ALETHEIA

Orbis non Sufficit

Mengatasi Ketimpangan dari Bawah

Ekonomi Indonesia tahun 2019 diperkirakan masih akan mendapat banyak tantangan, baik dari faktor global maupun nasional. Tantangan itu akan berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi yang belum akan terakselerasi seperti yang diharapkan.

Namun, yang juga sangat perlu mendapat perhatian adalah masalah ketimpangan ekonomi. Angka indeks rasio gini Indonesia sudah menurun, tetapi masih di angka sekitar 0,4.

Hal itu bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja. Arti penting penghapusan ketimpangan dalam target pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) semakin mengemuka. Lagi pula sejarah memberi pelajaran bahwa banyaknya kekisruhan yang terjadi di banyak negara lain bersumber dari masalah ketimpangan ekonomi.

Banyak usaha telah dilakukan untuk mengatasi ketimpangan. Kebijakan pemerintah untuk melakukan demokratisasi, reforma agraria, pembangunan infrastruktur, dan berbagai bentuk usaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sangat disambut baik dan selalu ditunggu hasilnya. Kebijakan-kebijakan itu dapat berdampak positif untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan.

Meski demikian, diperlukan usaha yang lebih luas dan komprehensif, sekaligus juga dengan sasaran yang jelas. Prinsip dasar mengatasi masalah ketimpangan bukanlah dengan menahan pertumbuhan dan perkembangan kelompok yang lebih kaya, tetapi justru mempercepat perkembangan kelompok yang lebih miskin; di samping perlunya ada transfer sumber daya yang sehat, adil, dan produktif dari yang kaya kepada yang miskin dan bukan sebaliknya.

Oleh sebab itu, memahami bahwa strategi pembangunan ekonomi yang bersifat makro merupakan syarat keharusan mengatasi ketimpangan. Akan tetapi, itu saja tidak cukup. Syarat kecukupan akan terpenuhi jika lebih banyak ditumbuhkembangkan strategi mengatasi ketimpangan dari bawah; dari kelompok masyarakat yang lebih tertinggal itu sendiri.

Lima langkah

Paling tidak perlu ada lima langkah dalam strategi percepatan perkembangan sosial ekonomi dari bawah.

Pertama, membangun keinginan untuk maju secara mandiri dan keinginan menjadi mandiri dengan meraih kemajuan. Salah satu masalah yang banyak dihadapi dalam mengurangi kemiskinan adalah kurangnya semangat kemandirian.

Semua ingin keluar dari kemiskinan, tetapi banyak yang berharap keluar dengan cara dibantu pihak lain. Hal ini akan menimbulkan mental peminta-minta, dan bukan mental pejuang hidup yang tangguh.

Semangat maju-mandiri ini akan mengubah sikap untuk tidak mulai dari apa yang tidak atau belum ada (modal, pasar, teknologi), tetapi dengan bersyukur dan mulai mendayagunakan apa yang sudah ada (tenaga, teman-teman, alam sekitar, dan sebagainya).

Kedua, membangun (kembali) energi sosial produktif yang lazimnya ada di masyarakat, tetapi kemudian terkikis oleh praktik-praktik pembangunan yang tidak tepat dilakukan selama ini.

Energi sosial produktif dalam bentuk saling percaya, saling mengandalkan, saling membantu, gotong royong, sebenarnya adalah modal yang sangat besar dan menentukan. Energi ini ada dan harus terus dibangkitkan secara sistematis serta dengan pendekatan yang tepat.

Ketiga, membangun keberdayaan individu dan kelompok miskin menghadapi tuntutan perkembangan. Tidak pada tempatnya jika pembangunan dari bawah menafikan kenyataan pragmatis yang ada.

Perdagangan dan bisnis adalah sumber pendapatan, kemampuan mendapat akses dan mengelola keuangan, serta paham akan perkembangan pasar dan kemampuan memenuhi permintaan merupakan perkembangan nyata yang tidak dapat dimungkiri.

Keberdayaan bisnis kelompok miskin akhirnya juga menjadi faktor kunci keberhasilan mereka sendiri. Di samping itu, kesediaan untuk memanfaatkan teknologi dan perubahan cara masyarakat berperilaku—seperti memanfaatkan teknologi digital—perlu disadari sejak dini.

Keempat, memahami bahwa kelompok miskin bukan kelompok yang tidak memiliki apa-apa, tetapi kelompok yang memiliki sedikit. Yang sedikit itu dapat menjadi titik awal mengembangkan kegiatan produktifnya.

Ibarat benih yang kecil dapat menjadi pohon yang berbuah lebat, jika ditanam, dipupuk, dan dipelihara. Perlu ada yang menginspirasi, menemani, dan mendampingi proses tumbuh kembang itu. Peran sesama warga masyarakat akan sangat besar. Pemerintah memang dapat melakukan banyak hal, tetapi tidak semua.

Kelima, proses pemberdayaan masyarakat dari bawah tidak akan berjalan hanya dalam hitungan hari atau bulan.

Mungkin dibutuhkan beberapa tahun dalam proses yang berkesinambungan agar perkembangan tahap demi tahap dapat terjadi.

Kelompok miskin akan ”naik kelas” setingkat demi setingkat. Namun, harus diingat bahwa kenaikan itu bukan berarti mereka tidak berisiko ”jatuh lagi”.

Oleh sebab itu, lingkungan usaha yang kondusif bagi perkembangan mereka sangat diperlukan. Lingkungan usaha itu mencakup kepastian dan ketegasan hukum, perizinan, perpajakan, biaya infrastruktur, dan sebagainya.

Indonesia bukan sesuatu yang besar lalu terbagi dalam struktur yang lebih kecil. Indonesia adalah kelompok-kelompok masyarakat, dusun-dusun, desa-desa, dan pranata sosial masyarakat bawah yang terhimpun menjadi satu.

Indonesia akan besar dan kuat jika ditopang kekuatan ribuan kelompok-kelompok kecil itu bersama-sama. (BAYU KRISNAMURTHI)

Tagged as:

Leave a Response

Before you post, please prove you are sentient.

What is 3 * 2?