Amos Sury'el Tauruy

Indonesia Menuju Negara Industri

Sebuah fenomena dalam dunia internasional yang muncul di era-1960-an dan 1970-an di negara-negara Asia yang kemudian merambat juga ke negara-negara Amerika Latin, fenomena ini kemudian dikenal dengan nama NIC’s (Newly Industrial Countries). Fenomena ini merupakan sebuah proses dimana negara-negara berkembang (developing countries) melakukan industrialisasi dalam sektor-sektor ekonomi sterategis yang mereka miliki, dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh negara tersebut.

Di Amerika Latin negara-negara di kawasan ini menerapkan sistem subsitusi impor untuk terlepas dari ketergantungan negara-negara Amerika Utara seperti Canada dan Amerika Serikat. Subsitusi impor dilakukan dengan cara menganti barang-barang yang selama ini diimpor dari luar negeri digantikan dengan barang-barang yang bisa diproduksi di dalam negeri. Ini kemudian mendorong negara-negara Amerika Latin untuk melakukan industrialisasi sektor-sektor produksi yang mungkin dilakukan (Hadiwinata, 2002).

Di Asia fenomena ini kemudian melahirkan Jepang yang sekarang kita kenal dengan negara raja industry otomotiv di dunia, fenomena ini terus merambat ke Korea Selatan, Tiongkok, India, Singapur, dan Malaysia. Hingga sekara proses menuju negara industry terus dilakukan oleh beberapa negar di Asia, termasuk Indonesia. Sejak zaman ORBA (Orde Baru) beberapa sektor unggulan yang dimiliki oleh Indonesia telah  diindustrialisasi, contohnya ialah industrialisasi pertanian dan juga Indonesia melakukan pengembangan besar-besaran dalam bidang industry penerbangan yang dipelopori oleh B.J Habibie.

Industri penerbangan di Indonesia sempat mengalami masa jayanya dengan diciptakannya pesawan-pesawat nasional, bahkan beberapa pesawat mampu menyaingi produk-produk pesawat Eropa dan Amerika Serikat. Bahkan saat SMA dulu saya pernah mendengar bahwa Indonesia pernah menciptakan pesawat tempur yang teknologinya lebih maju dari teknologi F16 produksi Amerika Serikat, namun karena pihak-pihak yang tidak senang dan memiliki kepentingan pesawat nasional Indonesia tersebut hanya seharga beras ketan. Pesawat-pesawat tersebut ditukar dengan beras ketan oleh negara ASEAN lainnya.

Selain pesawat Indonesia juga mencanagkan pembangunan industry mobil nasional (Mobnas), ini sempat berhasil dengan lahirnya Mobil Timor walaupun mesinnya masih buatan produsen mobil asal Korea Selatan. Ini menmbuat Indonesia memberikan hak khusus kepada perusahan tersebut yang berujung pada protes dari WTO (World Trade Organization), ini dikarenakan Indonesia dianggap melakukan diskriminasi perdagangan. Juga ketika pemimpin ORBA lengser, berakhir juga proyek mobnas.

Di era- reformasi sekarang ini Indonesia justru mengalami kemunduran dalam bidang industry, bahkan beberapa industry unggulan yang sempat menjadi penopang ekonomi nasional di era-ORBA seperti industry pertanian justru mengalami kemuduran di era-reformasi. Menurut saya ini dikarenakan absennya negara dalam plaksanaan pereokonomian nasional. Padahal Indonesia merupakan salah satu negara yang menganut ideology ekonomi nasionalisme.

Beberapa ahli Ekonomi Politik (EPI) Internasional membedah aktor dalam EPI menjadi tiga, yaitu negara (state), pasar (market), dan masyarakat (society) (Isaak, 1995). Robert Gilpin dalam bukunya yang berjudul “Global Political Economy The Understanding Economic Order” membagi ideology ekonomi menjadi tiga yaitu nasionalisme, liberalism, dan marxisme (Gilpin, 2001). Dalam ideology nasionalisme negara memiliki peran besar dalam kegiatan perekonomian nasional (state centric economic). Jika Indonesia menganut sistem ekonomi nasionalis, maka peran negara seharusnya besar dalam kegitan perekonomian termasuk dalam proses industrialisasi.

Jika kita mengacu kepada “big push theory” yang dikemukakan oleh ekonom Yahudi Paul Rodenstein dan Rodan yang menjelaskan bahwa untuk melakukan pembangunan ekonomi menuju negara industry dibutuhkan modal yang besar. Ia mengumpamakan seperti pesawat terbang yang hendak lepas landas, diawalnya pesawat tersebut saat hendak naik ke udara membutuhkan dorongan besar untuk mengangkat tubuh pesawat samapai ke udara. Inipula yang dibutuhkan oleh negara berkembang atau negara miskin untuk menuju negara industry.

Dibutuhkan investasi yang sangat besar untuk melakukan pembangunan, dan investasi yang besar tersebut hanya mungkin dilakukan oleh pemerintah. Dalam hal ini peranan negara sangat dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi suatu negara, termasuk dalam proses industry. Dari proses ini negara tersebut yang sebelumnya merupakan negara berkembang atau negara miskin nantinya akan mampu menjadi negara maju.

Inipula yang perlu dilakukan oleh Indonesia dalam melakukan pembangunan ekonomi nasional. Peran pemerintah yang dominan sebagai investor maupun pengawasa dalam pembangunan sanagat penting dalam proses pembangunan tersebut, ini telah dilakukan di era-ORBA, namun karena banyak kepentingan kelompok atau golongan hal tersebut tidak berjalan denagan baik.

Di era-reformasi sekarang menurut saya justru pembangunan ekonomi Indonesia lari dari jalur konsep ideology nasionalisme yang dianut oleh Indonesia. secara peraktek Indonesia jelas memperaktekan konsep ideology liberal, dimana pasar lebih dominan di dalam kegiatan pereokonmian nasional. Hampir semua sektor perekonomian diserahkan kepada mekanisme pasar, termasuk dalam kasua BBM (Bahan Bakar MInyak) bersubsidi. Saya mengangap ini sebuah kemunduran ideology, yang juga berdampak kepada proses indutrilaisasi ekonomi nasional.

Selain itu faktor dari para pejabat Indonesia juga turut menjadi penyebab mundurnya industrialisasi dalam negeri. Dalam sebuah kesempatan saya bisa mendengar penjelasan langsung dari seorang ekonom nasional Indonesia tentang kenapa proses industrialisasi di Indonesia mandeg atau stagnan. Ini dikarenakan mental birokrat kita yang tidak mau mencoba membangun sendiri basis-basis produksi dan merombak sistem ekonomi kita yang berjalan di jalur yang salah. Mereka lebih memilih melanjutkan perjalanan padahal mereka berjalan di jalur yang salah. Ini jelas menjadi kendala bagi pembangunan eknomi kita.

Mental konsumen yang tinggi dari birokrat di Indonesia juga merupakan kendala bagi proses industrialisasi dalam negeri, mereka lebih memilih membeli dari luar negeri ketimbang menciptakan atau membuat sendiri. Alasannya ialah jika kita membuat sendiri membutuhkan proses yang panjang dan memakan banyak biayaya selain itu kualitasnya juga akan jauh tertinggal dibanding dengan yang kita impor atau beli dari luar negeri. Dilain hal mereka juga berdalih pajak dari bea masuk barang-barang impor juga sangat besar, mental pesimis dan konsumen seperti ini harusnya dapat kita hilangkan untuk menuju negara industry

Jika kita melihat kepada sistem berwirausaha wajar jika diawal kita berwirausaha kita merugi, rugi yang kita alami juga bukan karena kita membuang uang untuk hal yang konsumtif atau kurang penting melainkan unutk investasi. Nantinya setelah usaha kita berjalan dengan baik, usaha tersebut akan memberikan pemasukan (income) yang berkelanjutan bagi kita sang pemilik usaha. Sama halnya dengan pembangunan industry negara, walau awalnya negara membuang banyak dana untuk pembangunan industry tersebut, nantinya industry tersebut akan menambah pemasukan negara, apalagi jika industry yang menjadi industry unggulan bisa melakukan expansi export keluar negeri. Banyak negara yang telah lebih dahulu melakukan hal tersebut, seperti yang telah saya sebutkan di awal pembahasan ini, dan Indonesia juga seharusnya bisa melakukan hal tersebut.

 

 

Penulis: Amos Sury’el Tauruy

 

Daftar Pustaka

Gilpin, R. (2001). Global Politacal Economy Understanding The World Economic Order. New Jersey: Princenton University Press.

Hadiwinata, B. S. (2002). Politik Bisnis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Isaak, R. A. (1995). Ekonomi Politik Internasional. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

what is 9 + 4?