ALETHEIA

Orbis non Sufficit

Rusia-Suriah: Sahabat Lama

Antara Moskwa (Rusia) dan Damaskus (Suriah) terbentang jarak 2.478 kilometer-ada yang menulis 2.474,62 km dan 2.464,5 km. Jauh. Hampir dua setengah kali jarak antara Anyer ke Panarukan, lewat Jalan Daendeles.

Sepanjang itu pula, atau bahkan mungkin lebih, kisah hubungan kedua negara. Michael Sharnoff dalam InFocus Quarterly (Spring 2009) menulis, hubungan kedua negara sudah dimulai sejak 1955. Elvin Aghayev dan Filiz Katman dalam Historical Background and the Present State of the Russian-Syrian Relations (European Researcher, 2012, Vol (35), No 11-3) menulis, hubungan kedua negara bahkan sudah dimulai sebelum Suriah benar-benar ditinggalkan penjajah Perancis, 17 April 1946. Pada 10 Februari 1946, ditandatangani perjanjian yang menegaskan dukungan diplomatik dan politik dari Rusia. Lalu, pada 10 April 1950, ditandatangani pakta non-agresi.

Abdul Jalil al-Marhoun dalam Middle East Monitor (7/2/2014) bahkan menyebut hubungan keduanya sudah terjalin sebelum zaman Uni Soviet, yakni selama perang Ottoman- Rusia pada abad ke-18. Ketika itu, armada kapal Rusia beroperasi di Laut Tengah untuk mendukung Armada Laut Hitam Rusia ketika mereka berusaha memblokade Selat Dardanella dan Selat Bosphorus.

Selat Dardanella yang panjangnya mencapai 61 kilometer dan lebarnya hanya 1,2 sampai 6 kilometer ini menghubungkan Laut Marmara dan Laut Aegea. Selat ini memisahkan daratan Eropa (Semenanjung Gallipoli) dan daratan Asia (Anatolia). Sementara Selat Bosphorus menghubungkan Laut Hitam dan Laut Marmara. Selat Bosphorus-yang juga memisahkan daratan Eropa (Semenanjung Gallipoli) dan Asia-dikenal pula dengan nama Selat Konstantinopel dan Selat Istanbul.

Kedua selat ini menghubungkan Laut Hitam, Laut Marmara, Laut Aegea, dan Laut Tengah. Dan, inilah jalur penting yang dicari dan hendak dikuasai Uni Soviet pada waktu itu agar armadanya bisa masuk ke Laut Tengah. Langkah ini merupakan perwujudan dari politik air hangat, yakni kebijakan politik yang dianut Rusia sejak zaman Tsar Peter Agung dalam usaha mencari pelabuhan bebas es sepanjang tahun.

Di zaman modern, seperti ditulis Michael Sharnoff, hubungan kedua negara dimulai pada 1955. Itu berarti ketika Rusia, sekarang ini, masih bernama Uni Soviet yang wilayahnya membentang dari Laut Baltik dan Laut Hitam hingga Samudra Pasifik mencakup 15 negara. Uni Soviet bubar pada 1991 setelah komunisme gulung tikar. Pada waktu itu, Suriah masih terus diguncang krisis politik. Antara 1946 dan 1956, Suriah memiliki 20 kabinet yang berbeda dan membuat empat rancangan konstitusi. Antara 1949 dan 1953 terjadi tiga kali kudeta. Akhirnya, Partai Ba’ath berkuasa setelah kudeta militer 25 Februari 1954 dan Uni Soviet menjadi negara penting bagi Suriah. Sebaliknya, Soviet melihat nilai strategik dan ekonomis Suriah (karena minyak).

Pada 1955, Moskwa mengajak Suriah dan Mesir membentuk pakta pro-Soviet. Langkah itu coba dihalang-halang Turki yang menjadi sekutu AS dengan menggerakkan pasukannya ke perbatasan Suriah. Namun, Turki buru-buru menarik pasukannya karena Menteri Luar Negeri Rusia Vyacheslav Molotov mengancam menyerang kalau Turki tidak mundur.

Dari 1955-1960, PM Soviet Nikita Khruschev memberikan bantuan militer kepada Suriah lebih dari 200 juta dollar AS untuk memperkuat hubungan dan mengimbangi pengaruh AS di kawasan itu. Soviet juga mendukung negara-negara sosialis Arab, seperti Mesir, Libya, dan Irak, untuk mengimbangi negara-negara pro-Barat, seperti Israel, Iran, Jordania, dan Arab Saudi.

Ditandatanganinya Pakta Baghdad (1955), yakni aliansi pertahanan pro-Barat antara Turki, Irak, Iran, Pakistan, dan Inggris, dirasakan sebagai ancaman oleh Soviet, terutama dalam usahanya masuk ke Timur Tengah. Krisis Suez (1956) menjadi peristiwa pertama yang semakin mempererat hubungan Suriah dan Soviet sekaligus sebagai jawaban terhadap Pakta Baghdad.

Namun, Soviet tidak membantu mereka ketika pada 1967 dalam perang enam hari, Israel menggempur negara teman-temannya. Setelah kekalahan itu, Soviet berjanji memasok bantuan militer kepada Suriah senilai 2,5 juta dollar AS. Naiknya Hafez al-Assad ke puncak kekuasaan, November 1970, menjadi awal peningkatan hubungan kedua negara. (TRIAS KUNCAHYONO)

Tagged as: ,

Leave a Response

Before you post, please prove you are sentient.

What is the outer covering of a tree?