ALETHEIA

Orbis non Sufficit

Peyorasi Pencitraan Politik

Menjelang perhelatan Pilkada (serentak) 2018 dan Pemilu 2019, mulai berhamburan serangan-serangan agresif yang ditujukan dari dan kepada elite politik.

Aktivitas elite dipantau dan diperiksa secara detail sehingga tiap gestur politik tak akan mampu lolos dari pembahasan dan kritik, meski kadang lebih mirip tuduhan membuta. Salah satu tuduhan yang hampir bersifat tematik karena frekuensi kemunculannya yang amat sering adalah pencitraan politik.

Semua aktivitas positif akan segera disergap oleh tuduhan motif pencitraan. Pemberian bantuan seorang pejabat negara atau sumbangan sukarela elite politik kepada konstituennya dapat dengan mudah disebut pencitraan. Tak ada yang kebal dari agresivitas semacam ini. Entah bagaimana citra tiba-tiba terdegradasi maknanya jadi demikian buruk, seolah-olah segala tindakan tidak boleh diapresiasi.

Celakanya, pembelahan kekuatan di sekitar kekuasaan membuat atmosfer makin keruh dan merembes sampai pada level akar rumput. Perkelahian dan saling serang di tataran elite menular ke tataran publik.

Memang diperlukan kehati- hatian dalam tiap penilaian atas kinerja elite. Segala pujian tidak boleh dilempar secara prematur sebelum memastikannya dengan data yang cermat dan komparasi terhadap variabel yang relevan. Namun, situasi ini tidak boleh menimbulkan paranoia dan menyakiti psikis kita untuk tetap rasional dan mempertahankan nalar, mencoba menjaga jarak agar tidak jatuh pada kebencian.

Paranoia seperti ini akan menutup pandangan kita dan membuat penglihatan kita satu dimensi terhadap semua peristiwa. Refleksi dan kontemplasi mendadak tak lagi diperlukan. Kita dikuasai begitu dalam oleh asumsi-asumsi purba: tak mungkin ada kebaikan sama sekali dalam perpolitikan, kecuali barangkali pada idola kita sendiri.

Investasi kebencian

Pada beberapa tingkat hal semacam ini mengkhawatirkan. Sebab, elemen partisipatoris—sebuah manifestasi dari demokrasi yang sekarang sedang kita imani —perlahan berubah jadi fundamentalisme berbasis kebencian. Alih-alih mampu mengurai dan membuat situasi lebih rileks dalam iklim politik setajam ini, yang terjadi kini justru kebalikannya sama sekali: ketidakpercayaan pada kebaikan apa pun yang mungkin ada dan mewujud dalam wilayah politik.

Tidakkah pesimisme akut ini bisa mendorong siapa pun untuk berpikir lebih jauh bahwa tak lagi diperlukan negara? Bukankah menumpulnya empati adalah bahan bakar paling pas untuk mempersiapkan kekacauan dan mempertajam fragmentasi sosial?

Pencitraan mungkin pernah mengirim kita pada kekecewaan atau perasaan dikhianati secara politik pada masa kini atau lampau. Adalah sikap yang manusiawi untuk berhati-hati dalam mengawalnya agar tidak terulang kondisi yang sama. Meski demikian, citra adalah elemen yang vital, bukan ditujukan untuk menipu atau membelokkan substansi, melainkan untuk mengabarkan aktivitas positif dan menumbuhkan harapan. Berita dan kabar baik dibutuhkan untuk menyambung simpati publik, membangun kebersamaan, menjaga ekspektasi publik tetap ada.

Pencitraan tak boleh dipersepsi sebagai sesuatu yang buruk sama sekali. Ia tetap diperlukan untuk mempertahankan momentumnya, untuk pula meyakinkan signifikansi perannya.

Kita boleh mengkritisi, dan itu sangat alamiah, agar tak pernah ada kepalsuan atau motivasi yang mencederai kepercayaan publik. Tapi, paranoia atasnya tak akan pernah bisa menolong siapa pun dari kehancuran perasaan kita oleh kebencian kita sendiri.

Kewajaran dalam mengkritik perlu kedewasaan. Fanatisme bukan saja bahan bakar untuk menggempur kohesi sosial dan mendesain hawa konfliktual, juga musuh utama demokrasi. Ketakutan untuk memberi apresiasi hanya mungkin hadir karena pengondisian kebencian yang demikian mengakar, yang ditancapkan dalam-dalam oleh elite politik sendiri dalam membantu kepentingannya. Tak pernah diperkirakan jika pada gilirannya investasi kebencian ini dapat berujung serunyam sekarang.

Teladan elite memang diperlukan, tetapi media juga berperan dalam menyeleksi nada-nada pemberitaan agar berimbang. Keberimbangan ini memang belakangan makin minim, berganti fanatisme atas idola politik tertentu dan antipati kepada rivalnya. Peyorasi pencitraan saat ini adalah konsekuensi dari bagaimana media dan elite politik telah menciptakan kombinasi berbisa yang membunuh pandangan alternatif dan memaksa publik menggunakan kacamata kuda. (RENDY PAHRUN WADIPALAPA)

Tagged as:

Leave a Response

Before you post, please prove you are sentient.

what is 5 plus 8?