ALETHEIA

Orbis non Sufficit

Timur Tengah Menentukan

Revolusi Arab Spring paling kurang membuahkan tiga hal. Pertama, mayoritas negara di kawasan itu (Timur Tengah dan Afrika Utara) tidak berubah atau hanya sedikit berubah. Mulai dari Arab Saudi hingga Jordania, elite penguasa menyesuaikan strategi mereka agar bisa tetap bertahan, berkuasa, dan menghadapi para penentang. Kedua, hasil dari Arab Spring menunjukkan sebuah kontes yang relatif berimbang antara massa rakyat yang menuntut perubahan dan rezim yang berkuasa. Tetapi, hal itu menyebabkan pecahnya perang saudara. Libya dan Suriah dapat dimasukkan ke dalam kategori ini, demikian pula Yaman.

Akhirnya, ketiga, ada negara-negara yang dapat dikatakan mengalami transisi yang relatif mulus setelah pergantian rezim. Misalnya, Tunisia dan Mesir (meski transisi di Mesir tak begitu aman jika dibandingkan dengan transisi di Tunisia; Mesir lebih banyak mengalami kekerasan dibandingkan dengan Tunisia).

Transisi di Mesir berakhir dalam kudeta militer. Di Mesir, militer kembali berkuasa. Ini berarti kembali ke masa sebelum revolusi. Libya, Yaman, dan Suriah mengalami kolaps politik yang hampir lengkap, polarisasi, perang saudara, perang sektarian, dan perang proksi. Suriah menjadi sumber krisis baru di Timur Tengah pasca Arab Spring.

Yang dicapai Tunisia saat ini adalah sebuah capaian besar yang belum bisa dicapai negara-negara lain korban Arab Spring. Capaian itu bisa dikatakan sebagai “milestones” dari Arab Spring. Tetapi, ketegangan politik, masalah-masalah ekonomi, ancaman teroris, dan dinamika regional tampaknya tetap merupakan tantangan bagi Tunisia.

Meskipun relatif tidak banyak mengalami konflik, Tunisia tetap merupakan tempat yang potensial bagi pertarungan regional antar-ideologi-ideologi politik yang bersaing dan antar-kelompok-kelompok ekstremis garis keras (apalagi wilayah selatan, sebelah timur berbatasan dengan Libya yang masih dilanda kemelut, dan sebelah barat berbatasan dengan Aljazair yang juga memiliki kelompok garis keras). Karena itu, perbaikan ekonomi, peningkatan peran serta rakyat, reformasi politik-ekonomi, dan mempercepat kebebasan sipil menjadi sarana untuk melawan gerakan terorisme dan bentuk-bentuk aksi kekerasan sektarian dan ekstremisme.

Tetapi, Arab Spring atau Arab Awakening tetap hanya bagian dari cerita atau apa yang akan menentukan masa depan Timur Tengah. Beberapa kecenderungan lain-perubahan peta energi, usaha mengekang perkembangbiakan senjata pemusnah massal, krisis ekonomi, radikalisme dan terorisme, serta persaingan di antara pemain global dan regional-juga harus menjadi faktor dalam memprediksikan apa yang akan terjadi di kawasan itu pada tahun-tahun mendatang.

Timur Tengah tidak hanya ditentukan oleh tren-tren global, tetapi justru akan menentukan apakah bagian dunia lain akan menjadi lebih baik atau lebih buruk. Setiap skenario potensial Timur Tengah memiliki implikasi besar bagi dunia. Demikian juga persaingan antara Arab Saudi dan Iran yang memperebutkan pengaruh dan hegemoni di Timur Tengah, akan memengaruhi perdamaian dan kemakmuran kawasan.

Dan, sekarang semakin merebak kelompok radikal dan teroris yang malang melintang, misalnya di Suriah dan Irak, juga akan mengancam negara-negara lain. Sebaliknya, Timur Tengah yang menempati posisi strategis, yakni di jalan simpang antara Eropa, Asia, dan Afrika, akan memberikan sumbangan besar juga dalam perkembangan dan kemajuan ekonomi. Pendek kata, dunia yang lebih makmur dan damai tidak mungkin terwujud tanpa adanya Timur Tengah yang stabil dan aman.(TRIAS KUNCAHYONO)

Leave a Response

Before you post, please prove you are sentient.

What color is the sky on a sunny day?