cerita-kancil-dan-buaya

Si Kancil yang Cerdik

Si Kancil yang Cerdik Cerita Si Kancil yang sejak kecil saya dan sebagian besar anak di Indonesia dengar selalu sendiri dan selalu cerdik dalam menghadapi musuh. Namun apa jadinya jika si Kancil dalam ceritanya tidak hidup sendirian, melainkan berkoloni. Dikisahkan bahwa di sebuah hutan yang lebat hiduplah sekawanan kancil, mereka hidup dengan damai dan tentram saling bertoleransi dan memiliki rasa gotong royong antara sesama kancil, walaupun ada beberapa jenis kancil dan juga hidup berdampingan dengan koloni keluarga kelinci, rusa, kera, dan anowa. Sampai suatu ketika datanglah sekawanan harimau dan hyena ke hutan tersebut, situasi hutan yang tentram berubah menjadi mencekam. Kancil, kelinci, rusa, kera, dan anowa sontak hidup dalam rasa ketakutan. Namun kera yang memiliki kecerdasan mencoba untuk berteman dengan hyena, dan mereka berhasil menjadi pelayan kedua hewan buas tersebut. Bukan membantu kawanan hewan lain yang hidup dibawah ancaman keluar dari ancaman, para kera justru membuat keadaan semakin mencekam dengan menakut-nakuti hewan lain. Tahun beganti tahun setelah sekian lama hidup dalam ancaman dari harimau dan hyena, masing-masing hewan mulai memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan koloni masing-masing dari ancaman. Kancil dan anowa berusaha membangun rumah untuk bertahan hidup di atas bukit, kelinci mengali lubang-lubang di dalam hutan untuk berlindung dari kejaran harimau dan hyna, semntara rusa harus lari dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari kejaran dan terkaman dari kedua hewan buas tersebut serta kelicikan kera yang terkadang memberitahukan posisi mereka kepada harimau dan hyena. Hingga suatu ketika lahirlah si Kancil yang cerdik dari koloni kancil, ia berusaha untuk pertama menyatukan koloni kancil dan anowa lalu mereka bersatu dengan kelinci dan rusa. Si Kancil menggunakan kecerdikannya untuk mengelabui harimau dan hyena. Bahkan beberapa kali Kancil berhasil membuat kedua hewan buas tersebut untuk berkonflik dengan buaya yang tinggal di sungai yang tak jauh dari hutan. Terkadang kancil juga lari kehutan di seberang bukit untuk meminta bantuan dari para gaja dan banteng untuk menakut-nakuti atau berhadapan dengan kedua hewan buas tersebut. Tahun berganti tahun harimau dan hyenapun mulai kewalahan menghadapi siasat si Kancil yang di dukung oleh koloni kelinci, anowa, dan rusa. Kera yang menyadari bahwa harimau dan hyena akan meninggalkan hutan mulai memainkan siasat untuk mendekati koloni-koloni lain yang hidup di hutan tersebut. Koloni kera berhasil masuk kembali ke dalam komunitas hutan yang sebelumnya berada dalam bahaya oleh karena perlakuan koloni kera yang bersiasat dengan kedua hewan buas, harimau dan hyena. Namun koloni kera tidak suka dengan si Kancil yang mampu menarik simpati dari koloni-koloni lainnya dan juga bersahabat baik dengan koloni banteng dan gajah dari hutan sebelah bukit. Kerapun mulai bersiasat untuk mencelakai Kancil, kera mencoba bekerja sama dengan buaya dan buayapun menerima tawaran dari kera karena para koloni buaya merasa sakit hati selama ini si Kancil berhasil mengelabui mereka. Kancil yang tidak memiliki prasangka buruk kepada kawanan kerapun berhasil masuk dalam perangkap kera. Saat para kera mengajak Kancil berjalan di dekat sungai dimana koloni buaya menantikan untuk menerkam Kancil, alhasil siasat yang diatur oleh para kera berhasil menjadikan Kancil mangsa bagi koloni buaya yang lapar dan memiliki rasa dendam di hati kepada si Kancil. Setelah si Kancil tiada para kera mengambil alih hutan, dan berhasil mempengaruhi koloni yang lain untuk memushui koloni kancil. Para kera mengarang cerita bahwa koloni kancillah yang telah membunuh si Kancil karena para kancil tidak senang dengan keunggulan yang dimiliki oleh sang Kancil. Cerita ini dipercaya oleh kawanan koloni hewan lain, dan hewan lain yang menyayangi si Kancil percaya akan cerita itu sehingga mereka memusuhi para kancil dan menjauh dari koloni kancil. Setelah berhasil menyingkirkan si Kancil dan membuat koloni kancil terasingkan dari koloni hewan lainnya, para kera mengundang hewan buas lain seperti srigala dan anjing hutan juga babi yang merusak hutan dan membawa ancaman bagi kawanan hewan lain. Hutan yang sebelumnya terlihat damai sontak berubah kembali menjadi hutan yang pebuh ancaman dan rusak karena ulah koloni babi yang merusak tanaman dan srigala yang haus darah.

 

Pengarang: Amos Sury’el Tauruy (modifikasi kisah si Kancil)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

what is 3 in addition to 7?