Sudah Waktunya. Sadar.

// August 10th, 2017 // Uncategorized

Malam ini Saya keluar rumah minta ijinnya mau ke PI buat beli kado ada teman yang weekend ini nikahan. Sampe PI malah bingung. Semakin banyak pilihan, orang malah semakin bingung ya kan? Alhasil, tidak bisa memutuskan sendiri apa yang harus dibeli. Malah sibuk membayangkan andai LRT pintunya bisa masuk langsung ke PI. Dari PI bisa pindah langsung ke PS. PS dan PI memang harusnya punya akses sky walk! Okeh fokus lagi.

“Dan gue malu kalau gue sehambur-hambur itu tetapi untuk bersedekah malah nggak seberapa.”

Kalimat yang Saya ambil dari blog nya Gitasav. Kami memang tidak saling kenal, belum pernah juga bertemu langsung. Untuk berpikiran yang sama boleh kan? Seringnya Saya merasa sama, dalam hal berpikir dengan beliau. Sederhana. Masuk akal. Sepertinya hidupnya tidak neko-neko? Disamping dia yang sudah mulai menyandang sebutan ‘Social Media Influencer’. I want to be like you one day, yes like you but not you!

Kita bertanggung jawab untuk hidup kita masing-masing memang. Bagaimana saat baru saja kenyang, melangkah keluar dari tempat makan menuju parkiran, langsung diperlihatkan sama Bapak, Ibu yang berjalan mendorong gerobaknya. Gerobak yang mungkin dijadikan rumah? Dengan anak-anaknya berada didalam gerobak. Terlalu mudah memang bertanggung jawab untuk perut sendiri yang lapar tadi. Sementara Bapak, Ibu tadi masih lapar kah? Kalau Saya sendiri masih kesulitan untuk menanggung semua perut mereka yang kelaparan. Memang, memang hidup ini adalah tanggung jawab masing-masing individu yang menjalaninya.

Setidaknya Saya sudah diberikan pemikiran bahwa hidup itu bukan tidak adil. Mereka memang mendapat bagian cerita kehidupan yang bagi kebanyakan orang, mungkin terdengar ‘begitu amat ya hidupnya?’ Mereka bukan tidak berusaha. Sudah. Lalu? Apakah salah jika kita berpikir saja bahwa Tuhan memang menginginkan ini. Sadarkah kalau itu juga fungsi nya Tuhan menganjurkan kita untuk bersedekah kan? Jika semua individu berkemampuan yang sama bagaimana lagi caranya berbagi?

Jujur dulu Saya berpikir orang miskin itu pasti malas, dulu sekolahnya bolos, dst… Tapi bukan kah sekejap saja jika Tuhan mau makhluknya kaya mendadak? Saya sadar. Pola pikir Saya yang seharusnya Saya ubah. Sebagian besar hidup kita memang sudah maunya Tuhan, ya sudah kita menjalani saja.

Hidup itu bukan tidak adil. Hanya karena segelintir individu yang berpikir, ‘Ya kalau kalian makan sehari sekali, tidak punya rumah layak dan serba kekurangan lantas jadi tanggung jawab Saya?’ atau ‘duit-duit gue ya suka-suka gue lah mau ngapain!’ coba dibalik, ‘Ya kalau kalian kaya raya, mampu membeli semua isi dunia, punya rumah yang nyaman dan bisa makan sekenyangnya lantas kalian merasa dunia ini jadi milik kalian?’ Apa gunanya kita terus membandingkan antara kemampuan dan ketidak mampuan kita ini. Dimata Tuhan kita semua tidak mampu kok, sederhana sekali sebenarnya. Memangnya menyenangkan melihat saudara kita menjalani cerita hidupnya yang menurut kita sendiri menyedihkan? Memangnya menyenangkan melihat saudara kita menjalani hidupnya yang menurut kita sendiri mewah?

Bukankah sama saja? Semua makhluk toh harus beribadah. Menyembah dan mengingat Tuhannya. Hanya saja jika kita mau sedikit menghilangkan rasa egois dan melihat bahwa hidup dan kehidupan kita ini sangat luas. Apakah kalian sudah sampai di tahap hidup dimana setiap detik perubahannya membuat kalian berpikir sejenak mengapa Tuhan mau kita melalui hari ini, kejadian ini.  Terpikirkan bahwa hidup itu bukan tidak adil. Bukan lagi soal tidak menyukai satu sama lain hanya karena perbedaan. Kita memang tidak bisa menyenangkan semua orang. Tapi kita sudah pasti bisa untuk baik pada semua orang.

Bukan soal, ‘Mereka juga tidak mengenal Saya. Mereka juga bukan tanggung jawab Saya’ Jangan lupa bahwa kita itu baik. Tidak akan jadi masalah jika orang lain belum menjadi baik. Menghargai setiap individu itu harus. Jika mereka miskin, suatu saat mereka bisa saja lebih kaya. Jika mereka bodoh, suatu saat bisa saja mereka lebih pintar. Jangan fokus kesana. Jika kita baik sampai kapan kita bisa mempertahankannya? Karena menjadi kaya, miskin, jahat sangatlah mudah. Tapi baik? Silahkan untuk mulai dipikirkan.

Ingin sekali rasanya meluruskan segala hal yang mengganggu dimata Saya. Seperti kata Gitasav idealis boleh, tapi kita harus realistis juga. Tidak mungkin memusuhi semua yang tidak sejalan dengan kita. Apa yang kita tentang. Saya juga masih sering berpikir orang lain lebih buruk daripada Saya. Saya juga masih bagian dari buruk itu sendiri. Apa di usia sekarang (usia muda) kalian sudah aware dengan keadaan orang disekitar yang timpang dengan kondisi kita? I hope so. Karena Saya sudah menjadi bagian dari yang tidak bisa langsung menutup mata dan telinga Saya jika mata dan telinga Saya sudah menangkap sesuatu. Saya sudah.

Tapi Saya sadar hidup tidak bisa selalu idealis harus juga realistis. Saya terus berusaha menyeimbangkan ini. Saya juga belum mampu berbuat banyak. I’m working on it. What about you? Semoga kita bukan bagian dari individu yang memandang segala sesuatunya buruk. Bukan bagian dari individu yang memperlebar celah perbedaan. Tapi individu yang mencari jalan keluar, menyatukan.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What color is fresh snow?