Kapitalisme Lokal vs Niat Baik (Goodwill): Selalu Ada Harapan

FKGW

Mengutip ungkapan aktor senior Selamet Rahardjo “film refleksi kehidupan, bukan imitasi kehidupan” (MetroTV, 2017). Film merefleksikan kehidupan nyata, bagaimana manusia bersikap dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Film digunakan juga sebagai menyampai pesan positif atau negative. Tak jarang juga filim digunakan untuk mempengaruhi sikap penikmat filim tersebut, menyampaikan nilai dari si pembuat Film.

Hal serupa terjadi dalam film pendek Filosofi Kopi Special Episode: The Goodwill dirilis melalui media youtube pada 18 Juni 2017 (Toyota Indonesia, 2017). Film tersebut menceritakan mengenai perjalanan dua pengusaha kedai sekaligus penikmat kopi Ben dan Jody, mencari kopi-kopi terbaik di Indonesia untuk dipromosikan. Mereka singgah di sebuah kedai kopi milik kenalan mereka bernama Dira. Di kedainya Ben dan Jody merasakan kenikmatan kopi posong asal Temanggung, Jawa Tengah, keduanya terkesima dengan rasa kopi jenis Arabica tersebut.

Ben bertanya mengenai asal-usul dari kopi posong, Dira enggan memberikan informasi lebih malah memuji baristanya (peracik kopi) untuk mengalihkan perhatian keduanya. Ben dan Jody tetap ingin tau dari mana kopi nikmat itu berasal, Dira memberikan informasi namun setengah hati. Sesuai namanya kopi tersebut berasal dari daerah Posong Temanggung, ditanam oleh petani kopi bernama pak Budi. Dengan informasi setengah hati dari Dira Ben dan Jody berangkat mencari pak Budi.

Ben dan Jody mengelilingi daerah Posong sampai empat jam, namun tak ditemui juga si petani kopi. Informasi dari Dira justru membuat keduanya hilang di Posong, hingga akhirnya mereka memutuskan mencari sendiri lokasi kebun kopi pak Budi. Posong dikelilingi mencari si petani melalui rasa spesial kopinya. Alhasil keduanya berhasil menemui pak Budi, selanjutnya mereka mengelilingi kebun kopi sambil bercerita. Ben dan Jody memberitahukan mereka bisa sampai ke tempat si petani karena mencari kenikmatan kopi posong.

Berbincangan ketiganya terhenti ketika pak Budi menjawab pertanyaan Jody mengenai harga kopi yang dijual ke Dira sebesar Rp. 15.000 per kilogram. Jauh dibawah harga pasar bahkan ketika mereka membeli kopi posong pak Budi dengan harga dasar pasaran pak Budi sangat senang. Keduanya memikirkan hal tersebut sepanjang perjalanan, sungguh tega Dira membeli kopi dari pak Budi dengan harga sangat jauh di bawah pasaran.

Dalam filim tersebut Dira adalah sosok pelaku kapitalis lokal, ia membeli harga kopi dengan sangat murah. Setelah itu kopi olahannya dijual ke pelanggan dengan harga tinggi. Memang di filim tersebut tak disebutkan berapa harga segelas kopi posong di kedai miliki Dira, namun dari pengalaman saya di kedai sekelas itu harga kopi sekitar Rp. 29.000-48.000 per gelasnya. Untuk menghasilkan segelas kopi hanya dibutuhkan sedikit biji kopi untuk satu gelas kopi siap minum, kita bisa membayangkan berapa keuntungan Dira dari hasil jual kopi posong miliknya.

Banyak yang menilai jika dihitung hanya ongkos beli dan jualan kopinya saja memang murah, namun bagaimana dengan ongkos sewa toko dan bayar pegawai belum pajak? Pelaku usaha kedai kopi bukan Cuma Dira, Ben dan Jody serta kawan-kawannya juga pengusaha kopi. Akan tetapi mereka bisa membeli kopi posong dengan harga pasaran. Cerita film tadi berlanjut, Ben dan Jody kembali ke rumah pak Budi dengan mesin pengering kopi, dengan melalui proses harga kopi posong pak Budi meningkat.

Dira datang ke rumah pak Budi karena si petani enggan menjual biji kopi segar (green been) ke kedai Dira. Ternyata Ben dan Jody mengajarkan kepada pak Budi cara mengolah kopi dan memasarkannya dengan harga sesuai pasar. Tak sampai disitu keduanyapun membantu memasarkan di kalangan pengusaha kedai kopi, pujian datang dari pengusaha kedai kopi. Jody dan Ben membawa perubahan bagi kehidupan pak Budi si petani kopi. Kata goodwill dalam film ini berarti keinginan baik, selama masih ada manusia-manusia berkeinginan baik selama itu pula masih ada harapan untuk perubahan yang lebih baik bagi nasib para petani secara luas bagi masyarakat kecil.

Oleh: Amos Sury El Tauruy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

what is 9 in addition to 9?