sumber: google.com

Upaya Mencapai Kemerdekaan Palestina dan Menciptakan Two State Solution Melalui KAA

Konfrensi tingkat tinggi kulit berwarna pertama dilakukan oleh negara-negara di kawasan Asia dan Afrika dilakukan, kota Bandung menjadi saksi bisu dari konfrensi pertama yang dilakukan tanpa melibatkan negara barat. Konfrensi yang digagas oleh sang Proklamator Republik Indonesia yang kala itu baru berusia kurang dari sepuluh tahun ini diarsiteki oleh salah seorang putra bangsa terbaik Ali Sastroamidjojo yang kala itu menjabat sebagai Perdana Menteri.

Meski sempat diganggu oleh kecelakaan pesawat yang meninpa delegasi dari Tiongkok konfrensi ini tetap berlangsung pada 18-24 April 1955. Konfrensi ini juga berhasil melahirkan Dasasila Bandung (Bandung Declaration), yang hingga saat ini masih cukup relevan dalam dunia internasional. Namun setelah setengah abad lebih dari pertama kali konfrensi ini berlangsung masih ada tindakan penjajahan yang dilakukan oleh negara-negara yang memiliki kekuatan terhadap negara lemah yang berusaha mempertahankan kedaulatan bangsanya. Indonesia sebagai negara pencetus konfrensi ini memiliki tanggung jawab yang besar untuk mewujudkan kesetaraan dan kemerdekaan berpolitik dan berdaulat bagi negara-negara yang hingga saat ini masih terjajah.

Mengingat konstitusi Indonesia Undang-Undang Dasar 1945 pada pembukaan (prambule)nya mengamanatkan bangsa Indonesia untuk menghapuskan penjajahan dari atas muka bumi ini. Inilah yang menjadi landasan dasar perjuangan bangsa Indonesia untuk menjalankan politik atau kebijakan luar negeri untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kesetaraan di antara bangsa-bangsa di dunia. Salah negara yang masih terjajah dan bersengketa dengan negara yang memiliki kekuatan adalah Palestina, yang masih terjajah dibawah baying-bayang kekuatan negara Israel.

Hingga hari ini Indonesia belum memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dikarenakan hal tersebut. Namun di sisi lain Indonesia juga memberikan dukungan kepada solusi dua negara (Two State Solution) dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina. Jika Israel menghentikan agresi militer dan penekanan terhadap Palestina, Indonesia akan mengakui negara Isarel dan membuka hubungan diplomatic dengan negara Israel. Perjuangan mengusahakn kemerdekaan Palestina sudah dilakukan Pemerintah Indonesia sejak zaman persiden pertama Ir.DR, Soekarno hingga sekarang (Tauruy, 2014).

Dalam Konfrensi Asia-Afrika (KAA) Indonesia memiliki potensi yang lebih besar untuk menyerukan kemerdekaan bagi rakyat Palestina dan mendukung Two State Solution. Tahun 2005 setelah setengah abad KAA berlangsung, KAA menghasilkan sebuah terobosan baru yaitu dibentuknya NAASP (New Asia-Africa Strategic Partnership), yang salah satu tujuannya juga membangun kapasitas untuk mendukung kemerdekaan Palestina (asianafricansummit2005.org, 2014). Jika Indonesia berjuang sendiri untuk menjalankan politik luar negerinya yang diamanatkan oleh konstitusi Indoensia jelas kemerdekaan Palestina adalah hal yang sulit, namun jika Indonesia berjuang bersama-sama dengan negara-negara Asia Afrika hal tersebut sangat mungkin dapat terwujdud.

Enampuluh tahun setelah KAA 1955 dan sepuluh tahun setelah NAASP dibentuk KAA kembali dilakukan di Indonesia, dan kali ini diperluas dengan diundangnya negara-negara Amerika Latin. Dukungan untuk menjalankan politik luar negeri Inonesia makin meluas hingga ke benua Amerika. Akan semakin memperkuat apa yang selama ini diperjuangkan oleh Indonesia sebagai bentuk solideritas terhadap rakyat Palestina. Ditambah lagi fenomena dalam politik internasional yang belum lama ini terjadi, yakni dimasukannya palestina kedalam keanggotaan ICC (International Criminal Court) (TheJakartaPost, 2015).

Indonesia seharusnya bisa menjadi pemain dalam KAA dan bukan sekedar menjadi follower. Indonesia harus menghidupkan kembali semangat Konfrensi Asia-Afrika yang tertuang dalam Dasasila Bandung yang sejalan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (GlobalFutureInstitute, 2015). Terutama dalam permasalahan penjajahan di atas dunia, baik penjajahan dengan cara konfensional dengan mengunakan kekuatan militer maupun penjajahan dengan cara yang lebih moderen dengan mengunakan kekuatan ekonomi dari negara-negara besar pemilik modal.

 

Penulis: Amos Sury’el Tauruy

 

 

Daftar Pustaka

asianafricansummit2005.org. (2014, September 24). Article Summit . Retrieved April 18, 2015, from asianafricansummit2005.org: http://www.asianafricansummit2005.org

GlobalFutureInstitute. (2015). Seruan Global Future Institute Kepada Para Peserta KAA Bandung ke-60 19-24 April 2015. The Global Review , 1-6.

Tauruy, A. S. (2014, Oktober 3). RMOL Suara Publik. Retrieved April 18, 2015, from rmol.com: http://www.rmol.co/read/2014/10/03/174441/Indonesia-Mendukung-Two-State-Solution-Dalam-Konflik-Israel-Palestina

TheJakartaPost. (2015, April 1). The Jakarta Post Breaking News. Retrieved April 18, 2015, from thejakartapost.com: thejakartapost.com

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

what is 8 in addition to 8?