ALETHEIA

Orbis non Sufficit

Thanatos

Apa yang sesungguhnya terjadi di zaman sekarang ini? Tindakan terorisme tidak hanya semakin mematikan dan menjadi semakin biasa (sering kali terjadi), tetapi juga semakin meluas. Peristiwa terakhir terjadi di Nice, Perancis, ketika masyarakat kota itu tengah merayakan Hari Bastille, hari penyerangan ke Penjara Bastille di Paris bagian timur, yang menjadi awal Revolusi Perancis 1789-disebut juga Revolusi 1789-meskipun revolusi berlangsung antara 1787 dan 1799, klimaks revolusi terjadi pada 1789.

Revolusi inilah yang menginspirasi revolusi-revolusi lain di dunia ini. Dan, revolusi inilah yang melahirkan langit baru dan bumi baru. Revolusi inilah yang melahirkan semboyan liberté, égalité, fraternité (kebebasan, keadilan, persaudaraan).

Sebelum aksi brutal di Nice yang menewaskan tak kurang dari 80 orang itu, telah terjadi serangan teror di Banglades (awal Juli lalu) yang menewaskan 22 orang. Di Turki (Juni lalu), teroris membunuh 44 orang. Bahkan, di Irak dapat dikatakan tiada hari tanpa serangan teroris. Pada awal Juli lalu terjadi serangan teroris yang menewaskan tak kurang dari 292 orang. AS pun tidak luput dari serangan teroris.

Sejak sekitar 15 tahun silam, setelah Presiden AS George W Bush mendeklarasikan “perang melawan teror”, ternyata perang melawan teror itu tidak pernah berhenti. Kelompok teroris tidak mati, tidak menyusut. Bahkan, serangan teroris terus menjadi-jadi. Data yang disodorkan Global Terrorism Database Universitas Maryland mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2015 hampir 100 negara menjadi sasaran serangan teroris.

Data Institute for Economics & Peace menunjukkan bahwa korban tewas karena terorisme pada 2014 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2013. Pada tahun 2013 tercatat 18.111 orang tewas, sementara tahun 2014 meningkat menjadi 32.658 orang tewas. Boko Haram dan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) tercatat sebagai kelompok teroris paling mematikan di dunia. Mereka bersama-sama bertanggung jawab atas 51 persen serangan teroris mematikan di seluruh dunia pada 2014.

Sementara itu, 78 persen dari seluruh kematian karena teroris dan 57 persen dari seluruh serangan teroris terjadi di lima negara: Afganistan, Irak, Nigeria, Pakistan, dan Suriah. Irak tetap merupakan negara yang paling menjadi sasaran terorisme: 3.370 serangan yang menewaskan 9.929 orang!

Litani pertanyaannya sama: mengapa semua itu terjadi? Mengapa orang menjadi teroris? Mengapa orang dengan enteng membunuh orang lain? Sebut saja, mengapa NIIS (dan juga Boko Haram) menjadi brutal, bahkan semakin brutal dengan menggunakan berbagai cara untuk membunuh orang lain? Mengapa orang menjadi fundamentalis? Mengapa orang menjadi radikal? Mengapa mereka bertindak ekstrem?

Kaum radikal saat ini mengungkapkan ketidakpuasan mereka dengan mengobarkan perang, bukan cinta; dengan membunuh, bukan memelihara hidup. Mereka tunduk pada bujukan Thanatos (dewa kematian dalam mitologi Yunani) dan bukannya Eros (dewa cinta). Pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden dulu pernah mengatakan, mereka “mencintai kematian sebanyak Anda (di Barat) mencintai kehidupan” (Jessica Stern dan JM Berger, 2015).

Sebut saja NIIS. Mereka menetapkan diri sebagai paradigma baru, yang lebih brutal, lebih sektarian, dan lebih apokaliptik dalam pikirannya dibandingkan dengan kelompok-kelompok sebelumnya. Mereka menjadi kekuatan penghancur. Daya penghancur berasal dari yang jahat. Di dalam masyarakat pramodern, yang jahat disebut sebagai demon, iblis atau setan pada tembok-tembok gereja, kuil, atau candi. Dan, sekarang bahkan digambar pada kaus-kaus sebagai mode, bahkan menjadi gambar pujaan lalu dijual.

Yang kita saksikan selama ini, tindakan mereka itu melahirkan kekejian. Kekejian lahir di tempat kata-kata kehilangan dayanya ataupun daya tak membutuhkan kata-kata sehingga-kalaupun diucapkan-mereka bisa karena hampa (Budi Hardiman, 2011). Yang terjadi adalah tindakan, tindakan di luar batas kemanusiaan. Hal itu terjadi bisa karena alasan ideologi (seperti yang dilakukan NIIS, mereka-menurut istilah mereka-membersihkan dunia dari semua orang yang tidak sepaham dengan ideologinya), juga sebagai ungkapan melawan kemapanan, juga bisa dengan alasan untuk melawan Barat (mungkin yang terjadi di Perancis).

Barangkali benar yang ditulis oleh WB Yeats dalam puisinya yang diberi judul “The Second Coming”. Ia, antara lain, menulis, “Hanya anarki yang lepas menguasai dunia”. Anarki itulah yang menghasilkan kekerasan dan kekejian. Berbagai kekerasan dan kekejian yang terjadi pada akhir-akhir ini telah membawa kita memasuki suatu periode, suatu masa yang penuh pertentangan, yang membingungkan, atau malah menggiriskan karena melemparkan kita ke wilayah gelap.

Mengapa disebut wilayah kegelapan? Karena orang bertindak semau sendiri, tidak memikirkan orang lain, membuat orang lain sengsara, dan menimbulkan penderitaan serta kekacauan tak terkira. Orang tidak peduli kepada orang lain. Sama seperti yang dikatakan oleh sastrawan Oscar Wilde (1854-1900), “Sebagian besar orang adalah orang lain.”

Tidak aneh kalau orang lalu akan berteriak, liberté, égalité, ou la mort!; kebebasan, keadilan, atau mati!; tidak ada fraternité, tidak ada persaudaraan. Anggapan tidak ada “persaudaraan” terjadi karena kerancuan konseptual mendasar tentang identitas manusia: dari makhluk multidimensi menjadi satu dimensi. Inilah yang menghasilkan brutalitas demikian kejam, di Suriah, Irak, Nigeria, Perancis, Turki, Banglades, Afganistan, dan tempat-tempat lain, termasuk Indonesia.

Identitas tunggal-satu dimensi-seperti itulah yang menjadi landasan NIIS bergerak dan bertindak selama ini. Apa yang diyakini NIIS dianut oleh kelompok-kelompok teroris atau kelompok-kelompok yang lebih tunduk kepada Thanatos ketimbang kepada Eros. Mereka tidak memelihara kehidupan dan cenderung memilih mengunggulkan kematian. Tidak ada saudara atau liyan, yang ada diri mereka sendiri.

Tagged as: ,

Leave a Response

Before you post, please prove you are sentient.

What is 5 multiplied by 5?