ALETHEIA

Orbis non Sufficit

Golgota

Di puncak bukit Golgota
Ia bergantung antara langit dan bumi
menjadi korban konspirasi
pemuka agama, penguasa, dan politisi
ketika suksma-Nya meninggalkan raga
Ia melepaskannya seraya berkata
”Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu
Kuserahkan jiwa-Ku.”

Jakarta, 12 April 2017

Pada saat itu, surga seakan-akan tuli. Tidak ada malaikat yang turun. Tidak ada api dari langit yang menyambar dan menghanguskan bumi. Cahaya siang malah dicabut. Langit gelap. Bumi gelap. Kegelapan menyelimuti seluruh bumi. Dan, bumi pun berguncang keras karena gempa.

Cyril dari Aleksandria menulis, ”Setelah kegelapan itu, sesuatu yang tidak wajar terjadi: bulan tampak memerah darah, seperti yang pernah dinubuatkan oleh Nabi Yoel. ’Matahari akan menjadi gelap dan bulan akan berwarna darah….’”

Jerusalem, Jerusalem, engkau membunuh nabi-nabi dan merajam rasul-rasulmu. Apa yang kau cari, Jerusalem. Demikian banyak nabi dilahirkan di rumahmu; hidup menghirup udaramu; makan memakan makanan yang tumbuh di tanahmu; minum meminum air yang mengalir di tubuhnya. Demikian banyak nabi pernah menginjakkan kakinya, berjalan, menyusuri lorong-lorongmu. Tetapi, sedikit pun tidak ada setitik rasa dalam hatimu bahwa kamu telah berutang budi dan harus melunasinya.

Tetapi, apakah Jerusalem bersalah? Apakah Jerusalem harus dituntut karena kematian Nabi Agung yang telah menginspirasi manusia sejagat agar membumikan kasih-Nya? Apakah Jerusalem harus bertanggung jawab karena membiarkan orang-orang munafik bersekongkol dengan orang-orang yang takut kehilangan jabatannya, menjadikan orang yang tidak bersalah menjadi korban nafsu-nafsu mereka?

Jerusalem yang di dalam dirinya menyimpan aura kesucian ilahi; yang menjadi tujuan ziarah ketiga umat agama samawi telah menjadi saksi. Jerusalem telah menjadi saksi persekongkolan, perselingkungan itu; perselingkuhan antara para pemuka agama, politisi, dan penguasa. Jerusalem telah menjadi saksi perselingkungan antara agama dan politik. Politisasi agama telah menodai kesucian Jerusalem karena agama telah dijadikan sebagai dalih untuk mengabsahkan pembunuhan.

Adalah fakta sejarah ketika penguasa Romawi di wilayah Galilea dan Yudea Pontius Pilatus mengatakan, ”Ibis ad crucem!” Engkau akan disalibkan. Ucapan itu keluar, setelah ia tidak berdaya menghadapi para pemimpin agama dan pemimpin politik lokal. Ia tidak berdaya karena ketakutan kehilangan jabatan sehingga mengikuti saja kehendak para pemimpin agama dan pemimpin politik lokal.

Maka ketika itu, dilihat dari sudut kenyataan sejarah (dengan menyisihkan semua perkara teologis), terjadilah konspirasi politis—keagamaan. Konspirasi antara penguasa negara, yakni Pontius Pilatus, dan kuasa agama—Imam Agung dan para ahli kitab—serta mobilisasi massa bayaran dan budak. Hukuman salib dijatuhkan oleh triumvirat jahat: Sang Wali Negeri (Pontius Pilatus), pemimpin politik lokal (Raja Herodes), dan Imam Agung (Hanas dan Kayafas) bersama dengan para ahli kitab.

Mengapa Imam Agung Kayafas dan Pontius Pilatus bisa bertemu pendapat? Menurut Gordon Thomas (2009), mereka memiliki kepentingan yang sama: mempertahankan kekuasaan imperialisme. Apabila kekuasaan imperialisme Romawi bertahan, kekuasaan keduanya pun akan tetap di dalam genggamannya.

Itulah sejarah kelam konspirasi kekuatan politik dan agama yang berujung pada ketidakadilan, yang terjadi di zaman Romawi berkuasa atas Palestina.

Seorang sarjana Suriah kelahiran Aleppo (1489, dan meninggal pada tahun 1903), Abdurrahman Al-Kawakibi yang dikenal sebagai pionir nasionalisme Arab atau pemikiran politik Islam modern, dalam salah satu buku karya besarnya, Taba’i’ Al-Istibdad (Karakteristik Tirani), menjelaskan tentang otoritarianisme yang paling berbahaya, yakni otoritarianisme yang ditopang oleh dua kekuatan: politik dan agama.

Zuhairi Misrawi menulis, perselingkuhan politik dan agama tidak hanya mengukuhkan otoritarianisme, tetapi secara sosiologis perselingkuhan itu dapat menjadi penyebab meluasnya kekerasan. Kekerasan atas nama agama adalah sebuah petaka yang sangat mengerikan, dan petaka tersebut semakin menakutkan karena mendapat restu dan amunisi dari kekuasaan. Apalagi kalau kekuasaan (tidak harus pemerintah) mempunyai intensitas untuk menebarkan kekerasan (Trias Kuncahyono, Jerusalem 33: 2002).

Kekerasan tidak pernah baik. Kekerasan selalu memakan korban, seperti didefinisikan oleh Francois Chirpaz: ”Kekerasan adalah kekuatan yang sedemikian rupa dan tanpa aturan yang memukul dan melukai baik jiwa maupun badan, kekerasan juga mematikan entah dengan memisahkan orang dari kehidupannya atau dengan menghancurkan dasar kehidupannya. Melalui penderitaan atau kesengsaraan yang diakibatkannya, kekerasan tampak sebagai representasi kejahatan yang diderita manusia, tetapi bisa juga ia lakukan terhadap orang lain” (Haryatmoko: 2002).

Bahkan, Muhammad Arkoun (2 Januari 1928-14 September 2010), seorang filsuf Islam Modern, yang lahir di Desa Berber, Aljazair, berpendapat, pertalian antara ”yang sakral” dan ”kekerasan” merupakan cikal bakal fundamentalisme, bahkan ekstremisme atas nama agama.

Kini, sangat mudah disaksikan, ekstremisme atas nama agama ini muncul di mana-mana, dan menjangkiti agama apa pun. Itulah warisan Imperium Romanum yang hingga kini masih tetap hidup, bahkan dihidup-hidupkan demi yang namanya kekuasaan.

Kekuasaan, memang sedari awalnya, sungguh menakjubkan, sungguh memesona, sungguh memabukkan, dan sekaligus apabila lepas dari kendali akan menghancurkan. Banyak yang takjub terhadap kekuasaan, banyak yang terpesona pada kekuasaan, banyak yang mabuk kekuasaan. Karena itu, berusaha dengan segala cara untuk mendapatkannya dan mempertahankannya, termasuk dengan cara membangun konspirasi, membangun persekongkolan antara politik dan agama.
golgota

Itulah kisah tragis yang berakhir di puncak Golgota. (TRIAS KUNCAHYONO)

Tagged as: , , , , ,

Leave a Response

Before you post, please prove you are sentient.

what is 9 plus 8?