Belajar dari si Bapak

// May 15th, 2017 // Uncategorized

Saya harus pergi. Seperti biasa Saya menggunakan jasa Go-Jek dan menunggu sedikit jauh dari rumah karena Go-Jek sudah tidak bisa masuk ke komplek karena dilarang oleh ojek pangkalan. Ada yang mengalami ini juga? Ojek pangkalan semakin merasa terzolimi. Merepotkan memang karena harus bertindak dua kali. Segelintir orang yang masih saja berpikir bahwa rezekinya diserobot oleh para driver Go-Jek. Susah memang mengubah mindset orang untuk menerima perubahan, untuk lebih maju.

Sudah terpesan dan Saya menunggu. Tidak seperti biasa saat itu Saya menunggu dengan penuh gelisah. Saya terus melihat jam dan aplikasi Go-Jek untuk melihat sudah dimana kira-kira driver Go-Jek yang akan mengantar Saya. Map menunjukkan driver tidak terlalu jauh. Panggilan masuk yang Saya yakin adalah si driver. Benar saja si Bapak menelpon untuk menanyakan posisi Saya kemudian Saya jelaskan Saya ada dimana. Lega sesaat Saya yakin si Bapak sudah mengerti dan tidak salah. Kembali Saya melihat jam dan aplikasi Go-Jek. Mulai tidak nyaman Saya bingung kenapa si Bapak tidak berputar arah malah terus lurus dijalan Kol. H. Burlian. Tidak lama kemudian ada lagi panggilan masuk dari nomor yang sama. Saya akui memang dengan nada yang sedikit ketus Saya menjawab panggilan si Bapak.

“Bapak sudah dimana?”
“Mbak dimana ya? Saya sudah disni…”
“Bapak salah jalan Pak. Bapak tahu rumah sakit mata kan? Ada lorong disebelahnya. Nah harusnya Bapak lewat sana.”
“Oh iya mbak Saya kesana sekarang yah.”

Saya kemudian mematikan telpon dan kembali menunggu. Menunggu si Bapak datang Saya masih saja kesal. Sifat manusia Saya yang satu ini sangat dominan. Saya termasuk orang yang sangat mudah marah. Sangat mudah. Sudah berulang kali mengingatkan diri sendiri tapi masih saja susah mengubahnya. Selalu saja ingin orang lain cepat, tidak sabar menunggu lebih lama. Setelah si Bapak datang Saya menyadari banyak hal.

Apalah arti memarahi orang lain atas kesalahan diri sendiri. Saya yang terlambat. Saya yang harusnya menyadari kalau tidak ingin terlambat maka Saya harus berangkat lebih awal lagi. Saya masih saja menyimpan sifat buruk ini. Saya tidak tahu bahwa si Bapak driver lelah sudah bekerja seharian dari pagi sekali saat semua orang juga masih dirumah. Saya tidak tahu bahwa si Bapak driver juga mungkin punya masalahnya sendiri yang harus dikesampingkan karena tanggung jawabnya harus mengantar jemput banyak pelanggan. Saya tidak tahu seberapa banyak tanggungan keluarga nya. Saya tidak tahu apakah siang itu si Bapak sudah makan siang atau apa si Bapak sudah sekedar menghilangkan hausnya.

Satu hal baik yang Saya syukuri masih sempat Saya lakukan saat si Bapak tiba, Saya menyapa dan menerima helm yang beliau berikan dengan senyum. Tidak ingat seberapa lebar dan tulus senyum waktu itu karena masih sedikit kesal. Terimakasih Bapak sudah tetap menjemput Saya meski jauh ya Pak. Terimakasih Bapak sudah mengantarkan Saya sampai di tujuan dengan selamat. Terimakasih sudah melakukan pekerjaan Bapak dengan baik, sepenuh hati dan bertanggung jawab. Satu hal kurang baik yang Saya sesali karena tidak berani Saya lakukan saat akhirnya sampai di tujuan. Saya hanya mengembalikan helm dan mengucapkan terimakasih. Saya tidak mengucapkan kata maaf karena sudah ketus menjawab panggilan telpon si Bapak. Sudah dongkol didalam hati karena keterlambatan Bapak yang menyebabkan Saya terlambat juga. Harusnya Saya berangkat lebih awal lain kali.

Apapun profesi seseorang kita tidak punya hak begitu saja marah dan menyalahkan. Kita juga butuh kan? Mereka juga manusia kan? Bisa kapan saja salah. Bisa kapan saja lelah. Saya masih butuh Bapak dan driver-driver lain. Jangan berhenti yah, meski banyak sekali pelanggan menyebalkan seperti Saya kemarin.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 4 plus 4?