Vladimir V. Putin, sumber: wikipedia.com

Putin dan Deng Xiao Ping, Pemisahan Ekonomi dan Politik

Vladimir V. Putin, sumber: wikipedia.com
Vladimir V. Putin, sumber: wikipedia.com

Gilpin dalam bukunya yang berjudul “Global Political Economy Understanding The Global Economic Order” mengutarakan bahwa sejatinya sistem ekonomi tidak bisa dilepaskan dengan ideology, atau ekonomi itu ialah ideology. Secara spesifik saya setuju dengan konsep tersebut, bahwa sejatinya kegiatan ekonomi harus di dasari kepada ideology suatu negara. Ideology tersebut yang menjadi dasar pembangunan pilar-pilar perekonomian suatu negara.

Terkait dengan hal tersebut beberapa negara telah menyelesaikan konsep pembangunan ideologinya yang kemudian dilanjutkan dengan pembangunan perekonomiannya. Dari beberapa negara saya tertarik untuk melihat kepada negara yang sekarang menjadi raksasa Asia bahkan dunia, yaitu Tiongkok. Tiongkok berhasil membangun ideologinya komunisnya dengan meletakan nilai-nilai komunis pada sistem politiknya, namun dalam sistem perekonomian Tiongkok berhasil membuka diri kepada pasar namun tetap peranan negara dalam perekonomian Tiongkok masih sangat kuat, yaitu sebagai controlling.

Dua tokoh yang terkenal dalam pembangunan ideology dan ekonomi Tiongkok yaitu Mao Zedong dan Deng Xiao Ping. Mao berhasil menanamkan konsep dan nilai-nilai komunis yang disesuaikan dengan karakter bangsa Tiongkok. Doktrim komunis berhasil ditanamkan dalam sistem pengkaderan yang baik dalam tubuh partai komunis, dan melalui buku panduan wajib di masa revolusi kebudayaan yang berjudul “The Little Red Book (dalam bahsa Inggris)” yang wajib dimiliki seluruh rakyat Tiongkok.

Buku tersebut berisi pidato-pidato Mao yang mengatur bagaimana semua elemen atau aparatur negara harus bertindak dan mengambil peran dalam masyarakat, dan bagaimana seharusnya masyarakat Tiongkok bersikap dalam masa-masa berjalanannya revolusi. Buku ini berhasil membuat aparatur negara di Tiongkok dan masyarakatnya saling bersinergi dan saling memiliki satu sama lain. Mao berhasil membangun dan menguatkan dasar-dasar konsep ideology negara Tiongkok.

Setelah Mao, pemimpin baru bagi Tiongkok datang. Ia adalah Deng, Deng berhasil melakukan pembangunan perekonomian Tiongkok menuju Tiongkok yang menjadi negara industry. Beliau juga adalah orang yang memperkenalkan konsep socialism market, dalam pidatonya yang paling terkenal ia mengatakan “tak peduli kucing hitam atau kucing putih, yang penting kucing itu bisa menangkap tikus”. Maksud dari kutipan pidato tersebut adalah bertujuan untuk menegaskan bahwa permasalahan ideology telah selesa, ideology politik Tiongkok adalah komunis.

Deng berhasil menerapkan kebijakan pintu terbuka dan mengizinkan pasar masuk ke Tiongkok, namun dalam sistem pasar di Tiongkok tetap diawasi oleh negara. Juga peran negara masih sangat kuat dalam pengaturan mekanisme pasar, Deng berpendapat bahwa sejatinya negara dan pasar adalah dua element yang saling terkait untuk melakukan pembangunan ekonomi suatu negara. Negara butuh pasar, pasarpun membutuhkan negara dalam perencanaan pembangunan.

Deng adalah orang yang berhasil memisahkan antara kegiatan perekonomian dengan kegiatan politik. Dalam hal politik, Tiongkok adalah negara dengan sistem komunis dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sedangkan dalam perekonomian Tiongkok agak sedikit liberal, walau bukan liberal murni dan mereka tidak pernah mengenal sistem liberal, mereka lebih senang sistem ekonomi mereka disebut dengan sebutan socialism market.

Pemimpin negara lain yang memiliki keberhasilan yang sama adalah sosok yang dianggap sebagai Satra Piningit bagi rakyat Rusia, beliau adalah Vladimir Vladimirovic Putin, Putin adalah sosok nasionalis Rusia yang berhasil memisahkan antara politik dan ekonomi. Sejak runtuhnya Uni Soviet Federasi Rusia, sebagai pewaris negara Uni Soviet mengalami kemunduran dalam segala bidang. Keterpurukan akibat hutang yang ditinggalkan oleh Soviet membuat perekonomian Rusia terpuruk.

Rusiapun mengambil sistem ekonomi liberal sebagai sistem untuk membangun perekonomiannya, langkah tersebut diambil oleh pendahulu Putin yaitu Gorbacof dan Yeltsin. Di era Putin terjadi sedikit perombakan dalam sistem perekonomian, yaitu ia menegaskan Rusia tidak bisa menggunakan sistem ekonomi liberal yang klasik. Akantetapi sistem ekonomi liberal yang akan digunakan oleh Rusia harus disesuaikan dengan karakteristik rakyat dan negara Rusia. Dengan konsep ekonomi Rusia yang baru, Rusia berhasil melunasi semua hutang-hutang luar negerinya dengan sumber daya alam (minyak dan gas) yang mereka miliki.

Selain itu Putin juga menegaskan bahwa sistem ekonomi Rusia tidak akan serta merta membawa perubahan dalam sistem politik Rusia.Putin menekankan bahwa konsep dasar politik Rusia dikenal dengan istilah “Demokrasi Berdaulat”, yaitu demokrasi yang tidak dipengaruhi oleh demokrasi barat, melainkan demokrasi yang memiliki karakteristik sesuai dengan demokrasi yang berjalan pada era kejayaan Uni Soviet atau dengan kata lain Putin mengembalikan konsep ideology komunis dalam konsep Politik Rusia.

Jika kita lihat antara sosok Deng dengan Putin, keduanya memiliki kesamaan dalam visi melihat masing-masing negara yang mereka pimpin. Namun langkah yang diambil Putin lebih sulit ketimbang langkah yang diambil oleh Deng. Mengingat Deng merupakan pengganti langsung dari sang peletak dasar ideology di negara Tiongkok yaitu Mao. Sedangkan jarak dari Lenin dan Stalin ke Putin sangatlah jauh, yaitu hampir Sembilan decade. Ini merupakan prestasi yang besar bagi seorang pemimpin negara yang membawa keluar negaranya dari masa-masa krisis dan sekarang menjadi negara yang diperhitungkan oleh dunia internasional dengan tetap mempertahankan ideology politik negaranya tersebut.

Sosok Putin diharapkan bisa menjadi panutan bagi pemimpin negara lain yang ada di dunia, terutama negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia. Konsep ideology politik harus dipegang teguh, sementara dalam sistem ekonomi harus disesuaikan dengan perkembang zaman. Akantetapi bukan berarti lantas  sistem ekonomi tersebut lepas dari dasar ideology, melainkan ideology tersebut sebagai dasar dan patokan dalam pembangunan sistem perekonomian suatu negara yang nantinya dapa membawa kesejatraan bagi rakyat di negara tersebut.

 

Penulis: Amos Sury’el Tauruy

 

 

 Daftar Pustaka

Gilpin, Robert. “Global Politic Economy Understanding The International Economic Order”. New Jersey: Princeton University Press, 2001.

Tse-Tung, Mao (trans: A. Rachmatullah). “The Little Red Book”. Depok: ONCOR Semesta Ilmu, 2010.

Majalah:

The Global Review: Edisi V, April 2014. “Gagalnya Revolusi Warna Di Ukraina”.

Web:

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/131592-T%2027569-Diplomasi%20energi-Tinjauan%20literatur.pdf

2 thoughts on “Putin dan Deng Xiao Ping, Pemisahan Ekonomi dan Politik”

  1. Saya tertarik dengan artikel yang ada di website anda yang berjudul ” PUTIN DAN DENG XIAO PING, PEMISAHAN EKONOMI DAN POLITIK “.
    Saya juga mempunyai jurnal yang sejenis yang bisa anda kunjungi di Jurnal Ilmiah Ekonomi Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

what is 5 in addition to 7?