ALETHEIA

Orbis non Sufficit

Pada Akhirnya Libya

Mimpi buruk menimpa Libya. Yang terjadi di Libya, juga Yaman dan Suriah, berbeda dengan yang terjadi di Tunisia dan Mesir. Di Tunisia dan Mesir, sejak semula tentara berkomitmen untuk tidak melakukan tindak kekerasan. Militer sejak semula memandang diri mereka sebagai instrumen dari negara sehingga mereka memilih meninggalkan rezim untuk melindungi rakyat.

Sebaliknya di Libya, Yaman, dan Suriah, tentara malah digunakan oleh rezim yang berkuasa untuk menghadapi demonstran dengan cara kekerasan. Jika tentara tidak memiliki “investasi” baik di negara atau rezim yang berkuasa, maka militer akan ambruk, hancur seperti yang terjadi di Libya. Jika militer tidak hanya instrumen dari rezim, tetapi membantu membangun negara, maka militer akan membunuh rakyat untuk melindungi rezim dan negara.

Banyak hal yang mendorong terjadinya pergolakan atau perlawanan terhadap rezim yang berkuasa di Libya dan Yaman. Di Yaman maupun Libya, despot yang sudah lama berkuasa, korup-Ali Abdullah Saleh di Yaman dan Moammar Khadafy di Libya-membuat tak berdaya kehidupan warga, menganggap dirinya raja, dan negara dianggap sebagai miliknya sendiri.

Penguasa di kedua negara itu otoriter, mengekang kehidupan politik rakyatnya, tidak memberikan kebebasan, dan banyak melakukan pelanggaran hak-hak asasi manusia. Mereka ingin kursi kekuasaan diberikan kepada anaknya-ini juga dinginkan oleh Hosni Mubarak; bahkan sudah terjadi di Suriah. Karena korupsi dan juga salah urus, Yaman berstatus sebagai negara paling miskin di Dunia Arab dengan angka pengangguran 35 persen dan 50 persen penduduknya buta huruf.

Empat hari setelah tumbangnya Hosni Mubarak, pecah gerakan melawan rezim yang berkuasa di Libya. Yang menjadi fokus demonstrasi adalah soal pelanggaran hak asasi manusia, salah kelola program sosial, korupsi, dan pemberangusan hak-hak politik warga. Muncullah kelompok anti Khadafy. Mereka membentuk Dewan Transisi Nasional, sebuah lembaga koalisi anti kekuasaan Khadafy.

Khadafy berusaha bertahan dengan segala cara, tidak seperti Mubarak dan Ben Ali. Ia menghadapi demonstran dengan kekerasan. Korban jiwa berjatuhan. Bahkan, mereka menyerang orang-orang yang tidak berdosa untuk mempertahankan kekuasaan. Hal itulah yang mendorong Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menerapkan zona larangan terbang di atas Libya dan memberikan kuasa “untuk mengambil semua langkah yang perlu” guna melindungi penduduk sipil dari serangan pasukan rezim Khadafy.

Itulah yang membedakan Libya dari Tunisia dan Mesir. Di Libya tangan-tangan luar seperti NATO dan Liga Arab ambil bagian dalam penghancuran rezim yang berkuasa; hal semacam itu tidak terjadi di Tunisia dan Mesir. Hal yang hampir serupa terjadi di Yaman-terjadi persaingan antara Arab Saudi dan Iran-serta di Suriah, yang menjadi mandala pertarungan kepentingan negara-negara besar.

Persoalan utama Libya adalah negeri itu menjadi tidak aman. Ini adalah kegagalan dari usaha melucuti dan demobilisasi milisi pemberontak setelah perang. Akibatnya muncul berbagai kelompok bersenjata yang tidak dapat ditangani pemerintah terpilih. Kondisi seperti itu membuat kepercayaan masyarakat terhadap proses politik demokratik menurun karena dipenuhi rasa frustrasi. Dalam kondisi tiada negara (pemerintahan nasional), aktor regional dan suku-suku memperkuat diri dan memperebutkan kekuasaan. (TRIAS KUNCAHYONO)

Tagged as:

Leave a Response

Before you post, please prove you are sentient.

what is 8 plus 4?