ALETHEIA

Orbis non Sufficit

Kebencian dan Kesalehan Politik

Ketika surplus kekerasan dalam rupa teror seperti menemui titik puncaknya belakangan ini, nyaris belum ada sebuah kesepakatan politik yang cukup kuat sebagai bentuk komitmen penyelesaian masalah itu.

Komitmen tak bisa dicapai karena elite politik kita sedang disibukkan oleh kemelut lain dalam dirinya: diskriminasi, rasialisme, radikalisme. Bagaimana publik harus berharap atas keamanan nirteror jika akar-akar terorisme justru diberi angin oleh kekuatan politik?

Aset

Salah satu kekhawatiran besar adalah bahwa rangkaian unjuk massa, demonstrasi pernyataan rasialis, dan opini-opini radikal yang berkali-kali terjadi adalah geladi resik yang diterima sebagai persetujuan tidak langsung atas aksi terorisme. Iklim sosio-politik seolah disiapkan sebagai ladang berlatih para kombatan teror. Kebencian jadi alat baru dalam propaganda politik dan duplikasi atas strategi ini coba diwariskan oleh elite kepada masyarakat di bawah.

Gejala tersebut semakin memburuk ketika elite politik kita tak memberi resep apa pun atas kecamuk kebencian yang telanjur melanda masyarakat. Kita justru dikacaukan oleh keriuhan dalam dukung-mendukung dan saling berebut menafsirkan kebenaran.

Kebencian tiba-tiba jadi teknologi politik populer yang didistribusikan secara kreatif lewat saluran apa pun. Prasangka dikembangkan dan sikap ilmiah dibunuh secara sengaja. Semua kearifan yang mengakar seperti dicabut paksa secara sengaja demi meladeni tujuan-tujuan kekuasaan. Jika teror kini meruap di mana-mana, jangkar kearifan yang dulu pernah dihidupi sebagai nilai bersama itu tak lagi bisa menjaga kita. Egoisme politik mengambil alih persaudaraan antarmanusia.

Pada saat-saat terlambat seperti ini, kita mulai menyadari aset utama itu telah pergi, justru di waktu kita sungguh membutuhkan. Kita boleh bersyukur untuk sementara jika aparat masih dapat menyediakan keamanan, tetapi situasi mencemaskan pada politik yang penuh dengan benci harus segera diatasi.

Karena itu, kesalehan dalam berpolitik adalah proyek besar ketika politik dan agama menubuh jadi satu. Politik mungkin tak mewarisi jenis kelamin atau agama apa pun, tetapi kualifikasi kesalehan dan moralitas kemanusiaan adalah hal universal. Kualitas itu juga yang ada dalam tiap agama dan seharusnya jadi dasar normatif bagi politik sekaligus menjaganya dari penyelewengan atas nama apa pun.

Menyatakan sikap antiterorisme secara terbuka, tetapi pada saat yang sama masih mendeklarasikan kebencian kepada manusia lain adalah suatu kemunafikan politik. Kesalehan politik dibutuhkan dalam saat-saat genting seperti ini, yakni ketika nilai jauh lebih dibutuhkan untuk menunjukkan bahwa masih ada masa depan yang baik atas kekacauan hari ini.

Pertobatan politik

Penting untuk melacak genealogi kebencian yang kini hidup di tengah-tengah kita: sungguhkah ia pertanda betapa kecemburuan sosial sudah memuncak dan tak lagi bisa ditahan? Ataukah kemunculannya adalah pertanda dari kreasi elite untuk melunasi hasrat kekuasaan?

Apa pun jawabnya, kebencian itu sendiri adalah hal yang membuat generasi kita berutang terlalu banyak kepada para pendiri bangsa ini. Tatkala para pendahulu kita compang-camping mempertahankan negeri, generasi ini justru menghendaki putaran balik dengan mengandalkan kebencian sebagai senjata.

Terorisme hanyalah hasil penjumlahan dari semua bibit yang sudah kita tanam dan kita siangi bersama-sama. Kombatan itu hanyalah pantulan dari kita yang sudah menggadaikan semua kearifan yang kita punya demi gairah politik kita.

Negara harus mau mengakui pula jika kesetaraan, keadilan, dan kesejahteraan belum optimum dicapai. Utang masih tinggi, keadaan ekonomi belum sepenuhnya membaik. Pendidikan belum merata mutunya dan peserta didiknya masih dibebani berjibun tanggungan, materiil dan nonmateriil. Semua kemurungan itu berisiko menjadi pelatuk kebencian dan karena itu menjadi rentan pula untuk dieksploitasi dan dikonversi menjadi bahan baku paling penting dalam menggalang kekuasaan.

Bersamaan dengan itu, mengharapkan pertobatan dalam politik kita juga hal yang sia-sia. Tujuan kekuasaan melekat sebagai beban abadi yang dipanggul siapa pun yang sudah berkomitmen dalam dunia politik. Tujuan ini terbukti menghalalkan segala cara, betapa pun akan memunculkan risiko yang tidak pernah bisa diantisipasi dengan kerusakan yang luar biasa.

Ya, seperti terorisme yang hari-hari ini melanda bangsa kita. (RENDY P WADIPALAPA)

Tagged as:

Leave a Response

Before you post, please prove you are sentient.

What is 3 multiplied by 5?