namun mereka selama sekolah tidak dilatih untuk menghadapi beragam kemungkinan yang akan mereka hadapi di kemudian hari, sehingga mereka dimanja oleh banyaknya waktu luang yang mereka dapatkan membuat mereka terlena untuk selalu bersikap santai yang tanpa disadari mereka mulai tidak memperhatikan pentingnya waktu. Imbasnya, mereka merosot dalam hal akademiknya akibat gaya hidup mereka sendiri.

Idealnya orang yang memiliki banyak waktu luang seharusnya mampu mencetak prestasi akademik yang melebihi peserta didik yang sibuk dan waktunya lebih banyak tersita. Namun kenyataan ternyata berbicara lain, peserta didik yang tidak aktif di organisasi ternyata tidak lebih baik daripada peserta didik yang aktif. Hal tersebut pun berlaku di dunia kampus (perkuliahan)

Efek yang akan didapatkan pun akan dirasakan saat peserta didik aktif tersebut lulus dari satuan pendidikannya, baik itu yang melanjutkan ke perguruan tinggi ataupun mereka yang memutuskan untuk terjun ke dunia kerja, sebab dunia kampus yang super padat dengan beragam aktivitasnya tidak akan membuat kaget orang yang dahulunya aktif berorganisasi sebab mereka sudah terbiasa dengan segala hal yang bersifat padat, malah banyak diantara mereka yang kemudian malah kembali menjadi aktivis kampus yang aktif di beragam organisasi kemahasiswaan. Begitupun yang terjun ke dunia kerja, dengan softskill yang mereka dapatkan dari organisasi yang pernah mereka ikuti sebelumnya, mereka tidak asing lagi dengan dunia yang menuntut tim kerja yang solid serta menuntut mereka untuk berkomunikasi yang baik dengan beragam kalangan.

Anggapan yang ada tentang buruknya prestasi peserta didik yang yang aktif berorganisasi dengan sendirinya terbantahkan, sebab manfaat dari kegiatan berorganisasi sebagai sarana melatih softskill itu sangat penting untuk masa depan yang bersangkutan sebagaimana hasil penelitian NACE (National Association of Colleges and Employers) pada tahun 2005 yang menyebutkan bahwa pengguna tenaga kerja pada umumnya membutuhkan keahlian kerja berupa 82% softskill dan 18% hardskill. (Dasim Budimansyah, 2011:34).

Dari penjelasan dan data diatas dapat disimpulkan bahwa melatih softskill sangatlah penting, memang manfaatnya tidak akan langsung dirasakan namun dimasa yang akan datang, hal itu akan sangat membantu. Namun perlu diingat, hardskill atau kemampuan akademik pun jangan diremehkan. Keduanya harus berjalan beriringan, sebab keduanya saling keterkaitan. Oleh sebab itu para peserta didik dan mahasiswa disarankan untuk mengikuti kegiatan organisasi minimalnya yang ada di lingkungan pendidikannya, maksimalnya di luar lingkungannya dengan cakupan teritorial tertentu. Mindset yang menyepelekan arti pentingnya aktif di organisasi harus kita ubah sebab softskill akan kita dapatkan di kala kita aktif dalam kegiatan berorganisasi. Dukungan dari lembaga pendidikan dan aparaturnya pun haruslah berimbang antara pemenuhan kebutuhan akan hardskill dengan softskill, jangan hanya menitikberatkan pada pengembangan hardskill semata dan menyepelekan softskill.

Hello world!

Welcome to Djarum Beswan Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!