ALETHEIA

Orbis non Sufficit

Menarasikan Tokoh-tokoh Bangsa

Nasionalisme adalah ”menu” yang kurang diminati kalangan anak muda. Nasionalisme masih termarjinalisasi di atas ”meja prasmanan” yang penuh sesak nilai, gagasan, paham, filsafat, atau ideologi yang berbasis pada agama, materi, kapital, dan pasar.

Kalangan anak muda pun terbelah. Mereka yang taat beragama cenderung menyukai atau dekat dengan radikalisme. Adapun mereka yang sekuler cenderung menjadi hedonis atau menyukai hedonisme. Lalu, di mana anak-anak muda yang nasionalis atau penghayat dan pengamal nasionalisme?

Fenomena yang mengkhawatirkan itu bisa kita lihat dari dunia pendidikan. Banyak sekolah berorientasi pada nasionalisme kini susut, surut, bahkan gulung tikar. Ini berkebalikan dengan sekolah-sekolah yang berorientasi pada agama yang semakin menguat. Adapun sekolah negeri, yang semestinya mengembangkan nilai-nilai nasionalisme, tidak sedikit yang terpapar paham radikal.

Sekolah sebagai lembaga yang mendidik mengasah akal budi dan mengajarkan pengetahuan/ keilmuan serta kemampuan teknis bisa disebut garda depan kebudayaan bangsa. Otomatis kualitas, karakter, dan orientasi nilai para siswa lebih ditentukan internalisasi nilai-nilai dalam sistem pendidikan dan pengajaran yang dijalankan sekolah daripada keluarga dan masyarakat.

Jika kurang dihadirkan dalam wahana pendidikan formal dan informal, nasionalisme terancam jadi ”jimat” dibandingkan ideologi yang bekerja. Sebagai ”jimat”, nasionalisme dimunculkan hanya dalam ritus-ritus sosial dan politik. Itu pun dengan cara yang kurang menyentuh kesadaran dan memberikan inspirasi.

Melemahnya nasionalisme dan mengecilnya jumlah nasionalis berdampak pada pelucutan identitas, karakter, dan perilaku patriotik warga negara dan penyelenggara negara. Lahirlah masyarakat ”anonim” dan pragmatik yang permisif terhadap penguatan segala paham/ideologi non-kebangsaan dan penguasaan aset bangsa atas kuasa modal asing. Akhirnya yang muncul lebih banyak komprador atau kolaborator daripada patriot-patriot sejati bangsa. UU dan regulasi pun otomatis cenderung berpihak pada kuasa modal asing.

Di sisi lain, lenyapnya rasa cinta dan bangga pada bangsa dan negara berakibat tergerusnya integritas, komitmen, dan dedikasi mereka yang punya otoritas atas negara. Terjadi reduksi kepentingan dari publik ke privat melalui korupsi uang dan korupsi politik/kekuasaan. Setiap aktor kekuasaan merasa hanya bertanggung jawab pada diri sendiri dan keluarganya sehingga tidak malu menumpuk harta yang semestinya didistribusikan kepada rakyat. Begitu juga dalam soal akses ekonomi yang dikuasai lebih banyak kelompok elite. Rakyat kian sulit mendapatkannya.

Generasi steril

Kehidupan berbangsa dan bernegara yang nir-nasionalisme melahirkan generasi muda yang ”tuna-nasionalisme”. Mereka bersekolah, kuliah, lulus, mendapat ijazah dan bekerja hanya bercita-cita jadi orang yang mukti (melimpah harta) dan lupa keadaan kanan-kiri. Mereka jadi steril atas persoalan-persoalan kebangsaan, seperti ketidakadilan, kemiskinan, dan kebodohan serta kebangsaan. Mereka pintar, tetapi tidak lantip (memiliki orientasi nilai sosial) dan waskita (memiliki orientasi nilai ideologis-spiritual).

Generasi yang lahir pun lebih banyak generasi ”mesin”. ”Mesin” hanya patuh pada perintah yang mengendalikan dan memberinya bahan bakar. Mereka hanya tahu knop on dan off atau layaknya komputer mereka hanya enter, shift, backspace, save, tapi lupa hal-hal di luar dirinya.

Mereka pun menyerahkan totalitas dirinya pada gawai, hidup dalam kubangan isu, gosip medsos dari soal narsisme sampai hoaks. Melemahnya daya kritis menjadikan mereka gampang diindoktrinasi paham-paham radikal dan mudah diadu domba. Mereka hanya tahu yang serba tampak dan sedang aktual. Jangan kaget jika mereka gagap mengucapkan sila-sila dalam Pancasila atau menyanyikan lagu ”Indonesia Raya”. Jangan kaget juga jika mereka tidak paham apa itu Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, Sukarno, Soeharto, dan presiden RI berikutnya. Apalagi nama-nama menteri. Mereka lebih hafal nama-nama artis atau pemain sepak bola yang sedang populer.

Forum udar kisah

Bahaya terbesar bagi suatu bangsa adalah lupa pada sejarah. Bangsa yang ahistoris tak lebih dari kumpulan besar manusia tanpa orientasi nilai. Bangsa macam itu gampang ditelikung dan dikuasai kekuatan yang mengincar kekayaan negeri ini. Dalam konteks ini, inisiasi sekolah kebangsaan menjadi penting.

Namun, bukan sekolah kebangsaan yang diselenggarakan secara konvensional layaknya anak didik menghafal teks buku-buku sejarah, melainkan sekolah dengan pendekatan baru. Yakni, proses pendidikan dan pengajaran yang tidak formal, kaku, dan kering, melainkan lebih mendekati sebuah forum udar kisah dan gagasan yang mengutamakan kekuatan narasi.

Selain itu, materi pelajaran tak selalu berupa teks-teks pengetahuan yang konseptual dan abstrak, tetapi teks-teks tentang tokoh-tokoh bangsa. Misalnya ngobrol bareng tentang HOS Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Ki Hadjar Dewantara, Kartini, Tjut Nya Dien, atau Hamengku Buwono IX.

Narasi tentang mereka berisi tentang karakter para tokoh yang terpantul dari perjalanan dan dinamika perjuangan yang mereka lakukan. Banyak fakta historis berupa sisi-sisi kemanusiaan yang perlu diangkat karena selama ini tak pernah muncul jadi pengetahuan publik. Sambil menikmati minuman dan kudapan, mereka mendengar, memaknai, dan melakukan internalisasi nilai-nilai patriotisme para tokoh bangsa. Selanjutnya dilakukan dialog dengan narasumber dan sesama peserta ngobrol. Kiranya cara ini sesuai dengan gaya anak muda yang tidak suka diindoktrinasi dengan gaya ceramah.

Proses menyimak dan menghayati berbagai narasi mendorong imajinasi mereka hidup, berkembang, dan membuka ranah-ranah kemungkinan yang memperkaya cara pandang. Soal ini, bisa menjadi tebusan kultural atas bangsa kita yang selama ini cenderung miskin imajinasi.

Pola penarasian tokoh-tokoh bangsa, baik secara pemikiran, kepribadian, maupun proses terbentuknya ketokohan melalui paparan peristiwa penting bisa dilakukan berbagai kalangan anak muda dan kantong-kantong sosial-budaya. Tentu dengan pendekatan masing-masing. Yang penting, kisah tokoh itu mengandung nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme, sekaligus watak yang terbangun dalam diri tokoh yang menjadikannya mendarmakan totalitas dirinya pada rakyat dan negara. (INDRA TRANGGONO)

Leave a Response

Before you post, please prove you are sentient.

what is 8 + 9?