Wara Alfa Syukrilla

Djarum Beswan Blogs site

Assalamu’alaikum teman-temaan! :D

Kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman saya mempersiapkan keberangkatan ke Jepang untuk kegiatan TSSP (Tohoku University Science and Technology Summer Program) 2016. Siapa tahu tahun depan ada teman-teman Indonesia yang akan mengikuti kegiatan ini juga, semoga cerita saya ini bermanfaat, setidaknya untuk gambaran awal sebelum benar-benar terjun di kegiatannya :) . Sebenarnya, kegiatannya sudah berlangsung tanggal 4-16 Juli 2016, tapi saya baru ada kesadaran untuk menulisnya sekarang… *duh, poor me :( .

Oke, hal pertama yang saya lakukan begitu mendapat email bahwa saya diterima sebagai peserta TSSP 2016 dengan Beasiswa JASSO sebesar 80.000 JPY adalah bertanya tentang siapa peserta lain dari Indonesia dan mencari tiket pesawat. Saya perlu bertanya karena memang email dari Tohoku University tidak memberitahu nama-nama peserta seluruh dunia yang diterima. Sementara, saya sama sekali belum pernah ke luar negeri dan bingung harus berbuat apa, bagaimana, sama siapa, dan pertanyaan 5W+1H lainnya. Secara dari Universitas Brawijaya cuma saya seorang yang diterima, saya jadi takut dan was-was untuk berangkat mengikuti kegiatan ini.

Saat itu, saya mencari tiket pesawat via Skyscanner supaya bisa mengetahui seluruh penerbangan dengan urutan harga mulai termurah sampai termahal. Normalnya, sekali penerbangan ke Jepang itu sekitar 5-7 juta, tapi saat saya browsing ndilalah ternyata tiket termurah adalah Garuda Indonesia dengan harga Rp.11.299.000 sekali jalan. Artinya, dengan bagasi dan kebutuhan lainnya, perjalanan PP butuh minimal 25 juta untuk pesawat saja, belum kendaraan daratnya. Alamak, duit siapa mau dipakai nih… Walaupun dapat beasiswa JASSO, tapi beasiswanya baru diberikan saat hari pertama program TSSP. Peserta tetap membutuhkan uang pangkal awal untuk pemesanan tiket dan lain-lain. Kemudian saya bilang kepada orangtua dan Ayah menjawab, “Uang segitu mending buat umroh lah, Nak. Ngga usah berangkat ke Jepang.” Huehehe, benar memang. Apalagi saat itu posisi saya adalah H-30 menuju seminar hasil skripsi. Kekhawatiran akan performa seminar hasil skripsi, persiapan menuju sidang skripsi, serta fakta bahwa kegiatan TSSP dimulai saat akhir Ramadhan dan mengharuskan saya berlebaran di Jepang membuat saya jadi berpikiran untuk menghapus TSSP 2016 dari plan saya. Tapi, toh, saya tetap rajin intip-intip harga tiket di internet, siapa tahu tiba-tiba ada keajaiban harganya turun. Hehehe.

Dan benar saja, 2 minggu kemudian harga tiket termurah adalah Air Asia seharga sekitar Rp 6.750.000. Masih tetap mahal bagi saya, tapi setidaknya ada sedikit angin segar. Dikit aja tapi. Hehe. Sambil mengajukan proposal bantuan dana ke fakultas dan universitas, saya tetap memantau harga tiket pesawat sambil berkomunikasi dengan mahasiswa Indonesia lainnya sesama peserta program TSSP 2016. Ada 4 mahasiswa yang dapat saya kontak: Benedictus dari ITB, Mu’minah Mustaqimah dari IPB, Fitri Hasanah dari UGM, dan Syahirul Alim dari UGM. Kami membuat grup Whatsapp dan saling bertanya progress masing-masing. Rupanya mereka semua juga pusing dengan harga tiket dan sibuk menyiapkan travel insurance dan visa. Sekedar info, pihak Tohoku University mewajibkan semua peserta TSSP untuk mengisi informasi tentang tanggal ketibaan di Jepang, tanggal kepulangan dari Jepang, kode tiket pesawat, serta mengunggah scan travel insurance yang mengcover sakit dan kematian selama peserta berangkat ke Jepang hingga pulang ke Indonesia. Sejujurnya saya tidak tahu travel insurance ini bikinnya dimana dan bagaimana. Teman-teman sesama peserta Indonesia bilang mereka mau bikin di AX* atau A**ianz atau AI*. Saya yang tidak tahu mau kemana memutuskan untuk survei di ketiga tempat itu di Malang dan hasil surveinya membuat saya ‘kembang-kempis’ karena untuk asuransi perjalanan selama 20 hari harus merogoh kocek sekitar Rp 600.000 (harga antar perusahaan asuransi bisa berbeda tipis dan tergantung kurs dolar juga). Akhirnya saya putuskan untuk pending dulu tentang asuransi ini sambil terus berdoa barangkali ada kesempatan dan jalan rezeki untuk mewujudkan cita-cita saya ke luar negeri sebelum lulus S1 dengan beasiswa.

Tiga hari menjelang deadline upload informasi tiket pesawat dan travel insurance, Allah membuka jalan untuk saya. Tiket pesawat Air AsiaSurabaya-Haneda turun berkali-kali hingga menjadi Rp 1.799.000 saja di seluruh tanggal di bulan Juli. Saya langsung booking tiket pulang-pergi ditambah bagasi 20 kg dan mencentang Air Asia Travel Protection seharga Rp 110.000 saat proses pemesanan. Air Asia Travel Protection ini sudah mengcover asuransi sakit dan kematian selama 20 hari perjalanan saya sejak berangkat dari Surabaya, selama di Jepang, sampai pulang mendarat di Surabaya lagi. Jadi, Air Asia Travel Protection ini bisa digunakan sebagai alternatif travel insurance buat teman-teman peserta TSSP tahun-tahun depan. :) See? Kalau memang rezeki mah ngga bakal kemana, asal kita terus berusaha dan berdoa. Sangat bersyukur harga tiket pesawat jadi 10 kali lebih murah dan biaya travel insurance jadi seperenamnya saja! :D Akhirnya, dengan airport tax dan lain-lain, total biaya untuk pesawat PP Jepang-Indonesia dan travel insurance ini sekitar 4 jutaan saja dan tercover oleh bantuan dana dari Fakultas MIPA Universitas Brawijaya. Alhamdulillah! :D Angin yang terlalu segar ini mah… Terimakasih ya Allah :D

Setelah tiket tergenggam di tangan, langkah selanjutnya adalah membuat visa. Proses pembuatan visa Jepang ini sangat mudah, tapi saya sarankan teman-teman untuk menelepon dulu Konsulat Jepang terdekat tentang dokumen yang diperlukan untuk pengajuan visa sebelum mendatanginya karena bisa jadi ada dokumen yang berbeda di konsulat Jepang lain kota. Di Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, dokumen yang diperlukan adalah: paspor asli, formulir permohonan visa, pas foto background putih ukuran 4.5×4.5 cm, KTP asli dan fotokopi, surat pengantar dari kedua kampus (Tohoku University dan Universitas Brawijaya), tiket pesawat, travel itinerary, dan kartu keluarga. Saya tidak tahu bahwa di konsulat Jepang di Surabaya membutuhkan Kartu Keluarga. Saya tidak membawanya saat tiba di Surabaya. Untungnya KK bisa disusul melalui faximile jadi tidak perlu bolak-balik Malang-Surabaya. Tidak ada biaya dalam pembuatan visa ini, alias gratis tis tiss. Proses pembuatannya pun terbilang cepat. Saya datang hari Selasa, kemudian visa sudah bisa diambil hari Jumat dalam minggu yang sama. Saya mendapatkan izin tinggal selama 30 hari.

Bagi teman-teman yang berangkat dari Malang atau sekitarnya, menuju Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya akan lebih mudah menggunakan kereta api. Dari Malang bisa naik kereta jam setengah 5 pagi, turun stasiun Gubeng sekitar jam 7, kemudian jalan kaki ke Jalan Sumatera No 93 mengikuti Google Maps. Dekat kok, jalan kaki sekitar 10-15 menit saja.  Hati-hati dengan jam kerja Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya yaa. Berikut adalah jam kerjanya:
Hari Senin – Jumat, (kecuali pada hari libur nasional dan libur Kedutaan)
Pengajuan Permohonan Visa : 08:15 – 11:30
Pengambilan Paspor : 13:15 – 15:30

Nah itu tadi kisah proses persiapan keberangkatan saya ke Jepang. InsyaAllah akan saya lanjutkan dengan cerita selama program TSSP. Semoga masih ada umur, kesehatan, dan kesempatan. Amin :) Semoga bermanfaat yaa teman-teman. Wassalamu’alaikum wr. wb.

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

Earth orbits the ...