sumber: republika.co.id;
bendera duo korea di atas korea

Peran Amerika Serikat dalam Konflik Semenanjung Korea abad-21

  • Latar Belakang

Pasca Perang Dunia kedua blok sekutu terbelah menjadi dua blok, yaitu blok barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan blok timur yang dipimpin oleh Uni Soviet. Dalam politik internasional kemudian situasi ini dikenal dengan istilah Perang Dingin, perang yang tidak menciptakan perang besar namun hanya benturan-benturan kecil bersenjata dan persaingan ideologi, teknologi, dan perlombaan persenjataan (Arms Race). Saat Perang Dingin inilah terciptanta situasi yang dikenal dengan oleh orang-orang realis sebagai “Power of Balance”, yang dianggap sebagai situasi yang ideal dalam politik internasional. Karena ada dua kekuatan besar yang menjadi penyeimbang dalam konstelasi di dalam politik internasional.

Perang Dingin khususnya yang melibatkan Amerika Serikat dan Uni Soviet berawal ketika Amerika Serikat di bawah pimpinan President Harry Truman dalam pidatonya yang kemudian didukung oleh Kongres pada tanggal 12 Maret 1947, pidato tersebut berisi dukungan Amerika Serikat terhadap pemerintah Yunani dalam memerangi Partai Komunis Yunani. Tindakan tersebut diambil oleh Presiden Truman setelah Inggris memutuskan untuk menghentikan dukungannya. Dari sini kemudian lahirlah atau dikenalah istilah Doktrin Truman, yakni doktrin yang pada umumnya berbicara tentang pembendungan komunis di seluruh dunia (Contaiment Policy) .

Ada berbagai versi tentang dimulainya Perang Dingin, yang saya tau setidaknya ada dua versi yang menyatakan awal mula Perang Dingin dimulai. Sebagian mengatakan Perang Dingin dimulai sebelum Perang Dingin yaitu pada tahun 1943-an, dimulai dari pertemuan ketiga pemimpin negara F.D. Roosevelt sebagai Presiden Amerika Serikat, W. Churcill sebagai Perdana Menteri Inggris, dan J. Stalin sebagai Marshal Uni Soviet yang bertemu dalam konfrensi di Tehran, Iran 1943. Saat Amerika Serikat dan Inggris mengajak Uni Soviet untuk ikut terlibat membendung Hittler dan Nazi Jerman, muncul kecurigaan dari Stalin kepada kedua teman Saxon barunya tersebut.

Namun dalam tulisan saya ini, saya bukan mau membicarakan permasalahan Perang Dinginnya, melainkan dampak dari Perang Dingin yang membawa perubahan dalam peta politik dunia. Khusus di kawasan Asia terjadi konflik bersaudara di beberapa kawasan seperti di Tiongkok, Afganistan, Indonchina (Vietnam), dan Semenanjug Korea. Konflik di dasari oleh perbedaan ideologi, dan dalang dari konflik diberbagai wilayah tersebut ialah kedua seteru abadi dalam Perang Dingin yaitu Uni Soviet dan Amerika Serikat.

Dalam buku “The World Since 1945 A History of International Relations” yang disusun oleh Wayne C. McWilliams dan Harry Pitrowski menuliskan dalam bab tiga menuliskan tentang Perang Dingin di Asia sebagai sebuah perpindahan tempat konflik yang terjadi di Eropa kemudian mengalami perluasan hingga berdampak ke Asia (McWilliams & Piotrowski, 1990). Diawali dari konflik ideologi, yang melahirkan konflik-konflik kecil bersenjata di wilayah-wilayah Asia yang telah saya sebutkan di atas.

Untuk memenuhi tugas Peran Internasional Amerika Serikat saya mengambil salah satu konflik masa lalau yang hingga sekarang masih terjadi, dan menjadi warisan Perang Dingin yaitu konflik di Semenanjung Korea (Korea Peninsula). Hingga saat ini upaya untuk mendamaikan kedua Korea sedring mendapatkan jalan buntu, dan sering dipolitisasi untuk kepentingan aktor besar dibalik konflik kedua negara sebangsa itu.

Saya tertarik mengambil topik dan menurut saya sesuai dengan mata kuliah Peran Internasional Amerika Serikat, Amerika Serikat memiliki peran yang besar di dalam konflik kedua Korea dan secara umum di kawasan Asia Timur. Sering kerjasama ekonomi di kawasan ini kurang maksimal atau bahkan sulit tercapai dikarenakan konflik yang masih terjadi di antara sebangsa berbeda negara ini.

  • Sejarah Perang Korea

Seperti yang saya telah jelasakan pada latar belakang, Perang Dingin yang mengalaim perluasan atau melebar ke wilayah Asia dan menghasilkan perpecahan di beberapa wilayah, salah satunya di semenanjung Korea. Perang Korea berlangsung selama tiga tahun, dimulai dari 25 Juni 1950 sampai dengan 27 Juli 1953, perang yang berlangsung di ear perang dingin juga disebut sebagai perang saudara seperti yang telah saya tuliskan  di bagian latar belakang (Astrid & Nadif, 2011).

Berawal dari keterlibatan Uni Soviet dalam mendeklarasikan perang pembebasan Korea pada 9 Agustus 1945 dari cengkraman Jepang pasca Bom Atom kedua dijatuhkan di kota Nagasaki yang mengakhiri Perang Dunia kedua. Dalam sekejap Tentara Merah Soviet berhasil menduduki Korea Utara dan sehari setelahnya berhasil mengusir Jepang dari wilayah tersebut. Uni Soviet membaca ketidakberdayaan pasukan Jepang pasca di Bom Atomnya kedua kota utama di wilayah negar Jepang, Hiroshima dan Nagasaki.

Tiga miinggu setelah itu tepatnya pada tanggal 8 September 1945 pasca penyerahan wilayah Korea Selatan dari Jepang, Amerika Serikat mendaratkan ribuan pasukannya di pantai timur Korea bagian selatan. Ini mengakibatakn wilayah semenanjung Korea yang sebelumnya dibawah kekuasaan Jepang terpecah menjadi dua, dan dibawah kekuasaan dua negara yaitu Uni Soviet yang terlebih dahulu berhasil menguasai baguan utara Korea dan Amerika Serikat yang kemudian menguasai Korea bagian selatan.

Konflik semakin memanas dengan dideklarasikannya pendirian negara Republik Korea oleh Korea Selatan pada tanggal 15 Agustus 1948 dan beribu kota di Seoul dibawah pimpinan Tokoh Nasionalis Syangman Rhee. Tidak mau kalah pada bulan September 1948 Korea Utara mendeklarasikan berdirinya negara Republik Demokrasi Rakyat Korea yang beribu kota di Pyong Yang dibawah pimpinan Perdana Menteri Kim Il Sung. Inilah yang kemudian menjadi akar dari konflik yang terjadi di Semenanjung Korea hingga saat ini, meski keduanya memiliki ambisi untuk menyatukan Korea dibawah satu kepemimpinan namun nampaknya hal itu sulit terjadi. Ini dikarenakan ambisi dari pimpinan masing-masing negara diantara kedua Korea.

Isi

  • Perang Dingin

Perang Dingin seperti yang telah saya tuliskan pada latar belakang membawa dampak ke seluruh wilayah di belahan dunia, termasuk di Asia. Asia menjadi perpindahan dari konflik Perang Dingin di Eropa yang mengalami perluasan. Amerika Serikat memegang peran kunci di dalam Perang Dingin bersama dengan seteru ideologinya Uni Soviet, hampir semua konflik yang terjadi di muka bumi tak lepas dari keterlebitan mereka. Termasuk di dalam konflik Korea.

Awalmula keterlibatan Amerika Serikat di dalam tiap konflik dimulai dari berubahnya politik luar negeri Amerika Serikat di era Presiden Harry Truman, di-era Truman politik luar negeri Amerika Serikat lebih bersifat intervensi. Ditambah lagi diberlakukannya politik pembendungan pengaruh Komunis yang dikeluarkan di-era Presiden Truman, yang mengakibatkan Amerika Serikat selalu terlibat di dalam konflik yang juga melibatkan Uni Soviet sebagai negara utama dalam dunia Komunis yang tergabung di dalam Komitern (Komunis Internasional/ Internasional II).

Termasuk di dalam konflik bersaudara di Korea, Amerika Serikat secara aktif membantu dan memberikan pelatihan militer kepada pasukan Korea Selatan. Ini dilakukan untuk membendung pengaruh Komunis yang coba disebarkan oleh Uni Soviet melalui negara satelitnya Korea Utara. Di era-perang dingin keterlibatan kedua negara masih sangat terlihat dan terkesan fulgar, dan konflik keduanya terkadang irasional dan tidak menggunakan perhitungan untung rugi. Dalam konflik tersebut faktor ideologi menjadi sangat substansial bagi Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Bagi Amerika Serikat membendung pengaruh Komunis adalah sebuah keharusan, dan menyebarkan ajaran demokrasi, kebebasan, dan kesetaraan atau yang kita kenal dengan istilah American Value (Western Value). Ini dilakukan untuk mencegah perkembangan Komunis yang mereka anggap sebagai bahaya laten, dan mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah Komunis mendekati daratan utama Amerika Serikat dengan berbagai cara.

Seperti yang ditulis dalam pidato Presiden Truman pada tanggal 28 Juni 1950,  yang diberi judul “Invasion of Republic Korea” (Elsey, 1950), Truman menunduh Komunis Korea utara telah melewati batas dalam percobaan untuk menaklukan negara merdeka Korea Selatan. Presiden Truman juga menyatakan Amerika Serikat siap memberikan bantuan pasukan dari udara dan laut dalam membendung serangan yang dilakukan oleh Korea Utara terhadap Korea Selatan yang notabennya dianggap oleh Amerika Serikat sebagai negara merdeka (padahal Uni Soviet dan Korea Utara disaat yang sama menuduh Korea Selatan sebagai negara boneka Amerika Serikat).

Saat perang dingin Amerika Serikat secara terbuka mencoba mempertahankan keberadaan negara Korea Selatan, dengan bantuan militer dan memfokuskan kebijakannya di Asia Timur (Far East) untuk melindungi Korea Selatan dari invasi Korea Utara dan Amerika Serikat bersama sekutunya Perancis tidak mempercayai tindakan yang telah dilakukan oleh USSR (Uni Soviet).

Diawal perang dingin dan hampir selama perang dingin peran Amerika Serikat di dalam konflik Semenanjung Korea sangat dominan dan terlihat, ini dikarenakan Amerika Serikat merasa perlu membendung pengaruh Komunis yang diperkuat oleh negara major power seperti Uni Soviet. Amerika Serikat juga mengerahkan kekuatan armada militer laut dan udara untuk membantu Korea Selatan dalam menghadapi Korea Utara. Juga mengirimkan penasihat militer serta peralatan dan teknologi tempur yang canggih untuk membantu Korea Selatan yang dianggap sebagai negara merdeka yang harus dilindingi kedaulatannya (sovereignty).

  • Pasca Perang Dingin (abad 21)

Runtuhnya Uni Soviet dan reunifikasi duo Jerman menjadi pertanda berakhirnya Perang Dingin, era baru melahirkan hegemony Amerika Serikat yang dianggap sebagai pemenang dari perang urat syaraf yang berlansung hampir setengah abad. Perang Dingin memang telah usai, namun tetap menyisakan dampak dari perang tersebut dalam politik internasional. Termasuk konflik di semenanjung Korea seperti yang telah saya tuliskan pada bagian latar belakang.

Keterlibatan Amerika Serikat pasca perang dingin mengalami perubahan, tidak seagresif ketika masa perang dingin. Ini karena musuh ideologi mereka tidak lagi sekuat ketika masa perang dingin. Amerika Serikat lebih sering mengunakan tangan ketiga dalam mengahadapi Korea Utara dalam konflik Korea, yang mereka anggap sebagai “orang gila” (Madman). Tngan ketiga yang sering kali digunakan Amerika Serikat ialah organisasi-organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Dilibatkannya IAEA dalam konflik Korea karena pasa Perang Dingin yang digunakan Amerika Serikat untuk melindingi sekutunya Korea Selatan ialah permasalahan pengembangan teknologi nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara. Amerika Serikat merasa perlu melakukan pengawasan terhadap pengembangan teknologi nuklir Korea Utara yang dianggap akan mengancam dunia, khususnya negara-negara di kawasan Asia Timur.

Namun apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat, dengan melibatkan IAEA dalam kasus nuklir Korea Utara dianggap Korea Utara hanya memperburuk permasalahan nuklir tersebut (http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/09/06/m9wong-korut-tuding-iaea-perburuk-masalah-nuklir). Dalam laporan resmi kantor berita KCNA (Korea Central News Agency), mengatakan Pyongyang menegaskan IAEA hanya memperburuk masalah nuklir di semenanjung Korea. Juga mereka mengatakan situasi ini hanya mendukung permusuhan antara Pyongyang dengan Washington.

Selain menggunakan badan internasional dan permasalahan nuklir Korea Utara, Amerika Serikat juga sering melakukan propaganda dengan melakukan latihan militer bersama dengan Korea Selatan. Kore Utara sering mengecam tindakan yang dilakukan oleh Amerika Serikat ini (http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/09/06/m9wong-korut-tuding-iaea-perburuk-masalah-nuklir), dan menurut saya hal tersebut hanya akan memperburuk terciptanya perdamaian di semenanjung Korea. Sebagai polisi dunia seharusnya Amerika Serikat bisa menjadi penengah diantara duo Korea yang sedang mencoba untuk mendiskusikan perdamaian.

Setelah perang dingin usai, bahkan saat masih di-era perang dingin kedua negara mencoba untuk mempersatukan negara Korea dibawah satu pemerintahan yang merdeka. Namun intervensi dari Amerika Serikat sepertinya memperburuk usaha perdamaian yang coba diciptakan di semenanjung Korea. Pasca Perang Dingin Amerika Serikat menggunakan tangan ketiga untuk terlibat dalam konflik duo Korea, dan permasalahan nuklir Korea Utara digunakan sebagai jalan untuk melemahkan pemerintahan Korea Utara. Amerika Serikat juga mengunakan sekutu-sekutunya di Asia Timur seperti Jepang dan Korsel untuk  mengawasi Korea Utara.

Sebagai polisi dunia seharusnya Amerika Serikat bisa bersikap netral dalam konflik Korea, dan menghargai kedaulatan kedua negara. Namun di abad 21 Amerika Serikat justru ingin terlibat lagi di dalam konflik antara dua negara ini. Amerika Serikat juga sering mengeritik permasalahan demokrasi di Korea Utara. Dalam lawatannya ke Seoul Korea Selatan ketika masih menjadi Menteri Luar Negeri Hillary Rodham Clinton membandingkan antara Korea Utara dengan Korea Selatan.

Ia memuji Korea Selatan dan mengeluarkan kata yang propaganda “… South Korea, a wealthy, advance democracy and key ally living in the shadow of repressive and bellicose neighbor to the north. (tambahan: North Korea)” (Clinton, 2014). Kalimat tersebut berpotensi memperkeruh konflik antara kedua negara, dan kata kemajuan demokrasi (advance democracy) menjadi kata kunci bagaimana Amerika Serikat menginginkan Korea Utara mengikuti sistem demokrasi serupa dengan Korea Selatan, yang notabennya menganut sistem demokrasi serupa dengan Amerika Serikat (American Democracy Concept).

Hillary juga sedikit menyidir pemimpin Korea Utara yang totaliter yang membawa 25 juta rakyatnya mendekati kemiskinan. Seharusnya Hillary tidak mengeluarkan kata-kata seperti itu, entah dimuka umum atau hanya di dalam sebuah buku. Mengingat seharusnya Amerika Serikat menggunakan statusnya sebagai negara major power untuk berusaha meredakan konflik dan ketegangan kedua negara. Seperti halnya Rusisa yang merupakan pewaris dari Uni Soviet.

Rusia sering menyindir Amerika Serikat yang sering membawa isu-isu demokrasi dan mencoba terlibat dan memperkeruh resolusi konflik di Semenanjung Korea. Rusia yang sekarang memiliki politik luar negeri yang pragmatis dan berorientasi kepada kerjasama ekonomi mengajak Amerika Serikat dan negara-negara Major Power untuk membicarakan solusi yang mungkin diambil untuk mendamaikan kedua negara. Enam negara yang terlibat dalam pembicaraan solusi Korea ialah Amerika Serikat, Federasi Rusia, Repbublik Rakyat Tiongkok, Jepang, Korea Utara, dan Korea Selatan, dan dikenal dengan six party tallk (Joo, 2012).

Amerika Serikat diharapkan bisa bersikap netral dan tidak mengunakan standard ganda (duble standard) seperti yang biasa mereka jalankan. Amerika Serikat memiliki peran kunci di dalam perdamaian Korea, karena sering kali Amerika Serika menjalankan propaganda dan mengeluarkan pendapat-pendapat yang membuat geram Korea Utara dan mengeluarkan ancaman untuk negara tetangga sebangsanya Korea Selatan.

  • Kesimpulan

Perang Korea berawal ketika masa perang dingin, dan merupakan bagian dari perang dingin yang mengalami perpindahan tempat ke Asia. Amerika Serikat terlibat aktiv memberikan bantuan kepada Korea Selatan selama perang Korea berlangsung, dan Uni Soviet juga memberikan dukungan kepada tentara Korea Utara. Konflik ini didasari oleh perbedaan ideologi dan menjadi legacy dari konflik inti perang dingin antara Amerika Serikat.

Terlibatnya Amerika Serikat dalma konflik Korea dimungkinkan karena politik luar negeri Amerika Serikat di era- Presiden Truman bersifat intervensi, dan terlibat dalam konflik ideologi di Korea merupakan sebuah keharusan bagi Amerika Serikat. Karena sejalan dengan kebijakan Amerika Serikat untuk membendung pengaruh komunis di dunia, yang dikenal dengan nama containment policy. Kebijakan ini pertama dikenal di dalam pidato Presiden Truman tahun 1947, tentang membantu pemerintah Yunani dalam memerangi Partai Komunis.

Perang Dingin berakhir di awal 1990-an, namun konflik Korea hingga saat ini belum menemui titik terang. Meski kedua negara memiliki satu keinginan, yaitu menyatukan Korea dibawah satu pemerintahan. Akantetapi perbedaan ideologi dan rasa ingin mempertahankan deologi di antara kedua negara menambah sulit untuk terciptanya perdamaian abadai di antara kedua Korea.

Amerika Serikat memiliki peran kunci dalam usaha menciptakan perdamaian di antara kedua negara sebangsa ini, namun negara besar lain seperti Federasi Rusia menginginkan Amerika Serikat tidak bermain dibalik layar yang mengakibatkan proses perdamaian di semenanjung Korea. Mengingat sering kali dalam peran internasionalnya membuat Korea Utara semakin sulit untuk diajak berdiplomasi.

Amerika Serikat sebagai negara yang memiliki kepentingan juga diharapkan dapat menahan diri, dan menghentika propaganda yang dapat berpotensi memperkeruh diplomasi untuk terciptanya perdamaian. Untuk menciptakan perdamaian Amerika Serikat juga terlibat dalam forum dialoge  yang dikenal dengan istilah six party tallk. Forum ini diharapkan dapat menciptakan perdamaian abadi di smenanjung Korea, dan dengan perdamaian tersebut dapat menciptakan kerjasam ekonomi yang baik di kawasan Asia Timur. Juga dimungkinkan untuk terciptanya integrasi perdagangan di Asia Timur.

 

Penulis: Amos Sury’el Tauruy (Tugas Peran Internasional Amerika Serikat)

Daftar Pustaka

Astrid, & Nadif, F. A. (2011). Sejarah Perang-perang Besar di Dunia. Seleman: Familia Pustaka Keluarga.

Clinton, H. R. (2014). Hard Choices. New York: Simon & Scuster`.

Elsey, G. M. (1950, June 28). Invasion of Republic of Korea. Far East .

Joo, S.-H. (2012). Russia and the Korean Peace Process. In T.-H. Kwak, The Korean Peace Proces and Four Powers (pp. Chapter 8; 141-168). Asghate: Asghate Pub. Ltd.

McWilliams, W. C., & Piotrowski, H. (1990). The World Since 1945. Colorado: Lynne Reinner Publishers, Inc.

Halaman Web:

http://www.trumanlibrary.org/whistlestop/study_collections/koreanwar/index.php

Amos Sury'el Tauruy

Australia Ungkit Bantuan Luar Negeri Untuk Aceh

Tepat 26 Desember 2004 bangsa Indonesia berduka, kawsan Aceh dan Sebagian besar wilayah Sumatra Utara diterjang bencana alam tsunami. Berbagai negara seperti Jepang, Rusia, Jerman, Amerika Serikat, dan Australia mengulurkan tangan untuk memberi bantuan kepada korban Tsunami. Mulai dari bantuan teknis hingga dana hibah, tidak tangung-tangung bantuan juga diberikan pasca tsunami untuk pemulihan Aceh, negara-negara tersebut berusaha untuk memulihkan kembali kondisi Aceh dan masyarakatnya seperti dahulu kalah.

Selang sepuluh tahun, salah satu negara pemberi bantuan mengungkit kembali bantuan yang telah diberikan kepada rakyat Aceh. Australia di bawah pemerintahan Tony Abbot mengungkit kembali bantuan yang telah diberikan kepada pemerintah Indonesia untuk korban tsunami Aceh. Ini dikarenakan penolakan pemberiaan remisi kepada dua terpidana mati kasus narkoba warga negara Australia oleh Presdien ketujuh Indonesia Joko Widodo. Kedua warga negara Australia yang dikenal merupakan sindikat “Bali Nine” ini dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan negeri Bali.

Keduanya bernama Andrew Chan dan Myuran Sukamaran yang dibekuk di Bandara Ngurah Rai karena membawa 8.3 kg heroin (kompas.com, 2015). Sekarang keduanya tinggal menunggu waktu eksekusi mati yang akan dilakukan dalam waktu dekat, menunggu kesiapan segala sarana yang akan digunakan untuk eksekusi mati bersama Sembilan terpidana lainnya. Sebelumnya pada gelombang pertama telah dieksekusi lima warga negara asing yang berujung kepada perotes dari kepala negara dua negara, yaitu Brasil dan Kerjaan Belanda, kedua negara tersebut menarik pulang duta besarnya dari Jakarta untuk melakukan konsultasi.

Sekitar sebulan terakhir ini giliran pemerintah Australia yang melakukan perotes, berbagai jalur ditempuh oleh pemerintah Australia untuk mencoba menyelamatkan warga negaranya dari hukuman mati. Termasuk langkah yang mengejutkan banyak pihak ialah pemerintah Australia mengunakan PBB untuk meberikan himbauan kepada Indonesia agar tidak melaksanakan hukuman mati di negara Indonesia, ini disampaikan oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon yang mengimbau agara Indonesia tidak melaksanakan hukuman mati. Namun hal tersebut tidak menghentikan Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan hukuman mati kepada Bandar narkoba, demi menjalankan perang suci melawan narkoba (tempo.co, 2015).

Buntu dengan segala cara, Australia mengunakan cara yang juga mengagetkan dan membuat hati rakyat Indonesia terluka. Cara tersebut ialah dengan mengungkit bantuan yang diberikan oleh Pemerintah Australia kepada korban tsunami Aceh, ini membuat geram sejumlah masyarakat Indonesia terutama masayrakat Aceh merasa kecewa terhadap pernyataan pemerintah Australia. Hal tersebut mendapatkan langsung mendapat respon yang negative dari rakyat Indonesia, yang bereaksi mengumpulkan koin untuk mengembalikan bantuan yang diberikan pemerintah Australia, kegiatan tersebut diberi istilah beragam salah satu contohnya ialah “coin for Abbot t(nama perdana menteri Australia) (Herald, 2015).

Dalam politik internasional, bantuan luar negeri (foreign aid) tidak diberikan secara sukarela atau hibah. Meskipun tema dari bantuan tersebut adalah bantuan hibah, namun tetap memiliki motive atau tujuan (propose) dibalik bantuan tersebut. Setidaknya ada dua tujuan yang menjadi motive mengapa suatu negara donor memberikan bantuan kepada negara lain, yaitu terkait keamanan nasional (national security) dan kepentingan ekonomi (economic interests) (Lancaster, 2007). Untuk memahami tujuan dari bantuan luar negeri tersebut kita juga perlu mengetahui politik dalam negeri dari negara donor dan negara penerima.

Dalam kasus Indonesia dan Australia, Australia memiliki kepentingan yang besar terhadap Indonesia. Terkait letak kedua negara yang saling berdekatan dan sering bersentuhan, baik terkait permasalahan keamanan nasional maupun kegiatan perekonomian atau kerjasama ekonomi kedua negara. Oleh sebab itu Australia selalu mencoba menjadi negara donor dan tidak mau ketinggalan dala memberikan bantuan kepada Indonesia. Beberapa contoh bantuan sperti yang telah saya bahas di atas dan juga pembentukan Dentasmen Khusus 88 anti terror yang pembentukannya di danai oleh pemerintah Indonesia guna memerangi aksi terror di Indonesia.

Terkait diungkitnya bantuan Tsunami Aceh ini menunjukan Australia memiliki tujuan politis terkait dengan keamanan nasionalnya, Australia berusaha untuk melindungi warga negaranya yang menghadapi hukuman mati di Indonesia. Jika kita melihat kepada kajian keamanan internasional (International Security Studies) yang dikembangkan oleh Barry Buzan dan Lene Hansen, terkait dengan objek acuan (referent object) yang membutuhkan rasa aman (secure). Buzan dan Lene menjelaskan bahwa bukan hanya negara yang menjadi objek acuan dari rasa aman tersebut, namun juga individu membutuhkan rasa aman (Buzan & Hansen, 2009).

Mengacu dari konsep tersebut kasus dari usaha Australia untuk mencoba melindungi warga negaranya merupakan suatu hal yang wajar. Ini dikarenakan Australia mencoba melindungi dan memberikan rasa aman kepada tiap warga negaranya dimanapun mereka berada, sekalipun warga negaranya melanggar hukum yang berlaku di suatu negara, dan membawa dampak buruk bagi negara terkait. Segala cara ditempuh oleh Australia untuk menyelamatkan kedua warga negaranya tersebut.

Berdasar pada konsep bantuan luar negeri (foreign aid) yang dijabarkan oleh Carol Lancaster, Australia mengungkit kembali bantuan luar negeri dikarenakan untuk melindungi keamanan nasionalnya (national security) yang merupakan salah satu motive negara donor member bantuan kepada negara penerima bantuan. Australia mengunakan politik luar negerinya untuk mencoba menyelamatkan dua warga negaranya, dan menunjukan supremacy (keunggulan) sebagai negara donor kepada Indonesia, dengan harapan Indonesia bisa melepaskan atau membebaskan kedua warga negaranya dari hukuman mati.

Dari sini kita dapat belajar bahwa tiap bantuan asing yang diberikan kepada pemerintah kita pasti memilki motive dan tujuan. Saran saya belajar dari kasus ini, pemerintah Indonesia seharusnya lebih cerdik dalam menerima bantuan yang diberikan asing kepada Indonesia. jangan menerima begitu saja bantuan asing yang diberikan kepada kita, yang nantinya berbuah kepada terpenjaranya rasa “tidak enak” kepada negara donor dan berujung kepada dipermainkannya kedaulatan (sovereignty) Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat (sovereignty state)

 

 

Penulis: Amos Sury’el Tauruy.

Daftar Pustaka

Buzan, B., & Hansen, L. (2009). The Evolution of International Security Studies. New York: Cambridge University Press.

Herald, T. S. (2015, Februari 22). Federal Politics. Retrieved Februari 22, 2015, from smh.com.au: http://www.smh.com.au/federal-politics/political-news/coin-for-abbott-indonesians-angry-backlash-at-pms-bali-nine-diplomacy-20150222-13l5n2.html

kompas.com. (2015, Januari 18). Nasional. Retrieved Februari 22, 2015, from kompas.com: http://nasional.kompas.com/read/2015/01/18/22151681/Terpidana.Mati.Sindikat.Bali.Nine.Menunggu.Waktu.Eksekusi

Lancaster, C. (2007). Foreign Aid Diplomacy,Development, Domestic Politics. Chicago: The University of Chicago Press.

tempo.co. (2015, Februari 17). Politik. Retrieved Februari 22, 2015, from tempo.co: http://www.tempo.co/read/news/2015/02/17/078643184/Indonesia-Lawan-Kecaman-PBB-Soal-Hukuman-Mati

cerita-kancil-dan-buaya

Si Kancil yang Cerdik

Si Kancil yang Cerdik Cerita Si Kancil yang sejak kecil saya dan sebagian besar anak di Indonesia dengar selalu sendiri dan selalu cerdik dalam menghadapi musuh. Namun apa jadinya jika si Kancil dalam ceritanya tidak hidup sendirian, melainkan berkoloni. Dikisahkan bahwa di sebuah hutan yang lebat hiduplah sekawanan kancil, mereka hidup dengan damai dan tentram saling bertoleransi dan memiliki rasa gotong royong antara sesama kancil, walaupun ada beberapa jenis kancil dan juga hidup berdampingan dengan koloni keluarga kelinci, rusa, kera, dan anowa. Sampai suatu ketika datanglah sekawanan harimau dan hyena ke hutan tersebut, situasi hutan yang tentram berubah menjadi mencekam. Kancil, kelinci, rusa, kera, dan anowa sontak hidup dalam rasa ketakutan. Namun kera yang memiliki kecerdasan mencoba untuk berteman dengan hyena, dan mereka berhasil menjadi pelayan kedua hewan buas tersebut. Bukan membantu kawanan hewan lain yang hidup dibawah ancaman keluar dari ancaman, para kera justru membuat keadaan semakin mencekam dengan menakut-nakuti hewan lain. Tahun beganti tahun setelah sekian lama hidup dalam ancaman dari harimau dan hyena, masing-masing hewan mulai memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan koloni masing-masing dari ancaman. Kancil dan anowa berusaha membangun rumah untuk bertahan hidup di atas bukit, kelinci mengali lubang-lubang di dalam hutan untuk berlindung dari kejaran harimau dan hyna, semntara rusa harus lari dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari kejaran dan terkaman dari kedua hewan buas tersebut serta kelicikan kera yang terkadang memberitahukan posisi mereka kepada harimau dan hyena. Hingga suatu ketika lahirlah si Kancil yang cerdik dari koloni kancil, ia berusaha untuk pertama menyatukan koloni kancil dan anowa lalu mereka bersatu dengan kelinci dan rusa. Si Kancil menggunakan kecerdikannya untuk mengelabui harimau dan hyena. Bahkan beberapa kali Kancil berhasil membuat kedua hewan buas tersebut untuk berkonflik dengan buaya yang tinggal di sungai yang tak jauh dari hutan. Terkadang kancil juga lari kehutan di seberang bukit untuk meminta bantuan dari para gaja dan banteng untuk menakut-nakuti atau berhadapan dengan kedua hewan buas tersebut. Tahun berganti tahun harimau dan hyenapun mulai kewalahan menghadapi siasat si Kancil yang di dukung oleh koloni kelinci, anowa, dan rusa. Kera yang menyadari bahwa harimau dan hyena akan meninggalkan hutan mulai memainkan siasat untuk mendekati koloni-koloni lain yang hidup di hutan tersebut. Koloni kera berhasil masuk kembali ke dalam komunitas hutan yang sebelumnya berada dalam bahaya oleh karena perlakuan koloni kera yang bersiasat dengan kedua hewan buas, harimau dan hyena. Namun koloni kera tidak suka dengan si Kancil yang mampu menarik simpati dari koloni-koloni lainnya dan juga bersahabat baik dengan koloni banteng dan gajah dari hutan sebelah bukit. Kerapun mulai bersiasat untuk mencelakai Kancil, kera mencoba bekerja sama dengan buaya dan buayapun menerima tawaran dari kera karena para koloni buaya merasa sakit hati selama ini si Kancil berhasil mengelabui mereka. Kancil yang tidak memiliki prasangka buruk kepada kawanan kerapun berhasil masuk dalam perangkap kera. Saat para kera mengajak Kancil berjalan di dekat sungai dimana koloni buaya menantikan untuk menerkam Kancil, alhasil siasat yang diatur oleh para kera berhasil menjadikan Kancil mangsa bagi koloni buaya yang lapar dan memiliki rasa dendam di hati kepada si Kancil. Setelah si Kancil tiada para kera mengambil alih hutan, dan berhasil mempengaruhi koloni yang lain untuk memushui koloni kancil. Para kera mengarang cerita bahwa koloni kancillah yang telah membunuh si Kancil karena para kancil tidak senang dengan keunggulan yang dimiliki oleh sang Kancil. Cerita ini dipercaya oleh kawanan koloni hewan lain, dan hewan lain yang menyayangi si Kancil percaya akan cerita itu sehingga mereka memusuhi para kancil dan menjauh dari koloni kancil. Setelah berhasil menyingkirkan si Kancil dan membuat koloni kancil terasingkan dari koloni hewan lainnya, para kera mengundang hewan buas lain seperti srigala dan anjing hutan juga babi yang merusak hutan dan membawa ancaman bagi kawanan hewan lain. Hutan yang sebelumnya terlihat damai sontak berubah kembali menjadi hutan yang pebuh ancaman dan rusak karena ulah koloni babi yang merusak tanaman dan srigala yang haus darah.

 

Pengarang: Amos Sury’el Tauruy (modifikasi kisah si Kancil)

Amos Sury'el Tauruy

Indonesia Menuju Negara Industri

Sebuah fenomena dalam dunia internasional yang muncul di era-1960-an dan 1970-an di negara-negara Asia yang kemudian merambat juga ke negara-negara Amerika Latin, fenomena ini kemudian dikenal dengan nama NIC’s (Newly Industrial Countries). Fenomena ini merupakan sebuah proses dimana negara-negara berkembang (developing countries) melakukan industrialisasi dalam sektor-sektor ekonomi sterategis yang mereka miliki, dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh negara tersebut.

Di Amerika Latin negara-negara di kawasan ini menerapkan sistem subsitusi impor untuk terlepas dari ketergantungan negara-negara Amerika Utara seperti Canada dan Amerika Serikat. Subsitusi impor dilakukan dengan cara menganti barang-barang yang selama ini diimpor dari luar negeri digantikan dengan barang-barang yang bisa diproduksi di dalam negeri. Ini kemudian mendorong negara-negara Amerika Latin untuk melakukan industrialisasi sektor-sektor produksi yang mungkin dilakukan (Hadiwinata, 2002).

Di Asia fenomena ini kemudian melahirkan Jepang yang sekarang kita kenal dengan negara raja industry otomotiv di dunia, fenomena ini terus merambat ke Korea Selatan, Tiongkok, India, Singapur, dan Malaysia. Hingga sekara proses menuju negara industry terus dilakukan oleh beberapa negar di Asia, termasuk Indonesia. Sejak zaman ORBA (Orde Baru) beberapa sektor unggulan yang dimiliki oleh Indonesia telah  diindustrialisasi, contohnya ialah industrialisasi pertanian dan juga Indonesia melakukan pengembangan besar-besaran dalam bidang industry penerbangan yang dipelopori oleh B.J Habibie.

Industri penerbangan di Indonesia sempat mengalami masa jayanya dengan diciptakannya pesawan-pesawat nasional, bahkan beberapa pesawat mampu menyaingi produk-produk pesawat Eropa dan Amerika Serikat. Bahkan saat SMA dulu saya pernah mendengar bahwa Indonesia pernah menciptakan pesawat tempur yang teknologinya lebih maju dari teknologi F16 produksi Amerika Serikat, namun karena pihak-pihak yang tidak senang dan memiliki kepentingan pesawat nasional Indonesia tersebut hanya seharga beras ketan. Pesawat-pesawat tersebut ditukar dengan beras ketan oleh negara ASEAN lainnya.

Selain pesawat Indonesia juga mencanagkan pembangunan industry mobil nasional (Mobnas), ini sempat berhasil dengan lahirnya Mobil Timor walaupun mesinnya masih buatan produsen mobil asal Korea Selatan. Ini menmbuat Indonesia memberikan hak khusus kepada perusahan tersebut yang berujung pada protes dari WTO (World Trade Organization), ini dikarenakan Indonesia dianggap melakukan diskriminasi perdagangan. Juga ketika pemimpin ORBA lengser, berakhir juga proyek mobnas.

Di era- reformasi sekarang ini Indonesia justru mengalami kemunduran dalam bidang industry, bahkan beberapa industry unggulan yang sempat menjadi penopang ekonomi nasional di era-ORBA seperti industry pertanian justru mengalami kemuduran di era-reformasi. Menurut saya ini dikarenakan absennya negara dalam plaksanaan pereokonomian nasional. Padahal Indonesia merupakan salah satu negara yang menganut ideology ekonomi nasionalisme.

Beberapa ahli Ekonomi Politik (EPI) Internasional membedah aktor dalam EPI menjadi tiga, yaitu negara (state), pasar (market), dan masyarakat (society) (Isaak, 1995). Robert Gilpin dalam bukunya yang berjudul “Global Political Economy The Understanding Economic Order” membagi ideology ekonomi menjadi tiga yaitu nasionalisme, liberalism, dan marxisme (Gilpin, 2001). Dalam ideology nasionalisme negara memiliki peran besar dalam kegiatan perekonomian nasional (state centric economic). Jika Indonesia menganut sistem ekonomi nasionalis, maka peran negara seharusnya besar dalam kegitan perekonomian termasuk dalam proses industrialisasi.

Jika kita mengacu kepada “big push theory” yang dikemukakan oleh ekonom Yahudi Paul Rodenstein dan Rodan yang menjelaskan bahwa untuk melakukan pembangunan ekonomi menuju negara industry dibutuhkan modal yang besar. Ia mengumpamakan seperti pesawat terbang yang hendak lepas landas, diawalnya pesawat tersebut saat hendak naik ke udara membutuhkan dorongan besar untuk mengangkat tubuh pesawat samapai ke udara. Inipula yang dibutuhkan oleh negara berkembang atau negara miskin untuk menuju negara industry.

Dibutuhkan investasi yang sangat besar untuk melakukan pembangunan, dan investasi yang besar tersebut hanya mungkin dilakukan oleh pemerintah. Dalam hal ini peranan negara sangat dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi suatu negara, termasuk dalam proses industry. Dari proses ini negara tersebut yang sebelumnya merupakan negara berkembang atau negara miskin nantinya akan mampu menjadi negara maju.

Inipula yang perlu dilakukan oleh Indonesia dalam melakukan pembangunan ekonomi nasional. Peran pemerintah yang dominan sebagai investor maupun pengawasa dalam pembangunan sanagat penting dalam proses pembangunan tersebut, ini telah dilakukan di era-ORBA, namun karena banyak kepentingan kelompok atau golongan hal tersebut tidak berjalan denagan baik.

Di era-reformasi sekarang menurut saya justru pembangunan ekonomi Indonesia lari dari jalur konsep ideology nasionalisme yang dianut oleh Indonesia. secara peraktek Indonesia jelas memperaktekan konsep ideology liberal, dimana pasar lebih dominan di dalam kegiatan pereokonmian nasional. Hampir semua sektor perekonomian diserahkan kepada mekanisme pasar, termasuk dalam kasua BBM (Bahan Bakar MInyak) bersubsidi. Saya mengangap ini sebuah kemunduran ideology, yang juga berdampak kepada proses indutrilaisasi ekonomi nasional.

Selain itu faktor dari para pejabat Indonesia juga turut menjadi penyebab mundurnya industrialisasi dalam negeri. Dalam sebuah kesempatan saya bisa mendengar penjelasan langsung dari seorang ekonom nasional Indonesia tentang kenapa proses industrialisasi di Indonesia mandeg atau stagnan. Ini dikarenakan mental birokrat kita yang tidak mau mencoba membangun sendiri basis-basis produksi dan merombak sistem ekonomi kita yang berjalan di jalur yang salah. Mereka lebih memilih melanjutkan perjalanan padahal mereka berjalan di jalur yang salah. Ini jelas menjadi kendala bagi pembangunan eknomi kita.

Mental konsumen yang tinggi dari birokrat di Indonesia juga merupakan kendala bagi proses industrialisasi dalam negeri, mereka lebih memilih membeli dari luar negeri ketimbang menciptakan atau membuat sendiri. Alasannya ialah jika kita membuat sendiri membutuhkan proses yang panjang dan memakan banyak biayaya selain itu kualitasnya juga akan jauh tertinggal dibanding dengan yang kita impor atau beli dari luar negeri. Dilain hal mereka juga berdalih pajak dari bea masuk barang-barang impor juga sangat besar, mental pesimis dan konsumen seperti ini harusnya dapat kita hilangkan untuk menuju negara industry

Jika kita melihat kepada sistem berwirausaha wajar jika diawal kita berwirausaha kita merugi, rugi yang kita alami juga bukan karena kita membuang uang untuk hal yang konsumtif atau kurang penting melainkan unutk investasi. Nantinya setelah usaha kita berjalan dengan baik, usaha tersebut akan memberikan pemasukan (income) yang berkelanjutan bagi kita sang pemilik usaha. Sama halnya dengan pembangunan industry negara, walau awalnya negara membuang banyak dana untuk pembangunan industry tersebut, nantinya industry tersebut akan menambah pemasukan negara, apalagi jika industry yang menjadi industry unggulan bisa melakukan expansi export keluar negeri. Banyak negara yang telah lebih dahulu melakukan hal tersebut, seperti yang telah saya sebutkan di awal pembahasan ini, dan Indonesia juga seharusnya bisa melakukan hal tersebut.

 

 

Penulis: Amos Sury’el Tauruy

 

Daftar Pustaka

Gilpin, R. (2001). Global Politacal Economy Understanding The World Economic Order. New Jersey: Princenton University Press.

Hadiwinata, B. S. (2002). Politik Bisnis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Isaak, R. A. (1995). Ekonomi Politik Internasional. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya.

Soekarno dan RUDN, Persembahan Untuk Dunia

5 Februari 1960 menjadi hari bersejarah bagi sebuah Universitas ternama di Rusia, Universitas tersebut ialah Universitas Persahabatan Bangsa-bangsa atau yang dalam bahasa Rusia dikenal dengan nama RUDN (Rossisski Universitet Druzhbi Narodov). Menurut para alumni yang saya temui saat Dies Natalis RUDN ke-55 di PKR (Pusat Kebudayaan Rusia) Jakarta, RUDN diresmikan langsung oleh Perdana Menteri Nikita Krushchev.

Di awal di dirikannya RUDN menampung kurang lebih 2081 Mahasiswa (1960) dari seluruh penjuru dunia, terutama dari negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Di antara 2081 Mahasiswa tersebut 30 orang diantaranya adalah Mahasiswa asal Indonesia, yang merupakan angkatan pertama di RUDN. Salah satunya ialah Koesalah Soebagyo Toer, adik kandung dari sastrawan dan penulis terkenal Pramoedya Ananta Toer.

Koesalah juga merupakan seorang yang tidak asing lagi dalam dunia sastra tanah air, ia merupakan sastrawan yang telah menerjemahkan karya sastra dari sastrawan asal Rusia abad ke-19 seperti Anton Chekov dan Leo Tlostoy. Karya Tolostoy yang merupakan karya sastra terkenal dalam peradaban sastra barat yang berjudul “Perang dan Damai” juga telah diterjemahkan oleh Koesalah ke dalam bahasa Indonsia. Sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya bisa duduk berhadapan dengan saksi sejarah dan sastrawan yang menjadi kebanggaan rakyat Indonesia juga dengan alumni RUDN.

Lebih membanggakan lagi ketika salah satu alumni angkatan muda bernama Yunita Umniyati yang lulus program PhD atau Doktor dalam bidang ilmu fisika bercerita kepada kami tentang pengalamannya saat menempuh program Magister dan Doktoralnya di RUDN. Ia bercerita saat selesai sidang mahasiswa dan para professor penguji mendakan makan malam bersama. Saat makan malam itu ketua dari para professor penguji menanyakan pada dirinya, apakah ia mengetahui Soekarno. Dengan sepontan ia menjawab “o iya, itu presiden pertama saya, itu presiden pertama kami”. Lalu sang professor melanjutkan perkataannya dengan mengatakan “ kamu tau tanpa Soekarno, RUDN itu tidak pernah ada”

Ini jelas membuat Yunita terkejut, lalu sang professor menjelaskan kepadanya bagaimana peran Soekarno hingga berdirinya RUDN. Ini menimbulkan rasa bangga dalam hatinya, ditambah lagi dalam makan malam tersebut terdapat mahasiswa lain dari seluruh penjuru dunia yang berada dalam makan malam tersebut dan mendengar apa yang dikatakan professor tersebut. Sebagi anak yang mengagumi sosok Soekarno, mendengar cerita tersebut dalam hati saya juga merasa bangga.

Kebanggaan itu bertambah setelah mengetahui bahwa mayoritas Mahasiswa yang belajar di RUDN datang dari negara-negara dunia ketiga di kawasan Asia, Afrika, dan Latin Amerika. Ini menunjukan bahwa Soekarno memiliki visi jauh kedepan yaitu membangun Indonesia dan negara-negara dunia ketiga untuk mampu bersaing dengan negara-negara yang telah lebih dahulu maju dalam bidang ilmu sosial dan sains serta teknologi agar terciptanya kesetaraan pada tatanan dunia (World Order).

Kedekatan Soekarno dengan Krushchev yang saat itu merupakan pemimpin salah satu negara besar Uni Soviet membuka peluang bagi beliau untuk memberikan sumbangsih dalam bidang pendidikan bagi negara-negara yang memiliki nasib yang sama dengan Indonesia. mendengar cerita dari para alumninya RUDN merupakan salah satu buah tangan dari sang proklamator  Republik Indonesia Ir.DR. Soekarno dalam bidang pendidikan. Kini lebih dari 300 mahasiswa Indonesia tercatat sebagai alumni RUDN per-tahun 2000, dan juga alumni dari RUDN berhasil menepati jabatan penting pada perusahan-perusahan besar dunia dan juga jabatan penting pemerintahan mulai dari duta besar (orang no dua di kedutaan besar Kazaztan di Indonesia ialah alumni RUDN) hingga presiden.

 

 

Penulis: Amos Sury’el Tauruy

Vladimir V. Putin, sumber: wikipedia.com

Putin dan Deng Xiao Ping, Pemisahan Ekonomi dan Politik

Vladimir V. Putin, sumber: wikipedia.com
Vladimir V. Putin, sumber: wikipedia.com

Gilpin dalam bukunya yang berjudul “Global Political Economy Understanding The Global Economic Order” mengutarakan bahwa sejatinya sistem ekonomi tidak bisa dilepaskan dengan ideology, atau ekonomi itu ialah ideology. Secara spesifik saya setuju dengan konsep tersebut, bahwa sejatinya kegiatan ekonomi harus di dasari kepada ideology suatu negara. Ideology tersebut yang menjadi dasar pembangunan pilar-pilar perekonomian suatu negara.

Terkait dengan hal tersebut beberapa negara telah menyelesaikan konsep pembangunan ideologinya yang kemudian dilanjutkan dengan pembangunan perekonomiannya. Dari beberapa negara saya tertarik untuk melihat kepada negara yang sekarang menjadi raksasa Asia bahkan dunia, yaitu Tiongkok. Tiongkok berhasil membangun ideologinya komunisnya dengan meletakan nilai-nilai komunis pada sistem politiknya, namun dalam sistem perekonomian Tiongkok berhasil membuka diri kepada pasar namun tetap peranan negara dalam perekonomian Tiongkok masih sangat kuat, yaitu sebagai controlling.

Dua tokoh yang terkenal dalam pembangunan ideology dan ekonomi Tiongkok yaitu Mao Zedong dan Deng Xiao Ping. Mao berhasil menanamkan konsep dan nilai-nilai komunis yang disesuaikan dengan karakter bangsa Tiongkok. Doktrim komunis berhasil ditanamkan dalam sistem pengkaderan yang baik dalam tubuh partai komunis, dan melalui buku panduan wajib di masa revolusi kebudayaan yang berjudul “The Little Red Book (dalam bahsa Inggris)” yang wajib dimiliki seluruh rakyat Tiongkok.

Buku tersebut berisi pidato-pidato Mao yang mengatur bagaimana semua elemen atau aparatur negara harus bertindak dan mengambil peran dalam masyarakat, dan bagaimana seharusnya masyarakat Tiongkok bersikap dalam masa-masa berjalanannya revolusi. Buku ini berhasil membuat aparatur negara di Tiongkok dan masyarakatnya saling bersinergi dan saling memiliki satu sama lain. Mao berhasil membangun dan menguatkan dasar-dasar konsep ideology negara Tiongkok.

Setelah Mao, pemimpin baru bagi Tiongkok datang. Ia adalah Deng, Deng berhasil melakukan pembangunan perekonomian Tiongkok menuju Tiongkok yang menjadi negara industry. Beliau juga adalah orang yang memperkenalkan konsep socialism market, dalam pidatonya yang paling terkenal ia mengatakan “tak peduli kucing hitam atau kucing putih, yang penting kucing itu bisa menangkap tikus”. Maksud dari kutipan pidato tersebut adalah bertujuan untuk menegaskan bahwa permasalahan ideology telah selesa, ideology politik Tiongkok adalah komunis.

Deng berhasil menerapkan kebijakan pintu terbuka dan mengizinkan pasar masuk ke Tiongkok, namun dalam sistem pasar di Tiongkok tetap diawasi oleh negara. Juga peran negara masih sangat kuat dalam pengaturan mekanisme pasar, Deng berpendapat bahwa sejatinya negara dan pasar adalah dua element yang saling terkait untuk melakukan pembangunan ekonomi suatu negara. Negara butuh pasar, pasarpun membutuhkan negara dalam perencanaan pembangunan.

Deng adalah orang yang berhasil memisahkan antara kegiatan perekonomian dengan kegiatan politik. Dalam hal politik, Tiongkok adalah negara dengan sistem komunis dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sedangkan dalam perekonomian Tiongkok agak sedikit liberal, walau bukan liberal murni dan mereka tidak pernah mengenal sistem liberal, mereka lebih senang sistem ekonomi mereka disebut dengan sebutan socialism market.

Pemimpin negara lain yang memiliki keberhasilan yang sama adalah sosok yang dianggap sebagai Satra Piningit bagi rakyat Rusia, beliau adalah Vladimir Vladimirovic Putin, Putin adalah sosok nasionalis Rusia yang berhasil memisahkan antara politik dan ekonomi. Sejak runtuhnya Uni Soviet Federasi Rusia, sebagai pewaris negara Uni Soviet mengalami kemunduran dalam segala bidang. Keterpurukan akibat hutang yang ditinggalkan oleh Soviet membuat perekonomian Rusia terpuruk.

Rusiapun mengambil sistem ekonomi liberal sebagai sistem untuk membangun perekonomiannya, langkah tersebut diambil oleh pendahulu Putin yaitu Gorbacof dan Yeltsin. Di era Putin terjadi sedikit perombakan dalam sistem perekonomian, yaitu ia menegaskan Rusia tidak bisa menggunakan sistem ekonomi liberal yang klasik. Akantetapi sistem ekonomi liberal yang akan digunakan oleh Rusia harus disesuaikan dengan karakteristik rakyat dan negara Rusia. Dengan konsep ekonomi Rusia yang baru, Rusia berhasil melunasi semua hutang-hutang luar negerinya dengan sumber daya alam (minyak dan gas) yang mereka miliki.

Selain itu Putin juga menegaskan bahwa sistem ekonomi Rusia tidak akan serta merta membawa perubahan dalam sistem politik Rusia.Putin menekankan bahwa konsep dasar politik Rusia dikenal dengan istilah “Demokrasi Berdaulat”, yaitu demokrasi yang tidak dipengaruhi oleh demokrasi barat, melainkan demokrasi yang memiliki karakteristik sesuai dengan demokrasi yang berjalan pada era kejayaan Uni Soviet atau dengan kata lain Putin mengembalikan konsep ideology komunis dalam konsep Politik Rusia.

Jika kita lihat antara sosok Deng dengan Putin, keduanya memiliki kesamaan dalam visi melihat masing-masing negara yang mereka pimpin. Namun langkah yang diambil Putin lebih sulit ketimbang langkah yang diambil oleh Deng. Mengingat Deng merupakan pengganti langsung dari sang peletak dasar ideology di negara Tiongkok yaitu Mao. Sedangkan jarak dari Lenin dan Stalin ke Putin sangatlah jauh, yaitu hampir Sembilan decade. Ini merupakan prestasi yang besar bagi seorang pemimpin negara yang membawa keluar negaranya dari masa-masa krisis dan sekarang menjadi negara yang diperhitungkan oleh dunia internasional dengan tetap mempertahankan ideology politik negaranya tersebut.

Sosok Putin diharapkan bisa menjadi panutan bagi pemimpin negara lain yang ada di dunia, terutama negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia. Konsep ideology politik harus dipegang teguh, sementara dalam sistem ekonomi harus disesuaikan dengan perkembang zaman. Akantetapi bukan berarti lantas  sistem ekonomi tersebut lepas dari dasar ideology, melainkan ideology tersebut sebagai dasar dan patokan dalam pembangunan sistem perekonomian suatu negara yang nantinya dapa membawa kesejatraan bagi rakyat di negara tersebut.

 

Penulis: Amos Sury’el Tauruy

 

 

 Daftar Pustaka

Gilpin, Robert. “Global Politic Economy Understanding The International Economic Order”. New Jersey: Princeton University Press, 2001.

Tse-Tung, Mao (trans: A. Rachmatullah). “The Little Red Book”. Depok: ONCOR Semesta Ilmu, 2010.

Majalah:

The Global Review: Edisi V, April 2014. “Gagalnya Revolusi Warna Di Ukraina”.

Web:

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/131592-T%2027569-Diplomasi%20energi-Tinjauan%20literatur.pdf

Presiden Harus Bisa Menerjemahkan Konstitusi

Menurut K. C. Wheare, konstitusi adalah sistem ketatanegaraan suatu negara yang berupa kumpulan peraturan yang membentuk mengatur atau memerintah dalam pemerintahan suatu negara (Wheare, 1966). Jika kita melihat negara-negara di dunia berdasarkan jenis konstitusi ada negara yang memiliki konstitusi tertulis seperti Amerika Serikat dan Indonesia, namun ada juga negara yang tidak memiliki konstitusi seperti Kerajaan Inggris. Bagi negara-negara yang konstitusinya tertulis menerjemahkan konstitusi tersebut kedalam program kerja untuk kesejahtran rakyatnya merupakan sebuah keharusan.

Ini juga yang diharapkan oleh parah pendiri bangsa kita, yang merumuskan tujuan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke dalam konstitusi Republik Indonesia yang kita kenal dengan nama Undang-undang Dasar 1945 (UUD 45). Selain sebagai sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia, dalam UUD 45 juga terdapat tujuan dasar bangsa Indonesia yang tertulis pada prambule (pembukaan) UUD 45.

Secara substansial pembangunan Indonesia seharusnya difokuskan kepada pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Inipula yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa Indonesia, salah satunya ialah salah satu proklamator kita Drs. Moh. Hata. Dalam buku Anwar Abbas  yang berjudul “Bung Hata dan Ekonomi Islam” Abbas menuliskan tentang pemikiran Bung Hata tentang substansi pembangunan Indonesia yitu pembangunan manusia Indonesia (Abbas, 2010).

Dalam pembukaan UUD 45 di alinea keempat tertulis dengan jelas bagaimana tujuan dari di dirikannya negara Republik Indonesia yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini menunjukan bahwa secara tertulis fokus dari berdirinya negara Indonesia adalah untuk memberikan rasa aman dan membangun manusia Indonesia menjadi manusai yang cerdas. Juga yang menjadi agenda lain ialah memberikan rasa aman bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam beberapa pasal di UUD 45 juga membicarakan hal-hal yang menjadikan manusia Indonesia sebagai objek, seperti hak-hak dan kewajiban warga negara Indonesia. Hak-hak mengenai mendapatkan kehidupan yang layak dan mengenai kebebasan warga negara untuk memilih agama untuk dianut di atur di dalam UUD 45. Dalam pasal 33 juga diatur mengenai pengelolaan SDA (Sumber Daya Alam) yang diperuntukan bagi kesejahtraan masyarakat Indonesia.

Namun setelah amandement sebanyak empat kali, dan Indonesia menjadi negara yang paling banyak melakukan amandement di dunia dengan waktu lima tahun telah melakukan amandemen sebanyak empat kali. Ini membuat UUD 45 menjadi sedikit membuka peluang untuk kepentingan elite tertentu yang mengambil keuntungan untuk kelompok mereka sendiri. Walaupun sebelum di amandemen UUD 45 juga diggunakan oleh rezim ORBA (Orde Baru) untuk melangengkan kekuasaannya selama kurang lebih 32 tahun.

Setelah reformasi Indonesia telah melakukan empat kali pergantian Presiden, dan sekarang Indonesia dipimpin oleh Presiden ketujuh yaitu Joko Widodo. Setiap pergantian presiden hampir semua presiden yang memiliki program pembangunan yang bertolak belakang. Saya memiliki istilah “setiap pergantian presiden, berganti pulah proyeknya”. Ini membuat tidak adanya kontiniuitas atau keberlanjutan dalam pembangunan, yang berujung pada stagnan dari pembangunan di Indonesia.

Salah satu dari penyebabnya ialah kurang pandainya pemimimpin menerjemahkan konstitusi kita kepada standarisasi program kerja di eranya. Meski ada berbagai program seperti wajib belajar Sembilan Tahun, BOP dan BOS namun selama ini yang saya amati program-program tersebut masih belum bisa dimaksimalkan dan masih ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari program-progran tersebut, demikian pula dalam bidang kesehatan yang hingga saat ini masih menjadi polemik di negara ini.

Seharusnya presiden yang memimpin Indonesia mengumpulkan semua ahli dan cendikiawan dalam bidang masing-masing, juga menyertakan rakyat dalam tiap profesi dan mengadakan dengar pendapat yang nantinya akan dirumuskan apa yang mereka butuhkan. Setelah itu tarik kedalam garis besar pembangunan nasional yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia.

Selain itu presiden Indonesia harus mengambil langkah tegas dalam menegakan UUD 45 dan Pancasila, namun di dahulukan dengan melakukan kajian ulang terhadap UUD 45 yang telah kehilangan kemurniannya setelah empat kali diamandemen. Presdien harus berani mengambil keputusan apakah UUD 45 harus dikembalikan ke UUD 45 yang asli dengan beberapa perbaikan namun tidak menghilangkan keaslian dari UUD 45 tersebut. Tidak seperti sekarang, dimana UUD 45 membuka peluang bagi golongan tertentu untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya bagi diri mereka sendiri.

Jadi jika ingin menjadi presiden Indonesia seseorang diharuskan untuk bisa menerjemahkan UUD 45 kedalam bentuk program kerja selam ia menjabat, dan juga bagi penganti dari presdien yang akan meneruskan jabatan presiden sebelumnya wajib meneruskan program kerja yang baik sesuai dengan konstitusi negara kita.

Usulan saya ialah dibentuk semacam GBHN (Garis Besar Haluan Negara) seperti masa ORBA dan juga rencana pembangunan yang nantinya bisa memandu presiden Indonesai untuk melakukan pembangunan yang berkelanjutan. Ini digunakan di negara-negara yang mengalami kemajuan pesat seperti negara Tiongkok, siapapun presiden yang memimpin Indonesia nantinya program kerja dan rencana pembangunan dapat berlangsung dan terarah.

Penulis: Amos Sury’el Tauruy

Daftar Pustaka

Abbas, A. (2010). Bung Hata dan Ekonomi Islam, Menangkap Makna Maqashid al Syari’ah. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Wheare, K. C. (1966). Modern Constitutions Second Edition. Oxford: Oxford University Press.

prangko UUD 45, sumber: id.images.search.yahoo.com
prangko UUD 45, sumber: id.images.search.yahoo.com