ALETHEIA

Orbis non Sufficit

Jacques Hamel

Namanya Óscar Arnulfo Romero y Galdámez. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Romero. Ia adalah Uskup Agung San Salvador, El Salvador. Ia ditembak mati ketika tengah memimpin misa di sebuah kapel milik Rumah Sakit Kanker Divine Providence, tempat ia tinggal. Diyakini bahwa yang menembak mati Romero (15 Agustus 1917-24 Maret 1980) adalah pasukan khusus penembak mati Salvador, termasuk dua orang yang pernah sekolah di Amerika Serikat.

Uskup Romero dikenal sebagai tokoh yang sangat keras menentang kemiskinan, ketidakadilan sosial, pembunuhan, dan penyiksaan yang dilakukan oleh rezim militer dukungan AS yang berkuasa. Setelah melihat banyak terjadi pelanggaran hak asasi manusia, Romero dengan sangat berani dan lantang menentang semua itu atas nama korban pelanggaran hak asasi manusia dan kaum miskin. Ia juga menyerukan kepada tentara agar tidak mematuhi perintah menembak orang-orang yang tidak berdosa. Romero dikenal sebagai “Suara dari orang-orang yang tidak punya suara”.

Suatu pagi, 24 Maret 1980, ketika tengah memimpin misa kudus, seseorang menembaknya. Si penembak berdiri di pintu gerbang kapel. Romero jatuh, mati. Darahnya membasahi altar, membasahi kain putih penutup altar, membasahi jubahnya. Itulah darah pembela rakyat kecil, pembela kaum miskin yang diperlakukan tidak adil. “Jika mereka membunuh saya, saya akan bangkit lagi di dalam rakyat El Salvador,” katanya dalam khotbah beberapa menit sebelumnya. Benar, hingga kini, Romero tetap dalam hati rakyat El Salvador.

Jauh dari San Salvador, yang dipisahkan laut dan benua, di Saint-Etienne-du-Rouvray, Normandia, Perancis utara, kisah yang hampir sama terjadi. Selasa (26/7) pagi, ketika Pastor Jacques Hamel (86) tengah memimpin misa di Gereja St-Etienne (Stefanus), sekitar pukul 09.45, masuklah dua laki-laki ke dalam gereja. Keduanya membawa pisau. Tanpa banyak bicara, kedua lelaki itu menyandera Jacques Hamel dan beberapa orang lainnya. Dan, puncaknya, Jacques Hamel dibunuh; dibunuh dengan cara yang sungguh tak beradab. Ia disuruh berlutut, lalu dibunuh dengan menggunakan pisau, seperti membunuh binatang saja layaknya. Kelompok bersenjata yang menyebut dirinya Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) mengklaim bahwa para pembunuh Jacques Hamel adalah tentaranya.

Apa salah Jacques Hamel? Apa salah Jacques Hamel terhadap NIIS? Tentu tidak ada. Namun, mengapa mereka, NIIS, dengan tanpa perasaan manusia membunuh Jacques Hamel yang sedang memimpin ibadah, seperti Oscar Romero?

Dalam dunia teror, dikatakan kuasa teroristis bangkit lewat technology of fear, teknologi ketakutan, lewat dramatisasi kematian. Mereka menebar ketakutan. Para teroris bekerja penuh rahasia di belakang ruang publik untuk efek-efek di dalam ruang publik. Mayat-mayat hanyalah figur-figur dalam sebuah teater kematian, bukan tujuan teror. Sasaran mereka adalah manusia-manusia yang hidup yang diharapkan menjadi penonton teater mereka. Bunuh satu orang dan buatlah seribu orang ketakutan! Seribu orang, sejuta orang, atau setumpuk orang yang ketakutan adalah obyek-obyek dalam genggaman kuasa teroristis. Target teror adalah massa (Budi Hardiman, Januari 2011: hal 61).

Karena itu, kejahatan kaum teroris adalah mereka memakai kekerasan membabi buta, menghalalkan segala cara dan jalan untuk mencapai tujuan mereka. Mereka tidak menunjukkan hormat terhadap harkat kemanusiaan orang lain. Mereka tidak menganggap manusia lain. Mereka bukan Tuhan, tetapi merasa berdaulat seperti Tuhan.

Apa yang mereka lakukan di Baghdad, Istanbul, Dhaka, Orlando, Beirut, Paris, Nice, dan St Etienne-du-Rouvray adalah buktinya. Dalam tempo dua pekan, mereka melakukan delapan serangan dan menewaskan paling kurang 247 orang. Para korban adalah laki-laki, perempuan, dan juga anak-anak. Banyak di antara mereka yang dibunuh seperti Jacques Hamel.

Mereka, para teroris, ingin mengubah kegagalan dan kelemahan membangun kehidupan di dunia menjadi kemenangan di balik kematian. Menurut mereka, kematian adalah pintu terdekat untuk meraih kemenangan dan bisa membalikkan posisi sosial yang semula gagal menjadi pahlawan. Bukankah ini adalah sebuah penalaran yang absurd ketika merumuskan kategori musuh. Jika mereka membela negaranya yang gagal, mereka akan mencari sasaran negara lain yang membuatnya gagal. Wow!

Mereka tidak berbicara individu-meski tidak jarang mereka juga menyerang individu seperti penyerangan dan pembunuhan terhadap Jacques Hamel-tetapi menyerang kelompok-kelompok yang secara simbolik dianggap mewakili negara atau kelompok yang mereka benci. Terorisme bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia serta ajaran agama yang melarang menyakiti dan membunuh orang tidak bersalah.

Dalam bahasa Paus Yohanes Paulus II (1920-2005), mereka itu dirasuki kultur kematian (culture of death). Ia adalah kultur barbaritas yang memuliakan atau menyembah kematian; mendewakan kematian. Namun, bukan kematian yang membangkitkan. Kultur kematian adalah daya-daya negatif yang merusak dunia. Kultur kematian sekaligus menunjuk kebisuan manusia di tengah-tengah persoalan humanitas yang mempertaruhkan kehidupan umat manusia. Kultur kehidupan adalah perlawanan terhadap budaya kematian. Perlawanan terhadap kultur kematian merupakan pembelaan terhadap kehidupan.

Akan tetapi, ketika mereka para teroris memilih cara kekerasan untuk mengubah situasi-yang mereka rasakan sebagai tidak adil-pada umumnya tidak tepat dan justru akan menggulirkan lingkaran kekerasan; circle of violence, mengutip istilah yang digunakan oleh Dom Helder Camara.

Dan, Jacques Hamel serta banyak orang lainnya menjadi korban kultur kematian karena “pilihan untuk bertindak tanpa kekerasan”. (TRIAS KUNCAHYONO)

Tagged as:

Leave a Response

Before you post, please prove you are sentient.

What is frozen water?