Korea 2015-2016

  • Sejarah Konflik Di Semenanjung Korea

Konflik di semenanjung Korea merupakan dampak dari meluasnya perang dingin di dataran eropa yang melibatkan dua Negara adi kuasa yakni Uni Soviet dan Amerika Serikat beserta sekutunya di Eropa. Perang dingin yang meluas ke Asia berdampak pada perebutan pengaruh di semenanjung Korea, dua Negara adi kuasa tersebut berusaha untuk menguasai semenanjung Korea dengan membantu berdirinya Negara Korea. Berawal dari keterlibatan Uni Soviet dalam mendeklarasikan perang pembebasan Korea pada 9 Agustus 1945 dari cengkraman Jepang pasca Bom Atom kedua dijatuhkan di kota Nagasaki yang mengakhiri Perang Dunia kedua. Dalam sekejap Tentara Merah Soviet berhasil menduduki Korea Utara dan sehari setelahnya berhasil mengusir Jepang dari wilayah tersebut. Uni Soviet membaca ketidakberdayaan pasukan Jepang pasca di Bom Atomnya kedua kota utama di wilayah negar Jepang, Hiroshima dan Nagasaki.

Tiga minggu setelah itu tepatnya pada tanggal 8 September 1945 pasca penyerahan wilayah Korea Selatan dari Jepang, Amerika Serikat mendaratkan ribuan pasukannya di pantai timur Korea bagian selatan. Ini mengakibatakn wilayah semenanjung Korea yang sebelumnya dibawah kekuasaan Jepang terpecah menjadi dua, dan dibawah kekuasaan dua negara yaitu Uni Soviet yang terlebih dahulu berhasil menguasai baguan utara Korea dan Amerika Serikat yang kemudian menguasai Korea bagian selatan.

Konflik semakin memanas dengan dideklarasikannya pendirian negara Republik Korea oleh Korea Selatan pada tanggal 15 Agustus 1948 dan beribu kota di Seoul dibawah pimpinan Tokoh Nasionalis Syangman Rhee. Tidak mau kalah pada bulan September 1948 Korea Utara mendeklarasikan berdirinya negara Republik Demokrasi Rakyat Korea yang beribu kota di Pyong Yang dibawah pimpinan Perdana Menteri Kim Il Sung. Inilah yang kemudian menjadi akar dari konflik yang terjadi di Semenanjung Korea hingga saat ini, meski keduanya memiliki ambisi untuk menyatukan Korea dibawah satu kepemimpinan namun nampaknya hal itu sulit terjadi. Ini dikarenakan ambisi dari pimpinan masing-masing negara diantara kedua Korea (Astrid & Nadif, 2011).

  • Tangapan

Setelah hampir tujuh dekade konflik di semenanjung Korea berlangsung dengan tensi yang naik dan turun. Dalam biki Forecast 2016 salah satu sub-bagian di bagian lima yang berjudul “North Korea Vulnerability?” menuliskan bahwa tensi konflik dari kedua Negara meningkat pesat, karena ledakan ranjau darat di kawasan DMZ (zona demiliterisasi). Ledakan tersebut memutuskan kaki dua tentara Korea Selatan yang sedang melakukan patrol, dan hal tersebut menjadi sebuah ancaman bagi memanasnya hubungan kedua Negara (Cohen & Dalton, 2015).

Memanasnya hubungan kedua Negara membuat upaya untuk menciptakan perdamaian di semenanjung Korea mengalami kebuntuhan. Upaya untuk menarik kedua Negara ke meja perundingan dilakukan melalui mekanisme six party talk, yang melibatkan Negara-negara major power seperti Amerika Serikat, Russia, China, Jepang dan juga duo Korea (Korea Selatan dan Korea Utara). Akan tetapi di dalam six party talk Amerika Serikat yang merupakan satu-satunya aktor penyebab konflik berkepanjangan di semenanjung Korea, pasca runtuhnya Uni Soviet masih sering melakukan propaganda dan mencoba mempengaruhi Korea Utara untuk menggunakan nilai-nilai demokrasi yang dianut oleh Amerika Serikat. Di dalam forum-forum six party talk Amerika Serikat selalu menoba mempengaruhi Korea Utara dengan nilai-nilai yang dianut oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan selaku sekutu dekatnya, hal inilah yang disindir oleh Rusia dan menuding Amerika Serikat memainkan standard ganda (dublle standard) (Joo, 2012).

Dalam sub-bab 2016 global forecast juga menjelaskan mengenai propaganda yang dilakukan oleh Korea Selatan dan Amerika Serikat dalam latihan militer bersama yang dilakukan oleh kedua Negara. Akan tetapi propaganda bukan hanya dilakukan oleh Korea Selatan dan Amerika Serikat, akan tetapi juga dilakukan oleh Korea Utara. Korea Utara melakukan propaganda dengan memasang pengeras suara di perbatasan kedua Negara yang bertujuan untuk mengumandangkan pidato yang dari pemimpin besar mereka Kim-Joung Un. Selain itu uji coba nuklir yang terus dilakukan oleh Korea Utara hingga akhir Desember 2015 juga semakin memperkeruh hubungan antara kedua Negara (KompasTv, 2016).

  • Forecasting (Prediksi Hubungan Duo Korea Hingga Akhir 2016)

Meski ada keinginan untuk melakukan univikasi dari kedua Negara yang bertujuan untuk mengakhiri konflik, namun kedua Negara ingin mengunakan sistem yang dianut negaranya masing-masing pasca unifikasi. Factor eksternal juga memiliki peranan dalam peroses unifikasi, peran dari Negara-negara major power sperti Rusia, China, dan Amerika Serikat. Tetap dilakukannya pelatihan militer bersama oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan akan menjadi penghalang terciptanya perdamaian di semenanjung Korea.

Ditambah lagi kampapanye militer dan uji coba nuklir yang terus dilakukan hingga akhir tahun 2015 yang dilakukan oleh Korea Utara, dan menuai kecaman dari Korea Selatan. Penulis memprediksikan dari situasi tersebut bahwa perdamaian di semenanjung Korea hingga akhir 2016 masih belum tercapai. Korea Utara juga masih rentan terhadap kecaman dunia internasional dan propaganda  yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Astrid, & Nadif, F. A. (2011). Sejarah Perang-perang Besar di Dunia. Sleman: Familia Pustaka Keluarga.

Cohen, C., & Dalton, M. G. (2015). 2016 Global Forecast. CSIS , 68-71.

Joo, S.-H. (2012). Russia and the Korean Peace Process. In T.-H. Kwak, The Korean Peace Proces and Four Powers (pp. Chapter 8; 141-168). Asghate: Asghate Pub. Ltd.

KompasTv. (2016, January 9). Kompas Dunia: Uji Coba Nuklir Korea Utara. Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

What is the outer covering of a tree?