Amos Sury'el Tauruy

Australia Ungkit Bantuan Luar Negeri Untuk Aceh

Tepat 26 Desember 2004 bangsa Indonesia berduka, kawsan Aceh dan Sebagian besar wilayah Sumatra Utara diterjang bencana alam tsunami. Berbagai negara seperti Jepang, Rusia, Jerman, Amerika Serikat, dan Australia mengulurkan tangan untuk memberi bantuan kepada korban Tsunami. Mulai dari bantuan teknis hingga dana hibah, tidak tangung-tangung bantuan juga diberikan pasca tsunami untuk pemulihan Aceh, negara-negara tersebut berusaha untuk memulihkan kembali kondisi Aceh dan masyarakatnya seperti dahulu kalah.

Selang sepuluh tahun, salah satu negara pemberi bantuan mengungkit kembali bantuan yang telah diberikan kepada rakyat Aceh. Australia di bawah pemerintahan Tony Abbot mengungkit kembali bantuan yang telah diberikan kepada pemerintah Indonesia untuk korban tsunami Aceh. Ini dikarenakan penolakan pemberiaan remisi kepada dua terpidana mati kasus narkoba warga negara Australia oleh Presdien ketujuh Indonesia Joko Widodo. Kedua warga negara Australia yang dikenal merupakan sindikat “Bali Nine” ini dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan negeri Bali.

Keduanya bernama Andrew Chan dan Myuran Sukamaran yang dibekuk di Bandara Ngurah Rai karena membawa 8.3 kg heroin (kompas.com, 2015). Sekarang keduanya tinggal menunggu waktu eksekusi mati yang akan dilakukan dalam waktu dekat, menunggu kesiapan segala sarana yang akan digunakan untuk eksekusi mati bersama Sembilan terpidana lainnya. Sebelumnya pada gelombang pertama telah dieksekusi lima warga negara asing yang berujung kepada perotes dari kepala negara dua negara, yaitu Brasil dan Kerjaan Belanda, kedua negara tersebut menarik pulang duta besarnya dari Jakarta untuk melakukan konsultasi.

Sekitar sebulan terakhir ini giliran pemerintah Australia yang melakukan perotes, berbagai jalur ditempuh oleh pemerintah Australia untuk mencoba menyelamatkan warga negaranya dari hukuman mati. Termasuk langkah yang mengejutkan banyak pihak ialah pemerintah Australia mengunakan PBB untuk meberikan himbauan kepada Indonesia agar tidak melaksanakan hukuman mati di negara Indonesia, ini disampaikan oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon yang mengimbau agara Indonesia tidak melaksanakan hukuman mati. Namun hal tersebut tidak menghentikan Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan hukuman mati kepada Bandar narkoba, demi menjalankan perang suci melawan narkoba (tempo.co, 2015).

Buntu dengan segala cara, Australia mengunakan cara yang juga mengagetkan dan membuat hati rakyat Indonesia terluka. Cara tersebut ialah dengan mengungkit bantuan yang diberikan oleh Pemerintah Australia kepada korban tsunami Aceh, ini membuat geram sejumlah masyarakat Indonesia terutama masayrakat Aceh merasa kecewa terhadap pernyataan pemerintah Australia. Hal tersebut mendapatkan langsung mendapat respon yang negative dari rakyat Indonesia, yang bereaksi mengumpulkan koin untuk mengembalikan bantuan yang diberikan pemerintah Australia, kegiatan tersebut diberi istilah beragam salah satu contohnya ialah “coin for Abbot t(nama perdana menteri Australia) (Herald, 2015).

Dalam politik internasional, bantuan luar negeri (foreign aid) tidak diberikan secara sukarela atau hibah. Meskipun tema dari bantuan tersebut adalah bantuan hibah, namun tetap memiliki motive atau tujuan (propose) dibalik bantuan tersebut. Setidaknya ada dua tujuan yang menjadi motive mengapa suatu negara donor memberikan bantuan kepada negara lain, yaitu terkait keamanan nasional (national security) dan kepentingan ekonomi (economic interests) (Lancaster, 2007). Untuk memahami tujuan dari bantuan luar negeri tersebut kita juga perlu mengetahui politik dalam negeri dari negara donor dan negara penerima.

Dalam kasus Indonesia dan Australia, Australia memiliki kepentingan yang besar terhadap Indonesia. Terkait letak kedua negara yang saling berdekatan dan sering bersentuhan, baik terkait permasalahan keamanan nasional maupun kegiatan perekonomian atau kerjasama ekonomi kedua negara. Oleh sebab itu Australia selalu mencoba menjadi negara donor dan tidak mau ketinggalan dala memberikan bantuan kepada Indonesia. Beberapa contoh bantuan sperti yang telah saya bahas di atas dan juga pembentukan Dentasmen Khusus 88 anti terror yang pembentukannya di danai oleh pemerintah Indonesia guna memerangi aksi terror di Indonesia.

Terkait diungkitnya bantuan Tsunami Aceh ini menunjukan Australia memiliki tujuan politis terkait dengan keamanan nasionalnya, Australia berusaha untuk melindungi warga negaranya yang menghadapi hukuman mati di Indonesia. Jika kita melihat kepada kajian keamanan internasional (International Security Studies) yang dikembangkan oleh Barry Buzan dan Lene Hansen, terkait dengan objek acuan (referent object) yang membutuhkan rasa aman (secure). Buzan dan Lene menjelaskan bahwa bukan hanya negara yang menjadi objek acuan dari rasa aman tersebut, namun juga individu membutuhkan rasa aman (Buzan & Hansen, 2009).

Mengacu dari konsep tersebut kasus dari usaha Australia untuk mencoba melindungi warga negaranya merupakan suatu hal yang wajar. Ini dikarenakan Australia mencoba melindungi dan memberikan rasa aman kepada tiap warga negaranya dimanapun mereka berada, sekalipun warga negaranya melanggar hukum yang berlaku di suatu negara, dan membawa dampak buruk bagi negara terkait. Segala cara ditempuh oleh Australia untuk menyelamatkan kedua warga negaranya tersebut.

Berdasar pada konsep bantuan luar negeri (foreign aid) yang dijabarkan oleh Carol Lancaster, Australia mengungkit kembali bantuan luar negeri dikarenakan untuk melindungi keamanan nasionalnya (national security) yang merupakan salah satu motive negara donor member bantuan kepada negara penerima bantuan. Australia mengunakan politik luar negerinya untuk mencoba menyelamatkan dua warga negaranya, dan menunjukan supremacy (keunggulan) sebagai negara donor kepada Indonesia, dengan harapan Indonesia bisa melepaskan atau membebaskan kedua warga negaranya dari hukuman mati.

Dari sini kita dapat belajar bahwa tiap bantuan asing yang diberikan kepada pemerintah kita pasti memilki motive dan tujuan. Saran saya belajar dari kasus ini, pemerintah Indonesia seharusnya lebih cerdik dalam menerima bantuan yang diberikan asing kepada Indonesia. jangan menerima begitu saja bantuan asing yang diberikan kepada kita, yang nantinya berbuah kepada terpenjaranya rasa “tidak enak” kepada negara donor dan berujung kepada dipermainkannya kedaulatan (sovereignty) Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat (sovereignty state)

 

 

Penulis: Amos Sury’el Tauruy.

Daftar Pustaka

Buzan, B., & Hansen, L. (2009). The Evolution of International Security Studies. New York: Cambridge University Press.

Herald, T. S. (2015, Februari 22). Federal Politics. Retrieved Februari 22, 2015, from smh.com.au: http://www.smh.com.au/federal-politics/political-news/coin-for-abbott-indonesians-angry-backlash-at-pms-bali-nine-diplomacy-20150222-13l5n2.html

kompas.com. (2015, Januari 18). Nasional. Retrieved Februari 22, 2015, from kompas.com: http://nasional.kompas.com/read/2015/01/18/22151681/Terpidana.Mati.Sindikat.Bali.Nine.Menunggu.Waktu.Eksekusi

Lancaster, C. (2007). Foreign Aid Diplomacy,Development, Domestic Politics. Chicago: The University of Chicago Press.

tempo.co. (2015, Februari 17). Politik. Retrieved Februari 22, 2015, from tempo.co: http://www.tempo.co/read/news/2015/02/17/078643184/Indonesia-Lawan-Kecaman-PBB-Soal-Hukuman-Mati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

What color is a typical spring leaf?