ALETHEIA

Orbis non Sufficit

Revolusi Industri 4.0 dan Perekonomian Indonesia

Dalam pergaulan kaum milenial sekarang, ada istilah ”gaptek” atau gagap teknologi yang menggambarkan kegagapan banyak orang pada apa yang disebut sebagai Revolusi Industri 4.0.

Perkembangan teknologi informasi yang kemudian berwujud pada penggunaan gawai dan platform, seperti telepon pintar, teknologi informasi berbasis cloud dan data analytic, telah melanda masyarakat, baik secara individu, kelompok, maupun secara institusi.

Seperti halnya dalam setiap revolusi industri sebelumnya, selalu ada peluang baru dan ancaman. Pada tingkat perseorangan kemampuan yang dibutuhkan untuk menguasai teknologi informasi adalah kemampuan logika dan bahasa. Mata pelajaran matematika dan bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa asing) mengajarkan berpikir logis, sistematis menerawang ke alam ide, mulai dari membuat program (coding) sampai melihat masalah dari luar kotak (out of the box).

Ide dapat menghasilkan pemikiran baru dan melalui kemampuan berargumentasi dan berinteraksi dengan orang lain/masyarakat dapat diwujudkan jadi aplikasi fisik (gawai/gadget) ataupun nonfisik (sistem). Sayang sekali skor PISA (Programme for International Student Assessment) yang diujikan pada murid-murid sekolah dasar sedunia masih menempatkan Indonesia pada urutan ke-62 dari 70 negara yang disurvei. Seperti yang sudah diduga, matematika dan membaca merupakan titik lemah.

Sofistikasi bisnis

Indonesia adalah termasuk pengguna media sosial terbesar di dunia (143 juta pemakai), tetapi penggunaan internet untuk daya saing bisnis masih tertinggal. Indeks Daya Saing Global (Global Competitiveness Index)menempatkan Indonesia di peringkat ke-32 untuk sofistikasi bisnis (business sophistication) dan peringkat ke-80 untuk kesiapan teknologi. Salah satu contoh sederhana adalah penggunaan e-mail untuk menghubungi pelanggan, penggunaan situs perusahaan, dan lain-lain karena kelemahan dalam komposisi (merangkai kata-kata sehingga mempunyai daya argumentasi yang kuat).

Dalam dunia bisnis, terutama relasi internasional, teknologi informasi berperan sangat penting. Kegagalan melakukan tindak lanjut (follow up), berkoordinasi, dan menepati jadwal penyerahan barang (delivery) dapat mengakibatkan suatu perusahaan terpelanting atau terkucil dari jaringan distribusi/produksi internasional. Saat ini keterlibatan Indonesia dalam jaringan produksi internasional mengalami stagnasi (Ando dan Kimura [2013]).

Di sektor manufaktur Indonesia, basis ekspor sekarang lebih terkonsentrasi di sektor makanan (ekspor minyak kelapa sawit) dan otomotif yang didominasi oleh prinsipal dari Jepang dan Korea Selatan. Basis ekspor yang sempit ini menyebabkan Indonesia rentan terhadap siklus bisnis dunia dan disrupsi terhadap perdagangan dunia, seperti yang terjadi saat ini sebagai akibat dari perang dagang AS-China.

Neraca perdagangan yang defisit pada beberapa bulan tertentu di tahun 2018 turut menjelaskan kelemahan sumber daya manusia (SDM) Indonesia dalam menghadapi perubahan di jaringan produksi internasional yang makin tersebar di berbagai lokasi/negara. Penguasaan teknologi informasi mutlak dibutuhkan untuk konfigurasi produksi seperti ini. Secara spesifik kemampuan manajemen logistik dan kemampuan mengelola manusia dengan latar belakang yang berbeda (kemampuan bahasa dan koordinasi) adalah dasar-dasar untuk memperbaiki peranan Indonesia dalam jaringan produksi internasional.

Bagi Indonesia, tidak ada cara lain kecuali memperbaiki kelemahan di pendidikan dasar ini dengan kurikulum yang mengembangkan logika, bahasa, dan kreativitas. Matematika harus diajarkan sebagai logika tidak semata-mata sebagai alat menghitung apalagi hafalan, bahasa diajarkan sebagai media untuk melakukan analisis naratif yang kritis dan berargumen. Mata ajar yang mendorong kreativitas, seperti mengarang esai, bercakap-cakap, dan prakarya perlu dintensifkan kembali.

Dengan perbaikan talenta dasar seperti itu pun tidak ada jaminan bahwa semua pekerjaan akan dapat dipertahankan. Otomatisasi dan digitalisasi akan menghilangkan beberapa jenis pekerjaan, seperti kasir di loket bank, pemasar jarak jauh, atau paling tidak seperti auditor berubah menjadi analis.

Tingkah laku konsumen

Dengan efek demonstrasinya, teknologi informasi mampu menggoda masyarakat untuk merambah hierarki kepuasan Maslow (1987) ke tingkat yang lebih tinggi. Pertumbuhan pada konsumsi jasa, seperti hotel dan restoran, melakukan perjalanan lebih tinggi dari konsumsi makanan, pakaian, sepatu, dan perlengkapan rumah tangga sejak Juni 2015. Data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada triwulan III-2018 pengeluaran konsumen untuk hotel dan restoran tumbuh sebesar 5,6 persen per tahun (year on year/YOY), demikian juga pengeluaran untuk transportasi.

Pertumbuhan ini ada di atas pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang mencatat 5,17 persen per tahun (YOY) dan juga konsumsi masyarakat secara keseluruhan (5,2 persen per tahun YOY). Hal ini dikonfirmasi dengan pertumbuhan sisi produksi perekonomian, subsektor hotel dan restoran tumbuh 5,9 persen YOY, transportasi dan pergudangan 5,6 persen, serta perdagangan besar dan eceran 5,3 persen. Apakah Indonesia dapat memanfaatkan pertumbuhan sektor-sektor di atas untuk penciptaan kesempatan kerja dan sumber devisa sangat tergantung dari kemampuan SDM Indonesia dalam penguasaan teknologi informasi.

Selain keunggulan di bidang SDM, bisnis daring (online) internasional punya peluang untuk memiliki keunggulan tidak sepadan (different level of playing field) terhadap bisnis konvensional dan daring dalam negeri. Industri ritel dalam negeri dengan beban regulasi yang mereka hadapi mungkin harus menghadapi rantai pasokan transnasional dengan beban regulasi, seperti perpajakan, lingkungan, dan persaingan usaha yang jauh lebih ringan.

Meningkatnya pertumbuhan sektor pergudangan, misalnya, mungkin hanya mencerminkan gejala ini. Sejak maraknya bisnis daring pada 2015 telah terjadi kenaikan pesat dari impor bahan konsumsi tahan lama dan semi-tahan lama. Untuk tahun 2016 dan 2017, rata-ratanya adalah 20 persen per tahun. Jauh lebih tinggi dari barang konsumsi tidak tahan lama (11,6 persen), bahan baku dan penolong (6,5 persen), serta barang modal (0,91 persen).

Cara pandang ke depan dan metode pengambilan keputusan

Perkembangan teknologi informasi menyebabkan sifat interaksi antara individu dan pemangku kepentingan tidak lagi sekadar satu arah atau dua arah, tetapi lebih merupakan suatu strategic game dengan banyak pelaku.

Implikasi bagi pengambil keputusan, baik pemerintah, korporasi, maupun institusi lain, hal ini akan memengaruhi perencanaan jangka pendek, menengah, dan panjang dalam membuat, menilai, dan memahami prospek (outlook) ke depan dalam bidang sosio-ekonomi, perkembangan teknologi, pergeseran aliansi, geopolitik dan perubahan tingkah laku masyarakat.

Berbeda dengan yang sebelumnya, yang membuat adaptasi teknologi pada Revolusi Industri 4.0 sukar adalah sifatnya yang virtual dan perkembangan teknologinya yang begitu cepat mendahului daya serap institusi pengambil keputusan. Kebiasaan yang lazim digunakan adalah menggunakan data ex-post yang dikumpulkan di masa lalu dan bukan real time.

Setelah penyaringan data, informasi yang ada kemudian dibawa ke focus group discussion (FGD) untuk dapat diambil keputusan. Berbeda dengan pendekatan di atas, metode pengambilan keputusan terbaru ala Industri 4.0 disebut sebagai headline matching. Pendekatan ini mencoba mencari pola tingkah laku manusia dari mulai kepala negara, pemilik modal, sampai konsumen dari berita-berita utama di media dunia baik cetak maupun daring.

Dari berbagai berita utama tersebut, tampak awan mendung mulai berkumpul di ufuk barat. Kejatuhan harga saham di Amerika Serikat yang untuk bulan Desember ini adalah yang terburuk setelah Depresi Besar 1930-an. Beberapa pihak telah meramalkan bahwa resesi di AS sudah dekat. Tanda-tanda lainnya adalah kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) yang terlalu dini dan ketegangan perseteruan dagang AS-China yang belum juga mencapai titik ketemu.

Seperti halnya pepatah dalam setiap kesempitan selalu ada kesempatan, beberapa pihak justru melihatnya sebagai kesempatan untuk kebangkitan Asia, khususnya Asia Tenggara. Pemodal jangka pendek dan jangka panjang diperkirakan akan kembali ke Asia. Harga minyak yang cenderung turun akan menguntungkan negara-negara importir neto (net importer) seperti Indonesia. Vietnam dan Thailand diperkirakan akan menerima relokasi dari rantai pasokan dari industri berteknologi tinggi di China yang terpaksa hengkang dari China karena perang dagang.

Readiness for Future Production Report (World Economic Forum, 2018) menyebutkan bahwa dalam kesiapan menghadapi Industri 4.0 dari segi struktur produksi, Thailand dianggap sudah siap. Vietnam dan Indonesia masih agak tertinggal karena dikategorikan sebagai nascent countries pada driver and structure of production, yang artinya sudah mulai terlihat eksistensinya, mempunyai potensi, tetapi perlu bekerja lebih keras.

Walaupun demikian, Vietnam mempunyai keuntungan secara geografis karena lebih dekat ke jalur perdagangan atau distribusi internasional. Peluang bagi Indonesia adalah dengan memilih satu atau dua lokasi di jalur Selat Malaka sebagai pusat logistik, misalnya Kuala Namu, Batam, atau Kepulauan Riau. (ARI KUNCORO)

Tagged as:

Leave a Response

Before you post, please prove you are sentient.

What is melted ice?