ALETHEIA

Orbis non Sufficit

Semiotika Mudik dan Arus Balik

Dari kaca mata agama, Lebaran dan mudik bukanlah bagian dari puasa (shaum). Namun, dari perspektif kebudayaan, ketiganya tidak bisa dipisahkan. Tidak ada Lebaran tanpa mudik; tidak ada Ramadhan tanpa Lebaran. Merujuk kepada semiotika Barthes (1987), rumusan ini telah menjadi mitos.

Ironisnya, energi yang dikeluarkan untuk Lebaran dan mudik bahkan jauh melampaui daya yang dipakai untuk shaum. Apa pun mesti dilakukan agar bisa mudik dan Lebaran. Anda boleh katakan bahwa kemacetan lalu lintas adalah siksaan, tetapi bagi pemudik bisa jadi itu bagian dari kegembiraan. Anda boleh sarankan agar Lebaran jangan menimbulkan konsumsi berlebihan, tetapi baju baru wajib dibeli, makanan istimewa harus dimasak, dan paket wisata mesti dipesan.

Padahal, sebaliknya, shaum sendiri sering dikatakan sebagai mekanisme “mengencangkan ikat pinggang”. Menahan lapar dari pagi hingga petang bukankah dapat berarti menahan pengeluaran (menghemat), sekaligus pada saat yang sama menahan segala hal dari luar masuk ke dalam tubuh secara sembarangan. Di situ, shaum menjadi perpaduan kerja spiritual dan transaksi ekonomi. Orang yang shaum sejatinya mengeluarkan biaya material minimal, tetapi mendapatkan keuntungan spiritual maksimal.

Jika begitu, apakah mudik dan Lebaran menjadi negasi dari shaum? Pada mulanya tidak. Pada mulanya justru merupakan sebuah perjumpaan antara kecerdasan spiritual dan kearifan budaya. Meminjam istilah Umar Kayam (1989), mudik Lebaran adalah produk dari kompromi kebudayaan yang inovatif, yang dapat kiranya dibandingkan dengan cara kerja Sunan Kalijaga dalam mengelola agama dengan perspektif kebijakan lokal. Gema takbir diiringi irama kentungan dan talu beduk. Lantas, bagaimana sejarah mudik bisa ditelusuri?

Tanah impian yang ditinggalkan

Sebagai negeri kepulauan, juga sebagai bangsa yang menjadikan kota sebagai pusat impian, setiap orang yang memiliki peluang dapat dipastikan akan merantau. Kampung yang miskin dan pulau yang terpencil harus ditinggalkan. Demikianlah, dari sini silsilah pulang berasal. Kepergian, bukankah meniscayakan kepulangan. Kecuali tertulis pada lirik lagu melankolis, tidak ada yang pergi tanpa kembali. Setinggi-tingginya bangau terbang, ke sarangnya ia akan pulang.

Maka, akhir shaum adalah momen. Idul Fitri, bukankah juga berarti pulang ke muasal diri yang suci saat mulai dilahirkan. Di situlah titik temunya. Mudik menjadi ziarah yang menggenapkan pulang secara spiritualitas sedemikian. Pulang kepada Lebaran menjadi tanda kemenangan diri di rantau orang sekaligus kesuksesan religiositas mengatasi hasrat (nafs) dalam diri sendiri. Seturut perspektif semiotika Peircean (Short, 2007) mudik dan Lebaran adalah tanda terlegitimasi (legisign) yang merujuk pada konsep kembali kepada diri muasal tadi.

Mudik (dan arus balik) adalah proses fisikal (perjalanan), sedangkan Lebaran adalah “ruang dan waktu” tujuan. Proses dan tujuan ini diniscayakan oleh shaum.

Menarik jika diskusi tersebut dilanjutkan pada ihwal tanah kelahiran (kampung halaman) versus tanah rantau (baca: kota), tempat yang pada jadwal keberangkatan dibayangkan sebagai tanah impian. Fakta bahwa tanah impian tersebut ternyata ditinggalkan justru pada momen sakral menandai bahwa ia tidak lebih berharga daripada tanah kelahiran, dusun dan pulau terpencil itu. Tanah impian rupanya tidak lebih dari “ruang material”, sebuah tempat transaksi duniawi, sebuah pasar.

Tidak ada ikatan emosional dengan tanah impian, yang ada hanya ikatan kepentingan. Seseorang menetap di sebuah perumahan di kota besar, misalnya, semata-mata karena ia bekerja di kota itu. Kelak jika ia meninggal, jenazahnya mungkin dipulangkan ke kampung untuk dimakamkan di sana. Bukankah di kota, seperti Jakarta tanah pemakaman pun sangat mahal. Maka, sang perantau harus pulang meskipun hanya jasadnya belaka.

Tentu tidak seluruhnya demikian. Namun, kian hari kota kian berlari ke situasi yang tidak manusiawi. Tiap hari kota semakin dipenuhi oleh orang-orang yang bergegas, melangkah dengan sangat tergesa-gesa meskipun dalam dua dasawarsa terakhir mereka tertahan oleh kemacetan lalu lintas yang luar biasa.

Tubuh yang tersangkut di jalan raya bertempur dengan pikiran dan perasaan yang memaksa meloncat keluar, melangkah cepat dalam irama persaingan yang ketat. Lahirlah kemudian kepanikan, kecemasan, dan stres tingkat tinggi. Akibatnya, jalan pintas acap menjadi pilihan, untuk siapa pun dalam profesi apa pun.

Maka, pecandu narkoba kian meningkat di antara sanksi yang kian diperberat, korupsi kian merajalela di antara gencarnya operasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Berita-berita buruk di media massa tidak lebih dari sekadar bisnis. Nyaris tidak ada efek, sebab seperti yang dikatakan Strinati (2004), subyek kontemporer di dalam budaya urban tidaklah saling mengenal. Mereka memang menyatu (teratomisasi), tetapi tidak pernah saling menyapa. Mereka anonim.

Kita memang sedang pulang

Karena situasi demikian, bagi sebagian orang kini mudik boleh jadi merupakan salah satu celah untuk melarikan diri. Kesibukan dan kebisingan selalu menunggu saat yang tepat untuk minggat. Bagi sebagian lain, mudik mungkin sebuah kesempatan untuk menyatakan diri di hadapan publik yang diandaikan bisa mengagumi. Di kota, dalam anonimitas, ruang apresiasi terhadap prestasi menjadi sempit. Itu sebabnya, mereka hanya bisa mengagumi diri sendiri (selfie) jika tidak mau dibilang narsis. Pencapaian materi yang dimimpikan ketika masih di tanah kelahiran yang gersang ternyata di tempatnya tidak memiliki arti. Di lumbungnya, padi memang sering tidak dihargai. Oleh sebab itu, mudik menjadi ruang yang tepat untuk berekspresi.

Meski demikian, makna mudik dan Lebaran bergeser ke ranah yang lebih kompleks. Ia bukan lagi merupakan tema integratif spiritual-kultural, melainkan tumpukan wicara yang saling berkelindan sekaligus bertegangan. Pada titik itu, perayaan kemenangan Lebaran tidak bergerak ke dalam refleksi yang hening, melainkan justru ke arah ekspresi yang bising.

Namun, apakah yang demikian itu salah? Tak mudah menjawab pertanyaan ini. Yang pasti, hening ataupun bising, hakikatnya kita memang sedang mudik. Bukankah dunia itu sendiri adalah “tanah rantau”. Layaknya jemaah haji yang sedang bertawaf mengelilingi Kabah, berputar berlawanan arah dengan gerak jarum jam, sesungguhnya kita memang sedang melangkah melawan waktu. Masa depan kita tidak terletak di depan, melainkan justru di belakang. Kita bergerak mendekati titik berangkat. Dengan mudik, kita sedang pulang! Selamat Idul Fitri! (ACEP IWAN SAIDI)

Tagged as: , ,

Leave a Response

Before you post, please prove you are sentient.

What color is fresh snow?