ALETHEIA

Orbis non Sufficit

Palestina-Israel: Menulis Ulang Sejarah

Sejarah selalu berulang, história se repete. Begitu kerap kali dikatakan oleh orang-orang cerdik pandai. Philip Guedalla (1889-1944), seorang pop kultur asal Inggris, pernah mengatakan, “Sejarah berulang dengan sendirinya.”

Ketika Pertemuan Perdamaian Israel-Palestina dimulai di Paris, Perancis, 3 Juni lalu, Perancis seakan ingin mengulang sejarahnya. Setelah Perang Dunia I berakhir, pemenang perang, Sekutu, menggelar konferensi di Paris yang kemudian dikenal dengan nama Konferensi Perdamaian Paris atau Konferensi Perdamaian Versailles pada 1919.

Konferensi itu diikuti oleh 32 negara. Hasil terpenting dari Konferensi Perdamaian Versailles adalah pembentukan Liga Bangsa-Bangsa. Liga Bangsa-Bangsa yang bermarkas di Geneva, Swiss, dibentuk sebagai forum untuk menyelesaikan sengketa internasional. Ide pembentukan Liga Bangsa-Bangsa berasal dari Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson sebagai bagian dari 14 butir rencana perdamaian di Eropa.

Inilah sejarah penting yang pernah dituliskan di Paris berkait dengan usaha untuk menciptakan perdamaian, khususnya Eropa, pada masa itu. Tetapi, sejarah juga mencatat, Perancis pula bersama Inggris yang “bertanggung jawab” atas kondisi Timur Tengah sekarang ini, apabila kita tarik ke Perjanjian Sykes-Picot (1916) antara Perancis dan Inggris. Inilah perjanjian yang membagi wilayah bekas daerah kekuasaan Ottoman menjadi daerah kekuasaan Perancis dan Inggris.

Terlepas dari semua itu, mengharap Pertemuan Perdamaian Israel-Palestina akan mampu menghasilkan terobosan bagi perdamaian di Timur Tengah, pada saat ini, terlalu berlebihan. Mengapa? Persoalan yang menghambat atau menjadi perintang perdamaian antara Israel dan Palestina tidak mudah diselesaikan.

Dan, memang, setelah pertemuan berakhir, dapat dikatakan tidak ada terobosan yang sangat signifikan terhadap kemandekan perundingan perdamaian antara Israel dan Palestina. Ada komunike bersama, memang, di akhir pertemuan. Secara garis besar komunike bersama itu nyaris “datar-datar” saja: menegaskan dukungan terhadap solusi damai, abadi, dan komprehensif atas konflik Israel-Palestina.

Isi komunike tersebut menegaskan bahwa persoalan Palestina-Israel tidaklah mudah. Rumit. Kompleks. Setiap usaha untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel harus menyentuh jantung konflik. Selain itu, ada banyak mitos yang menghambat penyelesaian damai konflik yang melintasi abad itu. Ilan Pappe dalam The Ten Mythologies of Israel menyodorkan 10 mitos yang menghalangi terciptanya perdamaian.

Mitos-mitos itu antara lain Palestina adalah tanah tanpa bangsa, menunggu bangsa tanpa tanah; Orang-orang Palestina menggunakan teror untuk melawan permukiman Yahudi sebelum pembentukan Israel; Israel dipaksa menduduki Tepi Barat dan Jalur Gaza pada 1967, serta harus mempertahankan wilayah tersebut sampai pihak lain siap untuk damai; Perjuangan Palestina tanpa tujuan kecuali teror; Perjanjian Oslo mencerminkan keinginan kedua belah pihak untuk mencapai solusi; solusi di Israel dan Palestina hanyalah “solusi dua negara”; Problem Israel-Palestina “tidak dapat diselesaikan”.

Jeremy R Hammond dalam Foreign Policy Journal (17 Juni 2010), menuliskan 10 mitos lainnya. Mitos-mitos itu antara lain Yahudi dan Arab selalu terlibat konflik di kawasan Timur Tengah; PBB-lah yang menciptakan Israel; Arab (Palestina) kehilangan kesempatannya memiliki negara sendiri pada 1947; Israel memiliki “hak untuk eksis”; Negara-negara Arab mengancam Israel dengan penghancuran pada 1967 dan 1973; Resolusi 242 DK PBB hanya menyerukan Israel mundur sebagian dari wilayah pendudukan; dan Palestina menolak solusi dua negara karena mereka ingin menghancurkan Israel.

Mitos-mitos tersebut menegaskan pula betapa sulitnya menyelesaikan konflik Palestina-Israel. Sudah demikian banyak perundingan perdamaian diselenggarakan, demikian pula banyak resolusi PBB diterbitkan, tetapi cahaya perdamaian belum sebersit pun kelihatan hingga kini. Bumi Palestina masih tetap gelap gulita. (TRIAS KUNCAHYONO)

Leave a Response

Before you post, please prove you are sentient.

What color is fresh snow?