ALETHEIA

Orbis non Sufficit

Rusia-Suriah: Bayang-bayang Moskwa

Naiknya Hafez al-Assad menjadi presiden mulai tahun 1971 meningkatkan hubungan Suriah dan Rusia. Setelah dilantik, negara pertama yang dikunjungi, 1-3 Februari 1971, adalah Soviet. Itu mengindikasikan bahwa Pemerintah Suriah memandang penting Soviet. Hubungan kedua negara dan kerja sama militer yang sudah berjalan 15 tahun ditingkatkan.

Hal itu diwujudkan dengan ditandatanganinya pakta keamanan dan perdamaian dengan Soviet pada Februari 1972. Berdasarkan pakta itu, Suriah memperoleh lebih banyak bantuan militer dan ekonomi. Dalam tahun 1972 itu saja, Moskwa mengalirkan bantuan lebih dari 135 juta dollar AS kepada Damaskus.

Berdasarkan perjanjian tahun 1971, Soviet mendapatkan izin menggunakan Tartus sebagai pangkalan angkatan lautnya. Izin ini diperoleh sebagai imbalan penghapusan utang Suriah pada Soviet. Bagi Soviet, memiliki pangkalan angkatan laut di Tartus adalah sangat penting. Tartus merupakan pintu masuk ke Laut Tengah, selain berkait dengan politik air hangat dan dalam konteks persaingan dengan AS, Perang Dingin. Kehadiran armada laut Soviet di Laut Tengah adalah untuk mengimbangi Armada Keenam AS di kawasan itu.

Siaran Radio Free Europe/Radio Liberty, 27 Juni 2012, mengungkapkan, “Kepentingan geopolitik dan strategik terbesar Rusia di Suriah adalah menggunakan pelabuhan laut dalam Tartus.” Menurut laporan itu, Tartus dapat digunakan sebagai dermaga kapal selam nuklir. Selain itu, lewat Tartus pula Soviet mengirimkan bantuan senjata ke Suriah.

Sebaliknya, Suriah juga memiliki kepentingan untuk tetap menjalin hubungan dengan Soviet. Ada empat alasan mengapa Damaskus mempertahankan aliansinya dengan Moskwa. Pertama, tidak ada alternatif lain yang bisa dipilih Damaskus selain Soviet di saat dunia terpecah menjadi dua kutub. Kedua, pada kenyataannya, struktur ekonomi dan militer Suriah sejak merdeka adalah menurut model Soviet. Ketiga, kedekatan antara pemerintahan Hafez al-Assad dan rezim Soviet dalam terma ideologik. Keempat, memanfaatkan bantuan dari Blok Timur (European Researcher, 2012).

Tartus hanyalah salah satu pangkalan AL Soviet di zaman Perang Dingin. Soviet juga memiliki pangkalan AL di Pulau Socotra (Yaman), yang berfungsi sebagai pangkalan terdepan Soviet. Pangkalan ini berfungsi sampai unifikasi Yaman Utara dan Selatan pada 1990. Soviet juga memiliki pangkalan militer di Kuba (di halaman belakang AS) dan Vietnam untuk kawasan Asia Tenggara dan Timur. Kini tinggal Tartus yang dipertahankan. Hal ini menunjukkan betapa penting arti Suriah bagi Soviet.

Pada 1980-an, hubungan kedua negara, terutama di bidang militer, semakin meningkat. Setelah Israel dan Mesir menandatangani perjanjian Camp David (1979), Soviet dan Suriah menandatangani perjanjian persahabatan dan kerja sama (8 Oktober 1980). Dalam salah satu pasal perjanjian itu disebutkan, jaminan Soviet dengan seluruh kekuatannya untuk membantu Suriah apabila diserang Israel.

Suriah memiliki arti yang khusus bagi Soviet. Boleh dikatakan, Suriah bagaikan jangkar bagi Soviet selama proses ekspansi zona pengaruhnya. Karena alasan inilah, Soviet terus memberikan bantuan militer, ekonomi, dan sosial kepada Suriah. Sebaliknya, dari sudut pandang kebijakan Timur Tengah, Suriah menjadi sekutu terpercaya bagi Moskwa. Arti penting hubungan kedua negara didominasi urusan politik dan strategik.

Soviet memandang Suriah sebagai pintu untuk masuk Laut Tengah dan Suriah menjadi negara Arab yang mendukung kepentingan Soviet, baik secara ekonomi, politik, maupun strategik. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa, selama Perang Dingin, Suriah telah dijadikan sebagai “bayang-bayang Soviet di Timur Tengah”. Namun, strategi tersebut berubah setelah Mikhail Gorbachev menjadi orang pertama Uni Soviet. (TRIAS KUNCAHYONO)

Tagged as: ,

Leave a Response

Before you post, please prove you are sentient.

What color is fresh snow?