Dear Zindagi

// April 4th, 2017 // Uncategorized

Untuk Hidup

 

Bayi kecil yang lahir dengan cinta, senyuman dan begitu banyak kebahagiaan harus dibesarkan terpisah dari kedua orangtua. Ya, Saya memang tidak terlalu dekat dengan mereka yang disebut orangtua oleh kebanyakan orang, bahkan malas untuk itu. Kekecewaan dimasa kecil yang harus dibawa sampai saat ini, ntah bagaimana cara menghilangkannya. Orangtua yang baginya hanya formalitas. Masa kecil yang dihabiskan bersama nenek dan kakek karena alasan mereka ingin membangun bisnis dan tidak ingin sampai Saya terlantar. Saya jelas ditelantarkan, hanya bedanya ada kakek dan nenek yang mau merawat Saya.

Tumbuh besar, menentukan setiap pilihan hidup sendiri sudah biasa bagi Saya. Tidak menyedihkan jika orang tidak tahu, mereka harus mengalaminya sendiri. Karir yang Saya bangun dengan susah payah mempertemukan Saya dengan teman, keluarga baru yang bertahun-tahun tidak Saya rasakan dari keluarga sendiri. Dari sini juga kisah ini akan Saya mulai. Sinematografi adalah hidup dan segalanya bagi Saya. Mungkin tidak banyak yang familiar dengan kata dan profesi sebagai sinematografer. Menciptakan dan menghasilkan gambar serta visual yang indah adalah keahlian Saya, tapi tidak dengan hidup ini, tidak seindah hasil kerja Saya.

Lalu ada Drew di hidup Saya, seorang pengusaha sukses dengan banyak relasi dan yaaa….. wanita mana yang tidak ingin bersama Drew? Masuk akal. Drew muda, tampan dan sukses, seperti tanpa celah hingga tidak ada alasan untuk meninggalkan Drew. Semua yang orang lihat pada Drew terasa biasa saja bagi Saya. Ini jelas bukan dongeng putri dan pangerannya yang sempurna. Tidak bersyukur kah Saya? Hingga Saya sadar bahwa bersama Drew juga tidak mengurangi kemalangan atau menambah kebahagiaan dalam hidup Saya. Hanya perasaan tenang bahwa Saya memiliki seseorang yang begitu peduli.

Seperti memiliki banyak dunia yang berbeda yang berjalan sekaligus, ada Raf. Orang asing bagi Saya yang selalu memperhatikan dan berusaha menarik perhatian tapi tidak pernah Saya gubris. Hanya sebatas hubungan profesional sebagai rekan kerja di lokasi. Banyak juga yang bertanya kenapa Saya masih saja bersama Drew, ada Raf! Tapi apa yang bisa Saya lakukan? Saya malas jika harus membagi dunia Saya dengan dua pria sekaligus. Bukan! Bukan berarti Saya tidak melirik Raf. Saya juga memperhatikan setiap gerakan dan caranya berbicara pada Saya. Memang berbeda. Saya tahu setiap isyarat yang Raf coba sampaikan tapi Saya hanya berlalu, belum saatnya. Sampai akhirnya Saya memutuskan untuk tidak lagi membebani diri Saya dengan status yang orang lain lekatkan sebagai seseorang yang istimewa bagi Drew. Oh ayolah, Saya bukan gadis yang dengan ringan nya melempar senyum pada semua orang yang dikenal Drew saat kami diluar berdua saja. Membosankan! Saya bahkan tidak kenal mereka dan tidak juga ingin kenal.

Then I let him in. Raf! This is your turn, your time. Jelas Raf bukan alasan Saya menyudahi hubungan dengan Drew. Saya tidak pernah merencanakan ini, hanya saja Saya benar-benar lega tidak lagi dilekatkan bersama Drew, dan sepertinya Raf masih menunggu jawaban. Saya akui, Raf berusaha keras mengenalkan Saya pada apa yang disebut hubungan, menawarkan hal yang tidak Saya miliki bersama Drew dulu. Belum pernah seperti ini. Mungkin karena kami sering bertemu dan mempunyai dunia yang sama, profesi yang sejalan… Raf mampu membuat Saya tidak ingiin pergi. Sempurna sekali apa yang kami miliki dan bagi berdua. Sampai suatu hari sahabat Saya mengatakan bahwa dia kembali bersama gadis nya yang dulu, sebelum Saya. Tanpa mengatakan apa dan bagaimana semuanya mungkin terjadi.

Tidak pernah Saya bayangkan harus mengubah cerita indah itu secara drastis, menghapus dan melupakannya. Saya memilih pergi sejenak, menenangkan diri. Kembali kerumah masa kecil Saya. Mengunjungi kembali orantua seperti anak yang merindukan dukungan orangtua saat harus melalui ini semua. Jelas Saya tidak menceritakan apa yang terjadi dan kenapa Saya memutuskan kembali ke tempat yang mengajarkan kekecewaan sama seperti dulu. Tempat ini seperti penampungan segala rasa sakit yang Saya alami dan berharap akan kembali setelah sembuh.

Takdir baru dimulai lagi, ntah sudah berapa banyak takdir yang menimpa Saya. Baik, buruk, segalanya tidak pernah baik jika menyangkut tempat Saya lahir. Disini. Di kota ini. Saya tidak sengaja bertemu dengan seorang dokter spesialis kejiwaan. Pertama kali mendengar seminar beliau Saya begitu tertarik. Mungkin kondisi jiwa Saya memang tidak baik, hingga Saya harus bertemu lagi dengan beliau? Hasur kah? Awalnya Saya ragu. Tapi, akan jauh lebih baik daripada Saya hanya dirumah dan bertemu kedua orangtua yang selalu Saya hindari. Ini adalah upaya Saya sekali lagi untuk menghindar.

Sesi pertama Saya dengan beliau, dokter Iz, Saya sebut saja Iz… tidak tahu apa yang harus Saya ceritakan. Saya menceritakan semua yang Saya rasakan dengan memakai nama orang lain, tapi tetap Saja dia tahu yang mengalami itu semua adalah Saya. Terlihat bodoh. Saya tidak seharusnya mengikuti kelas Iz, karena Iz akan jadi orang pertama yang mengetahui segala hal buruk yang Saya alami. Tidak pernah Saya bagi ke siapa pun sebelumnya. Kenapa Saya mempercayakan semua rahasia Saya dengan seorang dokter jiwa seperti Iz?

“Terkadang kita manusia hanya butuh didengarkan.”
Iz? Iz mendengarkan semua tanpa bersikap memihak atau menghakimi apa yang Saya lakukan. Saya nyaman dengan itu semua.

Iz berusaha membuat Saya mengerti. Membantu Saya memperbaiki hubungan dengan orangtua yang selama ini Saya abaikan. Berdamai dengan masa lalu. Memberikan kesempatan kedua memulai hubungan anak dan orangtua sebagaimana mestinya. Semua berhak untuk kesempatan kedua kan? Iz memberikan pandangan bahwa semua yang Saya alami adalah hal yang wajar, sangat wajar. Dan juga soal Raf yang berkhianat, tidak ada yang salah dengan itu semua. Ada kalanya kita sebagai manusia membutuhkan orang yang seperti Drew, Raf… hidup akan mengalami fase naik-turun. Orang datang dan juga pergi sesuai waktunya. Orang yang masih tinggal hanya karena kita mempertahankannya untuk tetap ada. Bisa saja waktunya masih ada, tapi kita tidak menginginkannya lagi atau sebaliknya. Drew.

Tapi yang terjadi dengan Raf berbeda, Saya berikan banyak waktu dan kesempatan, ada banyak mimpi dan harapan, tapi tidak bisa lagi dipertahankan. Itu semua pilihan. Iz mencoba menunjukkan semua pilihan yang selama ini Saya buat dan apa hasilnya, tapi Saya juga mengutuknya sendiri. Ntah sudah berapa banyak sesi yang dihabiskan sampai Saya mengerti semua ini pada akhirnya. Kejiwaan Saya membaik? Tidak juga. Saat berlibur di pantai Saya bertemu Dave, laki-laki yang mampu memikat semua gadis dengan nyanyian dan petikan gitarnya. Dikota yang penuh dengan kenangan buruk rasanya bertemu dengan Dave sangat ajaib. Suara merdu, gagah dan tampan, terlalu mudah rasanya.

Iz tahu ada yang berubah dari senyum dan perilaku Saya. Ya, Dave! Laki-laki yang Saya temui di pantai itu adalah alasan perubahan drastis ini. Iz senang melihat Saya kembali seperti dulu, ceria. Dave, dengan semua pesona yang dimiliki membuat Saya sadar semua itu bukan Saya. Musik, kata-kata romantis, bagi Saya semua terlalu dramatis. Membosankan. Kali ini Dave bukan orang yang mampu membuat Saya ingin bertahan lebih lama. Ada masalah baru yang datang kemudian. Ntah bagaimana terjadi tapi Saya nyaman ada bersama Iz. Menghabiskan waktu, membicarakan banyak hal, hingga Saya dihampiri rasa takut jika sesi ini akan berakhir karena Saya seperti tidak ingin mengakhirinya.

Tidak. Iz tidak memberikan sesi lebih meski Saya meminta. Iz juga tidak mampu menjelaskan apa yang dia rasakan, apa sama dengan yang Saya rasakan? Seperti sesuatu yang tidak adil jika hanya Saya yang merasakannya. Apa ini? Iz seperti biasa berusaha mengendalikan suasana menjelaskan bahwa semua ini wajar. Dokter dan pasien nya banyak menghabiskan waktu, mengobrol dan berbagi mengenai hal pribadi. Bagi Saya ini lebih dari sekedar obrolan dokter dan pasien. Lebih dari itu Saya ingin Iz tidak lagi menjadi dokter Saya, bukan dokter yang merawat pasiennya. Hal yang tidak bisa dilakukan karena alasan akan melanggar aturan, antara dokter dan pasien. Iz juga merasakan hal yang berbeda, bagi Iz Saya bukan pasien biasa. Saya istimewa. Orang yang mengerti semua masalah yang Saya hadapi dan menyembuhkan semua luka, tapi tidak bisa dipertahankan meski Saya ingin. Kenapa?

Dari semua yang Saya alami, hidup memang tidak mampu ditebak. Sekeras apa pun kita berusaha hidup sudah punya aturannya sendiri. Terkadang hidup itu sendiri tidak ingin diatur, hanya perlu diikuti. Keluarga, Drew, Raf, Dave, dan Iz. Mereka semua mengajarkan bahwa hidup tidak mungkin selalu baik, hal baik pun membuat kita tidak tahan dan memilih hal lain. Kemudian yang kita rasa sudah tepat, berbalik berkhianat tanpa ada persiapan. Apa yang indah orang lain lihat tapi mengapa kita tidak merasakan indah itu, lalu untuk apa? Sesuatu yang coba kita pertahankan malah pergi dengan kondisi yang tidak tepat. Itu juga tidak baik? Bukan. Memang akan ada hal baik yang ternyata kita pun tidak sanggup menerima dan mempertahankannya. Maka ia pergi. Tanpa penjelasan. Seperti apa yang tepat itu? Tidak akan pergi dan akan tetap bertahan untuk mempertahankan. Hidup tidak akan berhenti sampai yang hidup tidak lagi hidup.

note: ini kisah dari film loh ya! Jangan Baper. Pernah ngerasain gitu juga gak?

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What color is the sky on a sunny day?